
Reinhard menatap curiga kearah Gabrielle yang tengah tersenyum-senyum sendiri sembari memilin bibir. Matanya memicing melihat ada bekas cakaran di lehernya.
"Apa kau dan Elea baru saja bercinta?" tanya Reinhard tanpa basa-basi.
Gabrielle mengangguk jujur. "Ya, kenapa? Apa kau memiliki keinginan untuk bercinta denganku juga?."
Tubuh Reinhard bergidik jijik.
"Kau gila!" umpat Reinhard sembari melempar pulpen kearah sahabatnya. "Aku lebih baik mati daripada harus bercinta dengan orang tidak normal sepertimu Gab."
"Kenapa harus mati Rein? Bukankah akan menjadi sebuah kehormatan kalau kau bisa bermalam dengan seorang pewaris besar dari Group Ma?" ledek Gabrielle sambil memainkan pulpen yang tadi di lemparkan kearahnya. "Kau tahu tidak berapa banyak wanita yang ingin naik ke ranjangku? Ratusan Rein, bahkan ribuan."
Reinhard berdecih kesal. Kalau saja pria sinting ini bukan sahabatnya, dia pasti tidak akan segan untuk menebas kepalanya. Benar-benar kelewatan si Gabrielle ini.
"Apa kau pikir aku ini salah satu wanita yang tergila-gila padamu seperti di luaran sana, iya? Astaga Gabrielle, sejak kapan otakmu menjadi geser begini. Apa perlu aku carikan dokter syaraf untuk mengobatimu supaya bisa kembali normal?."
Gabrielle tergelak. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak melihat komuk sahabatnya yang terlihat sangat konyol. "Hahahahaha, wajahmu biasa saja Rein. Tidak perlu memasang ekpresi semenyedihkan itu di depanku."
"Yaaakkkk, teman macam apa kau ini hah?" protes Reinhard dongkol.
"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi" ucap Gabrielle kemudian menghentikan tawanya. "Nun bilang kau mencariku, ada apa?."
"Cih, siapa juga yang mencarimu. Tadinya aku ingin menemui Elea, siapa yang menyangka kalau aku malah bertemu pria tidak waras yang sedang di mabuk cinta!" sindir Reinhard sambil memutar bola matanya jengah.
"Ckckckck, macam tak pernah jatuh cinta saja kau, Rein. Kau mau ya aku mengenalkan Levi pada salah satu rekan bisnisku supaya kau tidak bisa mendekatinya lagi, iya?" ancam Gabrielle sembari memperlihatkan smirk licik di sudut bibirnya.
Wajah Reinhard langsung berubah masam. Dia mendengus kasar kemudian melipat tangan di atas perut. "Apa kau tidak bisa jika tidak mengancamku sehari saja, Gab? Lama-lama aku ini sudah seperti babu mu saja."
Sudut bibir Gabrielle berkedut. Rasanya puas sekali melihat sahabatnya merasa frustasi. Tak ingin lagi bercanda, Gabrielle kembali menanyakan tujuan Reinhard mencari istrinya.
"Kenapa kau mencari istriku? Apa ini ada hubungannya dengan pengobatan yang sedang kau lakukan?" tanya Gabrielle serius.
Reinhard mengangguk.
"Iya. Tapi sebelum membahas hal itu, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur" jawab Reinhard sungguh-sungguh. "Apa kau dan Elea sudah pernah tidur bersama?."
"Setiap malam kami selalu tidur bersama, Rein. Kau mau ikut juga?" jawab Gabrielle bercanda.
"Gabrielle, aku tidak sedang bercanda. Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur karena ini menyangkut keselamatan istrimu" ucap Reinhard dengan wajah serius.
Gabrielle menelan ludah. Tubuhnya langsung menegang begitu Reinhard menyebutkan tentang keselamatan Elea. Alarm tanda bahaya terdengar meraung keras di dalam telinganya.
"Jangan berbelit-belit Rein. Cepat katakan dengan jelas apa maksud dari perkataanmu barusan" ucap Gabrielle cemas.
__ADS_1
"Kau jawab dulu pertanyaanku. Kalian pernah tidur bersama tidak?" desak Reinhard.
"Ck, kau ini bodoh atau bagaimana. Aku dan Elea itu sudah menikah, jadi mana mungkin kami tidur terpisah" sungut Gabrielle.
Reinhard meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sepertinya pertanyaan yang dia lontarkan salah. "Hehe, maksudku bukan tidur dalam artian seperti yang kau katakan tadi, Gab. Bercinta, kau dan Elea membuat adonan dari tetesan keringat. Sudah pernah belum?."
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Gabrielle. Rasanya dia ingin sekali memukul kepala dokter yang sedang duduk di hadapannya sambil tersenyum tanpa dosa.
"Sia-sia aku menjadikanmu direktur rumah sakit kalau bicara saja kau tidak becus. Menyebalkan!."
"Nanti saja kalau mau mengomel Gab. Sekarang cepat beritahu aku kalian sudah mulai mencetak adonan belum!" paksa Reinhard semakin tak sabar.
Gabrielle mengangguk cepat. "Sudah, dua kali. Kemarin malam dan tadi setelah makan siang. Kenapa memangnya?."
