
Seorang pria tua yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit tampak sedang berjuang untuk membuka kedua matanya. Kulit wajahnya yang sedikit pucat menjadi tanda kalau pria tua itu tidak sedang baik-baik saja.
Karim, setelah sehari semalam tidak sadarkan diri akhirnya bangun. Dia mati-matian berusaha untuk sadar saat telinganya mendengar suara tangis seorang wanita yang terdengar begitu menyayat hati. Dia penasaran dengan apa yang terjadi dan siapa yang mereka tangisi. Dan tersadarlah dia sekarang.
"Bryan..."
Mendengar namanya di panggil, Bryan langsung melihat kearah ranjang. Dia kaget saat mengetahui kalau ayahnya sudah sadar.
"Yura, Ayah sudah bangun."
Tangis Yura langsung terhenti saat mendengar pekikan suaminya. Cepat-cepat dia menghapus airmatanya kemudian mendekat kearah ranjang untuk melihat keadaan sang ayah mertua.
"Ayah, Ayah sudah bangun?" tanya Yura sambil mengusap pipi keriput ayah mertuanya.
Karim mengangguk lemah. Bola matanya bergerak-gerak mencari keberadaan seseorang di dalam kamar tersebut.
"Mama Clarissa sedang menemani Eleanor, Ayah. Beliau tidak ada di sini" ucap Bryan tanggap.
"Menemani Eleanor? Kemana?.
Yura dan Karim tercekat. Mereka bingung antara ingin memberitahu keadaan putri mereka atau tidak pada sangat ayah.
"Bryan, Yura, ada apa? Apa yang sedang kalian sembunyikan dari Ayah?" cecar Karim curiga. "Eleanor baik-baik saja kan?.
"I-iya Ayah. El-Eleanor baik-baik saja. Iya, dia baik-baik saja" jawab Yura tergagap.
Karim mengernyitkan kening. Sadar ada yang di sembunyikan, dia segera menggenggam tangan Yura dengan sangat erat. Entah apa yang terjadi, yang jelas saat ini dada Karim berdebar dengan sangat kuat. Dia tahu ada yang salah di sini.
Ceklek
Baru saja Karim hendak bertanya, Clarissa muncul bersama seorang gadis yang sedang memapahnya. Matanya terlihat sembab dan hidungnya memerah seperti orang yang habis menangis.
"Clar, mana Eleanor?.
Clarissa yang tidak tahu kalau Karim sudah sadar terhenyak kaget mendengar pertanyannya. Dia kemudian melihat kearah menantunya yang sedang menggelengkan kepala.
"Clar??.
"A, itu-itu... Elea ada di sana" jawab Clarissa kebingungan lalu tanpa sengaja menunjuk kearah jendela.
Karim tersenyum getir. Dia tahu pasti ada hal buruk yang telah terjadi pada cucu kesayangannya. Melupakan keadaannya yang baru tersadar, Karim memaksakan diri untuk tetap bangun. Dia menggelengkan kepala saat Bryan dan Yura ingin mencegahnya.
"Jangan halang-halangi Ayah. Ayah tahu kalian semua sedang menutupi sesuatu tentang Eleanor. Pasti sudah terjadi sesuatu padanya kan?.
Bryan, Yura, Clarissa dan Cira semua diam. Bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Karim barusan. Yura yang sejak tadi sudah sangat terpukul akhirnya memutuskan untuk memberitahu ayah mertuanya. Dia merasa ayah mertuanya perlu tahu tentang kondisi putrinya yang sedang sakit parah.
"Ayah, Eleanor sakit. Ginjalnya bocor dan saat ini kondisinya agak memprihatinkan. Kami bukan menutupi ini semua, kami hanya hanya khawatir Ayah menjadi cemas kemudian drop lagi. Ayah kan barusaja terbangun, kami takut kabar ini akan membuat Ayah syok!.
Karim langsung memegangi dadanya begitu mendengar kabar tentang cucu kesayangannya. Mati-matian dia menahan diri agar tetap sadar.
__ADS_1
"Ce-cepat panggil dokter!" teriak Clarissa panik.
"Tidak usah!" cegah Karim dengan nafas tersengal. "Aku ingin melihat cucuku. Bawa aku kesana sekarang juga, Bryan. Aku ingin melihat sendiri keadaan cucuku. Cepat bawa aku kesana!.
"Tapi Ayah....
"Antarkan Ayah kesana atau Ayah akan pergi sendiri!.
Bryan mendesah panjang. Dengan berat hati akhirnya dia menuruti keinginan sang ayah. Bryan kemudian mengambil kursi roda lalu memindahkan ayahnya kesana. Sementara Yura, dia pun akhirnya ikut pergi meninggalkan mama mertuanya berdua bersama Cira di dalam kamar rawat ayah mertuanya.
Rasanya Karim ingin sekali berlari menghampiri cucunya. Dia benar-benar tak menyangka kalau cucunya akan mengidap penyakit separah itu. Saat Karim tengah gelisah, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Bryan, Eleanor bisa sembuh kan?.
"Aku belum tahu pasti, Ayah. Akan tetapi Gabrielle bilang Eleanor bisa di sembuhkan kalau dia bersedia melakukan transplantasi ginjal untuk menggantikan ginjalnya yang sudah rusak dan bocor" jawab Bryan sambil mendorong kursi roda ayahnya menuju ruangan dimana putrinya di rawat.
