Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kejutan Romantis


__ADS_3

Cira berjalan seorang diri menuju kantin rumah sakit untuk membeli makan siang. Wajahnya yang cantik natural terlihat semakin bersinar saat dia tersenyum kearah dokter yang menyapanya. Semalam Cira tidur di rumah sakit menemani majikannya, dia menolak ketika di minta untuk kembali ke hotel. Untung saja rumah sakit ini adalah milik cucu menantu majikannya, jadi mereka bisa dengan mudah mendapatkan kamar untuk beristirahat.


"Hmmppppttttt....."


Saat Cira sedang melewati lorong yang menghubungkan rumah sakit dengan kantin, tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya. Mata Cira membelalak lebar ketika dia di seret kearah gudang dimana tempat itu terlihat cukup sunyi. Berbagai macam pikiran buruk langsung memenuhi rongga kepala Cira, dia sangat takut sekarang.


"Ssttt jangan panik sayang. Ini aku, Ares!.


Ares segera memeluk Cira begitu mereka sampai di dalam gudang. Dia terkekeh saat tangan istrinya tidak berhenti memukuli punggungnya.


"Dasar brengsek! Kau menakutiku Res, aku pikir kau penjahat yang ingin mencelakaiku. Jahat kau Res, jahat!" kesal Cira.


"Maaf sayang, aku sengaja melakukannya untuk menghukummu. Siapa suruh kau tersenyum pada pria lain, aku kan jadi cemburu" ucap Ares kemudian mencium puncak kepala Cira. "Maaf ya, jangan marah. Oke?.


Cira melepaskan diri dari pelukan Ares. Dia lalu menatapnya dengan tajam.


"Jadi dari tadi kau mengawasiku ya?" tanya Cira penuh selidik. "Kau bilang sedang ada di kantor, bagaimana caranya kau tahu kalau aku membalas senyuman dokter yang tadi menyapaku? Kau bohong ya?.


Ares menarik nafas. Dia kemudian menarik tangan Cira kearah kursi yang ada di dekat pintu masuk menuju gudang. Mereka kemudian duduk di sana.


"Tuan Muda membuat masalah, sayang. Tuan dan Nyonya Besar mengamuk karena Tuan Muda sudah membentak Nyonya Elea di hadapan mereka. Sebenarnya tadi itu aku sedang berada di kantor saat menelponmu. Tapi setelahnya aku langsung di minta datang kemari sambil membawakan buket bunga untuk Nyonya Elea. Bunga sogokan " jelas Ares.


Cira ber-oh ria. Dia kemudian memperhatikan tangan Ares. Matanya memicing.


"Apa kau tidak membawakan bunga untukku?.


"Apa kau juga ingin menerima bunga sogokan?" sahut Ares balik bertanya.


Dengan malu-malu Cira menganggukkan kepala. Dan sikapnya yang seperti itu malah membuat Ares jadi gemas sendiri kemudian menangkup kedua pipinya.


"Beri aku ciuman yang manis lalu aku akan menukarnya dengan satu kejutan" bisik Ares tepat di depan bibir Cira.


'Matilah aku. Aaa, aku salah merayu orang!.


Cira menjadi sangat gugup ketika Area menempelkan bibir mereka. Dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah terhanyut dalam ciuman yang menuntut. Baik Ares mau pun Cira, keduanya sama-sama menginginkan, namun mereka sadar untuk tetap berada di bawah batas normal.


Saat tangan Ares mulai merambah masuk ke balik kemeja yang di pakai Cira, dengan cepat dia menahannya. Ciuman mereka kemudian terlepas, nafas keduanya memburu. Tanpa merasa bersalah sama sekali Ares kembali mengecup bibir calon istrinya yang sudah membengkak. Kali ini dia hanya melakukannya sekilas, karena setelahnya Ares langsung menarik Cira ke dalam pelukannya.


"Benar-benar sulit untuk menahan diri jika sudah menyentuhmu,"

__ADS_1


"Dasar mesum" omel Cira dengan wajah merah padam.


"Tapi kau suka kan?" goda Ares.


"Mana ada?.


Mereka berdua kemudian tertawa bersama.


"Oh ya Res, mana kejutannya?" tanya Cira menagih janji calon suaminya.


"Ikut aku!.


Dengan dada berdebar-debar Cira mengikuti langkah Ares yang sedang menarik tangannya keluar dari gudang. Dia kemudian di ajak menaiki tangga menuju atap rumah sakit.


'Ares tidak mungkin mau melemparkan aku dari atas gedung rumah sakit ini kan?.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, sayang. Aku bukan pria jahat seperti yang ada di dalam pikiranmu" ucap Ares seolah mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh calon istrinya.


