
Elea menggumam pelan saat ada yang mengganggu tidurnya. Namun hal itu tak lantas membuat matanya terbuka. Dia kembali bergelung di bawah selimut tebal tanpa menyadari suaminya yang tidak berhenti menertawakan kelakuannya.
"Sayang ayo bangun, Lusi sudah menyiapkan mie goreng kesukaanmu di bawah. Ayo cepat bangun sebelum Levi menghabiskannya" bujuk Gabrielle sambil menoel-noel hidung mungil istrinya.
Gabrielle kembali tertawa melihat istrinya yang malah mengerucutkan bibir. Dia terus melakukan hal itu hingga akhirnya Elea membuka mata.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi juga Kak Iel" sahut Elea dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Apa benar Kak Lusi membuatkan mie goreng untukku?."
"Tidak, aku berkata bohong" ucap Gabrielle. "Morning kiss sayang. Bibirku sudah kering karena menunggumu bangun dari tadi."
Meskipun masih mengantuk Elea tetap menuruti keinginan suaminya. Sudah menjadi rutinitas mereka untuk saling memberikan ciuman selamat pagi.
Cup
"Sudah."
"Terima kasih" ucap Gabrielle kemudian membalas ciuman istrinya. "Sekarang mandilah, aku akan memilihkan baju untukmu."
"Hari ini aku ikut ke kantor ya Kak?" tanya Elea sambil menutup mulutnya yang terus menguap. "Uhh kenapa ngantuk sekali sih. Sebenarnya obat apa yang Kakak berikan semalam?."
Karena takut Elea hamil, Gabrielle kini rutin memberinya obat untuk menunda kehamilan. Dia benar-benar khawatir dengan peringatan yang di sampaikan Reinhard kalau nyawa Elea bisa terancam jika sampai mengandung di usianya yang masih begitu muda. Di tambah lagi dengan kondisi rahimnya yang bermasalah, membuat Gabrielle semakin mawas diri supaya tidak melakukan kesalahan.
"Itu vitamin sayang" jawab Gabrielle bohong.
"Vitamin ya?" beo Elea. "Kak Iel, aku ingin peluk."
Mata Gabrielle langsung bersinar terang mendengar Elea yang ingin bermanja. Tanpa mengulur waktu lagi dia segera memeluk tubuh mungil istrinya.
"Kenapa manja sekali hem?" tanya Gabrielle sambil menciumi puncak kepala Elea.
"Semalam aku bermimpi."
__ADS_1
"Mimpi? Mimpi apa?."
"Aku bermimpi tidur di pelukan Kak Iel. Rasanya nyamaaan sekali, dan juga hangat. Tapi Kak Iel, di dalam mimpi itu aku seperti di kejar-kejar oleh pria bermata merah. Dia menarik tanganku dan ingin memasukkan aku ke dalam sangkar burung yang sangat besar. Aku sangat takut, lalu Kak Iel muncul dan menyelamatkan aku dari pria mata merah itu" jawab Elea sembari menarik nafas dalam. "Kak Iel memelukku, sama persis seperti sekarang. Aku jadi merasa terlindungi dari orang jahat."
'Ya Tuhan, kenapa mimpi Elea bisa sangat pas dengan keadaannya sekarang? Pria bermata merah yang ada di dalam mimpinya itu pasti Jack-Gal. Dan sangkar burung itu, apa maksudnya? Jangan-jangan mimpi ini adalah firasat kalau Jack-Gal ingin menjadikan Elea sebagai tawanannya. Astaga, ini tidak boleh terjadi. Apapun caranya Elea harus segera sembuh dari trauma ini sebelum bajingan itu menemukannya. Harus!.'
"Kak Iel, dulu aku sering sekali bermimpi aneh-aneh. Sehari sebelum aku bertemu dengan dokter itu, aku bermimpi terjebak di dalam ruang waktu yang sangat gelap. Ruangan itu sangat sunyi, aku sampai kesulitan bernafas. Tidak ada satupun orang di sana sampai dimana akhirnya ada sebuah cahaya kecil yang menarikku keluar. Lalu besok malamnya aku yang saat itu bekerja sebagai pengantar makanan mendapat tugas untuk mengantar di daerah yang cukup sepi. Di sana aku melihat seorang dokter yang sedang terluka parah. Perutnya berdarah-darah Kak Iel. Aku tidak tega melihatnya jadi aku berniat menolongnya. Tapi dokter itu jahat, dia memukuli aku. Dia juga merobek semua bajuku Kak. Dokter itu jahat sekali kan?" ucap Elea yang bicara dengan begitu lancar tanpa merasa takut.
