
Lusi terbengang ketika kamarnya di datangi oleh seorang pria yang memang sejak tadi terus mengganggu pikirannya. Sejak Elea dan Tuan Muda Gabrielle pergi dari ruangannya, Lusi terus memikirkan Gleen. Dia merasa sangat bersalah karena sempat berfikir kalau pria yang kini tengah tersenyum sambil membawa buket bunga sengaja mendekatinya hanya untuk menarik perhatian Elea. Tapi setelah di beritahu alasan kenapa pria ini di hukum, pikiran Lusi jadi gelisah sekali.
"Sweety, kenapa menatapku seperti itu? Kaget ya melihat kedatanganku?" tanya Gleen gemas melihat reaksi gadisnya ketika dia datang.
"Gleen, maaf ya" ucap Lusi alih-alih menjawab pertanyaan tersebut.
Sebelah alis Gleen terangkat keatas. Dia meletakkan buket bunga keatas meja kemudian menarik kursi ke samping ranjang.
"Kenapa minta maaf? Kau kan tidak melakukan apapun padaku."
Lusi gugup. Apalagi sekarang tangannya sedang di genggam erat oleh Gleen, semakin lah dia kesulitan untuk menjelaskan.
"Sweety, ada apa? Kau minta maaf untuk apa?" desak Gleen cemas. Dia takut sekali gadis ini akan mengusirnya pergi.
"Itu, aku-aku...
'Ya Tuhan, kenapa aku jadi gugup begini sih?.
"Lusi, apa kau meminta maaf karena sudah mengkhianatiku?" tanya Gleen curiga. "Seharian ini aku tidak bersamamu, jangan-jangan ada pria lain yang mendekatimu ya makanya kau terlihat gugup begini? Katakan padaku siapa pria itu, biar aku habisi dia malam ini juga!.
Lusi keki. Dia tidak menyangka kalau pemikiran seperti itu yang akan muncul di kepalanya Gleen. Dia menjadi gugup begini karena merasa bersalah sudah berpikiran buruk, pria ini malah curiga dia berselingkuh dengan pria lain. Sungguh, Lusi sangat tidak paham dengan jalan pikiran pria ini.
"Lusi, ayo cepat katakan siapa pria itu. Jangan membuatku marah!.
Plaak
"Satu-satunya pria yang sudi mendekati seorang pelayan sepertiku itu hanya kau saja Gleen. Matamu katarak karena tidak bisa membedakan mana wanita yang berasal dari keluarga kaya dan mana wanita yang berasal dari desa. Apa kau pikir aku semudah itu tergoda pada pria-pria kaya sepertimu? Aku sangat tahu diri dengan statusku Gleen, jadi tolong jangan menuduhku yang tidak-tidak!" omel Lusi jengkel saat di teriaki oleh pria yang sedang meringis sambil mengusap kepalanya yang baru saja dia pukul.
Gleen kikuk. Tapi setelah itu dia langsung mencium tangan Lusi yang di gunakan untuk memukul kepalanya. Dia lega sekali karena ternyata gadisnya tidak berpindah ke lain hati.
"Maaf Sweety, aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku hanya khawatir kau akan lari ke pelukan pria yang lebih tampan dan lebih kaya dariku. Makanya tadi aku marah" jelas Gleen ketika melihat wajah gadisnya cemberut.
"Yang benar saja kau, Gleen!.
"Dan sepertinya kau benar kalau mataku ini katarak karena sudah jatuh cinta pada seorang pelayan" imbuh Gleen mencandai Lusi. "Jangan marah ya, aku minta maaf."
Lusi masih enggan. Dia kesal sekali di tuduh seperti itu oleh Gleen. Jelas-jelas saat ini di hati Lusi sudah ada namanya, tapi masih saja dia di curigai. Sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Oh ya Sweety, tadi saat di jalan aku singgah untuk membelikanmu bunga. Lihat, bunganya bagus tidak?.
Gleen segera mengambil buket bunga yang dia bawa lalu memberikannya pada Lusi yang masih merajuk. Dia mulai cemas saat gadis ini tak kunjung menerima bunga pemberiannya. Tak habis akal, Gleen segera memikirkan cara untuk membujuk Lusi. Dia takut sekali Lusi akan pergi meninggalkannya gara-gara tuduhan yang dia lontarkan tadi.
"Em, Sweety, bagaimana kalau besok aku menjemput keluargamu dan membawa mereka datang kemari? Boleh tidak?.
Mata Lusi terbelalak lebar. Ya Tuhan, sebenarnya ada apa dengan pria ini. Kenapa dia selalu saja di buat syok dengan kelakuan-kelakuannya yang sungguh membuat jantung orang berdebar tidak karuan.
"Kau sudah gila ya Gleen?" omel Lusi.
"Iya Sweety, aku memang sudah gila. Makanya jangan acuhkan aku ya? Rasanya sungguh tidak enak."
'Akhirnya dia merespon juga, hufftttt.'
