
Lusi terus memperhatikan adiknya yang terlihat sangat bahagia. Bahkan adik bungsunya itu tidak henti-hentinya melihat kearah kaca. Karena penasaran, Lusi pun akhirnya bertanya.
"Nania, ada apa? Kakak perhatikan sejak tadi kau terlihat sangat gembira. Ada apa?.
'Aduh bagaimana ini? Kak Gleen bilang aku tidak boleh memberitahu Kak Lusi kalau kami akan pergi berbelanja. Tapi kalau aku tidak bilang, aku takut Tuhan marah. Apa yang harus aku lakukan ya?.
"Nania...."
Melihat adiknya yang terlihat kebingungan, Lusi merasa yakin pasti ada yang sedang direncanakan oleh Gleen dan adiknya. Sejak semalam kedua orang ini mendadak terlihat akur, membuat Lusi dan orangtuanya merasa heran.
"Nan....
"Kak Lusi, kalau aku berbohong satu kali apa kau akan memaafkanku?" tanya Nania menyela perkataan kakaknya. "Posisiku terjepit antara jujur dan berbohong, Kak."
Lusi tergelak. Entah kenapa kata-kata adiknya terdengar cukup familiar. Lusi kemudian teringat dengan Elea. Ya, nyonya kecilnya memiliki sikap yang hampir sama dengan adiknya. Sama-sama suka bicara asal dan polos tanpa bisa berbohong.
"Itu tergantung tingkat kebohongan yang akan kau katakan, Nan. Sekarang beritahu Kakak apa yang sedang kau rencanakan dengan Kak Gleen" jawab Lusi sambil menahan tawa.
Nania mengerucutkan bibir. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Kak Gleen bilang dia ingin mengajakku memborong sepatu, Kak. Dia juga akan mengajakku pergi berbelanja semua kebutuhan sekolahku. Tapi....
"Tapi?.
Ucapan Nania terjeda.
"Tapi Kak Gleen bilang aku tidak boleh memberitahu Kakak. Katanya nanti aku dan Kak Gleen akan mendapat siraman rohani yang membuat Kak Gleen tidak jadi mengajakku pergi berbelanja ke mall. Begitu Kak!" jelas Nania dengan polosnya.
Bersamaan dengan selesainya aduan Nania pada Lusi, pintu ruangan terbuka. Lusi tersenyum menyambut kedatangan Gleen, Luri, dan kedua orangtuanya yang didorong oleh masing-masing satu perawat.
"Selamat pagi Ayah, Ibu, Gleen" sapa Lusi dengan suara yang sangat lembut.
"Pagi, Sweety" sahut Gleen sembari melirik kearah Nania yang sedang berdiri di samping kekasihnya. Perasaannya mendadak terasa tidak enak.
Nania yang menyadari arti lirikan mata Gleen pun segera membuat isyarat bibir kalau semuanya baik-baik saja. Dia juga meramalkan mantra di dalam hati, meminta Tuhan agar membuat kakaknya amnesi untuk sesaat.
"Kak Lusi, rumah yang diberikan oleh Kak Gleen sangat besar. Aku bahkan hampir tersesat saat ingin pergi ke dapur" ucap Luri semringah.
Luyan dan Nita tersenyum melihat antusias Luri saat menceritakan keadaan rumah yang mereka tempati. Mereka sungguh-sungguh beruntung memiliki calon menantu sekaya dan sebaik Gleen.
"Oh ya?" sahut Lusi kemudian mengusap puncak kepala adiknya. "Apa kau sudah mengucapkan terima kasih pada Kak Gleen?.
"Sudah Kak" jawab Luri. "Tapi Nania belum. Dia kan semalam tidak tidur di sana."
__ADS_1
"Biar pun belum tidur di sana Nania harus tetap mengucapkan terima kasih pada Kak Gleen juga. Ayo Nania, kita tidak boleh tidak sopan pada orang yang telah berbuat baik pada kita semua ya. Mengerti?.
Gleen begitu terpana melihat cara Lusi mendidik adik-adiknya. Sangat lembut, tapi sarat akan ketegasan. Gleen benar-benar yakin kalau dirinya tidak salah memilih istri. Lusi adalah wanita terbaik yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
"Kak Gleen, terima kasih ya atas kebaikan hatimu" ucap Nania patuh akan perintah kakaknya.
"Sama-sama, Nania."
Tok, tok, tok
"Apa aku mengganggu?.
Junio menyembulkan kepala di celah-celah pintu yang terbuka. Dia kemudian tersenyum.
"Di mana-mana orang itu menunggu pemilik rumah membukakan pintu dulu baru masuk ke dalam!" tegur Nania pedas pada seorang pria yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat kakaknya. "Tidak sopan, padahal sudah tua. Orang-orang kota sungguh aneh, mereka seperti tidak memiliki tata krama yang baik!.
Junio ternganga. Dia tidak percaya kalau yang dikatakan oleh Gleen itu benar adanya jika dia telah membawa kembaran Elea datang ke kota ini. Sambil menelan ludah, Junio mencoba untuk menyapa semua orang yang ada di sana. Kedatangannya kemari memang di sengaja karena Gleen ingin dia berkenalan dengan calon keluarga barunya.
"Ekhmmm, halo Paman, Bibi, adik-adik manis... Perkenalkan, aku Junio. Sahabat dekatnya Gleen."
"Halo Tuan Junio" sahut Luyan membalas sapaan sang tamu.
"Tolong jangan memanggilku Tuan, Paman. Panggil Junio saja" ucap Junio tak nyaman.
"Apa tidak apa-apa?.
Luyan menggelengkan kepala ke arah putri bungsunya. Dia merasa tak enak hati karena putrinya itu terus saja mengeluarkan kata-kata yang pedas pada sahabat calon menantunya.
