
Clarissa melangkah keluar dari dalam mobil setelah Cira membukakan pintu untuknya. Tak lupa juga dia memakai kaca mata hitam untuk menutupi mata sembabnya setelah tadi sempat menangis.
"Selamat datang Nyonya Wu" sapa karyawan butik menyambut kedatangan sang ratu mode.
"Terima kasih. Dimana Madam Yo?" tanya Clarissa. Matanya tertuju pada dua orang gadis yang tengah mematut diri di depan cermin yang ada di dalam butik tersebut. Dia tersenyum saat salah satu dari gadis tersebut terlihat kegirangan dengan gaun yang di cobanya.
"Madam Yo sedang ada tamu di dalam, Nyonya. Tapi beliau sudah menyiapkan ruangan khusus untuk anda!."
"Oh, begitu. Memangnya siapa tamu yang sedang di temuinya? Sepertinya mereka bukan orang sembarangan sampai Madam Yo harus turun tangan sendiri untuk melayani mereka" ucap Clarissa penasaran.
Sambil berbincang, karyawan tersebut mempersilahkan Clarissa dan Cira masuk ke dalam. Langkah Clarissa terhenti saat dia mendapati dua orang pemuda tampan yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Kedua pria itu datang bersama dengan tamu yang sedang di layani oleh Madam Yo, Nyonya. Kalau tidak salah pria yang sedang memejamkan mata itu bernama Tuan Gabrielle, beliau adalah suami dari salah satu tamu tersebut!" jelas si karyawan.
'Gabrielle Ma? Jadi dia yang selalu di elu-elukan oleh para gadis. Hemm, seandainya saja aku punya cucu perempuan, aku pasti akan menjodohkannya dengan pria hebat ini...!.'
Tanpa di sadari oleh Clarissa, saat ini Gabrielle tengah tersenyum samar mendengar apa yang sedang dia pikirkan. Reinhard yang melihat senyum itupun merasa penasaran. Dia lalu mengedarkan pandangan. "Eh, bukankah itu Nyonya Wu si desainer yang sangat terkenal itu ya?."
"Ya, kau benar" sahut Gabrielle tiba-tiba berbicara. "Dia adalah Clarissa Wu, orangtua kandung dari almarhum Ibu mertuaku yang artinya adalah Nenek Elea. Bagaimana? Sekarang kau sudah tahu bukan tujuanku datang ke Paris?."
Mulut Reinhard terbuka lebar begitu mengetahui hal tersebut. Dia tidak menyangka kalau istri temannya merupakan cucu dari seorang mega mode yang paling terkenal di Paris.
"Luar biasa, bagaimana bisa kau mendapatkan istri dengan latar belakang yang begini hebat Gab? Astaga, bulu kudukku sampai berdiri!" pekik Reinhard heboh.
"Diamlah, jangan keras-keras, nanti Elea mendengar percakapan kita" ucap Gabrielle mengingatkan. Setelah itu dia melihat kearah istrinya yang sedang berdiri diam sambil menatap cermin. Gabrielle tahu kalau istrinya pasti sudah mengetahui kedatangan Nyonya Wu ke butik ini.
Benar saja, saat ini Elea tengah terpaku setelah sekelebat bayangan seseorang muncul di matanya. Ada rasa sesak saat dia teringat bagaimana ibunya di tinggal begitu saja di bawah guyuran hujan pada tengah malam. Dan saat ini, dia akan segera bertemu dengan pelaku yang telah menelantarkan ibunya saat masih kecil dulu.
"Apa yang harus aku lakukan padanya? Kenapa hatiku seperti menolak untuk bertemu?" gumam Elea sembari menekan dada.
"Hei makhluk kecil, kau kenapa?." Levi yang tidak sengaja mendengar Elea bergumam segera datang mendekat. Keningnya mengerut mendapati tatapan gelisah di mata teman kecilnya.
__ADS_1
"Elea, hei, jangan diam saja. Jawab aku, kau kenapa?" desak Levi khawatir.
"Kak Levi aku ingin pulang sekarang juga" sahut Elea kemudian segera berbalik menuju ruangan dimana suaminya berada.
"Hei hei kau kenapa Elea?" teriak Levi kaget.
"Levita, apa aku sudah membuat kesalahan pada Nona itu? Tolong bujuk dia supaya tidak merusak jalan usahaku ya?" rengek Madam Yo panik.
"Apa-apaan kau ini Madam Yo!" omel Levi sambil mengibaskan tangan pria gemulai ini dari lengannya. "Tanggung sendiri akibatnya jika gadis itu sampai merasa tidak senang!."
Setelah mengomeli Madam Yo, Levi bergegas menyusul Elea. Langkahnya terhenti melihat Elea yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang dia kenal sebagai mega bintang di dunia mode. "Astaga, mimpi apa aku bisa bertemu dengan Nyonya Wu di sini?.'
Clarissa, bagai tak bernyawa menatap gadis cantik yang sedang berdiri di hadapannya. Matanya langsung berkaca-kaca, sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Cira yang melihat majikannya seperti akan jatuh segera menopangnya. Dia pun sama kagetnya melihat kemunculan Nona Sandara di dalam butik ini.
"San,Sandara... Anakku!" lirih Clarissa dengan airmata yang sudah berurai.
Levi tersentak. Dia lalu menoleh kearah Elea yang tidak memberi respon apapun saat nama almarhum ibunya di sebut. "Apa kau mengenal Nyonya Wu?."
