Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Menguping


__ADS_3

Elea dengan penuh perhatian memijit tangan keriput milik kakeknya. Dia merasa sangat khawatir karena kakeknya tak kunjung sadar. Padahal hari sudah menjelang malam, tapi orangtua ini masih enggan untuk membuka mata.


"Sayang, kau istirahatlah dulu. Biar Bibi saja yang menjaga kakekmu disini" ucap Yura sembari mengusap bahu anak sambungnya.


"Tidak apa-apa Bi, biar aku saja. Oh iya, bagaimana keadaan Ayah sekarang? Apakah aku sudah bisa bertemu dengannya?" tanya Elea yang sejak tadi belum sempat bertemu dengan ayahnya.


Yura terdiam, dia bingung harus memberi jawaban apa pada anak sambungnya. Sebenarnya suaminya tahu kalau sejak siang tadi Gabrielle dan Elea ada ke rumah inj. Tapi suaminya enggan untuk keluar, terlalu malu untuk menampakkan muka di depan putrinya sendiri.


Elea mendongak ketika tak mendengar jawaban dari istri ayahnya. Dia menatap lama, sadar kalau ada yang sedang di tutupi oleh wanita ini.


"Apa Ayah marah padaku, Bi?.


"Tidak sayang, Ayahmu tidak marah. Dia hanya, hanya..


Gabrielle diam menyimak pembicaraan kedua wanita tersebut. Dia cukup bisa memahami kenapa ayah mertuanya enggan untuk bertemu dengan istrinya. Tapi melihat raut sedih di wajah istrinya membuat Gabrielle menjadi tidak tega. Dia kemudian datang mendekat.


"Sayang, tadi Reinhard memberitahu Ayah kalau Grandma akan datang ke negara ini. Dan sepertinya hal ini yang membuat Ayah merasa sedikit tidak nyaman. Jadi aku harap kau bisa memberinya sedikit kelonggaran waktu untuk Ayah berfikir!" ucap Gabrielle dengan lembut.


"Tapi apa hubungannya denganku, Kak? Bukankah malah bagus kalau Ayah bisa bertemu dengan Grandma? Meskipun sudah meninggal, Grandma tetaplah orangtuanya Mama Sandara, Ayah mana boleh bersikap seperti ini padaku hanya karena Grandma ingin datang kemari" sahut Elea dengan nada suara yang sedikit meninggi. Dia mulai terpancing emosi.


Yura yang menyadari kalau anak sambungnya mulai tak bisa mengendalikan diri segera memikirkan cara untuk meredam situasi. Dia tidak akan membiarkan anak sambungnya berfikir hal yang salah tentang sikap suaminya sekarang ini.


"Eleanor, kau tahu bukan kalau mendiang nenekmu adalah orang yang telah menyebabkan semua masalah ini? Rahasia tentang Mama-mu dialah yang sengaja menyembunyikannya dari semua orang. Hal inilah yang menjadi penyebab Ayahmu merasa sangat terpukul. Dia malu, sangat malu jika harus bertemu dengan Nyonya Clarissa nantinya. Tolong kau jangan salah paham pada Ayahmu ya Nak. Dia sedang sangat tertekan sekarang!.


Elea tergugu. Dia lupa kalau ibu ayahnya lah yang menciptakan bencana di hidupnya dan juga hidup ibunya. Bahkan bisa di katakan juga kalau ibu ayahnya yang telah membuat Grandma-nya di tinggal oleh Kakek Karim. Mengingat hal itu Elea jadi merasa bersalah. Dia menyesal karena tadi sempat berfikir kalau ayahnya sangat egois.


"Bibi, tolong maafkan aku. Aku-aku lupa kalau Ayah adalah anaknya Nenek. Aku minta maaf" ucap Elea lirih.


