
Gabrielle duduk dengan gelisah saat pekerjaan yang dia bahas bersama Patricia tak kunjung selesai. Dia muak, sangat muak saat wanita blonde ini tak henti mencoba untuk menarik perhatiannya.
"Tuan Muda, bagian ini bisakah anda memberikan sedikit penjelasan? Saya sedikit kurang memahami masalah pembagiannya?" tanya Patricia dengan suara yang di buat selembut mungkin.
Ares mencibir sinis. Sadar kalau Tuan Muda-nya tak berkenan untuk menjawab, dia segera mengambil alih untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun baru saja dia hendak membuka mulut, tiba-tiba saja berkas yang tadi di sodorkan pada Tuan Muda-nya di tarik kembali oleh Patricia.
"Maaf Tuan Ares, bukan maksud ingin menyinggung. Tapi saya sedang berbicara dengan Tuan Muda, jadi saya harap anda tahu diri untuk tidak menimpali pembicaraan kami" ucap Patricia penuh nada gertakan.
"Oh ya? Tapi di mata saya Nona bukan sedang membicarakan pekerjaan. Melainkan sedang menggoda suami orang" sahut Ares sarkas.
"Tuan Ares, tolong jangan bicara sembarangan."
"Ares!" panggil Gabrielle. "Semua pekerjaan ini kau yang mengambil alih. Aku muak menghadapi wanita yang sok polos ini. Dan juga, aku memberimu hak penuh untuk mengambil semua keputusan. Jadi Nona Patricia, aku rasa kau tidak perlu menggertak orang kepercayaanku lagi seperti tadi. Karena apapun yang dia putuskan adalah merupakan keputusanku juga. Mutlak dan tidak ada bantahan!."
Patricia kikuk. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar penuturan Gabrielle. Dengan kesal Patricia akhirnya mendiskusikan masalah itu bersama Ares. Sembari membahas pekerjaan, mata Patricia terus melirik kearah Gabrielle. Dia benar-benar tidak bisa fokus karena ketampanan pria tersebut.
"Ekhmm maaf Nona Patricia, kalau Nona merasa terganggu dengan suasana di ruangan ini kita bisa pindah ke ruangan yang lain. Saya perhatikan sejak tadi mata dan pikiran Nona tidak terfokus pada pekerjaan ini!" tegur Ares dengan nada yang sangat tegas.
"Hah?? M-maaf Tuan Ares. Saya, saya hanya sedang ada sedikit masalah makanya tidak fokus. Sekali lagi saya minta maaf" sahut Patricia mencoba berkilah.
"Nona, sebagai seorang pembisnis anda tentu saja tahu bukan kalau apapun kondisinya kita di minta untuk tetap profesional, tak peduli sebesar apapun masalah yang sedang Nona hadapi. Kalau sekiranya masalah tersebut membuat Nona merasa tidak tenang, seharusnya Nona membatalkan pertemuan ini saja tadi. Jadi saya pun tidak perlu membuang-buang waktu hanya untuk mengoceh di hadapan orang yang pikirannya malah beralih pada hal lain. Dengan begini saya bisa mengambil kesimpulan kalau Nona itu sama sekali tidak menghargai kerjasama kita!" tandas Ares kemudian melihat kearah Tuan Muda-nya. "Bagaimana menurut anda, Tuan Muda? Perlukah pembicaraan ini di teruskan?."
Patricia gelagapan. Sungguh, Ares bukanlah orang yang bisa di remehkan. Orang ini sangat sulit, terlebih lagi karena dia memegang kepercayaan Gabrielle sepenuhnya. Dengan sangat tergesa-gesa Patricia memikirkan cara agar pertemuan itu tidak berakhir begitu saja. Dia sebenarnya tahu kalau sejak tadi Gabrielle sudah sangat gelisah ingin pergi menemui gadis sialan itu. Makanya Patricia terus mencoba mengalihkan pikiran Gabrielle dengan berbagai macam pertanyaan yang menurutnya bukanlah sebuah masalah. Juga karena Patricia ingin lebih bisa mendapat perhatian dari pria tampan ini. Bukankah jika kita menginginkan sesuatu kita harus memulainya dari hal yang terkecil? Pertama mencuri perhatiannya kemudian memilikinya.Dan itulah yang sedang coba Patricia lakukan agar bisa merebut posisi Nyonya Ma dari tangan Eleanor.
"Tuan Ares tolong jangan seperti ini. Saya-saya minta maaf, saya janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi setelah ini."
Gabrielle bosan, benar-benar sangat bosan. Apalagi setelah dia mendengar apa yang di pikirkan oleh Patricia. Semakinlah kebosanannya naik ke tingkat yang paling tinggi.
__ADS_1
"Kalian berdua jika masih ingin bertele-tele sebaiknya pergi saja dari ruanganku. Apa kalian pikir pekerjaan ini bisa kalian gunakan untuk bermain-main. Iya?" bentak Gabrielle kemudian menatap tajam kearah tamunya. "Dan kau Nona Patricia. Meski statusmu adalah putri Ayah Bryan, aku tidak akan segan untuk memutuskan kerjasama perusahaan kita kalau kau masih berani menanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah kau pahami dengan sangat baik. Aku tahu kau tidak sebodoh itu Nona, jadi berhenti mempermainkan aku dan segera selesaikan pekerjaan ini. SEKARANG!!."
Ares menyeringai melihat wajah pucat Patricia. Ini akibatnya jika berani membuat singa pencemburu ini marah karena menunda waktu untuk bisa berduaan dengan kesayangannya. Salah siapa wanita blonde ini tidak tahu diri ingin merebut Tuan Muda-nya, jadi ya beginilah hasilnya. Bukan perhatian yang dia dapatkan malah cacian dan hujatan yang harus dia terima. Hari ini Ares benar-benar sangat puas karena secara tidak langsung Tuan Muda-nya sudah memberikan pelajaran atas apa yang di perbuat Patricia terhadap Nyonya kecilnya saat di Paris kemarin.
