
Euungghhhhh
Patricia melenguh pelan ketika sebuah cahaya terang mengusik indra penglihatannya. Dia lalu mengerjakan mata.
'Eh, kenapa tubuhku tidak bisa di gerakkan? Dan kenapa juga mulutku tidak bisa mengeluarkan suara. Apa yang terjadi sebenarnya?.
Patricia meringis ketika kepalanya terasa sangat pusing. Dia terus mendesis menahan nyeri sembari menatap ke sekeliling ruangan tempatnya berada. Patricia membelalakkan mata begitu menyadari kalau dirinya berada dalam kondisi tubuh terikat dengan mulut yang tertutup lakban. Dia kemudian mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi sebelum dirinya ada di ruangan ini.
Saat Patricia sedang sibuk berpikir, pintu ruangan terbuka. Bola mata Patricia seperti akan keluar begitu dia tahu siapa yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
"Halo sayangku, apa kabarmu hm?" tanya Junio sambil tertawa mesum.
"Emmmmmm,, eemmmmmm!" teriak Patricia dengan suara tertahan.
Junio terkekeh. Dia lalu meletakkan minuman yang di bawanya ke atas meja kemudian berjalan mendekat kearah ranjang dimana Patricia sedang terbaring tak berdaya. Mungkin karena pengaruh obat bius yang di suntikkan oleh anak buahnya, Patricia jadi tidak bisa bergerak bebas. Tubuhnya seakan terkunci dan tulang-tulang di dalam tubuhnya seperti melebur. Lemas dan juga menyakitkan. Itu pasti.
"Kenapa sayang, kau tidak bisa bicara ya?" ejek Junio sambil membelai pipi lembut Patricia. "Maaf ya kalau anak buahku sedikit kasar padamu kemarin malam. Mereka terpaksa melakukannya karena kau tidak mau patuh. Kau terlalu binal dan liar jadi mereka terpaksa menyuntikkan obat bius ke tubuhmu. Kau tidak marah kan sayang?.
Entah kenapa bulu kuduk Patricia langsung berdiri ketika melihat cara Junio menatapnya. Sebagai wanita yang masih perawan tentu saja Patricia merasa sangat terancam. Dia sangat takut kalau pria gila ini akan merenggut mahkotanya secara paksa. Memikirkan hal itu membuat Patricia beringsut menjauh. Namun dia harus menyerah karena tubuhnya sangat sulit untuk sekedar di gerakkan. Tubuhnya seperti lumpuh.
"Sayang, kau mau kemana hm? Di sini sajalah, jangan jauh-jauh dariku!" ucap Junio sarat akan nafsu ketika melihat rok yang di kenakan Patricia tersingkap keatas hingga memperlihatkan kulit pahanya yang putih mulus.
"Emmm, emmmm!" jerit Patricia dengan airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Apa kau ingin aku melepaskan ini?" tanya Junio sambil menunjuk lakban yang menutupi mulut Patricia.
Patricia langsung menganggukkan kepala. Responnya yang begitu cepat membuat Junio tertawa lebar. Tanpa ada kelembutan sama sekali Junio dengan kasar menarik lakban tersebut hingga membuat kulit di bibir Patricia terkelupas. Darah segar segera menetes dari luka tersebut, membuat Patricia begitu marah kemudian meludahi wajah Junio.
__ADS_1
"Cuiihhhh, bajingan kau Junio. Apa salahku padamu hah sampai kau harus menculik dan menyekapku seperti ini. Apa salahku padamu!" teriak Patricia sengit.
Wajah Junio langsung berubah. Dengan kasar dia merobek kemeja Patricia kemudian memakainya untuk membersihkan air ludah yang mengotori wajahnya.
Plaakk, plaaakkkk
"Dasar j*lang, beraninya kau meludahi wajahku. Apa kau sudah tidak ingin mempunyai mulut lagi, iya!" amuk Junio sambil mencengkeram dagu Patricia dengan sangat kuat. "Kau pikir kau itu siapa hah berani menghinaku seperti ini. Kau itu hanya sampah yang tidak ada gunanya sama sekali. Kau wanita rendahan yang menjijikkan. Sangat menjijikkan sampai aku menjadi sangat muak untuk sekedar menatap wajahmu!.
Darah segar kembali menetes dari sudut bibir Patricia akibat tamparan yang di lakukan oleh Junio. Sambil memandang penuh benci kearah Junio, Patricia melontarkan beberapa kata pada pria gila tersebut. Dia bicara dengan airmata yang mengalir deras dari sudut matanya.
"Kalau kau menganggapku sampah yang menjijikkan lalu untuk apa kau membawaku kemari, Junio? Tidakkah kau merasa kalau kau itu jauh lebih menjijikan lagi daripada aku?.
Junio tersenyum. Ekpresi di wajahnya kembali seperti semula. Tangan yang tadinya dia gunakan untuk mencengkeram dagu Patricia kini beralih turun kearah dada. Dia kemudian meremas kuat gumpalan daging kenyal yang dia temukan di balik kemeja yang sudah koyak di bagian bawahnya.
"K-kau jangan macam-macam Junio. Singkirkan tanganmu dari sana!" teriak Patricia panik.
Wajah Patricia langsung pucat pasi. Dia tentu saja paham hal semacam apa yang di inginkan oleh pria gila ini. Patricia menggigit bibir bawahnya ketika Junio dengan kurang ajarnya menarik bagian ujung dadanya. Tubuhnya bergetar hebat.
"J-Junio, a-aku mohon tolong jangan seperti ini!.