"Ayah akan mendonorkan ginjal Ayah untuk Eleanor!.
"Apaaa??.
Bryan dan Yura terpekik kaget mendengar ucapan ayah mereka. Suara keras mereka sampai mendapat teguran dari seorang dokter yang sedang melintas.
"Tuan, Nyonya, tolong kecilkan suara kalian. Ada banyak pasien yang membutuhkan ketenangan untuk proses penyembuhan!.
"Oh, iya-iya. Maafkan kami dokter!" sahut Yura tak enak.
"Ayah jangan bicara melantur. Aku tidak akan mengizinkannya!" protes Bryan.
"Aku tetap tidak setuju, Ayah!.
Yura mengusap punggung suaminya dengan lembut. Mencoba menyadarkan agar tidak bicara terlalu keras pada ayah mertuanya yang baru saja tersadar.
"Ayah tidak peduli. Setelah menemui Eleanor, minta Reinhard untuk memeriksa keadaan ginjal Ayah. Eleanor harus sembuh, tak peduli sekali pun Ayah harus berkorban nyawa" ucap Karim penuh kesungguhan.
Bryan kalut. Di satu sisi dia ingin sekali melihat putrinya sembuh, tapi di sisi lain dia tidak siap jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada ayahnya. Karena sibuk berperang batin, Bryan tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan kamar rawat putrinya. Di sana berjejer belasan pengawal yang menjaga ruangan tersebut dengan sangat ketat. Bahkan dokter dan para perawat yang ingin masuk pun harus melewati pemeriksaan dengan sangat teliti.
"Aku Ayahnya Elea, tolong biarkan kami masuk" ucap Bryan kepada pengawal yang menghadangnya.
"Lalu orang tua ini siapa?.
"Dia Ayahku, kakeknya Elea."
Pengawal itu kemudian membukakan pintu. Bryan lalu kembali mendorong kursi roda ayahnya kemudian membawanya masuk ke dalam.
"Kakek!" teriak Elea kegirangan.
Mata Karim langsung berkaca-kaca. Dia berusaha untuk tersenyum meski dadanya terasa begitu sesak melihat wajah cantik cucunya yang begitu pucat.
"Jangan sedih, Kek. Nanti keriput di wajah Kakek jadi bertambah kalau Kakek memasang wajah jelek begitu."
__ADS_1
Gabrielle yang saat itu tengah memeluk Elea nampak tersenyum kecut mendengar candaannya. Satu tangannya terus mengelus punggung Elea, sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk menggenggam tangan Elea yang tidak terpasang infus.
"Kakek tidak sedih, sayang. Tadi di luar ada nyamuk besar yang datang menyambar, makanya mata Kakek jadi terlihat seperti sedang menangis" kilah Karim mencoba melawak.
"Masa?.
"Iya, Kakek tidak bohong."
"Bohong juga tidak apa-apa kok, Kek. Gratis!" canda Elea yang membuat semua orang tertawa.
Liona yang sedang duduk di sofa pun melangkah mendekati Kakek Karim untuk menyapa.
"Selamat malam, Tuan Karim. Bagaimana keadaan anda sekarang? Kapan anda sadar?.
"Selamat malam juga, Nyonya Liona. Aku baru saja tersadar dan keadaanku sudah jauh lebih baik setelah melihat Eleanor" jawab Karim. "Nyonya Liona, maaf jika ini lancang. Bisakah aku meminta tolong padamu?.
Liona terdiam sesaat. Setelah itu dia menganggukkan kepala.
"Mendekatlah. Ini sedikit rahasia!.
Karim kemudian membisikkan keinginannya pada ibunya Gabrielle. Tak lupa juga dia meminta agar hal ini di rahasiakan dari cucunya. Karim tahu jika cucunya tahu hal ini maka dia pasti akan langsung menolaknya. Dan Karim tidak mau itu terjadi.
"Anda yakin?" tanya Liona sedikit kaget.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk sedikit menebus dosa-dosa yang pernah aku perbuat pada Eleanor dan ibunya. Tolong jaga rahasia ini dengan baik, Nyonya Liona. Aku sangat berharap padamu" jawab Karim penuh harapan.
"Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan mengusahakannya, Tuan Karim. Karena sebenarnya Elea sudah memiliki calon pendonor. Kita semua hanya tinggal menunggu kapan Elea bersedia untuk melakukan operasi."
"Nyonya Liona, aku mohon tolong bantu aku. Bantu aku menebus semua dosaku pada Elea. Aku mohon, nyonya!.
Liona menarik nafas dalam-dalam. Dia kemudian melihat kearah ranjang dimana putra dan menantunya tengah saling memeluk.
'Jackson dan Tuan Karim sama-sama ingin menebus dosa mereka dengan cara mendonorkan ginjal untuk Elea. Namun bedanya, penebusan dosa Jackson berasal dari masalalu, sedangkan Tuan Karim berasal dari masa sekarang. Kira-kira siapa di antara mereka berdua yang akan memenangkan penebusan dosa ini?.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
**🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS..
LIKE, COMMENT, DAB RATE BINTANG LIMA
🌻 IG: rifani_nini
🌻 FB: Rifani
📢📢📢 YANG IKUT GIVEAWAY TOLONG DI BACA BAIK-BAIK PERSYARATANNYA YA GENGS:...
__ADS_1
**