
Patricia dengan telaten menyuapkan bubur ke mulut kakeknya. Semalam dia sengaja menginap di rumah sakit menggantikan ibunya. Dia merasa ada yang janggal dengan keadaan kakeknya sekarang. Patricia takut kalau ini ada hubungannya dengan Eleanor, itulah kenapa dia memaksa ibunya pulang ke rumah lalu mencuri-curi waktu untuk mencecar kakeknya agar mau membuka mulut.
"Sudah selesai" ucap Patricia sambil melirik kearah kakeknya yang hanya diam tak mau bicara. "Kakek, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?."
Pikiran Karim sedang tidak ada di tempat. Kekagetannya masih belum hilang sejak bertemu dengan cucunya kemarin. Pertemuan tak terduga yang mana membuat Karim terjebak di antara rasa bersalah yang sangat besar dan juga keharuan yang cukup menyakitkan. Tentu saja menyakitkan, karena dia masih belum berani bicara jujur pada putranya. Dia takut akan di buang dan di benci.
"Kakek, saat di taman kemarin, apakah Kakek bertemu dengan seseorang?" tanya Patricia menyelidik.
Entah angin darimana tiba-tiba Karim menganggukkan kepala begitu mendengar pertanyaan Patricia. Kendati demikian dia masih enggan untuk membuka mulut. Lidahnya terlalu malas untuk sekedar memberitahu kejadian yang sebenarnya pada semua orang.
'Sudah aku duga, Kakek bisa syok seperti ini pasti karena ada sesuatu yang dia lihat. Apa mungkin benar si tua bangka ini melihat Eleanor di sana? Kalau benar, sebaiknya aku segera meminta orang untuk meretas CCTV yang ada di taman itu. Aku perlu mencari tahu apakah benar itu Eleanor atau bukan. Jika iya, maka dia harus segera ku lenyapkan sebelum si tuang bangka ini menyuruh orang untuk mencarinya.'
"Siapa yang Kakek lihat? Apakah dia seorang penjahat? Dia menyakiti Kakek ya?" cecar Patricia.
"Bukan Cia, bukan penjahat. Tapi dia, dia....
Karim akhirnya membuka suara. Namun saat dirinya hendak menyebut nama Eleanor, tiba-tiba saja dadanya kembali sesak. Dia melenguh kesakitan sambil menekan dadanya yang terasa sangat sakit bagaikan tertusuk pedang.
"Aaarrggggghhhhhh...."
Patricia terbelalak melihat kakeknya kesakitan. Dia kaget bukan karena melihat kondisinya, melainkan kesal karena perkataan kakeknya yang belum selesai.
"Ya Tuhan, Kakek kenapa? Mana yang sakit?" teriak Patricia pura-pura panik. "Tunggu sebenar Kek, aku akan memanggil dokter dulu!."
Sebenarnya di samping ranjang ada tombol intercom untuk memanggil dokter jika keadaan sedang gawat. Tapi Patricia sengaja tidak menekannya karena merasa kesal akibat gagal mendapat jawaban. Setelah berada di luar kamar, dia dengan santai berjalan menuju ruangan dokter. Dia baru terlihat panik saat dokter yang menangani kakeknya keluar dari sana sebelum Patricia sempat mengetuk pintu.
"Nona Patricia, ada apa datang ke ruangan saya?" tanya Jack heran.
"D,dokter, tolong Kakekku. Dia, dia sedang kesakitan" jawab Patricia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Entahlah, Patricia begitu pandai memainkan ekpresi di wajahnya. Dia yang tadinya terlihat biasa-biasa saja bisa langsung meneteskan airmata begitu berhadapan dengan dokter. Sungguh dia adalah pemain drama yang sangat handal.
__ADS_1
"Kenapa Nona tidak menekan tombol intercom saja? Bisa sangat berbahaya kalau Tuan Karim sampai terlambat mendapat pertolongan!" kesal Jack kemudian segera berlari menuju ruangan Tuan Karim.
Patricia pun akhirnya ikut berlari menyusul dokter tersebut. Dalam hatinya dia berdoa semoga si tua bangka itu sudah meregang nyawa karena penyakitnya. Kekesalannya kini semakin bertambah setelah mendapat omelan dari dokter yang kini sedang menyelamatkan kakeknya.
Jack dengan sigap memberikan pertolongan saat dia melihat Tuan Karim yang sedang kesulitan bernafas. Sebelah tangannya menekan tombol intercom untuk memanggil perawat supaya datang membantunya.
Tak lama kemudian, beberapa perawat datang sambil membawa alat-alat medis. Bosan dengan keadaan itu, Patricia memutuskan untuk keluar kamar. Dia perlu menghubungi orang suruhannya untuk melacak Eleanor melalui CCTV yang ada di taman tempat kakeknya berolahraga.
"Ck, kemana mereka" gumam Patricia saat panggilannya tak kunjung di jawab.
Patricia terus menghubungi nomor orang suruhannya hingga akhirnya di angkat pada panggilan ke delapan. Terdengar suara yang sangat serak dari seberang telefon yang menandakan kalau orang tersebut baru saja terbangun dari tidurnya.