"Ba-baik, Tuan Muda. Saya, saya akan lebih serius kali ini" sahut Patricia.
'Arggh sial. Bukannya mendapat perhatian Gabrielle kenapa aku malah di bentak? Kenapa susah sekali sih merebut perhatian pria ini. Apa iya aku harus mengaku kalah pada Elea? Shitt, tidak-tidak. Sampai matipun aku tidak akan sudi mengaku kalah dari gadis sialan itu. Dialah yang seharusnya kalah. Ya benar, Elea lah yang lebih pantas untuk merasakan kekalahan, bukan aku!.'
Meski sedikit emosi mendengar isi pikiran Patricia, Gabrielle memutuskan untuk diam saja. Dia kini lebih tertarik dengan pesan yang baru saja di kirimkan penjaga yang mengawal istrinya.
"Manisnya" gumam Gabrielle ketika melihat Elea yang terlihat sangat bahagia saat memasuki pusat perbelanjaan.
Namun senyum di bibir Gabrielle langsung menghilang ketika video tersebut memperlihatkan dimana Gleen yang dengan sengaja menyentuh tangan Elea. Seketika emosinya membludak, matanya memerah dengan deru nafas yang tidak beraturan.
"Tuan Muda, ada apa?" tanya Ares saat menyadari ada yang tidak beres dengan diri Tuan Muda-nya.
Patricia menelan ludah. Orang gila mana yang mampu menyelesaikan pekerjaan sebanyak ini hanya dalam waktu lima menit? Gabrielle benar-benar tidak waras. Secinta apapun Patricia padanya, dia tidak akan mampu jika harus mengikuti cara kerja otaknya. Patricia masih butuh banyak pengalaman agar bisa memiliki otak secerdas Gabrielle.
"Tapi Tuan Muda, kami..
"Tidak ada bantahan! Lakukan sekarang atau batalkan kerjasama. Aku tidak akan bangkrut meski harus membayar denda penalti sebanyak apapun yang kau minta!" hardik Gabrielle kemudian menggeram marah. "Gleen, awas saja kau. Tunggu setelah aku datang!."
"Tuan Muda, em atau tidak begini saja. Bagaimana kalau besok saya kembali datang kemari untuk menyelesaikan pekerjaan ini? Lima menit terlalu sulit untuk kami bisa menyelesaikannya, Tuan Muda" ucap Patricia mencoba membujuk Gabrielle. Tak lupa juga dia sertakan senyum termanisnya dengan harapan kalau pria ini akan memberinya sedikit kelonggaran waktu.
Brrraaakkkk
"SIAPA KAU BERANI MENGATURKU, HAH!."
__ADS_1
Dengan sangat emosi Gabrielle menggebrak meja kemudian langsung menunjuk wajah Patricia dengan tatapan yang begitu sengit. "Kau, enyah dari hadapanku sekarang juga. K-E-L-U-A-R!!!."
"Tapi Tuan Muda...
"Nona..." sela Ares. "Sebaiknya anda segera pergi atau saya akan memanggil keamanan untuk menyeret anda keluar dari ruangan ini. Dan satu hal lagi, Tuan Muda kami tidak pernah menerima aturan dari siapapun. Kalau Nona merasa keberatan, silahkan ajukan nominal untuk membayar ganti rugi pemutusan kerjasama antara Group Ma dengan perusahaan anda. Saya rasa Nona tahu prosedur seperti apa yang harus Nona lakukan!."
Tangan Patricia terkepal dengan sangat kuat. Sialan, kedua pria ini secara terang-terangan telah menghinanya. Mungkin memang benar kalau dia bisa mengajukan nominal uang dalam jumlah besar jika seandainya Group Ma benar-benar memutuskan hubungan kerja antar perusahaan mereka. Tapi dampak dari pembatalan kerjasama tersebut bisa menghancurkan perusahaannya sendiri. Harga saham pasti akan langsung anjlok dan bisa di pastikan kalau Group Young akan gulung tikar dalam sekali tarikan nafas. Tak ingin hal itu terjadi, Patricia akhirnya memilih untuk pergi. Dia tidak mau mengambil resiko lebih dalam lagi jika tidak segera menuruti keinginan pria yang terlihat begitu marah setelah melihat sesuatu di ponselnya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan Muda, Tuan Ares. Saya pribadi ingin menyampaikan permintaan maaf atas kelalaian saya dalam menyelesaikan pekerjaan ini. Saya harap Tuan Muda tidak memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerjasama antar perusahaan kita. Permisi" ucap Patricia kemudian membungkuk hormat sebelum akhirnya pergi dari ruangan tersebut.
Gabrielle mendengus. Setelah itu dia berteriak kuat sembari menyebut nama pria yang sudah menyulut api di pikirannya.
"Glleeeennnnn!!! Kau akan mati setelah ini! Beraninya kau menyentuh tangan istriku. Aarrggghhhhh!."
Ares hanya bisa diam sambil merutuki kebodohan pria bernama Gleen itu. Dia bisa menebak kalau setelah ini pasti akan terjadi masalah besar mengingat betapa Tuan Muda-nya sangat tidak suka barang miliknya di sentuh. Terlebih lagi itu adalah istri kesayangannya, gadis kecil yang selalu berhasil membuat orang lain berada dalam posisi terjepit.
'Gleen, aku harap kau tidak mati saat menghadapi kemarahan Tuan Muda nanti. Huftt, sepertinya akan ada peraturan baru yang lebih gila lagi dari sebelumnya!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1