
Mulut Elea ternganga melihat rumah megah yang ada di depannya. Saat ini dia tengah berada di halaman rumah orangtua suaminya.
"Wooaahhhh, ini bukan rumah namanya, tapi istana" gumam Elea takjub.
Gabrielle tersenyum sambil menyender di pintu mobil saat dia mendengar gumaman istrinya. Dia membiarkan hal itu terus berlanjut sampai Elea merasa puas menikmati kemegahan kastil milik orangtuanya.
"Sudah?" tanya Gabrielle saat Elea berbalik melihatnya.
"Kak Iel, rumah orangtua Kakak seperti yang ada di dalam dongeng-dongeng, megah dan sangat besar. Apa di dalamnya masih ada sesuatu yang lebih menakjubkan lagi?" ucap Elea balik bertanya.
"Tentu saja ada, sayang. Ayo masuk, nanti aku akan mengenalkanmu pada Lan. Kau pasti akan sangat menyukainya".
"Siapa Lan?" tanya Elea penasaran.
Gabrielle diam tak menjawab. Dia menggandeng tangan Elea kemudian membawanya masuk ke dalam rumah. Senyum Gabrielle terus mengembang saat dia mendengar celetukan-celetukan lucu istrinya.
"Selamat malam Tuan Muda Gabrielle, selamat malam Nona!" sapa beberapa pelayan yang sudah berbaris rapi di ruang tamu.
"Dia istriku, panggil dia Nyonya Elea!" sahut Gabrielle memberitahu.
"Baik Tuan Muda. Selamat datang Nyonya Elea" ucap para pelayan kemudian membungkuk hormat kearah istri majikannya.
Elea tersenyum manis kemudian mengulurkan tangan. "Halo kakak-kakak, namaku Elea!".
Para pelayan tercengang melihat tindakan nyonya mereka yang sedang memperkenalkan diri, bahkan tidak ragu mengajak mereka untuk berjabat tangan.
'Ya Tuhan bagaimana ini. Tuan Muda kan sangat anti jika bersentuhan dengan orang lain. Beliau pasti marah jika kami bersentuhan dengan Nyonya Elea. Tapi jika uluran tangan Nyonya Elea tidak di sambut, bukankah itu akan sangat tidak sopan? Aduh, apa yang harus aku lakukan sekarang!'.
Gabrielle yang menyadari kebingungan di diri para pelayan segera menganggukkan kepala kearah mereka. Memberi kode agar mereka membalas uluran tangan istrinya.
"Ha,halo Nyonya Elea, selamat datang di rumah ini!" jawab salah seorang pelayan gugup saat mewakili teman-temannya.
Elea menatap heran kearah pelayan yang terlihat tidak nyaman saat bersalaman dengannya. "Kak Iel, apa aku terlihat menakutkan?" tanya Elea bingung.
Gabrielle menggeleng. Dia mendekap tubuh Elea kemudian membisikkan sesuatu di telinganya. "Mereka syok melihat kecantikanmu sayang, makanya respon mereka seperti itu".
Elea mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar perkataan Gabrielle. Dia lalu menyender di dada bidang suaminya, meresapi aroma wangi yang seringkali membuatnya mabuk kepayang.
"Ares, kau pergilah ke ruang bawah tanah. Aku tahu kau pasti sangat merindukan Paman Digo, Paman Mario dan juga Bibi Maria!" ucap Gabrielle sembari mengambil hadiah dari tangan Ares.
"Baiklah Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi" sahut Ares kemudian pergi dari sana.
Elea terus melihat kepergian Ares yang sedang berjalan menuju sebuah ruangan. Matanya membulat lebar saat menyadari ada yang aneh di sana.
"Sayang, apa yang kau lihat, hm?" tanya Gabrielle sambil menarik dagu Elea agar menghadapnya.
"Kak, kenapa Ares masuk kesana?".
Tangan Elea menunjuk sebuah pintu yang luarnya terdapat kandang binatang.
__ADS_1
"Di dalam sana ada sebuah ruang rahasia yang selama ini menjadi markas anak buah Ibu. Jika ada waktu, nanti aku akan mengajakmu kesana!" jawab Gabrielle.
"Gabrielle, Elea, kalian sudah datang?".
Mulut Elea terbuka lebar saat dia melihat seorang wanita cantik yang sedang berjalan kearahnya. "Bidadari yang sangat cantik!".
Liona tersenyum saat mendengar gumaman menantunya. Lucu, itu kesan pertama yang dia tangkap di diri gadis kecil ini.
"Sayang, itu ibuku. Sapa lah" bisik Gabrielle sembari mengusap pipi istrinya.
Tangan Elea meremas ujung bajunya. Dia merasa minder sekaligus takut. Takut kalau-kalau dia akan langsung di usir pergi dari rumah ini.
"Elea, tidak mau menyapa Ibu, hem?" tanya Liona lembut.
"Apa boleh, Nyonya?" cicit Elea takut.
"Nyonya...?".
Elea melihat kearah depan saat ada seseorang yang mengikuti ucapannya. Mulutnya kembali terbuka melihat seorang pria tampan yang kini sudah memeluk ibu mertuanya dari belakang.
"Elea, tahu tidak kami ini siapa?" tanya Greg merasa gemas sendiri melihat ekpresi di wajah menantunya.
"Tahu" sahut Elea. "Tuan pasti ayahnya Kak Iel kan? Kalian sama-sama suka memeluk istrinya sembarangan!".
