
Sepulang dari rumah sakit, Patricia memutuskan untuk pergi ke apartemennya. Dia termenung, diam memikirkan suatu kejadian yang membuatnya merutuki diri sendiri.
Flasback
Mata Patricia menatap tak berkedip ke arah layar di hadapannya yang tengah menampilkan gambar hitam putih. Dadanya berdebar kuat dan telapak tangannya terus mengeluarkan keringat dingin.
"Usia janin ini kurang lebih baru sekitar empat mingguan, Nona. Kondisinya juga sangat bagus. Sangat sehat," ucap dokter sambil terus melakukan USG.
"Apa dia memiliki jantung?" tanya Patricia dengan suara gemetar.
"Belum, Nona. Untuk saat ini janin anda hanya berbentuk gumpalan saja. Nanti seiring berjalannya waktu organ-organ tubuhnya akan bermunculan," jawab dokter sembari menyudahi pemeriksaan tersebut.
Mulut Patricia terkatup rapat. Di benaknya mulai berkecamuk berbagai macam pertanyaan tentang akan bagaimana nanti jika bayi ini memiliki tangan dan kaki. Akan seperti apa wajahnya, apakah akan mirip dengannya atau akan lebih mirip ke Junio. Dan masih ada banyak apakah-apakah lain yang membuat debaran dadanya kian menguat. Andai saja ini adalah janin dari hubungan yang sehat, Patricia pasti akan sangat bahagia. Dia akan dengan sangat suka hati menanti setiap perkembangan bayi ini setiap harinya. Tapi ini....
"Dokter, aku ingin menggugurkan janin ini."
Setelah berkata seperti itu, Patricia menatap wajah dokter dengan raut yang memelas. Hatinya hancur, itu tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak ingin mengandung anak dari pria gila yang telah menghancurkan hidupnya. Dia tidak mau hidupnya semakin kacau jika bayi ini di biarkan lahir ke dunia.
"Saya akan melakukannya jika Nona bisa memberi alasan yang masuk akal!" jawab dokter dengan nada suara yang sangat santai. "Apa janin ini berasal dari hubungan one night stand?"
Patricia menggeleng.
__ADS_1
"Apa Nona adalah korban pelecehan?" cecar dokter lagi.
Kali ini Patricia tidak tahu harus menjawab apa. Awalnya dia memang di culik kemudian di sekap dan di p*rkosa. Namun Junio sempat beberapa kali memberinya kesempatan untuk pergi, tapi dia tidak melakukannya. Ingin mengaku kalau dirinya mengalami pelecehan, tapi sewaktu di atas ranjang bersama Junio dia sempat menikmatinya juga. Patricia benar-benar seperti orang munafik. Dia mengeluh, mengutuk, dan juga mengumpat. Tapi dia pernah merasa aman dan nyaman oleh sentuhan pria yang telah merusak hidupnya. Memikirkan hal ini membuat Patricia memilih untuk bungkam. Dia malu untuk mengakui segalanya di hadapan dokter.
"Nona, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anda sehingga janin ini harus hadir. Tapi yang perlu Nona ingat, janin ini sama sekali tidak bersalah. Bukan dia yang meminta untuk hadir di rahim Nona, melainkan karena perbuatan Nona dan pasangan yang telah membuatnya ada."
Jeda sejenak.
"Di luar sana, ada banyak pasangan yang begitu menginginkan seorang anak. Mereka berjuang kesana kemari hanya demi bisa mendapatkan gumpalan darah seperti yang saat ini mendiami rahim Nona. Apa Nona bisa membayangkan seperti apa kesedihan mereka? Masihkah Nona memiliki keinginan untuk membunuh janin itu di saat ada banyak pasangan yang menderita karena tidak bisa memiliki anak? Tolong dipikirkan lagi, Nona. A*orsi bukanlah suatu akhir dari segalanya. Ada karma berat yang akan Nona terima setelah bayi itu di bunuh paksa. Dan juga dengan kondisi Nona yang seperti sedang mengalami tekanan, saya yakin sekali suatu saat Nona pasti akan merasakan penyesalan yang sangat luar biasa jika tetap ingin menggugurkan janin tersebut. Percayalah!"
Nasehat yang diucapkan oleh dokter bagaikan tamparan yang sangat keras di wajah Patricia. Dia kemudian menangis tersedu-sedu, menyesali niatnya yang ingin membunuh darah dagingnya yang baru saja tumbuh di rahimnya.
"Hiksss, aku kalut, dokter. Ayah dari bayi ini adalah seorang yang gila. Aku tidak sudi mengandung anaknya, aku tidak mau menjadi ibu dari seorang bayi yang lahir dari hubungan tidak sehat!" ucap Patricia sesenggukan saat mengeluarkan unek-uneknya.
