Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Segelas Kopi


__ADS_3

Setelah memastikan kedua tuannya beristirahat dengan baik, Ares melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia butuh segelas kopi panas untuk menemani malam yang dingin ini. Seulas senyum nampak menghiasi bibir Ares saat dia terkenang dengan kebersamaan kedua tuannya di bawah hujan salju tadi. Tawa mereka membuat Ares merasa lega. Sungguh hal yang sangat langka bisa menyaksikan Tuan Muda-nya mau bertingkah konyol hanya demi bisa menghibur istrinya yang sedang terluka.


"Tuan Muda, aku harap kau dan Nyonya Elea akan selamanya bahagia seperti malam ini. Baru kali ini aku melihat kalian benar-benar bisa tertawa lepas setelah sekian banyak masalah yang muncul di hidup kalian. Semoga saja setelah ini tidak akan ada lagi masalah yang datang" gumam Ares tulus mendoakan kebahagiaan Tuan Muda-nya.


Langkah Ares terhenti saat dia melihat seseorang tengah duduk sendirian di dapur. Keningnya mengerut.


"Cira, apa yang dia lakukan di dapur malam-malam begini?."


Penasaran, Ares akhirnya datang menghampiri. Dia melangkah sepelan mungkin, berusaha agar tidak menimbulkan suara.


Cira yang sedang melamun terperanjat kaget saat bahunya di tepuk dari arah belakang. Cepat-cepat dia berbalik badan kemudian melayangkan sebuah pukulan.


"Tuan Ares?."


"Apa kau berharap kalau aku ini perampok?" tanya Ares sembari menahan kepalan tangan Cira. Dia lalu melepaskan tangan tersebut saat melihatnya tersenyum kikuk.


"Maaf, saya tidak tahu kalau itu anda" jawab Cira.


Ares mengangguk. Dia kemudian berjalan kearah rak piring.


"Kopi...?."


Cira mengangguk. "Sedikit gula!."


"Oke..."


Sambil membuat dua gelas kopi Ares sesekali melirik kearah Cira yang sedang melamun. Dari pertama kali melihatnya, entah kenapa Ares merasa sangat tertarik dengan aura yang memancar dari gadis tersebut. Tegas, tak banyak bicara, dan juga terlihat sangat bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Itu hanya sebatas tebakan saja, karena Ares sendiri masih belum mengenal baik pribadi gadis ini.


"Sudah berapa lama kau mengikuti Nyonya Clarissa?" tanya Ares sambil menyodorkan gelas kearah Cira. "Kopimu,,,."


"Terima kasih, Tuan Ares" ucap Cira sopan menerima minumannya. "Saya mengikuti Nyonya Clarissa sudah selama belasan tahun. Atau lebih tepatnya sejak saya di adopsi tiga belas tahun yang lalu !."


"Adopsi? Jadi kau itu anak angkatnya Nyonya Clarissa?."


Cira menghela nafas dalam kemudian mencicipi kopi buatan Ares.


"Saya cukup tahu diri untuk tidak meminta di angkat sebagai anak, Tuan Ares. Meskipun awalnya Nyonya Clarissa ingin, tapi saya menolak karena saya sadar siapa saya!."

__ADS_1


"Kenapa seperti itu? Bukankah dengan menjadi anak angkatnya Nyonya Clarissa kau tidak perlu bersusah payah menjadi seorang asisten?" tanya Ares kemudian duduk di seberang Cira. Dia mulai menyesap kopi miliknya sambil mengamati wajah cantik milik gadis yang ada di depannya.


"Saya tidak tertarik dengan semua itu, Tuan. Sudah di selamatkan dari jalanan saja saya sudah merasa sangat beruntung. Daripada menjadi anak, akan lebih baik kalau saya menjadi asistennya saja. Selain karena bisa terbebas dari kejaran media, saya juga memiliki banyak kesempatan untuk membalas budi atas semua kebaikan yang telah Nyonya berikan selama ini" jawab Cira jujur.


Ares tersenyum, dia sangat suka dengan kerendahan hati gadis ini. Ares kemudian teringat dengan penghuni rumah lainnya. Dia lalu menanyakan seberapa licik pasangan ibu dan anak yang sepertinya tidak sesederhana yang dia lihat.


"Oh iya Cira, boleh aku bertanya sesuatu padamu?."


Cira mengangguk. Dia lalu menatap seksama kearah Ares.


"Nyonya Kimmy dan Fulgi, seperti apa mereka berdua?."


"Licik dan kejam" jawab Cira tanpa ragu. "Terlebih lagi Tuan Fulgi. Tadi saya sudah memperingatkan dokter Reinhard untuk waspada terhadapnya. Otak dan lidahnya sangat pandai bersilat, kata-katanya bisa membuat orang lain terbuai kemudian jatuh ke dalam perangkap yang dia buat!."


"Oh ya? Selicik dan sekejam apa memangnya dia?" tanya Ares lagi. Dia mulai tertarik saat menemukan lawan yang sedikit berimbang dengan kemampuannya.


"Selicik kancil dan sekejam harimau yang memangsa anaknya sendiri" jawab Cira. "Tuan Ares, saya yakin sekali kalau Tuan Fulgi pasti sudah menyiapkan rencana untuk menyakiti salah satu dari kalian. Dan saya khawatir orang pertama yang akan dia incar adalah Nona Levi karena tadi pagi Nona Levi sudah mempermalukan Nyonya Kimmy dan juga Tuan Fulgi di hadapan semua orang. Sejak tadi saya terus memikirkan hal ini, perasaan saya sangat tidak enak!."


