Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Tuan, to,tolong jangan sakiti aku. Aku,aku....


Plaakkk,plaakkk


"Diam sialan. Jangan mengganggu kegiatanku!."


"To,tolong jangan sakiti aku. Aku mohon.... "


Hahhhh,,, hahhhhh


Elea terbangun dengan nafas terengah-engah. Dia baru saja mengalami mimpi buruk tentang kejadian beberapa tahun silam. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang mengucur deras.


"Tidak, tolong jangan sakiti aku. Jangan sakiti aku!" gumam Elea lirih sembari menatap panik ke sekeliling kamar.


Karena kalut, Elea bergerak sembarangan hingga membuatnya terjatuh dari ranjang dengan kepala yang membentur kaki meja.


Dughhh


Elea meringis. Dengan tangan gemetaran dia mencoba untuk meraih bajunya yang teronggok di lantai.


"Jangan sakiti aku, jangan sakiti aku."


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dengan sangat keras. Elea menatap takut kearah pria yang sedang berlari kearahnya.


"Astaga Elea, kepalamu berdarah!" pekik Gabrielle kaget melihat kondisi istrinya yang terduduk di lantai tanpa mengenakan pakaian.


Elea beringsut menjauh sambil menutupi telinga. Wajahnya yang tadi pucat kini semakin memucat tatkala pria yang tak di kenalinya ini ingin memeluknya.


"Tu,Tuan, aku mohon tolong jangan sakiti aku. Aku mohon jangan" cicit Elea ketakutan.


Gabrielle tertegun. Sekarang dia sadar kalau istrinya tengah di kuasai oleh rasa trauma yang pernah di alaminya. Dengan sangat hati-hati Gabrielle mengambil selimut kemudian menutupkannya ke tubuh polos Elea.


"Sayang, hei lihat kemari. Aku Gabrielle, suamimu. Aku bukan orang jahat. Coba lihat wajahku baik-baik. Elea....Hey" panggil Gabrielle sabar menenangkan istrinya yang sedang ketakutan.


Elea enggan untuk menatapnya. Dia masih menutup telinga dan terus menggelengkan kepala. "Tuan aku hanya ingin menolongmu saja. Tolong jangan sakiti aku, aku mohon."


'Hah! Jadi Elea sempat ingin menolong dokter itu? A*jing, bagaimana bisa niat baiknya di balas dengan perlakuan keji seperti ini? Awas saja kau dokter sialan, akan ku cincang tubuhmu setelah kau di temukan.'


Gabrielle diam memikirkan cara agar Elea segera tersadar dari ketakutannya. Ingat kalau Reinhard masih menunggu di ruangannya, dia pun segera berlari menghampirinya.


"Rein, kau harus menolongku" teriak Gabrielle cemas.


Reinhard yang sedang memainkan ponsel menoleh. Dia kaget melihat wajah sahabatnya yang terlihat sangat panik. "Ada apa Gab? Apa yang terjadi?."


"Elea, dia sedang ketakutan di kamar. Sepertinya dia bermimpi buruk" jawab Gabrielle sembari menunjuk kearah kamar.

__ADS_1


Mata Reinhard membulat. Dia melempar ponselnya asal kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Namun saat dia melewati Gabrielle, tiba-tiba saja kerah bajunya di tarik dengan kuat.


"Uhukk, uhukkk. Kau gila ya, cepat lepaskan tanganmu!" kesal Reinhard terbatuk-batuk.


Gabrielle mendengus. Untung saja tadi dia ingat kalau Elea masih belum memakai pakaiannya. Rugi besar dia kalau pria mesum ini sampai melihat aset-aset berharga di tubuh istrinya.


"Kau mau kemana, hem?."


"Tentu saja menolong istrimu bodoh. Apalagi memangnya!" sahut Reinhard sambil menepis tangan Gabrielle. "Dasar sinting, mau membunuhku ya."


"Aku dan Elea baru saja membuat adonan. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mengambil keuntungan dari sisa-sisa perjuanganku, iya!" sentak Gabrielle jengkel.


Reinhard diam mematung. Bisa-bisanya sahabatnya ini berfikir sedemikian rupa, memfitnah kalau dirinya ingin mengambil keuntungan. "Gabrielle, apa otakmu sudah tidak waras? Di dalam kamar istrimu sedang ketakutan dan kau malam bicara yang tidak-tidak di sini. Bagaimana kalau Elea sampai menyakiti dirinya sendiri seperti waktu itu? Mau kau menjadi duda muda, iya?."


Gabrielle terhenyak kaget. "Elea tidak memakai baju. Apa aku harus merelakan matamu menikmati keindahan tubuhnya?."


Mata Reinhard melotot. Dia lalu menekan pelipisnya. "Gabrielle, aku ini dokter kandungan. Mata dan tanganku ini sudah banyak melihat berbagai bentuk goa milik perempuan. Apa kau pikir aku masih memiliki keinginan untuk berbuat mesum di saat pasienku sedang tidak berdaya? Aku tidak sebejad itu Gabrielle! Astaga."


Gabrielle dan Reinhard terperanjat kaget saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Mereka berdua dengan tergesa-gesa segera berlari masuk ke dalam sana.


"Ya Tuhan, cepat pegangi tangannya!" teriak Reinhard panik melihat Elea yang sedang membenturkan kepalanya ke sisi meja.


Dengan sigap Gabrielle segera menahan tubuh Elea kemudian mendekapnya erat. Dia meringis menahan perih saat Elea menggigit dadanya dengan sangat kuat.