Untuk beberapa saat Gabrielle tertegun mendengar cerita Elea. Dia tidak menyangka kalau istrinya ini akan menceritakan kejadian malam itu tanpa harus berteriak ketakutan. Takut Elea kenapa-napa, Gabrielle segera memperhatikan wajahnya. Keningnya mengerut heran saat mendapati ekpresi istrinya yang terlihat biasa saja.
'Sebenarnya Elea sadar apa tidak saat bicara tadi ya? Kenapa ekpresinya terlihat tenang sekali? Atau...
"Kak Iel bukannya kita mau pergi ke perusahaan ya? Kenapa kita malah bergosip bukannya bersiap?" ucap Elea sambil mendorong tubuh suaminya sampai pelukan mereka terlepas. "Tunggu sebentar ya Kak, aku akan mandi dengan cepat!."
Gabrielle dengan cepat menahan tangan Elea saat dia ingin turun dari ranjang. Dengan penuh sayang dia menggendong istrinya kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Mendudukkannya di wastafel lalu menyiapkan air mandi untuk istri kesayangannya.
"Elea, saat sedang bersamaku biar aku saja yang menyiapkan semua ini. Kau hanya perlu duduk manis di situ sambil menunggu" ucap Gabrielle.
Gabrielle menghela nafas. Meskipun sudah menikah, Elea terkadang masih menganggap dia sebagai bosnya. Juga menganggap kalau dirinya masih bekerja sebagai sekertaris setiap kali Gabrielle membawanya pergi ke perusahaan.
"Tidak apa-apa sayang. Lagipula kau tidak tahu kan bagaimana cara menyalakan air di bathup ini?."
Elea mengangguk. Dia mengangkat tangannya keatas saat Gabrielle membantu melepaskan baju. Rasa malu di hati Elea seperti menghilang meksipun sekarang dia sudah tak mengenakan apapun lagi di hadapan suaminya.
'Astaga, ini cobaan.'
Tak ingin terbawa nafsu, Gabrielle segera mengangkat tubuh Elea kemudian memasukkannya ke dalam bathup yang sudah terisi air hangat. Dia lalu tersenyum melihat Elea yang juga sedang tersenyum kearahnya.
"Terima kasih banyak suamiku."
"Jika ingin berterima kasih, maka berterima kasih lah dengan benar sayang" sahut Gabrielle sambil tersenyum mesum.
"Memangnya tadi belum benar ya Kak?" tanya Elea dengan raut wajah yang terlihat bingung.
__ADS_1
"Belum."
"Lalu yang benar bagaimana?."
"Berterima kasih di atas ranjang" jawab Gabrielle. "Nanti malam, lima ronde."
"Haaaaaaaaaa! Banyak sekali Kak. Memangnya itunya Kakak tidak kelelahan ya?" tanya Elea kaget.
"Tidak sayang, dia tidak akan kelelahan. Yang ada malah semakin segar karena sudah di cas" jawab Gabrielle sembari mengulum senyum. "Mau tidak nanti malam?."
Elea langsung mengangguk patuh. Yang mana membuat Gabrielle jadi semakin gemas ingin memakannya sekarang juga.
"Ya sudah kalau begitu kau mandilah dulu. Aku akan keluar untuk menyiapkan baju untukmu. Hati-hati, lantainya licin!" ucap Gabrielle kemudian mencium pipi istrinya sebelum pergi dari sana.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Gabrielle segera menuju lemari pakaian milik istrinya. Dia lalu mengambilkan sebuah kaos berwarna hitam dan juga jeans panjang untuk di kenakan Elea hari ini.
"Semoga saja hal ini tidak menimbulkan resiko yang fatal pada Elea. Dan semoga juga Jack-Gal maupun anak buahnya tidak melihat keberadaan Elea di sana nanti" gumam Gabrielle sedikit resah.
Ya, hari ini Gabrielle akan membiarkan Levi membawa Elea pergi ke tempat umum untuk memberikan syok terapi padanya. Dan tentunya semua itu di lakukan dengan pengawalan ketat yang telah di atur oleh Ares dan juga Nun. Gabrielle juga telah menghubungi Reinhard dan beberapa psikiater lain untuk ikut mengawasi Elea. Sementara dia sendiri akan tetap pergi ke perusahaan karena ada beberapa meeting penting yang harus dia sendiri yang memimpin.
"Huft, kenapa tegang sekali ya? Dasar brengsek, kalau bukan karena bajingan itu aku dan Elea tidak akan kesusahan seperti ini. Dasar sialan!" umpat Gabrielle sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat aktifitas istrinya di dalam sana.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1