Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Calon Istri


__ADS_3

Cira menggeliat ketika tubuhnya terasa seperti ada yang menindih. Dia mendesah lirih saat gelenyar panas seakan membakar tubuhnya yang tiba-tiba saja seperti sedang ada yang menyentuh.


"Geli,"


Ares, ini adalah perbuatan Ares. Ya, pria tampan ini tak bisa lagi menahan rasa rindunya setelah beberapa hari kesulitan untuk memiliki waktu bersama dengan calon istrinya. Hingga dengan gilanya Ares mengatur agar Nyonya Clarissa pindah ke kamar lain kemudian dia yang menggantikannya tidur di atas ranjang yang kini di tempati oleh Cira.


"Apanya yang geli, sayang?" tanya Ares sambil terus mengusap-usap perut rata milik calon istrinya.


Kening Cira mengernyit. Dalam kondisi setengah sadar, dia mulai mengingat-ingat kalau yang sedang tidur dengannya itu adalah Nyonya Clarissa. Tapi kenapa barusan terdengar seperti suara laki-laki? Apa dia sedang mimpi? Tapi sentuhan di tubuhnya terasa sangat nyata. Jangan-jangan...


"Ssssttt jangan panik. Ini aku, Ares!" bisik Ares ketika melihat Cira mulai berontak.


"Ares?.


Dengan cepat Cira membuka matanya. Dia kemudian menunduk, terbelalak begitu melihat kalau yang sedang tidur bersamanya bukanlah Nyonya Clarissa, melainkan Ares, calon suaminya.


"K-kau, bagaimana kau bisa ada di sini Res? Dimana Nyonya Clarissa?" pekik Cira kaget sambil celingukan kesana kemari setelah mendorong Ares agar tidak menciumi perutnya lagi.


Bukannya menjawab, Ares malah menjadikan satu tangannya sebagai tumpuan kepala. Dia mengulum senyum melihat kepanikan di wajah Cira.


"Res, jawab aku. Dimana Nyonya Clarissa dan bagaimana bisa kau ada di kamar ini?" desak Cira semakin panik.


"Ck, calon istriku benar-benar sangat cantik. Aku jadi semakin tidak sabar ingin segera memilikimu, sayang" ucap Ares berdecak kagum.


"Jangan melantur, Res. Cepat beritahu aku dimana Nyonya Clarissa!.


Cira benar-benar tak habis pikir. Entah bagaimana caranya pria ini bisa masuk ke dalam kamar, di tambah lagi majikannya tiba-tiba sudah tidak ada di sini. Khawatir terjadi sesuatu, Cira akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang. Dia takut terjadi sesuatu pada majikannya saat dia sedang tertidur tadi.


"Mau kemana, hm?.


Dengan cepat Ares menarik tangan Cira ketika melihatnya ingin pergi. Dalam sekali sentakan Cira kini sudah kembali terbaring di ranjang.


"Kau jangan gila, Res. Minggir, aku mau mencari Nyonya Clarissa!" teriak Cira mulai kesal dengan sikapnya Ares.


"Tidak mau!.


"Ares!.


"Apa calon istri?.


Blussshh


Rona merah langsung muncul di pipi Cira saat itu juga. Ares yang melihat rona tersebut langsung tertawa senang. Cira sedang malu, dan itu terlihat sangat menggemaskan.


"Sayang, kau cantik sekali kalau malu-malu begini."


"Jangan menggodaku, Res. Aku sedang panik sekarang" sahut Cira kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


Ares dengan cepat menarik wajah Cira agar kembali menghadapnya. Setelah itu dia menindih tubuhnya, membiarkan wanita yang sedang gugup di bawahnya semakin bertambah gugup lagi.


"Kau hanya boleh menatap wajahku jika kita sedang bersama. Paham?"


"Res, turun dari atas tubuhku sekarang. Bagaimana kalau ada orang yang masuk kemari? Kita pasti akan di kira sedang berbuat mesum!" kesal Cira sambil memukul pelan dada bidang calon suaminya.


"Biar saja, itu malah bagus" sahut Ares seraya menyeringai lebar. "Dengan begitu orang-orang akan langsung tahu kalau Cira adalah miliknya Ares."


"Kau gila, Res."


"Aku tahu, dan itu karenamu!.


Cira menarik nafas panjang. Dia sadar kalau kata-katanya tidak akan di dengarkan oleh pria ini. Tak ingin terus berdebat, Cira pun akhirnya mengalah. Dia menarik dasi di leher Ares hingga wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.


"Aku akan memberimu satu ciuman kalau kau mau memberitahuku dimana Nyonya Clarissa berada dan bagaimana caranya kau bisa masuk kemari. Bagaimana? Tertarik tidak?" tantang Cira kemudian mengedipkan mata.


"Harus ciuman dalam durasi yang panjang. Kalau hanya ciuman sekilas aku tidak mau memberitahumu" sahut Ares mencoba menawar.


