
Malam menjelang, di dalam kamar rawat dimana Elea tengah terbaring suasana terasa begitu sunyi. Gabrielle yang terlelap di samping ranjang tak menyadari kalau mata istrinya perlahan-lahan mulai terbuka. Ya, Elea akhirnya sadar setelah tertidur selama hampir dua hari pasca operasi. Sambil mengerjapkan mata, Elea mencoba mengingat-ingat tentang mimpi yang baru saja dia alami. Air matanya menetes, suara tangisnya nampak tertahan begitu dia ingat kalau sang kakek telah pergi menyusul ibunya di surga.
Airmata mengucur deras dari sudut mata Elea, kemudian jatuh mengenai tangan Gabrielle yang berada di bawah kepalanya. Takdir, siapalah yang mampu menebak. Kisah tentang seorang anak yang harus mati karena kekejaman ayahnya sendiri, dan juga kisah tentang seorang cucu yang harus hidup menderita akibat kebencian sang kakek, kini semua itu telah usai. Menyisakan lubang menganga di dada Elea karena sekarang hanya tinggal dia saja yang tersisa dari kisah yang telah usai tersebut.
"Kakek, hiksss....
Rasanya sakit sekali ketika Elea teringat dengan sang kakek. Dia pernah membencinya untuk sesaat, tapi dia juga telah mengikhlaskan sebelum kakeknya pergi. Elea merasa sedih karena belum sempat menikmati kebahagiaan bersama kakeknya, dia juga menyesal karena tak bisa mengganti waktu yang telah terbuang selama sembilan belas tahun lamanya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Jackson yang merasa tidak tenang memutuskan untuk datang ke kamar adiknya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sang adik tengah menangis sendirian dengan Gabrielle yang terlelap di sampingnya.
"Elea..." panggil Jackson lirih.
Tak ada jawaban dari mulut Elea. Dia mendengar suara panggilan itu, tapi Elea enggan untuk menjawab. Selain karena tubuhnya yang terasa begitu lemah, juga karena pikirannya tengah tertuju pada sang kakek yang sudah meninggal dunia. Elea bahkan tak menggubris keberadaan dokter Jackson yang sudah berdiri di samping ranjangnya.
"Elea, kapan kau sadar? Kenapa tidak membangunkan Gabrielle?" tanya Jackson pelan kemudian segera memeriksa keadaan adiknya.
"Hiksss, kakek....
Tangan Jackson yang hendak menyentuh pergelangan tangan Elea langsung terhenti begitu dia mendengar Elea memanggil sang kakek. Dia sekarang mengerti kenapa adiknya menangis.
Gabrielle yang merasa terusik dengan suara isak tangis seseorang akhirnya terbangun. Dia menatap sekilas kearah Jackson yang sedang berdiri di seberang ranjang, lalu setelah itu dia melihat kearah istrinya. Mata Gabrielle terbelalak lebar begitu dia mendapati istrinya tengah menangis.
"S-sayang, kau sudah sadar?" pekik Gabrielle kaget. Dia kemudian menangkup wajah Elea yang sembab dan juga sedikit pucat. "Kenapa menangis? Mana yang sakit, hm?.
"Kakek, Kak Iel. Kakek meninggalkan aku" jawab Elea sambil terisak-isak.
Manik mata Gabrielle menatap lekat kearah Elea. Dia sedikit bingung darimana istrinya bisa tahu kalau Kakek Karim sudah tiada, padahal Elea sendiri baru saja tersadar.
"Gab, biarkan aku memeriksa keadaan Elea dulu. Aku masih harus memastikan apakah di tubuhnya ada penolakan atau tidak" ucap Jackson meminta izin.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Gabrielle mencium kening Elea terlebih dahulu. Setelah itu dia sedikit menyingkir ke samping. Ingat ya, hanya sedikit.
Jackson dengan penuh perhatian memeriksa seluruh bagian vital adiknya untuk memastikan kalau tak ada bahaya seusai adiknya melakukan operasi transplantasi ginjal. Meski pun belum bisa mendapat hasil menyeluruh, setidaknya Jackson bisa merasa lega karena tubuh Elea memberikan respon yang baik terhadap anggota organ barunya.
"Bagaimana?" tanya Gabrielle tak sabar setelah melihat Jackson selesai melakukan pemeriksaan. "Ginjalnya baik-baik saja kan?.
"Untuk sekarang semua organ tubuhnya berada dalam kondisi yang cukup baik, Gab. Tapi nanti aku dan Reinhard harus tetap melakukan pemeriksaan ulang agar kami tidak kecolongan jika seandainya ada sesuatu yang terlewat" jawab Jackson sambil menarik nafas lega. "Elea, apa kau merasa ada sesuatu yang tidak nyaman?.