Wajah Reinhard merona merah. Dia sedikit malu memikirkan kegiatan panas yang di lakukan Gabrielle dan istrinya.
"Brengsek! Jangan coba-coba membayangkan tubuh istriku yang tidak memakai pakaian ya! Akan ku gantung tubuhmu di atas gedung ini kalau kau berani melakukannya. Mau!" ancam Gabrielle seraya memelototkan mata.
Reinhard mencebikkan bibirnya. "Sedikit-sedikit mengancam. Kalaupun aku membayangkannya, itu juga bukan dengan istrimu Gabrielle. Tubuh Levi jauh lebih montok di bandingkan dengan tubuh Elea. Dasar orang gila!."
"Banyak alasan kau. Cepat katakan apa maksudmu bertanya hal seintim itu padaku!" kesal Gabrielle.
Sebelum bicara, Reinhard mendekatkan duduknya ke samping Gabrielle. Dia lalu menatapnya serius. "Saat kalian bercinta, kau memakai pengaman tidak?."
Mata Reinhard terbelalak begitu dia mendengar jawaban Gabrielle. "Astaga Gabrielle, bukankah dari awal aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menghamili Elea dulu? Kau tahu kan kalau rahimnya lemah, akan sangat berbahaya kalau dia sampai mengandung di usianya sekarang!" ucap Reinhard sambil menekan pelipisnya.
"Apaaa.....!" pekik Gabrielle syok. "Ya Tuhan Reinhard, kenapa aku bisa lupa? Bagaimana ini, dua kali membuat adonan aku selalu mengeluarkannya di dalam. Astaga, bodohnya aku. Bagaimana kalau kecebong-kecebong itu menggerogoti rahim Elea? Apa yang harus aku lakukan sekarang?."
Saking paniknya, Gabrielle sampai tidak sadar berjalan mondar-mandir seperti setrika pakaian. Dia bahkan tak mempedulikan pandangan heran dari sahabatnya.
"Jadi kau menyebut benihmu sendiri sebagai anak kecebong?" tanya Reinhard pelan.
"Apalagi memangnya? Tidak mungkin anak dinosaurus kan!" sahut Gabrielle. "Lagipula mana ada dinosaurus setampan aku."
Hooeeeekkkkk
Reinhard membuat ekpresi seperti orang yang ingin muntah begitu dia mendengar kenarsisan sahabatnya. Dia lalu pura-pura tak melihat saat Gabrielle menatapnya datar.
"Kau ingin mati ya?."
"Bukan aku yang ingin mati, tapi anak kecebongmu itu yang bisa membuat Elea mati. Astaga Gabrielle, aku tahu juniormu itu kuat, tapi seharusnya kau tidak mengabaikan peringatan dariku. Ck, kau ini bagaimana sih. Katanya sayang pada Elea, tapi kenapa tidak peduli dengan keselamatannya" jawab Reinhard menyayangkan perbuatan sahabatnya.
Gabrielle mengusap wajahnya kasar. Dia lalu menatap kearah kamar dimana Elea sedang tertidur setelah mereka berolahraga ranjang.
__ADS_1
"Apa kau memiliki jalan keluar Rein? Aku tidak mau Elea kenapa-napa?" tanya Gabrielle gelisah.
"Entahlah. Kau sudah terlanjur menebar benih di rahim Elea. Kita berdoa saja semoga anak kecebong itu tidak menetas" jawab Reinhard sembari menghela nafas. "Oh ya Gab, dimana Elea sekarang?."
"Dia sedang tertidur karena kelelahan."
"Ck, dasar predator" ejek Reinhard pelan.
"Aku mendengarnya" sahut Gabrielle jengkel.
Reinhard terkekeh pelan. "Suruh Ares untuk menebus obat ini, Gab. Semoga saja ini belum terlambat untuk menghambat kehamilan Elea" ucap Reinhard sambil menuliskan resep obat.
Dengan cepat Gabrielle menerima resep tersebut kemudian berlari keluar. Meninggalkan Reinhard yang sedang duduk sambil menggelengkan kepala.
"Ares!."
Ares yang tengah menyeduh kopi terperanjat kaget saat mendengar teriakan Tuan Muda-nya. Dia lalu segera berlari menghampirinya.
"Iya Tuan Muda, ada apa?" tanya Ares.
"Cepat pergi ke apotik sekarang dan tebus obat ini. Darurat" jawab Gabrielle sembari menyodorkan kertas resep pada Ares.
"Obat untuk apa Tuan Muda?."
"Untuk memusnahkan anak kecebong. Cepatlah, ini sangat berbahaya" sahut Gabrielle kemudian kembali berlari masuk ke ruangannya.
'Reinhard, awas saja kalau kau berani mengintip istriku. Akan ku musnahkan kau seperti kecebong-kecebong itu. Ckck, kenapa aku bodoh sekali sih. Bisa-bisanya aku meninggalkan pria mesum itu di ruanganku seorang diri tanpa pengawasan.'
Jika Gabrielle sedang menggerutu karena meninggalkan Reinhard di ruangannya, maka Ares sedang berdiri kebingungan sambil menatap aneh kearah resep obat di tangannya.
"Sejak kapan di ruangan Tuan Muda ada kecebong? Bukankah dia sangat anti pada semua binatang selain Lan dan Sulli ya? Aneh sekali."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...
__ADS_1