
Patricia memoleskan lipstik merah di bibirnya sebelum masuk ke Group Ma. Siang ini dia memiliki janji temu dengan pemilik perusahaan ini.
"Huft, semoga saja kali ini aku bisa membuatnya terpesona padaku. Gabrielle, tunggu aku sayang" ucap Patricia kemudian melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil.
Para karyawan menatap takjub kearah Patricia yang datang dengan begitu anggunnya. Dalam hati Patricia, dia sangat puas karena para bawahan Gabrielle menghormatinya. Dia merasa sangat lah cocok jika dirinya menjadi pendamping pria pemilik perusahaan raksasa ini.
'Hahahahaha, memangnya siapa yang mampu menolak pesona seorang Patricia Young. Tidak akan ada, semua orang pasti akan langsung bertekuk lutut di hadapanku. Termasuk Gabrielle, cepat atau lambat dia pasti akan segera menjadi milikku. Dan aku, nama Patricia Young akan segera berubah menjadi Nyonya Ma. Status tinggi yang selama ini selalu di impikan oleh semua wanita yang ada di seluruh dunia!'.
Dengan langkah pasti Patricia berjalan masuk ke dalam lift. Dia tersenyum kemudian menganggukkan kepala pada karyawan yang juga sedang berada di dalam lift bersamanya.
"Waahhh siapa Nona ini. Cantik sekali".
Patricia membiarkan para karyawan itu berbisik-bisik di belakangnya. Rasa percaya dirinya semakin melambung tinggi saat karyawan itu menyebutnya sebagai dewi yang turun dari kayangan.
Sementara itu di ruangan Gabrielle, dia tengah berbincang dengan Drax. Mereka baru saja melakukan meeting bersama dengan Grizelle dan juga Junio, salah satu pembisnis yang baru saja bergabung.
"Jangan usik Grizelle dulu untuk sekarang ini, Drax. Aku tahu kau menyesali kebodohanmu, tapi penyesalanmu itu tidak akan membuat Grizelle merasa puas. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya kembali seperti semula hanyalah kesadaran bibiku. Dialah kunci dari segala perubahan di diri Grizelle sekarang!" ucap Gabrielle.
Drax mendesah pelan. Awalnya dia juga berpikir hal yang sama seperti Gabrielle. Namun dia ragu untuk melakukannya. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang, sama artinya dia menabur garam diatas luka keluarganya Grizelle jika tetap memaksa datang untuk menjenguk bibinya.
"Aku tidak memiliki niat untuk mengusik adikmu, tapi aku benar-benar merindukannya. Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" tanya Drax.
"Entahlah, posisimu sangat sulit sekarang. Mungkin Grizelle tidak akan semarah ini seandainya kau tidak membela mantan kekasihmu itu. Ck, serba salah jadinya" jawab Gabrielle bingung.
"Memang serba salah, sampai aku tidak bisa fokus lagi dalam setiap hal" sambung Drax.
Gabrielle menatap lekat kearah pria di depannya. Sejujurnya dia cukup iba melihat nasib percintaan Drax dan adiknya. Gabrielle bisa merasakan betapa Grizelle masih sangat mencintai pria ini. Tapi hubungan mereka terhalang oleh trauma masa lalu yang pernah di alami oleh bibinya.
"Gabrielle, apa kau punya saran?".
Tangan Gabrielle bergerak mengusap dagunya pelan. Sebagai seorang kakak, tentu saja dia ingin melihat adiknya hidup bahagia bersama dengan pria yang di cintainya.
"Aku sedikit tidak yakin. Tapi sepertinya cuma ini yang bisa kau lakukan untuk sekarang!" jawab Gabrielle menjeda perkatannya. "Pergi temui bibiku di rumah sakit. Bantulah dia agar segera sadar".
Drax termangu. Dia bimbang.
"Kalau ragu jangan lakukan. Dan anggap ini adalah perbincangan terakhir kita!" ucap Gabrielle tegas saat dia melihat kebimbangan di wajah Drax.
"Bukan seperti itu, Gabrielle. Kau tahu sendiri penyebab bibimu melompat dari lantai dua adalah dia yang mengetahui identitasku. Apa tidak akan menambah masalah saja jika aku datang kesana?" jelas Drax.
"Kau tidak perlu khawatir mengenai hal itu, aku bisa mengurusnya untukmu. Arion dan Paman Vrey tidak bisa menyalahakanmu ataupun Grizelle. Karena apa yang terjadi pada bibiku adalah buntut dari masa lalunya, meskipun memang benar kalau statusmu sebagai seorang mafia lah yang menjadi pemicu kenekatannya itu. Tapi kau tenang saja, ada aku di belakangmu!" ucap Gabrielle menjanjikan.
__ADS_1
Bibir Drax tertarik keatas. Dia merasa lega karena saudara kembar Grizelle baru saja menyatakan dukungan atas kelanjutan hubungan mereka. "Terima kasih sudah mau membantuku, Tuan Muda Gabrielle".
Gabrielle berdecih saat Drax memanggilnya dengan panggilan lengkap. "Kau jangan besar kepala dulu, Drax. Aku melakukan semua ini untuk Grizelle, bukan untuk dirimu!".
"Aku tahu".
Setelah itu keduanya tertawa bersama.
"Oh ya Drax, apa sebelumnya kau pernah mengenal Junio?" tanya Gabrielle penasaran.
"Mengenal si tidak, tapi aku tahu kalau dia datang ke negara ini dengan maksud tertentu. Junio mengincar Grizelle" jawab Drax dingin.