"Nania, jangan tidak sopan pada Kak Junio. Beliau adalah sahabat dekatnya Kak Gleen, kau harus menghormatinya seperti kau menghormati kakak!" tegur Lusi pelan.
"Baik Kak,"
Gleen dan Junio terperangah. Sungguh, Nania benar-benar sangat mirip seperti Elea yang akan selalu patuh pada apa yang di ucapkan oleh Gabrielle. Tiba-tiba tengkuk mereka meremang, sadar kalau ke depannya hidup mereka tidak akan aman jika berada di dekat gadis bernama Nania ini.
"Em Nak Junio, tolong maafkan sikap Nania ya. Dia masih muda, jadi belum bisa menyaring setiap ucapan yang ingin dia keluarkan" ucap Nita mencoba menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku bahkan pernah bertemu dengan gadis yang gaya bicaranya jauh lebih mengerikan daripada putri Bibi. Namanya Elea, dia istri temanku" sahut Junio santai.
"Jadi Kak Junio mengenal Elea juga? Dia adalah teman pertama yang aku miliki di kota ini!" pekik Nania kesenangan.
'Whaaattt???? Jadi si mulut granat ini sudah bertemu dengan indung semangnya? Ini gawat, ini gawat!.
Melihat wajah frustasi Junio, Gleen hanya bisa menarik nafas. Dia tentu belum lupa dengan tuduhan Nania yang menyebut jika dirinya sengaja mengusirnya pergi hanya gara-gara dia meminta gadis itu untuk menunggu di dekat pintu yang bertuliskan kata Out. Belum lagi dengan ancaman Nania yang ingin mengadu pada orangtuanya tentang sikap Gleen yang berani membentak Elea di depan keluarganya. Tanpa di ketahui oleh Junio, Gleen sudah lebih dulu dibuat frustasi oleh kembarannya Elea. Dan di saat Gleen tengah mengenang nasibnya semalam, bom waktu kembali meledak yang membuat Gleen mematung di tempat.
__ADS_1
"Kak Junio, memangnya benar ya kalau Kak Gleen itu suka bersikap kasar? Elea bilang Kak Gleen pernah membentaknya yang berujung mendapat amukan dari Tuan Muda Gabrielle. Lihat Ayah, Ibu... Luka di wajah Kak Gleen adalah hasil karya suaminya Elea. Benar kan Kak?" tanya Nania sembari menunjuk lebam di sudut bibir calon kakak iparnya.
Luyan dan Nita terdiam. Mereka tak lantas menelan mentah-mentah ucapan Nania. Luyan dan Nita yakin kalau calon menantu mereka adalah pria yang baik. Mungkin saja ada kekeliruan yang terjadi sehingga menyebabkan majikan Lusi menghajarnya.
"Nania, kau bilang ingin pergi membeli sepatu bersamaku. Mau berangkat sekarang?" tawar Gleen putus asa.
"Baiklah kalau Kakak memaksa. Ayo berangkat!" sahut Nania kegirangan.
Lusi yang melihat calon suaminya merasa tertekan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Dia lalu melambaikan tangan memintanya untuk mendekat.
"Sweety, aku....
"Tidak apa-apa. Kau jangan khawatir, Ayah dan Ibu bukan orang yang akan langsung mempercayai perkataan Nania begitu saja. Dia belum dewasa, jadi kata-katanya masih belum beraturan. Maaf ya" sela Lusi menenangkan.
"Tolong bantu aku menjelaskan ini semua pada Ayah dan Ibu. Karena sekarang aku harus memenuhi janjiku dulu sebelum gadis bermulut granat itu kembali meledakkan bom di wajahku" ucap Gleen penuh harap.
"Iya, pergilah!.
Gleen kemudian berbalik untuk berpamitan pada mertuanya setelah mencium puncak kepala Lusi. Setelahnya dia bergegas mengajak Nania yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Paman, Bibi, Lusi... Kalau begitu aku pamit dulu ya. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua" ucap Junio sopan.
"Sama-sama Nak Junio. Jika ada waktu sempatkanlah untuk datang ke rumah. Nanti Luri akan memasakkan makan malam untuk kita semua" sahut Nita sembari tersenyum ramah.
"Baik Bi. Nanti akan aku usahakan untuk membagi waktu. Kalau begitu aku permisi,"
"Iya. Hati-hati,"
Sepeninggal Junio, Luyan dan Nita langsung melihat ke arah Lusi.
"Gleen pria yang baik Bu, Ayah. Kalian tenang saja" ucap Lusi kemudian tertawa.
"Ayah sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat adikmu tidak sembarangan bicara, Lusi. Ayah sampai merasa tidak enak pada Gleen dan juga Junio. Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak tentang cara Ayah dan Ibu dalam mendidik Nania. Anak itu benar-benar!" keluh Luyan sambil memijit pelipisnya. Kepalanya sakit.
"Tidak udah risau, Ayah. Nania masih muda, biarkan saja dia mau berekspresi seperti apa. Asalkan masih di jalur yang benar, maka kita tak perlu menjadikannya sebagai beban. Nanti seiring bertambahnya usia, aku yakin Nania akan mengerti dengan sendirinya. Seperti Luri. Iya kan sayang?" sahut Lusi kemudian mengusap puncak kepala adiknya.
Cekungan lesung pipi di kedua sisi wajah Luri membuatnya terlihat sangat manis ketika tersenyum. Seandainya saja ada pria yang melihat senyuman tersebut, hatinya pasti akan langsung meleleh bak gunung es yang sedang mencair. Pesona seorang Luri, gadis desa yang kalem dan berkarisma.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: nini_lupss...
...🌻 FB: Rifani...