
Tok, tok, tok
Tepat ketika Elea dan Levi hendak keluar dari ruangannya Gabrielle, pintu di ketuk dari luar. Elea yang memang berada paling depan segera membukanya. Dia mematung, menahan nafas ketika melihat manusia berambut blonde sedang berdiri sambil menatapnya kaget.
Di belakang Elea, Gabrielle tengah duduk menunggu kejadian menyenangkan seperti apa yang akan di lakukan istrinya pada tamu yang baru saja mengetuk pintu. Dia sudah sangat tidak sabar menantikan aksi Elea yang kini sudah berubah menjadi sedikit brutal.
"Owh owh owh, lihat siapa yang datang sayang" sindir Levi kemudian merangkul bahu Elea. "Halo Nona, kau semakin cantik saja dengan rambut barumu."
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Patricia acuh. Ekor matanya melirik kearah musuhnya yang sedang berdiri diam. "Kau siapa?."
Bukannya menjawab, Elea malah memalingkan wajah kearah Levi. Dia tahu siapa wanita ini, tapi sengaja ingin membuatnya merasa kesal terlebih dahulu sebelum memberikan pelajaran.
"Wanita lampir ini siapa Kak?" tanya Elea dengan tampang polosnya.
"Pfftttt, hahahahaaaa!."
Levi terbahak-bahak mendengar Elea yang menyebut Patricia sebagai nenek lampir. Sedangkan si korban, dia hanya bisa diam menahan kesal karena di belakang mereka saat ini ada Gabrielle yang juga sedang menertawainya. Patricia tak ingin membuat Gabrielle menganggapnya wanita yang tidak anggun. Jadi sebisa mungkin dia menahan emosinya agar tidak meledak meski sebenarnya dia sangat ingin menampar mulut Elea.
'Coba saja kalau kau berani melakukan hal itu pada istriku, Patricia. Aku pastikan kau akan menjadi gadis cacat seumur hidup.'
"Maaf Nona, kau siapa ya? Sepertinya kau masih sangat belia" tanya Patricia mengurai kekesalannya.
"Namaku Elea, aku adalah istri dari pria yang akan kau temui di dalam. Dan aku yakin sekali kalau kau itu sebenarnya sudah tahu siapa aku. Iya kan?" sahut Elea langsung memberikan jawaban menohok di depan wajah rivalnya.
Patricia keki. Dia sampai kebingungan harus bicara apa ketika Elea dengan spontan membongkar kedok kepura-puraannya. Tapi melihat Levi yang juga ada di sana, Patricia tak ingin kalah. Dia terus mencoba untuk memperlihatkan kalau dirinya adalah wanita baik-baik.
"Maaf Nona, aku..
"Nyonya, kau harus memanggilku Nyonya, bukan Nona. Karena semua orang di perusahaan ini juga menyebutku seperti itu. Hanya Kak Levi saja yang berani memanggilku dengan sebutan nama. Jadi aku harap kau tahu batasanmu, Nona lampir" ucap Elea sarkas memotong perkataan Patricia.
What the f*ck. Nona lampir? Ubun-ubun Patricia rasanya seperti terbakar saat dia terus-menerus di pojokkan oleh Elea. Dan apa itu tadi, Nona lampir? Gadis ini gila, benar-benar sudah gila.
"Kalau begitu aku minta maaf, Nyonya. Permisi" pamit Patricia enggan meladeni.
Dengan pongahnya Patricia menabrak bahu Elea hingga membuatnya bergeser dari depan pintu. Gabrielle yang melihat hal itu tentu saja meradang. Tapi baru saja dia hendak menghampiri, dia di buat tercengang oleh kejadian dimana Elea melakukan penyerangan secara brutal pada Patricia.
Sreeetttt
__ADS_1
"Aaaawwwww, yakkk apa yang kau lakukan!" teriak Patricia sambil meringis kesakitan saat rambutnya di jambak dari belakang.
"Ini salahmu sendiri karena sudah sengaja menabrak bahuku tadi. Memangnya kau tidak bisa berfikir ya dampak apa yang bisa terjadi padaku karena perbuatan kasarmu itu? Bagaimana kalau tulang bahuku patah? Kau mau menanggung semua biaya pengobatannya, iya?" omel Elea tanpa melepaskan jambakannya.
Levi ternganga, dia tak percaya Elea masih bisa melawak di saat-saat seperti ini. Tadinya Levi mengira kalau Elea akan mengeluarkan sedikit kata yang menyeramkan. Siapa yang menduga kalau dia akan membahas masalah biaya dengan musuhnya sendiri. Sungguh, citra rasa polos Elea tidak akan pernah berubah.
"A-aku minta maaf, Nyonya. Tadi itu aku tidak sengaja" jawab Patricia mati-matian memanggil Elea dengan sebutan Nyonya.
"Bohong. Kau pasti sengaja kan? Kau seperti itu padaku karena ingin bergenitan pada suamiku kan? Kak Levi sudah memberitahuku kalau kau ingin merebut Kak Iel dariku. Iya kan? Mengaku saja lah" amuk Elea kemudian menoleh saat telinganya di jewer. "Apa sih Kak? Aku sedang sibuk sekarang."
"Sibuk kepalamu. Kenapa kau membawa-bawa namaku, hah?" omel Levi kemudian melepaskan jewerannya. "Bisa tidak kalau marah itu yang serius?."