Gluuukkk
'Gabrielle, makhluk macam apa yang kau bawa pulang kemari? Kenapa mulut istrimu seperti tidak ada remnya? Tapi dia lumayan cantik, dia juga terlihat manis!".
Gabrielle segera memeluk Elea dengan sangat posesif begitu ayahnya menyebut kalau istrinya itu cantik dan manis. Rasa cemburu menguar jelas di matanya saat dia dan ayahnya saling melempar tatapan tidak suka.
"Ck, kalian ini. Bisa tidak jangan bertingkah kekanak-kanakan?" omel Liona sembari mencubit pinggang Greg.
"Awww Hon, kenapa kau malah mencubitku. Harusnya kau itu memarahi putramu, masa dia cemburu pada ayahnya sendiri!" protes Greg sambil mengusap bekas cubitan istrinya.
"Itu faktor keturunan, Greg. Gen-mu mengalir sempurna di tubuhnya Gabrielle. Jadi kau jangan mengeluh jika sikapnya sama persis sepertimu!" ucap Liona dongkol.
"Like father, like son!" sahut Gabrielle dan Greg bersamaan.
Liona menghela nafas panjang. Gabrielle benar-benar menuruni sikap ayahnya yang sangat pencemburu. Tapi sepertinya sikap pencemburu Gabrielle jauh lebih parah jika di bandingkan dengan Greg.
"Hentikan sikap konyol kalian. Apa kalian tidak malu membiarkan Elea melihat kelakuan kalian yang tidak jelas ini, hah?" tanya Liona sambil menatap tajam kearah suami dan anaknya.
"Aku tidak apa-apa, Nyonya. Kak Iel sudah terbiasa bersikap seperti ini padaku. Dia akan langsung marah atau memelukku jika aku berbicara dengan orang lain. Seperti induk ayam yang akan mengamuk jika ada yang mengusik anak-anaknya!" timpal Elea sekenanya.
Greg dan Liona lagi-lagi tercengang mendengar perkataan spontan Elea. Entahlah, kepribadian Elea benar-benar sangat bertolak belakang dengan kepribadian Gabrielle. Awalnya Greg dan Liona menebak kalau Elea akan merasa gugup dan malu di awal pertemuan mereka. Tapi siapa yang menyangka kalau merekalah yang akan di buat terkejut bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.
"Ekhmm Elea sayang, tolong jangan panggil kami Tuan dan Nyonya. Kami berdua adalah orangtuanya Gabrielle, jadi kau harus mengikuti cara suamimu memanggil kami. Bisa kan?" tanya Liona memberi penjelasan.
"Apa boleh begitu?" tanya Elea ragu.
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Ayo ikut Ibu masuk ke dalam, kita akan mengobrol sambil menunggu Grizelle pulang dari kantor. Baru setelah itu kita makan malam. Kau belum lapar kan?" goda Liona kemudian menggandeng tangan kecil menantunya.
"Lapar Nyo, em maksudku Ibu" sahut Elea malu-malu.
"Ibu Liona!".
"Owh... Namanya cantik sekali, sama seperti orangnya" gumam Elea lirih.
Greg dan Gabrielle berjalan di belakang sambil mendengarkan percakapan istri-istri mereka. Sesekali Greg masih terkena kejut jantung saat Elea kembali berbicara spontan.
"Istrimu menakutkan, Iel" ejek Greg berbisik pelan.
"Aku mencintainya" sahut Gabrielle asal.
"Cihhh!".
Gabrielle tersenyum. Mereka semua kemudian berkumpul di ruang tengah sambil menunggu kepulangan Grizelle. Dalam sekejap Elea langsung akrab dengan ayah dan ibu mertuanya. Apa yang dia takutkan ternyata tidak kejadian. Dia tidak di anggap seperti upik abu oleh orangtua suaminya.
"Elea, apa makanan kesukaanmu?" tanya Liona.
"Mie goreng, Ibu Liona" jawab Elea jujur.
Mata Liona mengerjap. Cukup kaget dengan makanan yang di gemari oleh menantunya. "Tapi makanan itu tidak sehat, sayang. Lambungmu bisa bermasalah jika terlalu banyak mengkonsumsinya!".
"Tidak apa-apa, Ibu Liona. Aku tidak mati kok meskipun sering memakan mie goreng".
Rasanya Liona dan Greg seperti berubah menjadi orang bodoh setiap kali Elea mengeluarkan kartu as yang langsung membuat mulut mereka terkunci rapat. Sangat unik, tapi juga memakan kesabaran yang cukup besar. Beruntung Elea ini adalah gadis yang di sukai oleh putra mereka. Jika tidak, mungkin Greg akan langsung menenggelamkan kepala Elea ke dasar sungai supaya otaknya bisa berpikir jernih.
"Gabrielle, kau sangat luar biasa!".
"Terima kasih atas pujiannya, Ayah!" sahut Gabrielle sambil tersenyum penuh kemenangan.
Saat semuanya sedang berbincang, Elea menyadari kalau Grizelle sudah pulang. Dia menoleh kemudian terbelalak kaget mendapati tubuh Grizelle yang berlumuran darah.
"Izel, kau kenapa?".
Gabrielle,Greg dan Liona terlonjak kaget melihat kondisi Grizelle. Elea yang tahu kalau adik iparnya terluka segera datang menghampiri. Dia lalu meminta Grizelle untuk segera mengobati luka di tubuhnya sebelum mati karena kehabisan darah.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1