Elea yang sedang menatap kosong kearah langit-langit kamar tampak menganggukkan kepala. Dia lalu menunjuk kearah dada bersamaan dengan suara isak tangisnya yang kembali terdengar.
"Hiksss, Kakek sekarang tinggal bersama Mama Sandara di padang rumput. Mereka bahagia di sana."
Kening Gabrielle dan Jackson sama-sama mengernyit. Tapi sedetik kemudian mereka sadar. Mungkin di saat Elea sedang tidak sadarkan diri, itu adalah jenis mimpi yang dia lihat. Dan kemungkinan besar padang rumput yang di maksud olehnya adalah suatu keabadian yang menjadi rumah bagi arwah-arwah yang telah di panggil oleh Tuhan.
"Sayang, jangan menangis lagi ya. Kau harus kuat, kau tidak boleh bersedih karena di sana..." jeda Gabrielle sambil menunjuk keatas. "Di sana Kakek Karim pasti akan ikut merasa sedih sama sepertimu. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang sudah dipilihkan Tuhan untuk Kakek Karim. Yang ikhlas ya!.
"Hiksss, aku sangat menyayanginya, Kak. Aku menyesal pernah membenci Kakek. Aku menyesal Kak" ucap Elea lagi kemudian meringis memegangi perutnya.
Jackson yang melihat hal itupun langsung bergerak cepat. Dia segera menyibak selimut yang menutupi perut Elea dan terkejut melihat bekas operasi yang mengeluarkan sedikit darah. Jangan tanya bagaimana reaksi Gabrielle saat melihat darah di perut istrinya. Tubuhnya menegang dan dia membatu. Gabrielle hanya berdiri diam sambil menatap Jackson yang sedang menangani luka di perut istrinya.
"Tahan sebentar ya" sahut Jackson tak tega.
"Jackson, apa tidak sebaiknya kau memanggil perawat untuk membantumu? Elea, lukanya berdarah lagi. Aku takut dia kenapa-kenapa!" tanya Gabrielle yang akhirnya bisa menguasai diri.
"Tidak perlu, Gab. Aku bisa menangani masalah ini sendiri" jawab Jackson. "Lukanya jadi berdarah karena Elea tadi sedikit emosional. Dia harusnya tidak boleh merasa tertekan dulu karena itu bisa mempengaruhi bekas lukanya."
Gabrielle segera mendekat kearah Elea setelah mendengar perkataan Jackson. Dengan penuh sayang Gabrielle menyeka keringat yang membasahi wajahnya, lalu menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Elea.
"Tolong jangan memikirkan apapun dulu untuk sekarang ini, oke? Demi aku Elea, please...."
"Maaf Kak" sahut Elea lirih.
__ADS_1
"It's oke. Sekarang tenang ya" bisik Gabrielle kemudian menyatukan keningnya dengan kening Elea.
Jackson menyuntikkan obat tidur ke selang infus Elea saat melihatnya kesulitan untuk tenang. Hal ini dia lakukan agar Elea bisa beristirahat dengan baik. Sebagai seorang dokter, Jackson tentu tahu kalau kabar kematian Tuan Karim akan sangat mengguncang batin Elea. Dan jika masalah ini tidak di tangani dengan baik semuanya akan berimbas pada keselamatannya. Karena itulah Jackson terpaksa membuat Elea kembali terlelap untuk menjaga emosinya agar tetap stabil.
"Jackson, ini Elea tidur atau pingsan?" tanya Gabrielle panik.
"Aku menyuntikkan obat tidur ke tubuhnya,"
"Apaaa!!!!.
Gabrielle kaget setengah mati.
"Kau gila ya. Elea baru saja tersadar dan kau sudah membuatnya kembali tertidur. Sebenarnya maumu apa hah!.
Jackson menghela nafas dalam-dalam.
"Apa kau ingin melihat Elea pergi menyusul Tuan Karim ke surga?.
"Kau, omong kosong!" amuk Gabrielle sambil memelototkan mata.
"Aku melakukan ini juga demi kebaikan Elea, Gabrielle. Kematian Tuan Karim sangat mempengaruhi emosinya, itu akan sangat berbahaya kalau Elea dibiarkan tertekan seperti tadi. Kau lihat sendiri kan kalau lukanya mengalami pendarahan? Itu bisa mengancam nyawa Elea asal kau tahu!" jelas Jackson kemudian duduk di sofa. "Aku akan tidur di sini. Dengan atau tanpa izin darimu."
Gabrielle menelan ludah. Dia lalu menatap lekat wajah istrinya yang sudah berada di alam mimpi.
'Tidurlah yang nyenyak, sayangku. Semoga esok kau sudah bisa tersenyum.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: rifani_nini...
...🌻 FB: Rifani...