Cira meringis sambil menggaruk keningnya. Dia lupa kalau pria ini sangat handal dalam membaca pikiran dan juga membaca situasi.


Ceklek


"Suka?" tanya Ares sembari menyelipkan anak rambut calon istrinya yang beterbangan tertiup angin.


"Sangat" jawab Cira jujur. "Kapan kau menyiapkan semua ini, Res? Bagaimana bisa kau memberiku kejutan makan siang seromantis ini di atap gedung rumah sakit? Kau dapat ide darimana hah?.


Ares tersenyum senang melihat antusiasme Cira dalam menyikapi kejutan yang sudah susah payah dia persiapkan. Ada kepuasan tersendiri ketika Ares melihat Cira yang terus saja terpesona dengan apa yang dia berikan.


"Bukannya ingin sombong, tapi aku bisa melakukan semua ini dengan uang. Dan kalau kau penasaran darimana aku bisa mendapatkan ide seperti ini, itu aku ketahui dari salah satu situs online, sayang. Aku menelusuri mesin pencarian hanya demi untuk membuatmu tersenyum bahagia seperti ini. Dan berhasil, karena sekarang kau sedang tersenyum manis di hadapanku!" jawab Ares tanpa malu mengakui darimana dia mendapatkan ide makan siang romantis ini.


Pipi Cira merona merah. Dia benar-benar merasa sangat tersanjung akan usaha Ares yang ingin membuatnya merasa bahagia. Tanpa malu-malu lagi Cira langsung menghujani wajah calon suaminya dengan banyak ciuman. Dia terus melakukan hal tersebut sampai membuat Ares tertawa kesenangan.


"Ah sayang, baru makan siang seperti ini saja kau sudah menciumiku dengan membabi buta. Bagaimana nanti ya jika aku memberimu kejutan yang jauh lebih romantis daripada ini? Mungkinkah kau akan menarikku keatas ranjang, hem?" goda Ares sambil merengkuh pinggang Cira kemudian membuat wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat.


"Isshh, apalah kau ini Res. Dasar mesum" sahut Cira sambil menggelengkan kepala.


"Mesum kepada calon istri sendiri tidak apa-apa kan?.


"Tidak apa-apa sih, tapi kau harus ingat kalau aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita resmi menikah. Kau sudah berjanji padaku tidak akan melakukannya sebelum kita mendapatkan status yang sah kan Res?" tanya Cira sembari memainkan dasi di kerah baju calon suaminya.

__ADS_1


Ares terpana. Dia sungguh begitu mengagumi prinsip Cira yang tetap kekeh mempertahankan kesuciannya meskipun mereka sudah mau menikah. Suatu hal yang sudah jarang dia temukan dimana ada wanita yang masih sanggup mempertahankan harga dirinya ketika bertemu dengan pria yang memiliki banyak uang.


"Sayang, kau adalah calon istriku. Jadi aku mana mungkin merusak harga diri wanita yang akan melahirkan anak-anakku kelak? Kau tenang saja, sekhilaf apa pun aku, aku akan tetap berusaha melindungi prinsip yang kau anut. Toh nantinya aku juga yang akan memilikinya setiap malam. Tidak akan terasa indah lagi jika aku mengambilnya sekarang. Iya kan?.


Cira mengangguk. Dia sangat bersyukur di pertemukan dengan pria yang sangat bertanggung jawab seperti Ares. Ya meskipun terkadang pria ini hampir kehilangan kendali, tapi setidaknya mereka masih ingat untuk tidak berbuat lebih dari sekedar berciuman dan sedikit meraba, hehehe.


"Terima kasih banyak Res sudah mau menghargai prinsipku" ucap Cira penuh haru.


"Sama-sama sayangku."


"Dan sekarang aku lapar."


Ares tergelak. Rusak sudah suasana romantis ketika dari perut Cira terdengar sebuah suara yang sedikit familiar di telinganya. Ya, itu suara cacing yang sedang menabuh genderang perang.


"Astaga, ya sudah ayo cepat kita makan. Aku tidak akan sanggup melawan amukan para cacing itu jika mereka sampai memberontak!.


Cira tertawa mendengar candaan Ares. Dia kemudian segera duduk begitu Ares menarikkan kursi untuknya. Sungguh, perlakuan Ares benar-benar sangat romantis. Membuat Cira semakin jatuh cinta kepadanya.


'Terima kasih, Ares. Aku mencintaimu....'


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: rifani_nini...


...🌻 FB: Rifani...


βœ…GENGS, AYO MAMPIR KE LAPAKNYA NENG ROSE, ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO 🀣




**


__ADS_1


**


__ADS_2