"Halo Nona Patricia, ada tugas apa? Maaf saya sedikit lama mengangkat telefon Nona tadi."
"Tidak perlu menjelaskan padaku. Sekarang kau cepat bangun dan selidiki sesuatu untukku. Sepertinya kemarin pagi Kakekku bertemu dengan Eleanor di sebuah taman dan aku ingin kau meretas CCTV di taman tersebut. Itu bisa menjadi petunjuk untuk kita menemukan keberadaan parasit itu!" ucap Patricia sambil menyandar di dinding rumah sakit.
"Baiklah kalau begitu Nona. Secepatnya saya akan mendapatkan rekaman tersebut dan menyelidiki dimana Nona Eleanor tinggal!."
"Maafkan aku Kakek, sepertinya aku yang akan menemukan cucumu terlebih dahulu. Dan maaf juga karena aku akan segera mengirimnya pergi ke neraka menyusul menantumu yang pernah kau sia-siakan dulu."
Saat sedang menikmati kebahagiaannya, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahu Patricia dari arah belakang. Sontak saja hal itu membuatnya terperanjat kaget kemudian segera berbalik untuk melihat siapa orang tersebut.
"Kita bertemu lagi Nona Patricia" sapa Junio sembari menampilkan senyum terbaiknya.
"Kau!" kesal Patricia sambil menunjuk wajah pria yang pernah mengganggu kesenangannya di sebuah club. "Segera enyah dari hadapanku sekarang juga Junio. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang tidak penting sepertimu."
Junio terkekeh. Dia malah semakin tertarik pada Patricia yang terus-terusan menolak kehadirannya. Mungkin ini adalah kali pertama Junio bertemu dengan wanita cantik yang sama sekali tidak tergoda olehnya. Dia akui kalau Patricia sedikit berbeda dengan kebanyakan wanita cantik yang sudah menjadi manekin. Rata-rata mereka akan langsung menempel seperti permen karet begitu Junio menebarkan pesona.
"Santai dulu Nona Patricia. Aku sengaja datang kemari khusus untuk menyapamu saja. Jadi, bisakah sedikit memberiku waktu untuk bisa lebih mengenalmu?" tanya Junio sambil menelan ludah membayangkan betapa cantiknya wanita di hadapannya ini jika dia bisa merubahnya menjadi manekin.
"Tidak, dan aku tidak akan sudi meluangkan waktu untuk pria tidak tahu malu sepertimu. Sekarang tolong cepat pergi dari depan mataku dan jangan pernah menggangguku lagi. Aku sudah punya calon suami, jadi tolong tahu dirilah untuk tidak menjadi perusak hubungan kami!" jawab Patricia dengan sangat ketus.
__ADS_1
Senyum di bibir Junio langsung menghilang begitu Patricia menyebut jika dirinya sudah memiliki calon suami. "Siapa pria yang menjadi calon suamimu?."
Patricia menatap jengkel kearah Junio begitu mendengar pertanyannya. Pria ini benar-benar sangat bebal, masih belum mau pergi juga meksipun dia sudah membohonginya dengan mengatakan kalau dia sudah memiliki calon suami.
"Apa hakmu bertanya seperti itu padaku? Kau itu bukan siapa-siapaku Junio, jadi jangan bersikap seolah kita itu sudah kenal lama!" hardik Patricia dengan raut wajah yang sudah sangat muak.
Emosi Junio tersulut. Dengan kasar dia mencengkeram pergelangan tangan Patricia kemudian memojokkannya ke dinding. Dia lalu menatapnya tajam. "Jangan mempermainkan aku, Patricia. Kalau kau berani bersama pria lain, maka aku pastikan calon suamimu itu mati tepat di depan matamu. Aku tidak main-main, coba saja jika tidak percaya!."
Setelah memberikan sedikit ancaman, Junio melangkah pergi meninggalkan Patricia yang sedang tercengang melihat kelakuannya. Dia benar-benar tidak rela jika wanita cantik incarannya di miliki oleh pria lain. Patricia hanya boleh jadi miliknya, dia harus menjadi salah satu koleksi manekin untuk memuaskan obsesinya yang sudah lama dia pendam setelah gagal mendapatkan Grizelle.
"Apa dia sudah gila? Beraninya dia mengancamku seperti itu!" geram Patricia setelah tersadar dari kekagetannya. "Auuhhh, tanganku."
Bekas cengkeraman tangan Junio meninggalkan sedikit luka membiru di pergelangan tangan Patricia. Sepertinya pria gila itu benar-benar sangat marah yang mana membuat Patricia bergidik ngeri membayangkan ancaman yang terlontar dari mulut Junio tadi.
"Aku harus mulai waspada pada Junio. Bisa gawat kalau dia sampai tahu aku sedang mengincar Gabrielle. Impianku untuk menjadi ratu di Keluarga Ma bisa hancur oleh ketidakwarasannya" gumam Patricia kemudian pergi dari depan ruangan kakeknya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Hai hai Hai, emak bawa novel cantik nih punya anak emak.. Kalian jangan lupa mampir dan kasih dukungan ya buat dia?? Ceritanya menarik kok, beneran deh.....
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1