
Setelah mendapat izin dari Gabrielle, Levi dengan penuh semangat membawa Elea pergi ke taman bermain. Dan tentu saja mereka pergi dengan di kawal oleh belasan penjaga yang telah di atur oleh Ares untuk menjaga keselamatan mereka berdua.
"Cihhh, jika seperti ini orang pasti akan mengira kalau kita sedang melakukan konvoi" gerutu Levi.
Elea yang duduk di sebelah Levi hanya diam mendengarkan. Dia sebenarnya merasa bingung melihat banyaknya mobil yang mengikuti mereka dari belakang. Namun Elea tak mau menanyakan hal tersebut, dia takut pertanyaannya malah membuat Levi semakin kesal.
"Elea, kenapa kau diam saja sih. Cepat lakukan protes pada suamimu yang posesif itu!" ucap Levi ketus.
"Protes apa Kak?" tanya Elea.
"Ck, memangnya kau tidak lihat ya berapa banyak pengawal yang mengikuti kita!" decak Levi kesal.
"Aku lihat!".
Levi mendengus.
"Kalau begitu tunggu apalagi. Sana protes pada suamimu, katakan padanya kalau kita itu ingin pergi bermain dengan bebas, bukan malah di jadikan seperti tersangka korupsi yang mencuri uang negara!".
"Kita kan memang bukan pelaku korupsi, Kak. Kenapa Kak Iel yang harus di protes?".
Mendengar pertanyaan bodoh Elea membuat Levi merasa frustasi. Sambil memasang senyum menahan kesal, Levi menarik bahu Elea agar menghadap kearahnya.
"Elea sayang, yang bilang kalau kita ini adalah pelaku korupsi itu siapa?" tanya Levi.
"Kak Levi lah. Baru saja tadi Kakak bilang begitu" jawab Elea polos.
"Astaga Elea. Yaakkk! Itu hanya perumpamaan saja, hanya perumpamaan. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana caranya kau berfikir. Bisa-bisanya kau menelan mentah-mentah perkataanku tanpa menyaringnya terlebih dahulu!".
Elea meringis sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.
'Aduhhh, salah lagi aku. Tahu begini lebih baik aku diam saja tadi!'.
Levi menyandarkan tubuhnya ke sofa mobil sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Dia akan selalu berakhir seperti ini jika berhadapan dengan pola pikir Elea yang begitu polos.
"Kak Levi, kau baik-baik saja kan?" tanya Elea khawatir.
"Baik-baik apanya. Matamu tidak bisa lihat kalau aku hampir menjadi gila setiap kali bicara denganmu hah?" ucap Levi balik bertanya.
"Maaf, Kak. Aku benar-benar tidak paham saat Kakak menyebut kita sebagai tukang korupsi. Otakku sangat bodoh, aku selalu lamban mencerna semua hal. Maafkan kebodohanku ya Kak" ucap Elea merasa bersalah.
Mendengar kata permintaan maaf Elea membuat Levi merasa teriris. Tanpa sadar dia sudah menyakiti perasaan seorang gadis kecil yang begitu polos ini. Tak ingin melihat teman kecilnya bersedih hati, Levi dengan penuh sayang memeluknya. Dia mendekap tubuh mungil Elea seolah-olah dia adalah bayi kecil yang sangat rapuh.
"Tidak perlu minta maaf, kau tidak salah apa-apa. Kau tahu sendiri bukan kalau emosiku gampang meledak-ledak?" tanya Levi sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Iya Kak aku tahu. Aku juga tahu kalau sebenarnya Kakak adalah orang yang baik" jawab Elea.
"Darimana kau tahu kalau aku orang baik?".
Elea mendongak. Dia kemudian tersenyum. Senyum tulus yang mampu menggetarkan hati setiap orang yang melihatnya.
"Aku tahu setelah Kakak menabrakku malam itu. Jika Kak Levi bukan orang baik, Kakak pasti tidak akan mau repot-repot mengantarkan aku ke rumah sakit. Bahkan Kak Levi juga membelikan berbagai macam makanan untukku. Malam itu kau terlihat seperti malaikat yang datang untuk menolongku Kak".
Levi tertegun mendengar kejujuran Elea. Dia menoleh kearah samping berusaha menahan air matanya agar tidak menetes keluar.
"Kak Levi, terima kasih ya sudah mau mengulurkan tangan untuk menjadikan aku sebagai temanmu. Kakak adalah orang kedua yang tidak menganggapku seperti sampah. Kau bidadari cantik yang di kirim Tuhan dari langit" tambah Elea dengan begitu tulus.
Penjaga yang sedang mengemudikan mobil melirik melalui kaca spion begitu mendengar perkataan nyonya nya. Dia tersenyum.
