Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kebenaran


__ADS_3

Tangan Elea saling meremas kuat saat Gabrielle membawanya menuju ruangan dimana ayahnya di rawat. Tadi, setelah mereka pergi dari ruangan Levi, tiba-tiba saja suaminya memberi usul untuk melihat bagaimana keadaan ayahnya. Elea yang memang sedang sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya langsung mengangguk setuju. Tapi begitu mereka sampai, mendadak Elea menjadi takut dan juga gugup. Perasaan campur aduk itu membuat tubuhnya gemetaran.


"Sayang, kau siap?" tanya Gabrielle sambil berjongkok di depan kursi roda istrinya.


"Aku, aku... Kak Iel, aku di sini saja ya? Aku takut Ayah tidak mau bertemu denganku" jawab Elea gelisah.


"Kenapa begitu?." Gabrielle sangat bisa memaklumi kekhawatiran istrinya. Wajarlah, Elea menyaksikan sendiri bagaimana keluarga itu membuang dan menyakitinya. Tapi meski begitu, Gabrielle bisa melihat dengan jelas betapa Elea sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Dia lalu memikirkan cara supaya istrinya bisa bertemu tanpa harus merasa takut di tolak.


"Kak Iel, Kakak saja ya yang masuk. Nanti Kakak tolong ambilkan foto Ayah saja untukku. Begitu sudah cukup kok" ucap Elea lirih.


Bohong kalau Elea tidak ingin bertemu dengan ayahnya secara langsung. Tapi dia tidak siap jika harus menerima penolakan. Sudah cukup kehadirannya tidak di inginkan oleh mereka, Elea tidak mau merasakan hal itu lagi. Rasanya pasti akan jauh lebih menyakitkan di bandingkan dengan apa yang dia terima dulu.


"Sayang, aku tahu kau sangat ingin menemui Ayahmu kan?" tanya Gabrielle berusaha menghibur. "Begini saja, aku akan masuk terlebih dahulu dan menanyakan alasan kenapa mereka membuangmu. Setelah itu, jika aku merasa keadaannya cukup memungkinkan, aku akan membawamu masuk ke dalam. Bagaimana?."


Elea terdiam. Ingin rasanya dia meng-iyakan tawaran suaminya, tapi benaknya masih terselimuti rasa takut. Dia bimbang, antara iya atau tidak.


"Elea, jangan takut, ada aku bersamamu. Kalau nanti Ayahmu menolak kehadiranmu, maka selamanya aku tidak akan membiarkanmu menemuinya lagi. Aku bukan memaksamu sayang, tapi selama ini aku merasa ada yang aneh dengan keluarga kandungmu. Jadi aku memutuskan untuk menyelidikinya dulu. Tapi ya itu, keluargamu sangat menutup rapat masalah pribadi mereka dari media. Jujur saja aku dan Ares sedikit mengalami kesulitan. Tapi sekarang, ini adalah moment yang sangat tepat. Kita berdua bisa mendengar alasan itu secara langsung dari Ayahmu " bujuk Gabrielle berusaha meyakinkan.


"Apa tidak apa-apa, Kak?" tanya Elea meragu.


Gabrielle mengangguk. Dia meraih tangan istrinya lalu mengecupnya lembut. "Percaya padaku, oke?."


Dengan terpaksa Elea akhirnya menyetujui rencana suaminya. Dia menatap penuh khawatir saat suaminya berjalan mendekat kearah pintu kamar dimana ayahnya sedang di rawat.


Tok, tok, tok


Bryan yang sedang melamun mengabaikan suara ketukan pintu. Dia lelah, lelah menghadapi ayah dan juga istrinya.

__ADS_1


"Maaf, apa aku menganggu?."


Mendengar suara orang yang bukan milik istri atau ayahnya, seketika membuat Bryan tersentak kaget. Dia segera mengalihkan pandangan kearah pintu. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati sesosok pria tampan yang sedang berjalan kearahnya.


"T,Tuan Muda Gabrielle.."


"Ya, ini aku" sahut Gabrielle datar. "Bagaimana kabarmu, Tuan Bryan? Aku dengar kemarin kau mengalami kecelakaan cukup parah?."


"O,oh itu. Iya benar Tuan Muda, kemarin ada orang yang sengaja ingin mencelakai saya. Tapi untunglah ada yang menyelamatkan saya dari kecelakaan itu" jawab Bryan.


Gabrielle mengangguk. Dia lalu menatap dalam kearah ayah kandung istrinya. Mencoba mencari celah untuk mulai membahas makam bertuliskan nama istrinya yang membuatnya penasaran setengah mati. "Tuan Bryan, apa kau bisa menjelaskan siapa pemilik makam yang ada di sebelah kuburan istrimu? Maaf, mungkin pertanyaanku sedikit sensitif. Tapi aku perlu mengetahui kebenaran ini demi kebahagiaan seseorang."


Bryan terkesiap. Dia tidak menyangka kalau pria ini akan mempertanyakan tentang makam palsu putrinya. Dan entah ada apa, hati Bryan seakan meminta agar dirinya mengatakan kebenaran tentang makam tersebut.


"Awalnya saya mengira kalau yang berada di sebelah makam istri saya adalah makam putri kami, Eleanor Young. Selama sembilan belas tahun saya selalu mengunjunginya, mengajaknya bicara seakan dia masih hidup. Tapi beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah pengakuan tentang siapa sebenarnya yang berada di dalam makam tersebut" jawab Bryan serak menahan tangis. "Ternyata, ternyata yang selama ini saya kunjungi bukanlah makam putri saya, Tuan Muda. Melainkan jasad seorang bayi yang sengaja di tukar dengan putri saya sesaat setelah dia di lahirkan. Putri saya masih hidup, Tuan Muda. Dia di buang ke sebuah panti asuhan oleh orangtua saya. Itu bukan makam anak saya Tuan Muda, bukan!."