"Ck, Kak Levi menyebalkan" jawab Elea kemudian menatap sengit kearah Patricia yang masih meringis kesakitan. "Dengar ya, Kak Iel itu suamiku. Hanya aku yang akan menjadi istri satu-satunya. Jadi aku harap kau jangan mendekatinya lagi atau aku akan membakar kepalamu supaya kau menjadi botak. Mau?."
Terdengar gemeletuk gigi dari dalam mulut Patricia ketika dia di gertak oleh Elea. Seandainya Gabrielle tidak ada di sana, Patricia pasti akan langsung membalas penghinaan ini. Tapi sekali lagi dia terpaksa mengalah agar tak kehilangan rasa simpatiknya Gabrielle. Patricia yakin kalau dirinya pasti bisa menghancurkan pernikahan Gabrielle dan Elea. Apapun caranya, dia bersumpah kalau perpisahan itu pasti akan segera terjadi.
Gabrielle yang mendengar isi pikiran Patricia segera datang mendekat. Amarahnya meluntur ketika dia mendengar Elea yang begitu menggebu menguatkan posisinya sebagai Nyonya Ma.
"Lihat Kak Iel betapa menjijikkannya Nona lampir ini. Berani sekali dia menabrak bahuku hanya karena sudah tidak tahan ingin segera bertemu denganmu. Memangnya siapa dia sampai berani mencari masalah dengan istrinya Gabrielle. Dia tidak tahu saja kalau aku ini adalah istri kesayangan Kakak!" adu Elea kemudian membebaskan rambut Patricia dari cengkeraman tangannya.
Sambil berakting terluka, Patricia mencoba merebut perhatian Gabrielle. Dia memasang wajah semenyedihkan mungkin agar bisa memutar balikan fakta kalau Elea sengaja menyakitinya, juga untuk menyanggah tuduhan meskipun pada kenyataannya semua itu adalah benar.
"Apa sakit?."
"Haa..??. Beo Patricia. Setelah itu dia segera menganggukkan kepala dengan raut wajah penuh kemenangan. " Ti-tidak. Hanya sedikit terasa panas, mungkin ada beberapa helai rambutku yang terlepas!."
"Sayang, apa sakit?" tanya Gabrielle mengacuhkan Patricia.
Wajah Patricia pias ketika dia menyadari kalau pertanyaan itu bukan tertuju untuknya, melainkan pada Elea. Sambil menahan malu Patricia memalingkan muka kearah lain saat dia di olok-olok oleh sepupu sialannya.
"Hahahhaa, berharap sekali anda kalau Gabrielle akan bersimpati padamu Nona. Ckck, kau benar-benar sangat menjijikkan, Patricia. Aku malu mempunyai sepupu sepertimu."
Gabrielle dan Elea saling tersenyum. Dengan sayang Gabrielle segera mengusap bahu yang tadi tabrak oleh Patricia.
"Apa sakit sekali, hem?."
"Tidak sih Kak. Tadi itu aku hanya pura-pura saja" jawab Elea sambil berbisik. "Kak Levi bilang aku harus lebih galak dari kucing liar ini. Jadi aku sengaja mencontoh gaya Kak Levi setiap kali melakukan peperangan!."
__ADS_1
Gabrielle tertawa. Istrinya lucu sekali, sungguh. Mereka terus bermesraan, mengabaikan Patricia yang sedang berdiri menahan sakit di bagian kepala dan juga di hatinya. Sedangkan Levi, dia terlihat sangat puas. Hasil didikannya berfungsi sesuai pada tempatnya. Elea menyerang tepat di titik kelemahan Patricia, dan dia suka itu. Levi suka menyaksikan ketidakberdayaan di diri sepupunya yang jahat ini.
"Sayang, tidak apa-apa kan kalau aku membahas pekerjaan dengan Nona Patricia?" tanya Gabrielle sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Elea. "Ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan bersamanya!."
Elea diam tak menjawab. Sebenarnya dia sangat tidak rela membiarkan suaminya berduaan dengan wanita blonde ini. Tapi dia juga tidak boleh egois. Biar bagaimana pun ini menyangkut keprofesionalan suaminya dalam berbisnis. Akhirnya karena tak ingin membuat citra suaminya rusak, dengan sangat tidak rela Elea mengangguk setuju.
"Jangan khawatir, Ares juga ada bersamaku" ucap Gabrielle yang menyadari ketidakrelaan istrinya.
"Sungguh?."
Gabrielle mengangguk. "Ares!."
"Iya Tuan Muda" sahut Ares yang langsung muncul di depan pintu.
"Nah, sekarang sudah percaya kan?."
Elea mengangguk.
"Karena sudah aman aku pergi sekarang ya Kak? Kasihan Kak Lusi, aku takut dia benar-benar di makan Paman Gleen" pamit Elea.
"Pergilah. Nanti kalau ada waktu aku akan menyusul" sahut Gabrielle kemudian mencium kening istrinya lama. "Hati-hati ya. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu di sana!."
"Iya Kak!."
"Levi..
"Tidak perlu bicara lagi. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan pada istrimu. Ck, mau pergi saja sebegini repotnya. Apa jadinya kalau aku membawa kabur Elea dari pelukanmu? Dunia pasti kau hancurkan!" sindir Levi sambil menarik lengan Elea kemudian segera membawanya menuju parkiran.
Sepeninggal Levi dan Elea, Gabrielle kembali duduk di kursinya. Dia sengaja membiarkan Ares yang mengajak Patricia masuk, terlalu enggan karena Gabrielle masih merasa sangat amat muak dengan apa yang di lakukan Patricia pada istrinya saat di Paris kemarin.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...