
Reinhard segera memapah Levi untuk keluar dari dalam mobil. Dia menjadi sangat khawatir ketika merasakan tubuh kekasihnya sudah benar-benar sangat panas.
"Aku kan sudah bilang istirahat saja di rumah. Kenapa susah sekali sih menjaga kesehatan sendiri" omel Reinhard.
"Sudahlah jangan mengomel dulu. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak mungkin membiarkan Elea pergi tanpa pengawasanku, Rein" jawab Levi yang pasrah di omeli oleh kekasihnya.
"Alasan saja. Kau pikir aku tidak tahu matamu itu sudah hijau saat ingin di ajak berburu berlian oleh Elea apa? Lagipula aku tahu bagaimana protektifnya Gabrielle pada Elea, dia tidak akan mungkin membiarkan istrinya berkeliaran tanpa pengawasan!.
"Tapi tetap saja aku tidak ingin Elea pergi keluar tanpaku, Rein. Aku belum percaya sepenuhnya pada Lusi, dia belum mempunyai kekuatan ektra untuk melindungi Elea dari serangan-serangan kucing liar di luaran sana!.
Reinhard hanya bisa menarik nafas panjang mendengar alasan klise yang terlontar dari mulut kekasihnya. Percuma mengajaknya berdebat karena dia tidak akan menang, apalagi ini menyangkut Elea. Reinhard tahu betapa Levi sangat menjaga dan menyayangi istri sahabatnya itu. Sebenarnya Reinhard tidak bermaksud melarang, hanya saja pagi tadi kondisi kekasihnya sedang tidak baik. Jadi dia mewanti-wanti Levi agar tidak keluar rumah dulu. Tapi memang kekasihnya ini adalah wanita yang bebal, dalam kondisi demam pun masih tetap keluyuran. Dan lihat hasilnya sekarang, kondisinya drop. Untung saja dia dokter, jadi Reinhard bisa segera meresepkan obat untuk kekasihnya yang super duper bebal ini.
"Kak Rein, bagaimana kondisi Ayah dan Kakekku?" tanya Elea menyusul masuk ke dalam rumah.
Di belakang Elea, nampak Gabrielle berjalan sembari membaca pesan di ponselnya. Tak lupa juga Gleen dan Lusi ikut masuk ke dalam rumah sembari menenteng keranjang buah.
"Kakekmu masih belum sadar, Elea. Kalau Paman Bryan, beliau sedang istirahat di dalam kamarnya di temani oleh Bibi Yura" jawab Reinhard sambil mendudukkan Levi di sofa. "Bibi, boleh tolong ambilkan air untuk mengompres tidak?.
"Bisa, Tuan. Tolong tunggu sebentar."
Elea segera duduk di sebelah Levi kemudian menyentuh keningnya.
"Demamnya semakin tinggi. Sebaiknya Kak Levi di bawa ke kamar saja, Kak. Sebentar ya, aku akan meminta bibi pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Kak Levi dulu."
Levi menahan tangan Elea yang ingin pergi. Dia kemudian menggelengkan kepala.
"Aku ingin pulang saja, Elea. Tidak nyaman tidur di rumah orang lain."
"Tapi kau terlihat nyaman-nyaman saja saat menginap di rumahku" sindir Gabrielle yang sudah duduk di sebelah istrinya. "Iya kan sayang? Kita bahkan tidak pernah mendengarnya mengeluh tidak betah."
"Iya Kak Iel benar. Mungkin karena rumah Kakak sangat megah makanya Kak Levi enggan untuk pergi" jawab Elea meng-iyakan.
"Bisa tidak kalian berdua jangan memprovokasi emosiku dulu? Tenagaku sedang limit untuk membalas serangan kalian berdua sekarang" sahut Levi lirih.
Gabrielle terkekeh.
"Gab, tidak apa-apakan kalau aku mengantarkan Levi pulang ke rumah dulu? Nanti hubungi aku saja kalau Kakek Karim sudah sadar. Aku perlu memeriksa keadaan jantungnya" ucap Reinhard ingin berpamitan.
"Kenapa tidak menunggu sampai beliau sadar saja? Dengan begitu kau tidak perlu bolak-balik kesana kemari seperti setrika pakaian?" tanya Gabrielle sengaja memancing kekesalan Levi.
__ADS_1
"Ck, kau ini tuli atau bagaimana sih Gab. Aku kan sudah bilang kalau aku ingin pulang dan beristirahat di rumahku. Kenapa kau malah menyuruh Reinhard untuk menunggu Kakek Karim sadar?" omel Levi tak habis fikir.
"Kalau mau pulang ya pulang saja, kenapa kau memarahiku?.
"Kak Iel, Kak Levi, kalian ini selalu saja bertengkar seperti anak kecil. Bisa tidak sih kalian itu sedikit lebih akur?" marah Elea sambil menatap bergantian ke wajah suami dan temannya.
"Suamimu itu yang kelewatan, Elea. Dia benar-benar tidak mempunyai hati nurani" adu Levi membela diri.
"Mana ada seperti itu. Aku kan hanya tidak mau melihat Reinhard kelelahan di tengah jalan" sahut Gabrielle sambil menahan tawa.
Reinhard menatap horor kearah sahabatnya. Dia sedikit merinding mendengar seucap perhatian yang terdengar mengganjal di telinganya.
"Kak Iel juga. Jangan mencandai Kak Levi terus. Dia sedang sakit, bagaimana kalau dia mati gara-gara berdebat dengan Kakak. Kan kasihan Kak Reinhard jadi tidak punya pasnagan lagi!.
