Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pusaran Gelap


__ADS_3

Junio melangkahkan kaki menuju kamarnya sambil tersenyum-senyum teringat dengan kejadian saat di rumah sakit tadi. Rasanya dia benar-benar puas melihat Gleen mati kutu akibat kearoganannya sendiri.


"Hehe, tidak kusangka Lusi berani mengambil keputusan untuk meninggalkan Gleen. Haha, rasanya pasti sakit sekali" ujar Junio.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Manik mata Gleen langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang meringkuk di atas ranjang. Patricia, tahanannya itu mendadak berubah menjadi seorang wanita yang patuh sejak Junio berjanji akan membawanya pergi ke makam ibunya.


'Apa Patricia akan mengamuk padaku jika dia tahu kalau ternyata ibunya masih hidup? Haisshhh, kenapa aku jadi lembek begini sih.'


Dengan perlahan-lahan Junio menutup pintu kamar kemudian berjalan mendekat kearah ranjang. Dia menatap seksama wajah cantik Patricia yang terlihat polos ketika sedang tertidur.


"Cantik" gumam Junio lirih.


Entah setan mana yang merasuki pikiran Junio, dia tiba-tiba saja tergerak untuk mencium kening Patricia. Ada rasa berbeda ketika bibir Junio menempel di kulitnya yang lembut, semacam ada rasa kehangatan yang tak pernah dia dapatkan selama ini.


Tak ingin terbawa perasaan, Junio memutuskan untuk segera masuk ke kamar mandi. Iblis mesum di tubuhnya mendadak pensiun meskipun melihat lekukan tubuh molek Patricia yang hanya terbungkus lingerie yang sangat sexy.


"Kalau seperti ini caranya lama-lama mata air juniorku bisa membeku. Ck, sebenarnya aku ini kenapa sih. Kenapa aku seperti tidak rela menyentuh tubuhnya. Dia kan tawananku, aku bebas melakukan apapun padanya. Menjengkelkan sekali!.


Sambil menggerutu Junio membiarkan tubuh kekarnya berada di bawah guyuran air shower. Dia menerka-nerka, heran karena tiba-tiba saja ada perasaan lain ketika dia mencium kening Patricia tadi.


"Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya kan? Jelas-jelas dia bukan type-ku, tapi kenapa aku merasa aneh? Brengsek, kendalikan pikiranmu, Junio. Kau jangan sampai jatuh pada pesona tawananmu" omel Junio bermonolog sendiri.


Hampir setengah jam lamanya Junio berada di bawah guyuran air shower yang dingin. Dia meraih baju handuk yang tersedia di sana kemudian memakainya dan membiarkan butiran air menetes melalui ujung rambutnya yang tebal.


Ceklek


"Shiittt! Yakk, apa kau berniat membuatku mati jantungan!" teriak Junio kaget melihat keberadaan Patricia yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Maaf Jun, tadi aku tertidur. Aku terbangun saat mendengar suara orang mandi di dalam sini. Tadinya aku ingin mengetuk pintu, tapi kau sudah membukanya lebih dulu" sahut Patricia lirih.


Junio menghela nafas. Dia mengusap wajahnya beberapa kali untuk meredam kekagetannya.


"Mau kusiapkan pakaian?" tawar Patricia.


"Hmmm.."


"Mau atau tidak?.


"Kau berani membentakku?" tanya Junio sambil memicingkan mata.

__ADS_1


Tatapan Patricia berubah. Tadinya dia ingin bersikap lembut pada pria ini, tapi sikap pria ini membuatnya kesal. Sambil melipat tangan di atas perut Patricia melayangkan pertanyaan yang membuat Junio terlihat kesal.


"Apa hanya kau saja yang boleh membentak orang? Iya?.


"Kau!" kesal Junio sambil menunjuk wajah Patricia. "Aku sudah berbesar hati untuk tidak menyentuhmu malam ini, tapi sepertinya kau lupa siapa kau di rumah ini. Ikut aku!.


Patricia langsung ketakutan ketika tangannya di tarik kearah sofa. Dia mencoba berontak, namun cengkeraman tangan Junio di lengannya begitu kuat. Terpaksalah Patricia pasrah ketika tubuhnya di lempar kearah sofa dengan sangat kasar.


"J-Junio, m-mau a-apa kau?" tanya Patricia panik melihat Junio membuka baju handuknya.


"Menurutmu?.


Sebuah smirk jahat muncul di sudut bibir Junio. Dia terkekeh melihat wajah Patricia yang sudah memucat. Tanpa merasa malu sedikitpun Junio membuang baju handuknya ke lantai kemudian menindih tubuh sexy milik tawanannya.


