Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Dewasa Sebelum Waktunya


__ADS_3

"Bagaimana? Apa dia benar-benar di ikuti?" tanya Gabrielle.


"Benar Tuan Muda. Sesuai yang kita perkiraan kalau Jack-Gal mulai membuntuti Nona Levi begitu keluar dari rumah. Tapi untuk kali ini sepertinya Nona Levi selamat karena anak buah kita tanpa sadar sudah memukul mundur orang itu!."


Gabrielle menarik nafas. Sesuai tebakannya, Levi pasti akan mengacau di rumahnya karena semalam mereka tidak pulang kesana. Dan untungnya tadi Nun langsung menghubunginya untuk memberitahukan kabar tersebut. Gabrielle pun segera meminta Ares mengirimkan anak buahnya untuk mengawasi pergerakan Jack-Gal.


"Apa kalian mendapatkan fotonya?."


"Maaf Tuan Muda, kami gagal mendapatkannya. Jack-Gal begitu cepat menghilang dari pandangan kami. Sepertinya dia juga sadar kalau sedang di awasi!."


"Ya sudahlah, kalian tetap siaga. Jangan sampai kalian lengah mengawasi Levi, dia adalah poin terpenting untuk mengungkap identitas asli Jack-Gal!."


"Baik Tuan Muda!."


Gabrielle memutuskan panggilan tersebut setelah pembicaraannya selesai. Dia kemudian duduk di meja rias sambil memikirkan sesuatu.


"Ada apa Kak? Siapa yang di ikuti?."


Gabrielle menoleh kearah pintu kamar mandi dimana istrinya sedang berdiri sambil mengeringkan rambut panjangnya menggunakan handuk. Setelah semalam mengeluarkan semua beban yang di rasakannya, sikap Elea berubah total. Tidak adalagi sikap kekanak-kanakan yang biasa di tunjukannya. Pagi ini istrinya tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang begitu dewasa, baik dari tutur kata maupun cara dia menghargai Gabrielle sebagai seorang suami.


"Levi, dia di ikuti oleh Jack-Gal saat keluar dari rumah" jawab Gabrielle.


Handuk di tangan Elea terjatuh ke lantai begitu nama Jack-Gal di sebut. Gabrielle yang melihat hal tersebut segera berlari menghampiri istrinya. Dia lalu menggenggam tangan Elea yang sudah bergetar hebat.


"Tenanglah, tidak terjadi apapun padanya. Levi baik-baik saja dan saat ini sedang menuju ke kantor untuk menemuimu."


"Kenapa dia mengikuti Kak Levi, Kak? Bukankah Kak Levi tidak ada hubungannya denganku" tanya Elea dengan suara bergetar. "Aku yang dia cari, tapi kenapa Kak Levi yang dia incar?."


Untuk sesaat Gabrielle terdiam. Dia ragu untuk mengatakan pada Elea kalau sebenarnya dialah yang menargetkan Levi menjadi umpan untuk membongkar identitas Jack-Gal. Gabrielle takut kalau Elea akan marah jika mengetahui rencananya itu.


"Kak Iel, lebih baik Kakak bicara jujur padaku. Kita sudah berjanji untuk saling terbuka, jadi Kak Iel tidak boleh menyembunyikan apapun dariku!" desak Elea.


"Sayang, aku harap kau tidak marah setelah mendengar penjelasan dariku. Semua ini aku lakukan demi untuk membebaskanmu dari kejaran Jack-Gal" ucap Gabrielle.


"Percuma Kak Iel. Apapun yang akan Kakak lakukan aku akan tetap di dapatkan olehnya" sahut Elea pasrah. "Aku sudah melihat apa yang akan terjadi padaku nanti Kak!."


Gabrielle terbelalak mendegar hal itu. Wajahnya langsung berubah panik. "Sayang, apa maksudmu?."


Elea menghela nafas. "Sudah beberapa malam ini aku selalu bermimpi di masukkan ke dalam sangkar emas yang sangat besar. Ada seorang pria yang wajahnya tidak terlihat jelas terus berlari mengejarku. Sejauh apapun aku bersembunyi darinya, dia tetap menemukan tempat persembunyianku. Itu artinya, sekeras apapun Kakak berusaha melindungiku, pada akhirnya aku akan jatuh ke tangannya juga. Ini adalah satu kenyataan yang tidak bisa kita tolak, Kak Iel harus percaya itu."

__ADS_1


Nafas Gabrielle seakan terhenti mendengar gambaran yang begitu menakutkan tentang istrinya. Haruskah dia merelakan begitu saja Elea pada Jack-Gal?.


"Kak Iel, biarkanlah semua ini mengalir sesuai yang di takdirkan Tuhan. Bohong kalau aku tidak takut bertemu dengannya, aku sangat takut Kak, benar-benar sangat takut. Tapi aku tidak bisa menghindar dari takdir ini. Asalkan Kakak tidak meninggalkan aku, aku pasti baik-baik saja. Kakak adalah penguatku untuk bisa melewati ini semua!" imbuh Elea dengan tatapan penuh cinta pada suaminya.


"Tapi sayang, bagaimana dengan trauma yang selama ini kau rasakan? Kau bahkan tidak sanggup untuk sekedar bertatap muka dengan para dokter!" tanya Gabrielle khawatir.


"Entahlah, aku juga tidak tahu Kak. Tapi untuk masalah ini aku tidak mau mengorbankan orang lain, biar aku sendiri saja yang menanggungnya. Kakak dan Kak Levi cukup memberiku semangat agar bisa mengendalikan ketakutan itu. Rasa trauma ini berawal dari dia, maka di tangan dokter itulah aku harus mengakhirinya. Aku yakin aku pasti bisa" jawab Elea.