Tangan Gabrielle tidak berhenti mengelus punggung istrinya yang terbuka. Dia menghela nafas saat mencium bau anyir yang dia yakini berasal dari luka bekas gigitan Elea.


"Ssstttt, tenang Elea. Tidak ada yang akan berbuat jahat padamu. Kau aman di sini" ucap Gabrielle pelan.


Gigitan di dada Gabrielle terlepas. Tak lama kemudian terdengar isak tangis dari mulut Elea. Dia masih terus meminta tolong untuk tidak menyakitinya.


"Jangan pukul aku, jangan."


Perasaan Gabrielle seperti tersayat mendengar ucapan Elea yang sarat akan ketakutan. Rahangnya mengetat erat.


'Keparat, jadi Elea juga menerima kekerasan fisik dari dokter itu? B*ngsat!!.'


"Elea, dengarkan aku. Kendalikan perasaanmu, di sini sangat aman. Ada aku, suamimu dan juga para pengawal yang berjaga di luar. Dokter itu tidak akan bisa menyentuhmu, jadi jangan merasa takut lagi ya?" ucap Gabrielle dengan suara serak menahan sakit hati.


"Dia, dia memukuli aku. Dia juga merobek semua baju yang aku pakai. Dia sangat jahat, dia, dia....


"Sssttttttt, jangan di ingat lagi. Oh iya, hari itu di taman bermain apa saja yang kau lakukan dengan Levi? Ingin pergi ke sana lagi tidak?" tanya Gabrielle mengalihkan pikiran Elea.


Lama tak terdengar sahutan dari Elea setelah Gabrielle bertanya seperti itu. Tak lama kemudian, Reinhard kembali masuk ke kamar bersama seorang perawat wanita yang menenteng kotak medis di tangannya.


"Dia tertidur?" tanya Reinhard pelan.

__ADS_1


Gabrielle segera melihat kearah Elea kemudian menggeleng. "Tatapannya kosong, Rein. Pikirannya masih belum stabil."


Reinhard menatap sejenak kearah istri sahabatnya kemudian menghela nafas. Dia lalu meminta perawat untuk mengambilkan jarum suntik beserta botol kecil berisi obat.


"Apa yang akan kau suntikkan pada Elea?" tanya Gabrielle curiga.


"Obat penenang" jawab Reinhard.


Mata Gabrielle melotot. "Kau gila Reinhard, istriku bukan sakit jiwa. Kenapa kau memperlakukannya seperti ini? Jangan suntikkan obat itu ke tubuhnya, aku tidak mau Elea bergantung pada obat-obatan seperti itu!."


Seandainya bisa, ingin rasanya Reinhard menyuntikkan obat ini ke mulut sahabatnya yang tidak berhenti mengoceh.


"Tuan Muda Gabrielle yang terhormat, obat penenang tidak hanya di berikan pada pasien sakit jiwa saja. Astaga Gabrielle, kecurigaanmu sangat tidak beralasan. Bukankah tadi matamu melihat sendiri seperti apa ketidaksadaran Elea? Jika di biarkan terus tertekan, yang ada istrimu akan menjadi gila. Apa kau mau Elea masuk RSJ?" omel Reinhard tak habis fikir.


Mulut Gabrielle bungkam. Dia lalu menatap sedih kearah Elea yang hanya terdiam dengan tatapan kosongnya.


"Gabrielle, yang ingin aku lakukan hanyalah membuatnya menjadi sedikit lebih tenang. Obat ini akan membuat Elea tertidur, jadi untuk sementara waktu dia akan lupa pada rasa traumanya. Kasihan kalau dia di biarkan seperti ini, aku khawatir jiwanya tidak sanggup menerima. Kau paham maksudku bukan?" jelas Reinhard terenyuh melihat pasangan suami istri di hadapannya.


"Tolong sembuhkan Elea-ku Rein. Melihatnya seperti ini membuat dadaku terasa sangat sakit" ucap Gabrielle lirih.


"Pasti. Kau tenang saja, aku yakin Elea pasti sembuh. Sekarang tolong baringkan dia di kasur, biarkan kami menanganinya" sahut Reinhard.


Gabrielle dengan patuh membopong tubuh ringan istrinya kemudian membaringkannya di atas kasur. Wajah Gabrielle menyendu saat dia melihat luka di kepala Elea yang masih mengeluarkan darah.


Reinhard segera menyuntikkan obat penenang itu ke tubuh Elea. Sementara si perawat dengan sigap membersihkan noda darah di kepala Elea kemudian mengobati lukanya. Tak berselang lama, obat yang di suntikkan Reinhard mulai bekerja. Perlahan-lahan mata Elea terpejam dengan tangan yang masih menggenggam erat dasi di leher Gabrielle.


"Kau pergi bersihkan tubuhmu dulu. Lihat, pakaianmu di penuhi darah Elea" ucap Reinhard sambil menunjuk kemeja sahabatnya yang sudah berwarna merah.


"Tolong jaga istriku sebentar. Aku akan segera kembali" sahut Gabrielle kemudian segera masuk ke kamar mandi.


Reinhard menghela nafas. Dia lalu menatap kearah istri sahabatnya.


'Sebenarnya siapa dokter yang telah membuatmu jadi seperti ini, Elea?.'


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS...


LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA


🌻 IG: nini_rifani


🌻 FB: Nini Lup'ss


🌻 WA: 0857-5844-6308

__ADS_1


__ADS_2