"Aku tahu itu".
"Bukankah kedatangannya terlalu mencolok? Aku cukup kaget begitu tahu kalau dia ikut bersaing untuk mendapatkan tender ini!" ucap Drax kemudian menyender di sofa.
Gabrielle tersenyum samar. Sepertinya pria ini ketinggalan berita.
"Junio menjadikan salah satu anak perusahaannya yang ada di negara ini sebagai kantor pusat. Memang cukup mencolok karena kepindahannya membuat kaget beberapa pihak, dan aku tidak menyangka kalau Grizelle lah yang menjadi penyebabnya. Sepertinya kau akan memiliki rival yang cukup berat, Drax. Aku dengar Junio itu cukup di segani di ranah bisnis!."
"Tak peduli meski dia dewa sekalipun, Grizelle hanya akan jadi milikku. Dan kau akan jadi kakak iparku" sahut Drax sembari menyeringai.
Gabrielle terkekeh. Dia suka melihat kepercayaan di diri mafia ini. Pantaslah jika adiknya tergila-gila padanya dulu.
"Tuan Muda, Nona Patricia sudah datang" lapor Ares.
Gabrielle mengangguk. "Aku tidak ingin mengusirmu dari sini, tapi kau harus segera pergi!."
"Jangan sungkan, aku cukup tahu diri untuk tidak menyita waktumu. Dan Gabrielle, terima kasih, aku bergantung padamu" sahut Drax kemudian pamit undur diri.
Ares membukakan pintu untuk Drax kemudian mempersilahkan Patricia masuk ke ruangan Tuan Muda-nya.
"Selamat siang, Tuan Muda Gabrielle" sapa Patricia di iringi senyum seribu watt.
"Selamat siang, silahkan duduk!."
Jika di depan Patricia Gabrielle berusaha untuk tersenyum, percayalah, di dalam hatinya dia sangat ingin merobek bibir wanita ini. Menjijikkan, itu yang Gabrielle rasakan. "Kita langsung saja, aku tak memiliki banyak waktu" ucap Gabrielle tanpa basa-basi.
"Baik Tuan Muda" sahut Patricia kemudian mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.
Tak lama kemudian, keduanya sudah larut dalam perbincangan mengenai pekerjaan. Gabrielle berusaha untuk menahan emosinya saat Patricia beberapa kali sengaja menurunkan sedikit kerah bajunya.
__ADS_1
'Cih, sekalipun dadamu sebesar buah kelapa, aku tidak akan pernah tertarik, Patricia. Tubuhmu yang jelek itu tidak akan mampu membangkitkan juniorku. Tidak seperti Elea, miliknya jauh lebih menggairahkan meskipun tidak terlalu besar. Ah, aku jadi merindukan dia sekarang.'
Kepercayaan diri Patricia langsung melambung tinggi saat dia melihat Gabrielle yang sedang mengulum senyum. Jantungnya berdebar.
"Ekhmm Tuan Muda, apa malam ini anda memiliki waktu luang?" tanya Patricia setelah urusan mereka selesai.
Gabrielle yang sedang membayangkan tubuh istrinya sedikit kaget saat Patricia bertanya. Dia lalu berdehem kecil.
"Ada urusan apa memangnya?" tanya Gabrielle berusaha untuk terlihat ramah.
Patricia sedikit gugup saat Gabrielle berbicara dengan begitu lembut padanya. Debaran di dadanya semakin kuat.
"Itu Tuan Muda. Ayah mengundang anda makan malam di rumah untuk merayakan kerjasama perusahaan kita. Itu jika Tuan Muda memiliki waktu luang" jawab Patricia penuh harap.
Akhirnya waktu yang di nantikan Gabrielle datang juga. Musuhnya masuk ke dalam trik yang sedang dia mainkan. Dengan begini, Gabrielle akan lebih mudah mengorek informasi kenapa keluarga itu membuang istrinya ke panti asuhan. Juga akan mendapat banyak kesempatan agar bisa menggali kebenaran tentang siapa ibu kandung Elea.
"Baiklah. Jam berapa aku harus sampai di kediaman kalian?."
Patricia terbengang saat tawarannya langsung di iyakan oleh Gabrielle. Dia tidak menyangka kalau ide yang tidak sengaja dia buat akan mendapat sambutan yang sangat baik darinya.
"Tu,Tuan Muda, anda bersedia untuk datang?" beo Patricia tak percaya.
Gabrielle mengangguk. Dia lalu melihat kearah jam di tangannya.
"Katakan saja jam berapa aku harus datang. Dan maaf, aku sangat sibuk sekarang" usir Gabrielle dengan sengaja.
"Ha,oh, ah iya. Baiklah Tuan Muda, saya, saya nanti akan mengabarkan pada Tuan Ares" sahut Patricia gelagapan.
"Aku tunggu!."
"Kalau begitu saya permisi, Tuan Muda. Selamat siang" pamit Patricia kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan wajah berbinar.
'Akhirnya hubunganku dan Gabrielle semakin dekat. Sekarang aku harus segera menelfon Ibu untuk menyiapkan makan malam yang mewah malam ini. Aku harus memberikan kesan yang sangat baik di hadapan Gabrielle nanti supaya dia semakin tertarik padaku. Hahaha Patricia, idemu benar-benar luar biasa. Sebentar lagi gelar Nyonya Ma akan segera menjadi milikmu, Patricia!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...