Mata Gabrielle membelalak lebar begitu tabir rahasia makam itu terungkap. Dia tidak menyangka akan ada hal semacam ini di dunia. Sungguh, Gabrielle benar-benar tak habis fikir kenapa kakek dan nenek Elea bisa begitu kejam padanya. Kegilaan ini sangat berada di luar nalar.


"Ya, kau memang Ayah yang sangat buruk, Tuan Bryan. Aku bahkan ingin meledakkan kepalamu sekarang" sahut Gabrielle. "Tapi aku tidak bisa melakukannya karena ini bukan sepenuhnya salahmu. Dan aku yakin belum terlambat kalau kau mau memperbaiki semuanya!."


"Maksud Tuan Muda?" tanya Bryan bingung.


"Hmmm, aku akan memberitahumu tentang rahasiaku yang tidak di ketahui oleh publik. Tapi kau harus berjanji untuk tidak membocorkan hal ini pada siapapun. Bagaimana, apa kau mau mendengarnya?" jawab Gabrielle siap untuk berkata jujur.


Meski tak paham, Bryan tetap menganggukkan kepala. Tiba-tiba saja hatinya bergetar, bergetar tanpa alasan. Seolah memberitahunya jika sebentar lagi dia akan segera mengetahui sesuatu yang sangat besar.


"Sejak aku menanyakan tentang keluargamu, sejak saat itu pula Eleanor ada bersamaku. Aku mencoba menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupnya. Tapi saat aku mencari informasi itu, aku menemukan makam yang bertuliskan namanya. Itu yang membuatku ragu untuk memberitahumu, Tuan Bryan. Dan juga ayahmu, Eleanor bilang padaku sudah sejak lama dia tahu kalau orangtuamu lah yang meminta pemilik panti tempatnya tinggal untuk terus menyiksanya. Dan ibumu juga telah membuang Eleanor ke dalam jurang saat dia terusir dari panti asuhan " jelas Gabrielle sembari menggeretakkan gigi. "Tuan Bryan, sekarang Eleanor sudah sah menjadi istriku, dia adalah bagian dari Keluarga Ma. Dan saat ini, gadis malang itu sedang berdiri di balik pintu ruangan. Dia sangat ingin melihatmu, tapi dia takut kau akan menolaknya seperti dulu. Tuan Bryan, apa yang akan kau lakukan sekarang?."

__ADS_1


Bibir Bryan bergetar hebat begitu mendengar penjelasan Gabrielle. Dia sangat tidak menyangka ibunya akan tega berbuat sejauh itu. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang sedang terluka, dengan gilanya Bryan melepas selang infus kemudian turun dari ranjang yang sejak kemarin siang dia tempati.


Brruuuukkkkk


Gabrielle diam tak bergeming melihat ayah mertuanya jatuh tersungkur di lantai. Bukannya jahat, hanya saja dia beranggapan jika rasa sakit itu sangat tidak sepadan dengan apa yang di rasakan oleh istrinya selama ini.


"Jangan berharap aku akan menolongmu, Tuan Bryan. Anakmu berkali-kali terjatuh tapi dia mampu untuk berdiri sendiri. Akan sangat memalukan jika kau meminta bantuan orang lain hanya karena rasa sakitmu yang tak seberapa itu!."


Bryan menitikkan airmata. Bukan karena mendengar kata-kata Gabrielle yang begitu kejam, tapi dia menangis karena merasa gagal sebagai seorang ayah. Putrinya hidup tersiksa, terlunta-lunta dalam kerasnya kehidupan. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah semua penderitaan yang di rasakan oleh putrinya adalah perbuatan orangtuanya sendiri, yang tak lain dan tak bukan adalah kakek dan neneknya Eleanor.


"Hikkssss... Maafkan Ayah sayang. Ayah sudah gagal menjadi orangtua yang baik untukmu. Maafkan Ayah Nak, maaf" ratap Bryan kemudian merangkak menuju pintu ruangan.


Gabrielle menengadahkan wajahnya keatas. Dia mencoba berdamai dengan luapan amarah setelah mengetahui semua kebenaran tentang masa lalu istrinya. Ayah mertuanya tidak salah, dia sama menderitanya seperti Elea. Yang harus bertanggung jawab atas ini semua adalah Karim Young dan istrinya. Mereka lah cikal bakal penderitaan yang di alami oleh Elea.


Tak tega melihat darah bercucuran di lantai akibat luka di tubuh ayah mertuanya yang kembali terbuka, dengan perlahan Gabrielle membantunya untuk berdiri. Dia lalu mengajaknya untuk kembali berbaring di ranjang.


"Aku akan membawa Elea masuk kemari, dan tolong jaga perasaannya. Jangan sakiti dia lagi kalau kau tidak menginginkan keberadaan istriku di sini" ucap Gabrielle sebelum akhirnya berjalan keluar untuk membawa Elea masuk.


Sementara Bryan, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya terluka dan juga bahagia di saat yang bersamaan. Luka karena mengetahui segala penderitaan putrinya, bahagia karena mereka akan segera berjumpa. Dengan sangat tidak sabaran Bryan terus menatap kearah pintu. Berharap putrinya akan sesegera mungkin muncul dari sana.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2