Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pendengar Yang Baik


__ADS_3

Setelah ayahnya pergi, Levi segera masuk ke dalam rumah. Dia menyender ke dinding kemudian menutup wajahnya. Levi menangis.


"Hikssss.... Kenapa Ayah, kenapa kau selalu menganggapku sebagai alat tukar yang bisa kau gunakan untuk memenuhi keserakahanmu? Aku ini putrimu, bukan barang yang bisa kau jajakan seenaknya. Aku kecewa padamu Ayah, aku kecewa" ucap Levi lirih di sela-sela isak tangisnya.


Elea yang saat itu tengah duduk menyelesaikan pr-nya samar-samar seperti mendengar suara orang yang sedang menangis. Dia kemudian beranjak untuk mencari tahu suara tangisan siapa itu.


"Kak Levi?".


Levi yang sedang bersedih tidak mendengar panggilan Elea. Dia tersentak kaget merasakan elusan pelan di pundaknya.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Elea hati-hati.


Sejenak Levi terdiam. Dia tidak tahu apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. Jujur saja hatinya terluka, tapi dia juga tidak mau di anggap sebagai gadis cengeng oleh teman kecilnya. Levi selalu ingin memperlihatkan kalau dirinya adalah wanita yang kuat di hadapan Elea. Tapi sekarang, dia ketahuan sedang menangis. Berbohong pun sepertinya gadis kecil ini tidak akan percaya.


"Apa kau berharap aku bernasib buruk?" jawab Levi mengelak.


Elea menghela nafas. Dia tahu benar kalau temannya ini sedang bersedih.


"Kak Levi, kalau kau butuh sandaran, menyenderlah di pundakku. Meskipun aku bodoh, aku masih bisa menjadi pendengar yang baik untukmu. Tenang saja, aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada siapapun. Kau boleh memukul bokongku kalau aku lupa!".


Levi tak tahu harus menangis atau malah tertawa mendengar kekonyolan yang terlontar dari mulut Elea. Bisa-bisanya gadis ini berjanji tidak akan membocorkan rahasianya hanya jika dia tidak lupa. Jika kalian yang ada di posisinya Levi, apa yang akan kalian lakukan pada makhluk kecil ini? Tolong kasih tahu di kolom komentar, oke 😉.


"Elea, seharusnya kalau kau ingin menghiburku jangan tambahkan kata-kata yang membuat darahku mendidih. Kenapa harus ada kata lupa kalau kau mau menjadi pendengar yang baik?" tanya Levi seraya menarik nafas dalam.


"Maaf Kak Levi, aku tidak bisa berbohong. Saat pulang nanti Kak Iel pasti akan menanyakan apa saja yang kita bicarakan di sini. Kakak tahu bukan kalau berbohong itu dosa? Tuhan bisa marah" jawab Elea bijak.


"Ya ya ya, Tuhan memang tidak suka pada orang yang bicara bohong. Tuhan juga akan menurunkan azab pada orang-orang yang suka bersilat lidah. Astaga Elea, kepalaku bisa botak kalau seperti ini terus!" keluh Levi sambil mengacak rambutnya.


Levi dengan cepat menarik tangan Elea saat dia melihat Elea yang ingin kembali mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Kepalanya sudah sakit memikirkan kelakuan ayahnya, Levi tak mau lagi jika harus berhadapan dengan Elea. Dia tidak sanggup.


"Mana pr-mu? Sudah kau selesaikan belum?" tanya Levi sambil memperhatikan buku-buku yang berceceran di atas meja.


"Tinggal sedikit lagi, Kak" jawab Elea kemudian duduk di atas karpet.


"Ya sudah kalau begitu cepat selesaikan. Aku akan membuat jus di dapur".


"Baik Kak!".


Levi tersenyum saat Elea dengan patuh kembali mengerjakan pr yang belum selesai. Dia kemudian pergi ke dapur untuk membuat jus.


"Nona, biar Bibi saja yang membuat minuman. Nona ingin jus apa?" tanya bibi pelayan yang entah muncul dari mana.


"Astaga, kenapa kau muncul seperti hantu sih Bi. Mengagetkan saja" ucap Levi sembari mengelus dada.


"Maaf Non, Bibi tidak sengaja".


"Lain kali berikan kode sebelum muncul seperti ini, Bi. Aku masih belum merasakan belaian seorang pria, jadi aku belum siap mati muda karena serangan jantung!" omel Levi pura-pura marah.

__ADS_1


Bukannya takut mendapat omelan dari nona-nya, bibi pelayan itu malah tertawa. Omelan lucu yang biasa dia dengar setiap harinya.


"Nona saja tidak punya kekasih, bagaimana caranya bisa mendapat belaian!".


Mata Levi melotot saat dirinya di ejek oleh pelayannya. Sambil berkacak pinggang Levi kembali memarahi pelayan kesayangannya ini.


"Siapa bil....


"Kak Levi, kenapa kau memarahi Bibi? Dia sudah tua, bagaimana kalau Bibi menangis?".


Perkataan Levi terhenti saat seorang gadis dengan santainya memberi nasehat. Sontak saja hal itu membuat Levi dan bibi pelayan terbengang heran.


"Bibi, kau baik-baik saja kan? Maafkan ucapan Kak Levi ya, dia memang suka marah-marah, tapi sebenarnya hatinya sangat baik. Bibi jangan sedih, anggap saja angin lalu!" ucap Elea sambil berjalan mendekat kearah bibi pelayan.