Sunyi. Ruang tamu itu benar-benar terasa sangat sunyi setelah Elea mengucapkan kata yang begitu menohok hati semua orang. Ucapan terus-terangnya itu langsung membuat orang-orang itu terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan pelayan yang baru saja datang ikut tercengang mendengarnya. Sadar kalau ucapannya membuat orang menjadi batu, Elea segera meralatnya. Dia merasa tidak enak pada Levi yang sedang menatapnya dengan mulut ternganga.
"Hehehe, maaf Kak Levi. Tadi itu lidahku sedang keseleo, makanya aku tidak sengaja mendoakanmu mati. Tolong jangan di ambil hati ya Kak? Aku tidak sungguh-sungguh ingin melihatmu mati lebih dulu!.
"Elea, bukan Gabrielle yang bisa membuatku mati, tapi kau. Kau dengan ucapanmu yang terang-terangan itu yang bisa membuatku mati di tempat. Dimana kau menemukan sejarah ada orang mati hanya karena kalah berdebat hah? Astaga Gabrielle, sebenarnya istrimu ini lahir darimana sih? Kenapa kata-katanya selalu membuat otak orang lain tidak bisa berfikir? Heran aku!" amuk Levi dongkol.
"Tentu saja istriku lahir dari rahim seorang bangsawan, Lev. Memangnya kau sudah lupa keluarga bangsawan mana yang kita kunjungi saat di Paris kemarin?" sahut Gabrielle memanaskan keadaan.
"Sudah-sudah jangan bertengkar terus. Bibi, tolong berikan air kompres itu pada Kak Reinhard" lerai Elea.
Dengan penuh perhatian Reinhard merawat Levi di hadapan semua orang. Keningnya mengerut ketika melihat mata Levi yang seperti kehilangan penglihatan.
"Sayang, hei" panggil Reinhard sambil menepuk pelan pipi kekasihnya.
Mungkin karena suhu tubuhnya sudah terlalu panas, Levi akhirnya hilang kesadaran. Semua orang menjadi panik. Karena terlalu khawatir Reinhard tanpa sengaja menumpahkan air kompresan hingga membasahi pakaian Elea. Setelah itu, tanpa meminta maaf dia segera membopong Levi kemudian membawanya keluar menuju mobil.
Ares yang saat itu masih berada di luar rumah sangat kaget melihat Reinhard yang datang sambil menggendong Levi di pelukannya. Dengan segera dia membukakan pintu mobil untuknya.
"Tuan Reinhard, apakah perlu bantuan saya?" tanya Ares menawarkan.
"Tidak usah. Tapi tolong katakan pada Gabrielle untuk segera menghubungiku jika Kakek Karim sudah sadar. Aku akan mengantar Levi ke rumah sakit dulu, dia pingsan karena tubuhnya sudah terlalu panas" jawab Reinhard terburu-buru.
Ares mengangguk.
"Baik Tuan, hati-hati!.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam rumah Gabrielle sedang merutuki kecerobohan Reinhard. Sambil terus mengomel dia membersihkan pakaian istrinya yang basah karena tersiram air sisa kompresan.
"Sudahlah Kak Iel, aku tidak apa-apa. Ini hanya air, bukan granat" ucap Elea sambil menahan tangan suaminya yang sudah masuk ke bagian pahanya.
'*Kak Iel, kau tidak perlu memeriksa sampai sedalam ini. Lihat, disini masih ada Kak Lusi dan Paman Gleen. Bagaimana kalau mereka melihat*nya?.
Yah, Gabrielle menggunakan kesempatan itu untuk menyentuh tubuh istrinya. Dia jadi terbakar nafsu ketika melihat kulit paha istrinya yang tercetak jelas akibat tersiram air. Sambil menahan deru nafasnya yang mulai memburu, Gabrielle melepaskan jas yang dia pakai kemudian menutupkannya ke paha Elea. Setelah itu dia menatap datar kearah Gleen yang ternyata sedang memperhatikannya.
"Apa yang kau lihat?.
"Ilmu" jawab Gleen singkat.
Kening Gabrielle mengerut.
"Ilmu apa?.
"Ilmu tentang bagaimana cara mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku tahu apa yang kau lakukan pada Elea tadi. Tanganmu...
Plaaakkkkk
"Jangan bicara sembarangan di depan Tuan Muda. Kau-kau tidak seharusnya membahas hal seperti itu tentang Nyonya Elea!" omel Lusi gugup setelah memukul tangan Gleen.
"Sweety, ini kedua kalinya kau memukulku. Apa kau begitu menyukai tubuhku, hem?.
Gabrielle, Lusi, dan Elea ternganga mendengar ucapan Gleen yang begitu menggelikan. Sungguh sangat jauh dari ekspektasi kalau seorang pria dingin seperti Gleen bisa senarsis ini mengartikan kemarahan seseorang.
"Lusi, lain kali kalau kau pergi bersama pria menjijikkan ini jangan lupa untuk membawa belati. Tusukkan belati itu ke mulutnya kalau dia mulai bicara yang tidak-tidak padamu!.
"Ba-baik, Tuan Muda" jawab Lusi sambil menelan ludah.
Gleen sama sekali tidak tersinggung mendengar ucapan Gabrielle. Entahlah, sepertinya dia memang sudah tidak waras. Otaknya tidak bisa di ajak bekerjasama untuk menjaga sikap saat berada di dekatnya Lusi. Selalu dan yang selalu dia inginkan hanyalah di sentuh dan menyentuh gadis ini. Sungguh, Gleen sedang mengalami cobaan yang sangat berat. Iya berat, sangat berat sampai-sampai otaknya menjadi sinting.
🤣🤣🤣🤣
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...