Sebelum Junio sempat membalas perkataan Patricia, Gleen masuk ke dalam ruangan. Pria itu muncul hanya dengan memakai piyama sutra untuk membalut tubuh kekarnya. Mata elang Gleen tampak menatap sinis kearah Patricia yang sedang di lecehkan oleh sahabatnya. Dia kemudian memilih untuk duduk di sofa sembari menunggu pergumulan panas yang akan segera terjadi.
"G-Gleen, t-tolong aku. Tolong singkirkan pria gila ini dari sini, aku mohon Gleen. Aku mohon tolong aku!" ucap Patricia menghiba.
Gleen acuh. Dia malah dengan sengaja menuang minuman ke dalam gelas kemudian memberikan semangat pada sahabatnya agar segera membuka hidangan utama sebelum mereka menjadikan Patricia sebagai manekin seperti para wanita cantik lainnya.
"Jangan terlalu lama mengulur waktu Jun. Aku harus segera kembali kesana untuk memeriksa keadaan Lusi. Dia masih kritis saat kita datang kemari, aku khawatir dia akan langsung mencariku begitu dia sadar!.
__ADS_1
Junio yang saat itu tengah melucuti pakaian Patricia menoleh kearah Gleen. Raut wajahnya menunjukkan rasa ketidaksukaan karena merasa kalau Gleen seperti sedang memaksanya untuk segera mengakhiri kesenangan yang sedang dia lakukan.
"Dia masih perawan, Gleen. Aku harus membuatnya merasa nyaman terlebih dahulu karena ini yang pertama untuknya. Tolong kau jangan menggangguku atau urusan ini tidak akan selesai dengan cepat!.
"Aku tidak peduli apakah wanita itu masih perawan atau tidak. Yang jelas, aku ingin dia segera mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan pada kekasihku. Dia harus secepat mungkin kita jadikan manekin Jun, tanganku benar-benar sudah gatal ingin segera melumuri tubuhnya dengan formalin!.
Bisakah Patricia mengundang malaikat maut detik ini juga? Sungguh, dia lebih memilih untuk mati sekarang daripada harus menerima pelecehan sebelum akhirnya di jadikan patung manekin oleh kedua pria ini. Ternyata rumor mengenai Junio yang suka mengorbankan gadis cantik untuk memenuhi fantasinya yang menyimpang itu bukan sekedar isapan jempol belaka. Junio benar-benar pembuat patung yang berbahan dasar tubuh manusia. Patricia yang sedang melamun ketakutan terpekik kaget ketika Junio tiba-tiba menindih tubuhnya. Dia baru sadar kalau sekarang tubuhnya sudah setengah telanjang. Hanya tinggal pakaian dalam saja yang melekat di tubuhnya. Bahkan tali yang melilit tubuhnya sudah tidak ada lagi, tapi percuma karena Patricia tidak akan bisa pergi kemanapun. Tubuhnya seperti mati rasa karena tidak bisa di gerakkan.
"Sayang, jangan takut ya. Nanti aku akan melakukan sepelan mungkin, aku janji itu tidak akan membuatmu merasa kesakitan. Oke?" ucap Junio sambil menciumi leher putih milik gadis yang sudah berada di bawah kungkungan tubuhnya.
"Junio, aku mohon jangan lakukan ini padaku, Junio. Aku-aku....
"Ssssttttt, jangan takut sayang. Mungkin awalnya akan sedikit sakit karena ini adalah yang pertama bagimu. Tapi setelahnya kau akan merasa nikmat, apalagi saat aku dan Gleen memandikanmu dengan formalin. Kau akan merasakan apa yang di sebut surga dunia sayang. Aku tidak bohong!.
Gleen memejamkan mata sembari meneguk minumannya ketika mendengar suara jeritan Patricia yang terdengar memilukan begitu Junio menebus selaput daranya secara paksa. Suara jerit memilukan itu terdengar seperti alunan melodi yang sangat indah di telinga Gleen. Dan seperti biasa, Junio akan meniduri calon korban mereka sebelum membuat tubuh mereka kaku seperti patung. Hal ini sudah menjadi kesenangan bagi sahabatnya yang begitu menggilai suara jeritan penuh siksa dari setiap wanita yang di tidurinya. Sementara Gleen, dia lebih memilih untuk diam menonton adegan panas yang sedang di lakukan oleh Junio. Gleen tidak pernah tertarik untuk menyentuh sembarangan wanita. Dan satu-satunya wanita yang berhasil membangkitkan libidonya saat ini tengah terbaring kritis di rumah sakit. Yang mana hal itu membuat Gleen merasa sangat sedih. Untuk pertama kalinya di hidup Gleen dia merasakan apa yang namanya patah hati, dan rasanya sangat tidak enak. Semacam ada rentetan batu besar yang terus menghantam bagian dadanya. Sangat sakit, namun tidak berbekas.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
✅ HAI GENGS, JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA @ Lotus Putih ya... YANG KEMARIN IKUT GIVEAWAY JANGAN LUPA UNTUK KOMEN DI SETIAP CHAPTER, LIKE DAN JUGA VOTE YANG BANYAK. PEMENANG AKAN DI UNDI DI AKHIR BULAN DAN AKAN DI UMUMKAN PADA TANGGAL 1 JULY. KUY LAH MAMPIR KESANA, CERITANYA SERU BANGET KARENA BERGENRE ACTION/ROMANTIS. NGGAK NYESEL DEH KALO UDAH MAMPIR, DI JAMIN 😁
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...