Rahang Levi seperti mau lepas saat Elea meminta maaf atas namanya. Benar-benar.


Ctaakkkk


"Awww Kak Levi, sakit!" pekik Elea sambil mengusap keningnya yang baru saja di sentil oleh wanita yang kini sedang menatapnya seperti orang kerasukan.


"Sakit ya? Mau yang lebih sakit lagi tidak?" tanya Levi.


Elea menggeleng. Bibi pelayan yang melihat hal itu tersenyum kecil. Sepertinya gadis kecil di sebelahnya ini adalah gadis yang baik. Dan gadis kecil ini adalah orang pertama yang di bawa nona-nya masuk ke rumah.


"Kenapa kau menyusul kemari? Bukankah aku menyuruhmu untuk menyelesaikan pr?" tanya Levi sambil memasukkan alpukat ke dalam blender.


Elea tersenyum kikuk saat Levi memperlihatkan tatapan mematikan kearahnya sambil memegang kotak susu di tangannya.


'Ya ampun, sepertinya aku salah bicara. Tapi kan memang benar kalau susu kental coklat itu terlihat seperti tai ayam. Aku tidak bohong'.


"Bibi, kau saja yang membuatkan jus untuk kami. Seleraku mendadak hilang gara-gara makhluk kecil ini membahas kotoran ayam!" ucap Levi dongkol kemudian pergi keluar dari dapur.


Bibi pelayan dan Elea saling memandang.


"Aku salah bicara ya Bi?".


"Tidak Nona. Maklum saja, Nona Levi memang seperti itu orangnya. Tidak perlu merasa bersalah, nanti Nona juga akan baik sendiri!".


Elea mengangguk.


"YAKKK KAU MAKHLUK KECIL, APA YANG KAU LAKUKAN DI DAPUR HAH! CEPAT KEMARI ATAU KU PATAHKAN KAKIMU SEKARANG JUGA!".


Tanpa pikir panjang lagi Elea segera berlari pergi dari sana. Dia tidak mau kalau kakinya akan benar-benar di patahkan jika terlambat datang.


"Kenapa Kak?" tanya Elea dengan tampang polosnya.


Levi mendengus kasar. Dia lalu menepuk karpet di sebelahnya meminta Elea untuk duduk. Dan untungnya kode itu langsung di pahami oleh Elea tanpa harus membuat tekanan darahnya naik.

__ADS_1


"Ingat ya, aku akan memukul bokongmu kalau kau sampai salah mengerjakan tugas dari gurumu. Dan kau tidak boleh protes, mengerti!" ucap Levi sambil bersiap memeriksa pr Elea.


"Mengerti Kak" sahut Elea patuh.


Elea diam memperhatikan Levi yang sedang memeriksa hasil pekerjaan rumahnya. Matanya mengedip terang seperti mata kucing saat Levi beberapa kali meliriknya.


'Ya ampun, aku tidak menyangka kalau makhluk kecil ini ternyata sangat pintar. Bagaimana bisa tidak ada satupun jawaban yang salah, padahal dia sudah sangat lama tidak mengenyam pelajaran sekolah. Elea, siapa sebenarnya ayah dan ibumu? Orangtuamu tidak mungkin hanya orang biasa, aku yakin kau pasti terlahir dari keturunan orang yang memiliki pendidikan berkelas. Ini adalah soal untuk masuk perguruan tinggi, sedangkan kau sendiri hanya tamatan sekolah menengah. Bagaimana bisa kau menyelesaikan semua ini dengan sangat baik? Kau bahkan baru mulai belajar tadi malam. Astaga, kenapa bulu kudukku berdiri? Elea bukan alien sungguhan kan?'.


Levi menatap lekat kearah Elea. Dia jadi penasaran dengan identitas Elea yang sebenarnya. Tapi dia juga tidak mungkin menanyakan hal ini secara langsung. Levi takut makhluk kecil ini akan merasa sedih jika membahas tentang orangtuanya yang sudah dengan tega membuangnya di panti asuhan.


"Bagaimana Kak? Ada yang salah tidak?" tanya Elea penasaran.


"Tidak" jawab Levi singkat.


"Yeyyy," pekik Elea senang sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.


Levi tersenyum. Dengan sayang dia menepuk puncak kepala teman kecilnya.


"Karena kau sudah mengerjakan tugas dengan baik, aku akan mengajakmu pergi berbelanja ke supermarket. Kita akan membeli bahan-bahan untuk memasak makan siang. Bagaimana, mau tidak?" tawar Levi.


Elea terdiam. Dia ingat pesan suaminya sebelum datang kemari.


"Kak Levi, Kak Iel bilang..


"Dia pasti melarangmu pergi tanpa membawa batang hidungnya kan? Aku sudah tahu itu" ucap Levi memotong perkataan Elea.


"Woaahhh, bagaimana bisa Kak Levi tahu apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Elea takjub.


"Dasar bodoh, jelas saja aku tahu Elea. Sudahlah, nanti aku akan meminta izin pada suamimu sebelum pergi. Kau tenang saja" jawab Levi kemudian menerima minuman yang di sodorkan oleh bibi pelayan.


"Terima kasih banyak Bibi" ucap Elea sopan.


"Sama-sama Non".


"Oh ya Bi, setelah ini kita akan pergi ke supermarket. Tolong Bibi catat barang apa saja yang perlu di beli!" perintah Levi sambil menyeruput jus alpukat di gelasnya.


"Siap Non!".


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2