
Gleen berjalan mondar-mandir di halaman rumah sakit. Tadi pagi saat dia bangun, tiba-tiba saja Lusi sudah tidak ada di ranjang. Dia yang panik segera pergi berlari mencari dokter untuk menanyakan dimana keberadaan gadisnya. Namun begitu dia bertanya, dokter yang di tanyainya mengarahkan Gleen agar keluar dari gedung rumah sakit. Meski merasa janggal, dia tetap mengikuti arahan dokter tersebut. Tapi begitu dia sampai di luar, puluhan penjaga tiba-tiba menghadang di depan pintu masuk. Sebenarnya itu bukanlah masalah mengingat kalau mertuanya Gabrielle juga di rawat di rumah sakit ini. Tapi masalahnya adalah mereka menahan Gleen agar tetap berada di luar rumah sakit. Ya, Gleen tak di izinkan untuk masuk. Dan dia tidak tahu apa alasannya.
"Aku tanya pada kalian siapa yang sudah menurunkan perintah untuk melarangku masuk ke dalam! Cepat beritahu aku sekarang!" teriak Gleen frustasi.
"Nyonya Elea yang memberi kami perintah, Tuan Gleen. Ini adalah hukuman darinya karena kau sudah lancang melukai Nyonya Yura, istrinya Tuan Bryan. Nyonya Elea meminta kami agar tidak membiarkan anda bertemu dengan Nona Lusi. Tapi yang memberi perintah agar anda di biarkan di halaman rumah sakit adalah Tuan Muda Gabrielle. Beliau bilang ini adalah hadiah tambahan darinya agar anda semakin merasa tersiksa!" jawab salah seorang penjaga.
"Apaaaa!!! Jadi Gabrielle dan Elea bersekongkol untuk memisahkan aku dengan Lusi. Begitu?!" pekik Gleen tak percaya.
'Sialan. Awas saja kalian berdua.'
"Benar sekali. Hal ini mereka lakukan untuk menghindari kegilaan anda yang bisa saja melakukan serangan yang sama terhadap Nona Lusi. Jadi kami harap anda bisa bekerjasama dengan baik, Tuan Gleen. Tolong jangan melanggar aturan apalagi mencoba membodohi kami."
Gila, ini semua benar-benar gila. Bisa-bisanya Gabrielle dan Elea melakukan hal ini padanya. Tidak adil. Dengan cepat Gleen merogoh ponselnya kemudian menghubungi salah satu orang yang membuatnya terdampar di halaman rumah sakit.
"Ada apa?.
Rasanya Gleen ingin sekali memotong leher Gabrielle begitu dia mendengar suaranya yang begitu tenang. Sambil membesar-besarkan deru nafasnya, Gleen mencoba membujuk Gabrielle untuk menarik hukuman gila yang sedang berlangsung.
"Minta anak buahmu untuk membiarkan aku masuk ke dalam rumah sakit. Lusi sedang sakit Gab, tolong jangan lakukan hal seperti ini pada kami berdua. Kasihan dia, di dalam tidak ada orang yang merawatnya" ucap Gleen sambil menggeretakkan gigi.
"Kalau mau memohon itu usahakan dengan benar, Gleen. Aku tahu saat ini tanganmu pasti sedang terkepal seperti ingin memukulku kan? Aku juga tahu rahangmu pasti mengerat. Iya kan?.
Gleen mendengus. Tebakan Gabrielle memang benar kalau saat ini posisi tangan dan rahangnya sama seperti yang dia sebutkan tadi. Tak mau pria ini semakin menggila jika sampai merasa tersinggung, dengan suara yang di buat sepelan mungkin Gleen kembali membujuk Gabrielle.
"Gab, tolong biarkan aku masuk ke dalam ya. Sejak pagi tadi aku belum melihat kondisi Lusi, aku janji aku akan langsung meminta maaf pada ibu mertuamu begitu aku di izinkan masuk!.
"Em bagaimana ya Gleen. Sebenarnya bukan aku yang menginginkan hal ini, tapi kesayangankulah yang memintanya. Dia takut kalau kau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah kau lakukan pada ibu mertuaku. Elea khawatir kau akan memukuli Lusi juga!.
"Kalian gila ya!" teriak Gleen kemudian menjambak rambutnya sendiri. Dia habis kesabaran.
__ADS_1
"Lusi itu kekasihku, aku sangat menyayanginya. Apa kau pikir aku sudah gila dengan sengaja menyakitinya? Melihatnya terluka begini saja aku seperti akan mati. Apa kau pikir aku akan setega itu memukulinya seperti apa yang aku lakukan pada ibu mertuamu? Tolong lah Gabrielle, jangan mempermainkan aku. Tolong minta anak buahmu agar menyingkir dari pintu masuk. Aku perlu melihat perkembangan kesehatan Lusi saat ini juga. Kau tahu bukan kalau tulang di punggungnya ada yang retak?.
"Tunggu sebentar, aku akan berdiskusi dulu dengan istriku.'
Panggilan langsung terputus begitu saja setelah Gabrielle berkata kalau dia ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan Elea. Ingin rasanya Gleen berteriak mengumpat pasangan itu. Namun dia tak berani melakukannya karena takut kalau-kalau anak buahnya Gabrielle akan melapor yang mana akan membuatnya semakin di pisahkan dengan Lusi.