"Dasar pria jahat."


"Jahat, tapi kau suka kan? Apalagi kalau aku sudah menyentuhmu, kau pasti akan langsung mendesah berkali-kali!.


"Sungguh sialan mulutmu ini, Tuan Ares!" sindir Cira setengah malu.


"Terima kasih atas pujiannya, Nyonya Ares!.


Setelah itu Ares dan Cira tertawa bersama. Mata mereka saling menatap dalam dengan tangan Cira yang masih betah menahan dasi milik Ares.


"Kau yakin tidak mengatakan hal aneh padanya?.


Meski belum terlalu lama mengenal, tapi Cira cukup paham kalau Ares merupakan seorang pria licik yang sangat pandai bersilat lidah. Apalagi jika itu berhubungan dengannya, pria ini seakan menjelma menjadi ibu tiri yang sangat pandai memainkan drama agar keinginannya bisa sesegera mungkin terpenuhi.


"Kalau tidak percaya besok tanyakan saja pada Nyonya Clarissa. Tanya apakah aku ada mengatakan sesuatu yang aneh atau tidak" jawab Ares santai. "Sayang, apa sekarang aku sudah bisa mengambil hadiah dari tantanganmu? Bibirku sudah sangat gatal ingin segera menggigit bibirmu."


"Astaga Ares, bisa tidak kau jangan bicara sefrontal ini padaku? Memangnya kau tidak malu ya?" omel Cira tak habis pikir.


"Untuk apa aku malu? Toh nanti setelah kita menikah aku akan lebih sering lagi mengatakan sesuatu yang bisa membuat semua bulu di tubuhmu berdiri. Mau coba mendengarnya tidak?.


"Tidak!.


Ares terkekeh. Dalam sekali gerakan kini Cira sudah berada di atas tubuhnya. Ares lalu menatapnya tak berkedip, takjub akan ciptaan Tuhan yang sangat indah ini.


"Cantik!.


"Jangan menggodaku."


"Calon istriku benar-benar sangat cantik" ucap Ares lanjut menggoda.

__ADS_1


Cira tersipu. Satu tangannya berputar-putar di dada Ares, membiarkan nafas pria ini kian menderu karena terbakar n*fsu.


"Keberatan tidak kalau aku buka puasa sekarang?" tanya Ares dengan wajah yang mulai memerah.


"Buka puasa? Maksudnya bagaimana?" tanya Cira bingung.


Satu seringai muncul di bibir Ares yang mana membuat tengkuk Cira meremang. Kini dia paham maksud dari buka puasa yang di ucapkan oleh calon suaminya ini.


"Kau jangan macam-macam, Res. Ingat, kita belum sah menjadi suami istri!.


"Iya sayang, aku tahu. Makanya tadi aku tanya kau keberatan tidak kalau aku buka puasa sekarang" sahut Ares. "Astaga Cira, aku benar-benar sudah tidak tahan ingin segera memilikimu malam ini juga. Kau membuatku gila, Cira."


"Jangan bicara melantur. Sekarang cepat turunkan aku dari atas tubuhmu. Aku malu Res!" keluh Cira.


"Belum juga aku melakukan atraksi kau sudah mengeluh seperti ini. Apa jadinya nanti sewaktu malam pertama kita, sayang? Sepertinya kau harus rajin-rajin olahraga agar semakin percaya diri. Tahu tidak kalau bentuk tubuhmu itu sangat menggoda?.


Pleetaaaakkkk


"Rasakan!" kesal Cira setelah menjitak kepala Ares. "Turunkan atau kucongkel bola matamu."


"Hei, kenapa kau jadi galak begini sih?.


Sambil mengelus kepalanya yang terasa ngilu, Ares menurunkan Cira dari atas tubuhnya. Dia kemudian berbaring menyamping, sedikit merajuk karena sikap bar-bar dari calon istrinya barusan.


Cira yang tanggap kalau Ares tengah merajuk pun tak tinggal diam. Sambil menahan agar tidak tertawa, dia bergerak memeluk Ares dari belakang. Mengendus aroma tubuh calon suaminya yang selalu maskulin, membuat jiwa romantis Cira menguar dengan bebas.


"Aku mencintaimu, Ares."


Ares acuh. Rayuan ini masih belum mampu untuk membujuknya.


"Berbaliklah, aku akan memberikan hadiahnya sekarang" bisik Cira dengan pipi yang sudah merona merah.


Tanpa ba-bi-bu lagi Ares langsung berbalik kemudian menyesap bibir Cira tanpa memberinya jeda untuk bernafas. Awalnya Cira memberontak karena kaget, tapi lama-kelamaan dia terhanyut juga oleh rasa yang di berikan oleh Ares.


"Tidurlah" bisik Ares sambil mengusap bibir bawah milik Cira yang sudah membengkak.


"Good night,"


"Good night, my love."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻IG: rifani_nini...


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2