"Sandara, ini Mama Nak. Ini Mama Clarissa" sahut Clarissa panik melihat putrinya yang tidak mau mengakui siapa dirinya. "Nona Levita, aku,aku adalah Mamanya Sandara, dia adalah putriku."
Levi menelan ludah, dia lalu menatap bingung kearah Gabrielle yang sedang berdiri tak jauh dari sana. 'Ini sebenarnya ada apa?.'
"Sandara, Mama sangat merindukanmu Nak" ucap Clarissa lagi kemudian mengulurkan tangan hendak memeluk putrinya.
Elea mundur, dadanya sangat sesak membayangkan betapa wanita tua ini dengan kejam meninggalkan ibunya sendirian di tengah hujan. Wajah yang biasanya terlihat polos kini berubah menjadi begitu dingin. Eleanor menolak kehadiran neneknya, dia sangat membenci wanita tua ini.
"Ekhmm maaf Nyonya Wu, sepertinya anda sudah salah paham. Gadis cantik ini namanya Elea, bukan Sandara. Dan dia adalah istriku!" ucap Gabrielle sambil berjalan mendekat kearah istrinya yang terlihat sangat marah. "Sayang, jangan takut. Dia adalah Nyonya Wu, bangsawan sekaligus desainer ternama yang ada di Paris!."
"Aku tidak peduli dia siapa Kak, ayo kita pergi!" sahut Elea acuh kemudian menarik tangan suaminya untuk pergi meninggalkan butik tersebut.
Melihat penolakan yang dia dapatkan, dengan cepat Clarissa menjatuhkan dirinya ke lantai kemudian memeluk kedua kaki putrinya dengan sangat erat. Dia menangis tersedu-sedu, tak peduli dengan tatapan keheranan yang di layangkan oleh Madam Yo dan para bawahannya.
__ADS_1
"Hikssss Sandara, tolong maafkan Mama sayang. Maafkan Mama!."
"Aku bukan Sandara!" teriak Elea frustasi.
Tangis Clarissa semakin pecah. Cira yang melihat majikannya begitu terluka mencoba untuk membujuk gadis ini agar tidak salah paham. "Nona Sandara, saya tahu ini bukan ranah saya untuk mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi saya harap Nona jangan menolak Nyonya Wu, beliau sudah sangat lama menantikan pertemuan ini. Tolong Nona jangan mengabaikannya seperti ini."
"Sudah aku bilang aku ini bukan Sandara. Aku Elea, dan aku adalah anak dari mendiang Ibu Sandara!."
Bagai tersambar petir Clarissa langsung kaku begitu gadis kecil yang bernama Elea ini menyebut kata almarhum di depan nama putrinya. Dia bingung, sulit sekali untuk mencerna kenyataan yang baru saja dia dengar. Dengan suara bergetar Clarissa mencoba untuk memperjelas ucapan yang di lontarkan oleh gadis ini.
"Ja,jadi kau bu,bukan putriku, melainkan kau adalah cu,cucuku, begitu?."
"Ya, aku adalah anak dari wanita yang kau tinggalkan di bawah guyuran hujan puluhan tahun yang lalu. Kenapa? Apa kau tidak suka melihatku hidup? Iya!" jawab Elea sembari tertawa hambar.
Gabrielle segera mendekap istrinya yang mulai terisak. "Nyonya Wu, apa yang baru saja di sampaikan oleh istriku adalah sebuah kebenaran. Ibu Sandara sudah meninggal sembilan belas tahun yang lalu setelah melahirkan istriku. Jadi saya harap anda jangan lagi mengungkit luka lama tersebut. Jujur saja aku sangat tidak suka melihat istriku bersedih, apalagi menangis seperti ini."
Levi bagai ikan yang kehabisan nafas menyaksikan kejadian tidak terduga ini. Dia lalu menatap sedih kearah Elea yang terisak di pelukan Gabrielle. Kemudian beralih menatap garang kearah Nyonya Wu yang duduk diam di lantai dengan tatapan kosongnya.
"Dasar orang jahat, aku tidak menyangka orang terhormat sepertimu bisa melakukan hal sekeji itu pada putrimu sendiri. Nyonya Wu, aku sangat menyesal pernah menjadikanmu idola dalam hidupku. Cihh, dasar ular kepala dua!" amuk Levi tak terima.
"Jaga ucapan anda, Nona Levita. Jangan menghujat sembarangan kalau kau tidak tahu seperti apa akar permasalahan yang sebenarnya. Nyonya Wu mempunyai alasan sendiri kenapa melakukan semua itu!" hardik Cira emosi. Dia kemudian mencoba membujuk majikannya. "Nyonya, ayo berdiri. Jangan duduk di bawah, kau tidak pantas melakukannya!."
Clarissa diam tak menjawab. Mata kosongnya terus tertuju pada gadis cantik yang ternyata adalah cucunya. Dia masih tidak percaya kalau putri yang begitu dia rindukan ternyata sudah tidak ada lagi di dunia ini. Lalu kemana perginya Karim? Mustahil pria itu tidak mengetahui siapa Sandara sebenarnya. Atau jangan-jangan putrinya itu memang belum bertemu dengan ayah kandungnya? Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Clarissa yang membuatnya kesulitan bernafas dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri di hadapan cucunya yang baru saja dia temukan.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...