"Tidak perlu meminta maaf, sayang. Bibi sangat memahami bagaimana perasaanmu. Jadi jangan berfikir yang tidak-tidak tentang Ayahmu ya? Dia sangat menyayangimu melebihi apapun" sahut Yura sembari menarik nafas lega.


Seulas senyum muncul di bibir Gabrielle. Dia ikut merasa lega karena istrinya bisa berfikiran jernih dalam menyikapi masalah ini.


"Eleanor......


Gabrielle, Elea, dan Yura kaget ketika mendengar gumaman dari arah ranjang. Mereka bertiga kemudian segera menoleh kearah Kakek Karim yang terlihat kesulitan membuka mata.


"Aku akan menghubungi Reinhard dulu" ucap Gabrielle sambil merogoh ponsel di balik jasnya.

__ADS_1


"Kakek, aku disini" sahut Elea. "Eleanor ada di samping Kakek, coba buka mata Kakek sekarang!.


Yura rasanya sangat ingin menangis sekarang. Dia lega karena ayah mertuanya sudah sadar, tapi juga khawatir jika ayah mertuanya tahu kalau ibunya Sandara akan segera datang ke negara ini. Dengan hati yang di penuhi kegelisahan Yura mencoba untuk terlihat biasa saja saat ayah mertuanya membuka mata. Dia berusaha tersenyum untuk menutupi kegelisahannya.


"Ayah, coba lihat ke sebelahmu. Eleanor ada disini, dia terus menunggui Ayah sejak tadi!.


"Eleanor" panggil Karim lirih.


Segaris senyum muncul di bibir pucatnya. Bagai mimpi dia akhirnya bisa melihat wajah cucunya setelah berhari-hari menahan kerinduan. Mata yang baru saja terbuka itu mulai tergenangi oleh airmata. Karim merasa sangat bahagia sekaligus merasa sangat bersalah.


"Jangan menangis. Kakek jadi terlihat jelek kalau seperti ini" ucap Elea sembari menyeka airmata di wajah kakeknya.


"Hikssss Eleanor, cucuku" ucap Karim pilu. "Maafkan Kakek Nak, Kakek banyak melakukan dosa padamu dan juga pada Ibumu. Maafkan Kakek, Kakek sangat menyesal, Kakek menyesal. Hiksss...."


Tangis Karim benar-benar pecah ketika cucunya memeluknya. Bayangan dimana dulu dia menyiksa Sandara yang sedang mengandung cucunya terus bermunculan di pelupuk mata. Belum lagi dengan kekejaman yang dia lakukan pada cucunya sejak bayi, semakin membuat airmata Karim mengalir semakin deras. Dia meraung menahan rasa sesak di dadanya.


"Sssttttt, Kakek tenanglah. Kakek baru saja sadar, Bagaimana kalau pita suara Kakek rusak karena menangis sekencang ini" hibur Elea mencandai sang Kakek.


Gabrielle yang baru saja selesai menghubungi Reinhard tersenyum ketika mendengar ucapan istrinya. Sungguh bujukan yang sangat aneh. Tapi yang lebih aneh lagi bujukan tersebut bisa membuat pria tua itu tersenyum meskipun masih terus menangis.


"Eleanor, apa kau sudah tidak membenci Kakek lagi?.


"Sedikit?.


Ada pula istilah sedikit. Karim terkekeh lucu mendengar jawaban cucunya yang sangat menggemaskan. Bagai mendapat obat dia mencoba untuk duduk kemudian menyandar ke kepala ranjang. Dia sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangan cucunya. Karim sangat takut akan kembali mendapat penolakan seperti kemarin-kemarin.


"Jangan bahas masalah itu dulu ya, Kek. Lebih baik sekarang Kakek makan. Kakek kan sudah berhari-hari puasa, kasihan cacing di perut Kakek. Mereka pasti sudah sangat kurus karena tidak di beri makan" celetuk Elea yang sukses mengundang gelak tawa kakek dan bibinya.