"Kalaupun gila harusnya tidak begini juga, Gleen. Untuk apa kau ingin membawa keluargaku kemari. Membuang-buang uang saja" sungut Lusi sambil menatap tajam kearah pria yang masih saja menciumi tangannya.
"Sebentar lagi keluargamu akan menjadi keluargaku juga, Sweety. Jadi apa salahnya kalau memboyong mereka kemari. Lagipula selama ini uangku tidak pernah berkurang, aku tidak akan jatuh miskin hanya karena memboyong calon mertuaku untuk datang berlibur ke negara ini. Tenang saja, meskipun belum sekaya Gabrielle tapi calon suamimu ini sangatlah kaya!" ucap Gleen dengan tidak tahu malunya.
Pipi Lusi merona saat Gleen menyebut dirinya sebagai calon suami. Ada getaran aneh di dada Lusi, berkecamuk berbagai macam pertanyaan apakah memang benar kalau pria ini ingin mempersuntingnya sebagai istri atau hanya sekedar candaan saja.
Khayalan di kepala Lusi langsung buyar begitu dia mendengar tawaran Gleen yang sangat menjengkelkan. Hancur sudah bayangannya yang ingin memiliki suami yang romantis seperti Tuan Muda-nya.
"Aku tahu hubungan kita pasti akan mengalami banyak kendala jika Elea sampai ikut campur. Kau tahu kan kalau gadis mengerikan itu masih menyimpan dendam padaku? Belum lagi dengan Levi, model sinting itu pasti akan terus menghasut otak Elea untuk terus mengganggu hubungan kita. Mau ya kita kawin lari?" bujuk Gleen penuh harap.
"Gleen, aku jadi ingin berkata kasar padamu" ucap Lusi frustasi. "Apa kau tidak bisa mengajakku menikah dengan cara baik-baik? Tidak bisakah kau bersikap romantis seperti Tuan Muda Gabrielle? Kenapa harus harus kawin lari, Gleen? Kenapa?.
Rasanya Lusi sangat ingin menangis sekarang. Rupanya kehangatan pria ini sangat jauh dari ekspektasinya. Seandainya saja ada Elea di sini, Lusi yakin Gleen pasti akan di buat mati berdiri dengan lontaran kata-kata yang begitu mematikan dari mulut Elea. Sungguh, dia butuh bantuan dari nyonya kecilnya untuk menghukum pria ini sekarang juga.
"Karena aku takut kita di pisahkan secara paksa oleh Elea, Sweety. Aku bisa menjadi zombie kalau hal itu benar-benar terjadi. Tolong pahami aku ya, aku sangat takut kehilanganmu. Aku tidak mau itu, Sweety. Aku tidak mau" jawab Gleen kekeh dengan tawaran yang tadi.
"Elea bukan orang yang seperti itu. Dia bahkan tadi sengaja datang kemari hanya untuk meminta maaf padaku karena sudah memisahkan kita. Bisa-bisanya kau berpikiran buruk terhadapnya. Dan juga Gleen, aku juga menyukaimu. Tidak mungkin aku diam saja kalau memang benar Elea ingin memisahkan kita. Kau terlalu jauh berfikir."
Seandainya bisa terlihat, saat ini di mata Gleen ada banyak kelopak-kelopak bunga berbentuk hati yang sedang beterbangan begitu dia tahu kalau Lusi ternyata menyukainya. Hatinya membuncah, tidak sia-sia paksaan yang dia lakukan demi agar bisa meluluhkan hati gadis ini. Dengan luapan kebahagiaan yang memenuhi hati dan wajahnya, Gleen kembali mempertanyakan tentang rasa yang di simpan oleh Lusi.
"Sweety, kau benar-benar sudah menyukaiku? Kau tidak sedang bercanda kan?.
Sudah kepalang tanggung. Karena kesal di ajak kawin lari, Lusi tidak sengaja kelepasan bicara tentang perasaan yang dia pendam. Dengan malu-malu dia menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Iya.."
"Sejak kapan?" tanya Gleen tak sabar.
"Sejak aku salah paham padamu."
"Salah paham? Kapan?.
Aneh.
"Tadi siang" jawab Lusi. "Tadinya aku berfikir kalau Tuan Muda menghukummu karena kau ingin merebut Elea dengan cara mendekatiku. Aku merasa sedih, dan saat itu aku baru menyadari kalau aku ternyata menyukaimu, Gleen. Aku di buat kecewa oleh kesalahpahamanku sendiri."
Gleen diam mematung. Dia tidak mengira kalau Lusi akan berfikir seperti ini. Namun sedetik kemudian Gleen tertawa terbahak-bahak, dia merasa konyol karena Lusi bisa menyadari perasaannya karena kesalahpahaman yang tidak di sengaja.
"Hahhaaaa... Astaga Sweety, kenapa kau manis sekali sih."
"Jangan menertawaiku, Gleen."
"Tidak, hahahaa..."
"Kau masih tertawa, Gleen."
"Tidak, ahahaaaaaa...
"Gleeenn....
"Hahahaaaa....Aku benar-benar gila karenamu, Sweety. Hahahaaa...."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1