"Nona, kalau memang anda tidak menginginkan bayi ini, maka berikanlah pada orang lain yang tidak mempunyai anak. Tindakan ini jauh lebih mulia daripada harus membunuhnya. Terlepas dari siapa ayah bayi ini, bayi tersebut tetap memiliki hak untuk tetap hidup. Jika Nona merasa berat untuk tinggal di negara ini, maka carilah tempat yang nyaman untuk memulai hidup baru. Nanti setelah bayi ini lahir Nona bisa menghubungi saya. Saya yang akan mengadopsi bayi tersebut."
Kata-kata mengadopsi entah kenapa membuat Patricia merasa tidak rela. Sambil terisak lirih, satu tangannya bergerak mengusap bagian perutnya yang masih datar. Bayi ini miliknya, darah dagingnya. Apakah mungkin dia tega memberikannya pada orang lain?
"Nona, bagaimana? Apakah masih ingin melakukan a*rsi?"
"Aku akan merawat bayi ini, dokter. Dia tidak bersalah, tapi aku dan ayahnya lah yang bejad," jawab Patricia setelah yakin dengan keputusannya untuk tetap membiarkan sang janin tetap hidup. "Dokter, terima kasih banyak untuk nasehatnya. Jika aku datang ke tempat yang salah, saat ini aku pasti sudah menjauh seorang pembunuh. Sekali lagi terima kasih banyak untuk nasehat tadi, dokter. Sekarang aku merasa jauh lebih lega."
__ADS_1
Flashback Now
Seulas senyum manis muncul di bibir Patricia saat tangannya mengelus calon anak yang sedang tidur di dalam rahimnya. Ya, dia sudah memutuskan untuk pindah ke luar negeri bersama dengan bayi ini. Bukannya ingin lari dari masalah, Patricia hanya tidak ingin melihat orangtuanya merasa malu. Dia tidak mau ayah dan ibunya menanggung cemoohan dari orang-orang jika tahu kalau dirinya hamil di luar nikah. Dia tidak mau itu.
"Baby, tidak apa-apa ya kalau Mommy membawamu pergi dari negara ini? Maaf karena sudah membuatmu hadir dalam situasi yang seperti ini. Maaf juga karena sepertinya Mommy tidak akan bisa membuatmu bertemu dengan Daddymu. Tapi kau tenang saja, meskipun nanti kita hanya akan hidup berdua, Mommy janji Mommy akan sangat menyayangimu. Mommy pastikan kau tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Jadi... tolong patuh dan sehat-sehat ya di dalam sana. Besok pagi kita berdua akan segera pergi dari negara ini menuju tempat yang baru. Tempat yang akan menjadi rumah kita selamanya!"
Patricia kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia ingin menghubungi seseorang yang bisa mengurus surat kepindahannya malam ini juga.
"Tolong kau urus segala keperluanku untuk menetap di luar negeri. Jika sudah siap antarkan berkasnya ke apartemen. Dan untuk urusan pekerjaan, tolong tetap dampingi Ayah di kantor. Aku ada urusan pribadi yang harus segera di selesaikan. Satu lagi, jangan beritahu siapapun kalau aku ingin tinggal di German. Jika Ayah dan Ibuku bertanya, katakan saja kalau aku sedang liburan. Paham!"
"Baik, Nona."
Panggilan kemudian terputus. Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Patricia. Keputusan ini sangat berat baginya. Tapi akan lebih berat lagi jika dia tetap ada di negara ini dalam kondisi hamil dan tidak mempunyai suami. Patricia tidak berani membayangkan akan seperti apa sedihnya kedua orangtuanya jika tahu kalau dia gagal menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.
"Maafkan aku Ibu, Ayah. Aku terpaksa melakukan ini semua demi kebaikan kita bersama. Tapi aku janji, nanti setelah bayi ini lahir aku pasti akan langsung menghubungi kalian. Sungguh," ucap Patricia sambil menahan tangis.
πππππππππππππππππ
β Hai hai hai, yakin nih gk mau mampir ke chanel emak?? PESONA SI GADIS DESA PART 1 sudah up lho di yutub? Wkwkwk, bagi yang udah mampir pasti tahu gimana kelakuan Fedo yang omes.
Oh ya gengss, nanti di akhir bulan insyaallah emak akan mencari komentar terunik dan terlucu yang akan emak ambil sebagai pemenang giveaway. Nggak banyak kok, masing-masing pemenang dapat 25k pulsa. Jangan lupa datang dan berikan dukungan ya???
__ADS_1
β Nama chanel belum muncul karena punya emak masih baru. Jadi mesti lewat link dulu. bagi yang mau, silahkan PC emak, nanti emak kasih. Yang belum pollow silhkan komen di bawah, nanti emak polbek. Terima kasih πππ