"Kau yakin akan baik-baik saja jika bertemu dengannya?" tanya Gabrielle lagi.


"Aku tidak bisa memberi kepastian Kak. Tapi yang jelas, aku hanya baru bisa mengenalinya jika dia memakai pakaian yang sama seperti malam itu. Jika dia datang dengan pakaian biasa, mungkin itulah akhir dari pelarianku Kak!."


Grreeeppp


Elea tersenyum saat suaminya mendekapnya dengan sangat erat. Dia tahu suaminya ini sedang sangat gelisah, sama sepertinya.


"Sayang, aku tidak mau kau kenapa-napa. Biar Levi saja ya yang memancing bajingan itu? Aku tahu ini sedikit keterlaluan, tapi aku melakukannya demi kebaikanmu. Aku tidak rela jika bajingan itu sampai menyakitimu lagi" ucap Gabrielle cemas.


"Dengan mengorbankan keselamatan orang lain, begitu?" tanya Elea.


Gabrielle mengangguk. "Maaf, terlalu sulit untuk menangani bajingan itu sayang. Dia di lindungi oleh pemerintah, jadi aku tidak bisa menyentuh dia seenaknya. Ibu bilang harus dia dulu yang mencari masalah dengan kita, baru setelah itu kita bisa membuat perhitungan dengannya."


"Tapi sayang,...


"Sudahlah, ini sudah siang. Lebih baik kita segera berangkat ke perusahaan. Kakak perlu membahas masalah ini dengan Kak Levi supaya dia bisa mempersiapkan diri. Karena bagaimana pun juga yang akan kami hadapi adalah orang yang sangat jahat" ucap Elea menyela perkataan suaminya.


Gabrielle menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dia melepaskan dekapannya lalu menangkup wajah Elea.


"Istriku sudah dewasa ternyata."


"Aku sudah lama dewasa sebelum waktunya, Kak" sahut Elea sembari terkekeh pelan.


Gemas, Gabrielle segera meraup bibir mungil istrinya. Mengabsen deretan gigi putih yang berjejer rapi di dalam mulutnya. Entahlah, perasaannya sedang tidak karuan. Antara bangga dan juga khawatir memikirkan istrinya yang akan menghadapi satu orang gila yang sangat berbahaya.


"Hemm, selain dewasa istriku ternyata sudah sangat mahir membalas ciuman. Aku baru tahu" goda Gabrielle setelah ciuman hangat itu berakhir.


"Semua itu berkat ajaran suamiku yang rutin memberikan les khusus setiap malam" sahut Elea dengan pipi merona.


Gabrielle tertawa. Dia lalu menggiring istrinya untuk berganti pakaian. Gabrielle dengan telaten membantu mengeringkan rambut Elea sambil memperhatikannya yang sedang berhias.

__ADS_1


"Jangan terlalu cantik, aku tidak suka kau menjadi pusat perhatian orang lain sayang" protes Gabrielle melihat Elea yang menjadi begitu mempesona hanya dengan make up sederhana.


"Aku justru bangga jika bisa membuat orang lain tak kuasa berpaling dari kecantikanku Kak. Itu tandanya aku layak untuk menjadi istrinya Gabrielle" sahut Elea jujur.


"Aihh, sejak kapan istriku jadi genit begini hem?" tanya Gabrielle gemas.


"Sejak kita menjadi satu" jawab Elea kemudian berdiri menghadap kearah suaminya. "Baiklah Tuan Gabrielle, mari kita pergi mengguncang dunia. Izinkan sekertarismu yang cantik ini menunjukkan pesonanya pada semua orang!."


Setelah bicara seperti itu, Gabrielle dan Elea tertawa lepas. Elea benar-benar berubah menjadi pribadi yang sangat berbeda setelah dia mengungkapkan rahasianya. Dia merasa tak perlu lagi memakai topeng jika sedang bersama suaminya. Dan Gabrielle sendiri, dia merasa begitu bahagia dengan perubahan di diri Elea. Istrinya mendadak berubah menjadi strong women dengan pemikiran yang begitu dewasa.


"Kalau begitu ayo kita berangkat, Nyonya Ma" ucap Gabrielle kemudian menggandeng tangan istrinya keluar dari dalam kamar.


Saat sampai di ruang makan, Gabrielle dan Elea di buat bingung melihat kondisi rumah dalam keadaan sepi. Padahal ini adalah jamnya sarapan, tidak biasanya semua orang pergi seperti ini.


"Ares, kemana perginya semua orang?" tanya Gabrielle heran.


"Para Nyonya sudah pergi sejak dini hari tadi, Tuan Muda. Sementara para Tuan baru saja pergi untuk memancing" jawab Ares.


Alis Gabrielle mengerut. Ini aneh, bukan kebiasaan ayah dan ibunya melewatkan sarapan pagi bersama. Gabrielle jadi bertanya-tanya apakah mungkin keluarga besarnya sedang merencakan sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Kak Iel, ayo sarapan. Mungkin semua orang memiliki urusan di luar rumah makanya pergi tanpa memberitahu kita" ucap Elea menenangkan kecemasan suaminya.


"Sayang, kau tidak merasakan ada hal buruk yang akan terjadi pada mereka kan?" tanya Gabrielle lirih.


Elea menggeleng. "Tidak. Aku tidak mendapat firasat apapun malam ini selain sangkar emas itu."


"Ya sudahlah. Mungkin benar apa katamu kalau semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing" ucap Gabrielle lagi.


Setelah itu keduanya segera menyantap sarapan pagi mereka sebelum berangkat ke perusahaan. Sedangkan Elea, dia kembali ke sikap polosnya begitu keluar dari rumah.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2