"Junio, tolong jangan lakukan ini lagi padaku. Aku minta maaf, aku salah. Tolong ampuni aku Jun, aku mohon" cicit Patricia panik sambil terus menahan tangan Junio yang sudah menjalar kemana-mana.


"Hahahaa, maaf? Itu sudah terlambat, Patricia. Lidahmu terlalu lancang" sahut Junio sambil menghisap kulit leher Patricia hingga meninggalkan bekas keunguan di sana.


"Aku minta maaf, Junio. Ak-aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku akan patuh padamu."


"Sudah terlambat sayang."


"Junio, aku mohon.."


Kesal mendengar ratapan Patricia, Junio akhirnya melayangkan sebuah tamparan ke pipinya. Dia lalu mencekik lehernya, tak merasa iba ketika wajah Patricia mulai memerah karena kehabisan nafas.


"Engggg.... Hk.. J-Jun, a-a-akku ti-dak b-bisa b-ber-bernafas" ucap Patricia tersendat-sendat sambil memukul tangan Junio supaya mau melepaskan cekikan di lehernya.


"Hahahaaaa... Kenapa? Apa kau takut mati, hm?" tanya Junio tanpa berniat menghentikan siksaan yang sedang dia lakukan pada tawanannya. "Kau terlalu angkuh sebagai seorang wanita, Patricia. Wanita iblis sepertimu harus di beri pelajaran supaya jera dan tidak berani bersikap kurang ajar lagi pada tuanmu. Apa kau mengerti, hah!.


Tes


Sebutir cairan bening lolos di sudut mata Patricia. Dia kemudian membeliak, paru-parunya sudah kehabisan oksigen. Dadanya terasa begitu sakit. Mungkinkah ajalnya sudah tiba?


Plaaakkkk


Satu tamparan kembali di dapatkan Patricia bersamaan dengan terlepasnya cekikan di lehernya. Patricia kemudian menghirup udara sebanyak mungkin sambil menepuk dadanya berulang kali.


"Berterima kasihlah kau pada Elea, Patricia. Jika bukan karena gadis polos itu, kau pasti sekarang sudah mati di tanganku" ucap Junio yang tiba-tiba saja terbayang wajah istrinya Gabrielle.


"M-maafkan aku, Jun. Maaf" bisik Patricia sambil terisak.

__ADS_1


Junio tersenyum. Satu tangannya terulur untuk merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik tawanannya ini. Mata tajamnya kemudian menelusuri leher putih milik wanita yang masih terisak di bawah kungkungan tubuh t*lanjangnya. Junio puas, sangat puas melihat Patricia tersiksa seperti ini. Airmata di wajahnya bagaikan embun yang membawa kesejukan, yang mana hal itu membuat iblis di dalam tubuh Junio memberontak.


"Patricia, sayangku" panggil Junio dengan suara serak.


"I-iya Jun. Ada apa?" tanya Patricia yang sudah pasrah dengan apa yang akan segera terjadi.


"Patuh ya?.


Dengan tubuh gemetaran Patricia menganggukkan kepala. Matanya langsung terpejam ketika Junio mulai membenamkan wajahnya di bagian ceruk leher. Patricia menahan sekuat tenaga agar suara tangisnya tidak keluar, dia takut pria ini akan kembali mengamuk jika melihatnya masih menangis.


Srreett


"Kalau merasa nikmat keluarkan saja, jangan di tahan" bisik Junio setelah merobek lingerie yang di pakai Patricia.


"I-iya.."


"Iya apa, hem?.


Wajah Patricia memerah. Terlebih lagi sekarang dia dan Junio sudah sama-sama tidak memakai apapun lagi.


"A-aku tidak akan menahan diri lagi" jawab Patricia dengan perasaan hati yang sangat hancur.


Junio terkekeh.


"Gadis baik, sekarang ayo kita pergi berlayar. Beri aku kepuasan dan biarkan aku tergila-gila pada keliaranmu di atas sofa ini."


Patricia memekik kaget saat Junio membalik posisi mereka. Mata Patricia menatap kearah lain saat pria gila ini terus menatapnya lekat.


"Mulailah, sayangku."


"A-aku harus bagaimana?" tanya Patricia bingung dan juga jijik.


"Sentuh milikku. Setelah itu berikan dia kehangatan" jawab Junio sabar.


Ingin rasanya Patricia menolak perintah Junio, tapi dia tidak berani. Patricia belum ingin mati sebelum mengunjungi makam ibunya dulu. Jadi dengan berat hati dia terpaksa menuruti keinginan Junio. Sungguh, saat ini dia terlihat seperti wanita j*lang yang sedang memuaskan pelanggannya. Sangat miris, tapi Patricia tidak bisa melakukan apa-apa untuk melarikan diri dari nasib ini. Dia terjebak dalam pusaran gelap yang entah kapan baru akan berakhir.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2