
Gabrielle terus menciumi bahu istrinya yang masih terlelap. Semalam, dia masih sempat mengambil jatah untuk juniornya meskipun hanya satu ronde. Gabrielle sebenarnya sadar kalau semalam Elea sudah sangat kelelahan, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Alhasil Elea akhirnya tetap menjalankan kewajibannya meski dalam kondisi setengah mengantuk. Jika teringat dengan kegiatan mereka semalam, Gabrielle tak tahan untuk tidak tersenyum lucu. Istrinya sangat unik, dan keunikannya itu hanya dia saja yang boleh tahu.
"Kau benar-benar sangat menggemaskan!."
Merasa terganggu, Elea akhirnya terbangun. Dia kemudian tersenyum ketika mendapati wajah suaminya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Selamat pagi Kak Iel..."
"Selamat pagi kembali, sayangku. Morning kiss?" sahut Gabrielle kemudian meminta jatah paginya.
Cupp
"Lagi.."
Elea kembali mengecup bibir suaminya.
"Sekali lagi sayang.."
Cup cup cup
Gabrielle tertawa ketika Elea menghujani wajahnya dengan banyak ciuman. Setelah itu dia mengecup keningnya lama sambil mengucap syukur karena sudah di berikan istri yang sangat patuh dan juga sangat cantik.
"Sayang, hari ini kita akan pergi mengunjungi Grandma. Kau tidak keberatan bukan untuk datang kesana?" tanya Gabrielle sambil mengeratkan pelukan di perut istrinya.
"Tidak Kak, justru aku malah senang sekali. Jam berapa kita akan pergi?" jawab Elea penuh semangat.
"Setelah kita selesai bersiap tentunya. Dan juga Grandma melarang kita untuk makan di rumah. Dia bilang dia yang akan menyiapkan sarapan dan makan siang untuk kita semua nanti!."
Elea mengangguk senang. Hatinya sangat bahagia meskipun sebelumnya sempat ada sedikit ketegangan antara dia dan neneknya. Elea yang masih berada dalam dekapan suaminya dengan jahil memainkan ****** dada milik pria ini. Dia tertawa saat mendengar suara geraman tanda bahaya.
"Jangan menggodaku sayang. Aku takut kau tidak bisa berjalan dengan baik jika terus memancingku seperti ini" bisik Gabrielle menahan ledakan gairah yang menuntut untuk segera di puaskan.
"Kak Iel ini murahan sekali sih. Aku kan hanya menyentuhnya sedikit, begitu saja langsung terpancing" sahut Elea yang merasa tergelitik mendengar ancaman aneh suaminya.
Gabrielle terbelalak saat dirinya di katai murahan oleh istrinya. Setelah itu dia terkekeh, merasa gemas dengan kata-kata nyeleneh tersebut.
__ADS_1
"Kak Iel, ayo kita bangun. Aku sudah tidak sabar ingin segera mencicipi masakan Grandma!" ajak Elea kemudian segera duduk. Tak lupa juga dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa memakai sehelai benangpun.
Jakun Gabrielle bergerak naik-turun saat dia melihat bongkahan daging kenyal yang tercetak dari balik selimut. Namun sedetik kemudian dia di buat kaget saat sebuah bantal tiba-tiba melayang dan mengenai wajahnya.
"Iihh, dasar mesum!" ejek Elea kemudian segera berlari masuk ke dalam kamar mandi sebelum di terkam oleh pria yang sedang terbahak-bahak di atas ranjang.
"Hahahahahaa.... Hei sayang, tunggu aku. Tunggu suamimu yang mesum ini!" teriak Gabrielle sambil tertawa puas.
Tanpa membuang waktu lagi Gabrielle segera berlari menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Dia menganggap apa yang di lakukan oleh Elea adalah sebuah undangan spesial untuknya. Bercinta di bawah guyuran air shower, adalah sebuah fantasi yang sedang menjadi kesenangan Gabrielle beberapa waktu ini. Hanya dalam hitungan detik, dari dalam ruangan basah itu sudah terdengar desahan dan juga teriakan-teriakan kecil dari bibir Elea saat Gabrielle mulai melakukan serangan fajar.
Jika Gabrielle dan Elea tengah mendayung cinta di atas badai besar, berbeda halnya dengan apa yang sedang terjadi di antara Levi dan Reinhard. Dua anak manusia yang baru saja terikat sebuah hubungan itu nampak sedang bertengkar hebat. Dan pemicu dari pertengkaran itu adalah Reinhard yang tiba-tiba masuk ke kamarnya Levi sambil membawakan sarapan untuknya. Niat hati ingin menunjukkan keromantisannya, nasib Reinhard malah harus berakhir tragis karena mendapat semburan dari naga betina ini.
"Lain kali jangan sembarangan masuk ke dalam kamar orang lain, Rein!" kesal Levi yang menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Sayang, aku ini tidak bermaksud buruk padamu. Aku hanya ingin mengantarkan sarapan untuk kekasihku. Memangnya salah ya peduli pada kekasihnya sendiri?" sahut Reinhard kecewa.
"Yang bilang kau mempunyai maksud buruk itu siapa hah?" teriak Levi.