"Haissshhhhh, kenapa pula aku harus bertemu dengan orang-orang nyeleneh seperti mereka."
Sambil menunggu kabar dari Gabrielle, Gleen memutuskan untuk mencari makanan. Perutnya sudah menjerit-jerit sejak tadi pagi, namun dia abaikan karena terlalu panik memikirkan cara agar bisa kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dengan penampilan yang acak-acakan Gleen berjalan menuju kantin. Dia lalu memesan segelas teh hangat untuk menghangatkan perut sebelum mengisinya dengan makanan.
"Teh hangat dan bubur spesial satu. Jangan tambahkan apapun ke dalam minumanku selain teh saja."
"Baik, tuan. Mohon tunggu sebentar."
Gleen mengangguk. Dia lalu mendudukkan bokongnya pada kursi yang ada disana. Sambil menunggu makanan datang, Gleen berniat mengirim pesan pada Junio. Dia tiba-tiba saja ingin mengetahui bagaimana keadaan wanita blonde yang gagal mereka jadikan manekin. Tapi baru saja dia hendak mengetik pesan, sebuah pesan darurat masuk lebih dulu. Mata Gleen terbelalak lebar begitu membacanya.
Seperti orang gila Gleen berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ya, dia baru saja mendapat pesan dari Elea kalau dia akan di izinkan menemui Lusi, tapi hanya dalam durasi tak lebih dari lima menit. Meskipun sangat mepet, namun Gleen tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia harus mau menerima hukuman ini daripada harus di pisahkan dengan Lusi.
Brraaaakkkk
Dada Gleen bergerak dengan cepat. Dia kemudian menatap kearah ranjang dimana Lusi tengah terbengang menatapnya.
"G-Gleen, k-kau kenapa?" tanya Lusi lirih. Dia bingung melihat kondisi berantakan dari pria yang memaksa menjadi kekasihnya.
Gleen berlari masuk kemudian mencium kening kekasihnya lama. Dia lalu memeluknya dengan perlahan, sadar kalau tubuh kekasihnya masih di penuhi luka.
"Sweety, bagaimana keadaanmu? Kau tadi di bawa kemana saat aku sedang tidur? Siapa yang mencurimu, hm?" cecar Gleen haru.
"Aku-aku tidak di curi, Gleen. Dan orang yang membawaku pergi adalah perawat rumah sakit ini. Dia bilang dokter Reinhard yang memintanya membawaku pergi untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Karena kau tidur dengan sangat nyenyak jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu. Maaf ya kalau aku sudah membuatmu khawatir " jawab Lusi merasa bersalah dan juga tak enak hati.
__ADS_1
Lusi bisa menyaksikan bagaimana pria ini begitu mencemaskannya. Dia jadi merutuki kebodohannya sendiri karena sudah pergi tanpa pamit padanya. Setelah pelukan mereka terlepas, Lusi menatapnya dengan seksama. Bahagia, itu sudah pasti. Ini adalah pertama kalinya Lusi di dekati oleh seorang pria, sudah tentu dia akan merasa tersanjung. Di tambah lagi Gleen yang begitu peduli padanya, semakin membuka lebar hati Lusi yang tadinya menolak kehadiran pria tersebut.
"Sweety, aku hanya mempunyai sisa waktu satu menit lagi" ucap Gleen sambil mendesah pelan ketika melihat jarum jam yang menunjukkan jika waktunya sudah hampir habis. "Tolong beristirahatlah dengan baik. Untuk beberapa saat ke depan aku akan menjalani hukuman dimana aku tidak di perbolehkan untuk menemuimu. Tapi kau tenang saja, aku akan tetap berada di sekitar rumah sakit. Aku tidak akan pergi kemanapun sampai kau benar-benar pulih. Percaya padaku ya? Aku sangat mencintai dan mengkhawatirkanmu, Sweety."
"Hukuman apa yang kau maksud, Gleen?" tanya Lusi bingung.
Belum sempat Gleen menjawab, pintu ruangan terbuka. Masuklah beberapa penjaga ke dalam ruangan rawat tersebut.
"Tuan Gleen, silahkan keluar dari sini. Waktu anda sudah habis!" tegur penjaga.
"Kalian keluarlah dulu. Setelahnya aku akan langsung menyusul" sahut Gleen pasrah meski tak rela.
"Maaf tuan, kami tidak bisa melawan perintah Tuan Muda Gabrielle. Silahkan anda keluar sendiri atau kami yang akan menyeretmu dengan paksa!.
Mata Gleen terpejam erat. Tak ingin membuat gadisnya merasa khawatir, dia mencoba untuk tersenyum kemudian sekali lagi memeluknya dengan sangat erat. Puas menyalurkan kerinduannya, dengan sangat tidak rela Gleen akhirnya pergi meninggalkan kekasihnya yang terdiam dengan raut wajah penuh kebingungan.
"Kenapa Tuan Muda harus menghukum Gleen? Memangnya apa yang sudah dia
perbuat? Apa mungkin Gleen mendekatiku hanya demi bisa mengambil perhatian Nyonya Elea? Jika benar begitu maka aku tidak akan pernah sudi untuk bertemu dengannya lagi" gumam Lusi curiga.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1