"Tenanglah. Setiap gerak-gerik mereka sudah di awasi oleh anak buahku, jadi mereka tidak akan bisa menyentuh kita semua. Aku jaminkan itu padamu!."


"Kau penggila kopi?" tanya Ares. Entahlah, berbicara dengan gadis ini membuat beban di pundak Ares sedikit berkurang. Kata-katanya yang lembut dan tertata dengan sangat apik memberikan kesan tersendiri di benak Ares.


"Sedikit!" jawab Cira kemudian tersenyum. "Saya sering menikmatinya sambil memikirkan kapan Nyonya Clarissa akan hidup bahagia. Rasanya lelah sekali meski bukan saya yang mengalami. Tapi syukurlah sekarang Nyonya Clarissa bisa merasa lega setelah bertemu dengan Nona Elea, walaupun hatinya harus hancur saat tahu kalau Nyonya Sandara sudah meninggal dunia!."


"Sangat di sayangkan memang. Tapi mau bagaimana lagi, kita sebagai manusia tidak akan sanggup melawan takdir Tuhan. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk almarhum Nyonya Sandara" imbuh Ares sambil menarik nafas panjang. "Cira, berapa usiamu?."


"Dua puluh enam tahun, Tuan Ares. Anda sendiri?."


"Usiaku hampir sama dengan usia Tuan Muda Gabrielle. Hanya berbeda dua bulan saja" jawab Ares. "Kau sudah menikah?."


Cira menggeleng. "Saya juga tidak punya kekasih kalau anda ingin tahu!."


Ares tersenyum.


"Kenapa? Mustahil tidak ada pria yang tidak tertarik padamu. Kau cukup cantik di mataku" ucap Ares terang-terangan memuji kecantikan gadis di depannya.


"Karena tidak ingin saja. Saya sudah berjanji akan mengabdikan diri pada Nyonya Clarissa sampai akhir hayat. Jadi otak saya tidak pernah terfikir untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, apalagi membangun rumah tangga. Kedua hal itu sangat jauh dari pikiran saya, Tuan!."

__ADS_1


Ada sebuah kekecewaan di mata Ares saat mendengar jawaban Cira. Padahal tadi dia sempat bersenang hati setelah tahu kalau gadis ini tak menjalin hubungan dengan siapapun.


"Hmmm, boleh aku tahu alasan kenapa kau tidak terpikirkan kedua hal tersebut?" tanya Ares pantang menyerah.


"Karena saya tidak mau mengalami nasib yang sama seperti apa yang di alami oleh Nyonya Clarissa. Saya tidak mau di campakkan saat sedang mengandung, kemudian di paksa untuk berpisah saat anak saya lahir. Membayangkannya saja sudah membuat perasaan tidak karu-karuan, apalagi jika saya benar-benar mengalaminya. Mungkin saya akan memilih untuk mati bunuh diri daripada harus hidup menderita seperti Nyonya Clarissa" jawab Cira kemudian tersenyum kearah Ares. "Tuan, anda begitu detail bertanya tentang masalah pribadi saya. Apa anda sedang melakukan pendekatan?."


"Iya, aku memang sedang mendekatimu" ucap Ares tak mau menutup-nutupi niatnya. "Tapi aku tidak akan memaksa, jadi kau tidak perlu merasa khawatir!."


"Tidak, santai saja. Karena anda bukan pria pertama yang melakukannya!."


Ares dan Cira sama-sama tersenyum setelahnya. Perbincangan dua orang dewasa yang membuat keduanya merasa nyaman. Karena hari sudah semakin malam dan kopi di gelas mereka pun sudah habis, Ares akhirnya menyuruh Cira untuk beristirahat di kamarnya.


"Tidurlah. Begadang tidak baik untuk kecantikan seorang gadis!."


"Begitu pun anda, Tuan Ares" sahut Cira kemudian bangkit berdiri. "Terima kasih untuk waktu dan kopinya. Senang berbincang denganmu, Tuan!."


"Akan lebih menyenangkan lagi kalau kau tidak bicara formal padaku."


"Baiklah.... Ares!."


Ares mengulum senyum saat gadis itu berlalu pergi dari hadapannya. Sungguh gadis yang patuh.


"Kenapa aku seperti melihat kepolosan Nyonya Elea di diri Cira ya? Manis sekali jika aku bisa memilikinya. Ahh, apa yang sedang kau pikirkan, Ares? Bukankah tadi kau dengar sendiri kalau Cira tidak berniat untuk menjalin hubungan?" omel Ares merutuki dirinya sendiri sambil berjalan menuju kamarnya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


Oh iya gengs, bagi kalian yang punya akun watttttpaaaaadddddd boleh deh coba mampir ke novel emak satu ini. Mengisahkan tentang seorang pria lembut yang berubah menjadi seorang psikopat setelah melihat kakanya mati bunuh diri. Alurnya mengandung kekerasan dan juga 21++..Tapi di akhir cerita bakalan ada kebucinan tingkat dewa. jangan lupa kepoin ya gengs.. ai lop yu 😘😘


__ADS_1


__ADS_2