"Kalau bukan itu lalu apa? Kau memarahiku seakan aku ini pria mesum yang ingin memp*rkosamu saja. Huh, tahu tidak kalau kau itu sudah menyinggungku!."
Levi yang kaget mendengar bentakan Reinhard segera menyembulkan kepalanya dari balik selimut. Dia merasa sangat bersalah ketika melihat kekasihnya itu terdiam dengan wajah yang murung. Sebenarnya Levi sama sekali tidak bermaksud seperti itu pada Reinhard. Hanya saja.....
"Rein, maafkan aku. Sebenarnya aku, aku...
Reinhard tak merespon ucapan Levi yang terjeda. Hatinya masih sangat dongkol, jadi dia memutuskan untuk acuh padanya.
Tak tahan dengan keadaan itu, sambil terus menyembunyikan wajahnya Levi akhirnya menghampiri Reinhard. Dia menatap lama punggung pria yang sedang merajuk ini. Sudut bibir Levi berkedut, dia tidak menyangka akan mengalami pertengkaran lucu seperti yang di alami oleh pasangan-pasangan lain. Tak ingin membiarkan kekasihnya terus salah paham, Levi segera melingkarkan kedua tangannya ke perut Reinhard dari arah belakang. Dia lalu merebahkan kepalanya di punggung Reinhard, mencoba membujuk dengan cara termanis yang pernah dia lihat dari sebuah drama cinta di televisi.
"Maaf....."
Reinhard masih diam.
"Sayang, maaf..."
Masih tidak ada respon. Hal itu membuat Levi memutuskan untuk jujur kenapa dia memarahi Reinhard tadi. Sambil menahan malu, Levi akhirnya memberitahukan alasannya pada pria yang sedang merajuk tersebut.
__ADS_1
"Aku memarahimu karena aku merasa malu Rein. Aku takut kau akan meninggalkan aku karena aku tidak memakai make up. Setiap kali bangun tidur wajahku itu terlihat seperti nenek sihir, dan aku tidak mau kau melihatku dalam kondisi jelek. Aku tidak percaya diri...!."
Reinhard terbelalak begitu dia mendengar alasan Levi memakinya. Dia kemudian berbalik, sedikit berjengit kaget melihat tubuh Levi yang masih terbungkus selimut.
"Astaga, kau membuatku kaget saja!."
Kepala Levi tertunduk, wajahnya juga sudah sangat merah sekarang. Habislah sudah, harga dirinya pasti akan langsung turun jika Reinhard melihat wajah aslinya yang polos tanpa make up.
"Levi, bukankah semalam aku sudah bilang kalau aku menyukai semua yang ada di dirimu? Kau tidak perlu merasa malu hanya karena tidak memakai riasan saat di depanku!" ucap Reinhard sembari menurunkan selimut yang menutupi kepala kekasihnya. Dia kemudian tersenyum mendapati wajah polos yang memang terlihat sedikit berbeda tanpa riasan tebal seperti yang biasa dia lihat.
"Aku buruk bukan?" tanya Levi lirih. Dadanya berdebar, dia sangat yakin setelah ini Reinhard pasti akan mengoloknya.
"Ya, memang buruk. Tapi itu tak membuatku ingin pergi. Aku malah suka melihatmu seperti ini, polos tanpa riasan warna-warni. Kau terlihat lebih fresh sayang, kau juga sangat cantik!" puji Reinhard menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Benarkah?."
Reinhard mengangguk. Dia lalu menangkup kedua pipi Levi kemudian mencium lama di bagian keningnya. "Aku mencintaimu, tidak berpatokan apakah kau memakai riasan atau tidak. Apa adanya dirimu itulah yang aku harapkan. Jadi jangan bernegatif thinking lagi ya, apalagi sampai memaki seperti tadi. Aku bukan marah, hanya merasa sedikit kecewa saja. Mengerti kan?."
"Maaf Rein, itu refleks terjadi karena aku yang sedang panik. Sama sekali tidak ada niat untuk menyinggungmu. Sungguh" ucap Levi sambil menatap lekat wajah tampan kekasihnya.
"Iya sayang tidak apa-apa. Ya sudah, sekarang kau bersihkan tubuhmu dulu kemudian kita sarapan bersama. Ares bilang Gabrielle dan Elea akan mengajak kita pergi ke rumahnya Nyonya Wu hari ini!."
Levi mengangguk. Dia mencium pipi Reinhard sebelum akhirnya berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Jadi dia menganggapku pria mesum hanya karena takut aku melihat wajahnya yang seperti nenek sihir? Astaga Levi, bagaimana bisa kau punya pikiran aneh seperti itu? Kau bahkan jauh lebih cantik tanpa riasan. Ah, untung saja hanya aku yang melihatnya seperti itu. Bisa gawat jika orang lain tahu kalau di balik make up yang dia kenakan tersimpan wajah yang sangat manis. Sepertinya aku harus mengatur rencana supaya orang lain tidak mengetahui harta karunku ini!" gumam Reinhard gelisah.
ððððððððððððððððð
...ð» VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...ð» IG: emak_rifani...
...ð»FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1