"Eleanor benar, Ayah. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan bubur hangat dulu untuk Ayah" ucap Yura kemudian bergegas pergi ke dapur.


Gabrielle datang mendekat. Dia lalu mengelus bahu istrinya kemudian menyapa kakek tua yang sedang menatapnya.


"Halo Kakek, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah ada yang tidak nyaman?.


Karim menggeleng.


"Kakek baik-baik saja karena obat penawarnya sudah ada bersama Kakek."

__ADS_1


"Oh, jadi aku ini hanya di anggap sebagai obat penawar saja ya?" rajuk Elea sambil mengerucutkan bibir. "Lihatlah Kak Iel, Kakek kejam sekali. Masa dia hanya menganggapku sebagai obat, padahal aku ini sangat manis lho. Ayo cepat beri hukuman pada Kakek, Kak!.


Gabrielle dan Kakek Karim tertawa mendengar rajukan Elea. Dia kemudian melirik kearah pintu, Gabrielle tahu ada yang sedang menguping pembicaraan mereka. Pura-pura tak mengetahui kehadiran orang tersebut, Gabrielle meminta izin pada Elea untuk pergi keluar. Dia beralasan ingin meminta Ares melakukan sesuatu.


Patricia gugup ketika pintu kamar kakeknya terbuka lebar. Dia kemudian tersenyum sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.


"Tu-Tuan Muda!.


"Apa sudah puas menguping?" sindir Gabrielle dingin.


"Maafkan sikap lancang saya, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud menguping, saya hanya merasa tidak enak mengganggu kebersamaan kalian tadi. Tolong jangan salah paham padaku" sahut Patricia mengelak.


'Sialan, kenapa aku tidak menyadari kalau Gabrielle akan keluar secepat ini. Cih, seharusnya waktuku tidak terbuang percuma seperti ini. Kakek, Elea, awas saja kalian. Beraninya kalian tertawa bahagia diatas penderitaanku. Tunggu saja, setelah ini aku akan membuat kalian menyesal karena sudah memancing kemarahanku. Cuiihh!.


"Patricia..


"Haaa.. I-iya Tuan Muda" sahut Patricia tergagap.


"Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kau lakukan dalam hidupmu. Tapi aku perlu mengingatkan satu hal padamu, jangan coba-coba menyentuh istriku meski hanya seujung rambut. Jika hal itu sampai terjadi, aku tidak akan segan untuk menghabisimu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan memandang statusmu sebagai anak dari ayah mertuaku. Menyentuh Elea artinya mati dan ini berlaku bagi siapapun, tanpa terkecuali!" ucap Gabrielle memberikan ancaman agar wanita berambut blonde ini tidak macam-macam dengan istrinya.


Patricia tersenyum. Namun senyum itu bukan senyum ketakutan, melainkan senyum karena dia yang sudah muak terus menjadi pihak yang tersakiti.


"Karena kau sudah mengancamku secara terang-terangan, maka aku tidak akan berpura-pura lagi, Gabrielle. Aku menyukaimu, dan aku berniat menyingkirkan Elea dari sisimu. Perlu kau ketahui kalau aku akan melakukan semua cara untuk mendapatkanmu, apapun yang terjadi. Kau hanya boleh jadi milikku, Gab. Hanya Patricia Young yang boleh menjadi istrimu!.


Gabrielle terkekeh.


"Lakukan saja kalau kau mampu!" tantang Gabrielle kemudian kembali masuk ke dalam kamar.


Kedua tangan Patricia terkepal kuat. Kebenciannya terhadap Elea semakin membesar ketika dia melihat betapa Gabrielle dengan sangat sengaja memanjakan gadis sialan itu di depan matanya. Sambil menahan sesak di dada, Patricia memutuskan pergi dari rumah orangtuanya. Dia tidak sanggup jika harus menyaksikan kebersamaan Gabrielle dan Elea.


🔨🔨🔨🔨🔨🔨


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2