"Omonganmu sangat menggelikan, Elea. Membuat telingaku sakit saja!" omel Levi sambil menyeka airmata yang akhirnya menetes juga.
Levi merasa sangat tersentuh. Sebuah kejujuran yang baru saja di sampaikan oleh Elea langsung mengendap di dasar hatinya yang paling dalam.
"Apa sakit sekali?" ledek Elea sambil tersenyum lucu.
Elea tahu kalau Levi sedang berpura-pura. Dia tadi sempat melihat kalau temannya ini sedang menghapus jejak airmata di wajahnya.
"Tentu saja!" ketus Levi tanpa berani menoleh.
"Bahagianya jadi mereka!" gumam Elea lirih.
Meskipun suara Elea begitu kecil, nyatanya Levi masih bisa mendengarnya. Elea tidak menyadari kalau sekarang Levi tengah mengirimkan pesan pada suaminya.
'Gabrielle, kapan Elea mulai belajar? Aku melihat kesedihan saat dia memperhatikan anak-anak perempuan yang memakai seragam sekolah. Aku tidak suka itu!'.
Setelah mengirim pesan, Levi kembali memperhatikan Elea yang kini sedang melamun. Ada senyum miris yang muncul di bibirnya begitu melihat tatapan kosong di wajah teman kecilnya ini.
Drttt.. Drrttt...
Ponsel Levi bergetar. Ada sebuah pesan masuk yang berisi balasan dari Gabrielle.
'Malam ini Elea akan memulai pembelajarannya. Levi, tolong jaga Elea untukku. Lakukan apapun supaya hari ini dia bisa merasa bahagia. Aku sangat benci membaca pesanmu yang mengatakan kalau istriku terlihat sedih. Turuti semua yang dia inginkan, aku tidak peduli seberapa banyak uang yang akan kalian habiskan nanti. Karena bagiku kebahagiaan Elea jauh lebih penting di bandingkan apapun!'.
Levi tersenyum setelah membaca pesan tersebut. Dia merasa lega karena Elea di nikahi oleh orang yang sangat tepat. Gabrielle tidak seburuk yang dia pikir, pria dingin itu terlihat begitu mencintai Elea dengan sangat tulus.
'Kau berhak untuk bahagia, Elea. Tersenyumlah selalu karena sekarang kau memiliki seorang pria yang begitu peduli akan kebahagianmu!'.
"Kak Levi, apa masih jauh?" tanya Elea setelah diam cukup lama.
__ADS_1
"Tidak, sebentar lagi kita akan segera sampai. Oh ya Elea, sebelum kesana bagaimana kalau kita berganti kostum dulu. Tidak seru kalau kau memakai dres seperti ini" jawab Levi sambil menunjuk baju yang di pakai Elea.
"Memangnya kenapa, Kak? Kak Iel bisa marah kalau aku sembarangan memakai baju. Dia sudah berpesan padaku tadi".
Levi menghela nafas. Gabrielle terlalu posesif, bahkan urusan baju Elea saja dia ikut terlibat. Dan bodohnya lagi Elea begitu patuh menuruti keinginannya. Apakah ini yang di sebut istri sholehah?.
"Elea, di sana nanti kita akan menaiki berbagai macam wahana permainan. Kalau kau memakai pakaian seperti ini, orang-orang pasti akan melihat kue bakpao yang tersembunyi di balik celana dalammu saat dressnya berkibar tertiup angin. Memangnya kau tidak malu apa?" bujuk Levi dengan sangat sabar.
Elea bimbang antara menuruti perkataan Levi atau tetap patuh pada perintah suaminya. Namun karena dia tak mau kehilangan moment bahagia ini, dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti ucapan Levi.
"Ya sudah kalau begitu kita ganti saja!".
Levi menyeringai.
"Sudah tidak takut suamimu marah, hem?".
"Takut. Tapi nanti aku akan bilang alasannya pada Kak Iel seperti yang Kak Levi bilang padaku tadi" jawab Elea sambil menganggukkan kepala.
Mulut Levi ternganga mendengar hal itu. Dia tidak menyangka kalau bujukannya akan menjadi boomerang untuknya sendiri.
"Yakk Elea, apa kau tidak bisa bohong sedikit saja hah? Astaga, kue bakpao. Gabrielle bisa mengamuk kalau mendengar hal ini!" teriak Levi frustasi.
"Mana boleh berbohong pada suami, Kak. Tuhan bisa marah nanti!" sahut Elea.
Mata Levi melotot kearah depan saat dia mendengar suara tawa kecil dari penjaga. Ingin rasanya dia menelan dua manusia yang berada di dalam mobil ini.
"Kau luar biasa, Elea. Silahkan, silahkan katakan apapun pada suamimu. Aku tidak peduli" ucap Levi pasrah.
"Baik Kak!".
Bolehkah Levi menangis darah sekarang?......
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1