
"Kak, pakai baju ini bagus tidak?" tanya Elea.
Gabrielle yang tengah melihat ponsel sambil duduk di ranjang menoleh. Dia terpaku melihat penampilan istrinya.
"Cantik" gumam Gabrielle lirih.
Elea mengernyitkan kening saat mendengar gumaman suaminya yang tidak jelas. Dia lalu berjalan mendekat.
"Kakak bilang apa tadi? Aku tidak dengar".
Mata Gabrielle mengerjap. Dia lalu menarik Elea duduk di pangkuannya, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Elea yang sangat wangi.
"Kak Iel geli!" cicit Elea sembari menggeliat.
Cup,cup,cup
Dengan gemas Gabrielle menciumi ujung dagu istrinya berulang kali. "Kau terlihat sangat cantik memakai baju ini, sayang".
"Benarkah? Tapi kakak itu belum meriasku Kak, bukannya jelek ya kalau tidak memakai make up?" tanya Elea.
"Siapa yang bilang begitu? Kau itu sudah cantik meskipun tidak memakai make up sayang" jawab Gabrielle.
"Kak Levi bilang wanita tanpa make up artinya buruk. Dan jika wanita sudah menjadi buruk maka tidak ada pria yang mau dengannya. Begitu katanya Kak!" ucap Elea serius.
'Huh, lagi-lagi wanita itu menyebarkan virus yang tidak benar pada Elea'.
"Sayang, jangan percaya kata-katanya. Dia sengaja bicara seperti itu karena merasa iri denganmu. Jadi dia ingin membuatmu terjerumus!" sahut Gabrielle menyadarkan istrinya.
"Baik Kak, aku tidak akan percaya Kak Levi lagi" ucap Elea patuh.
Gabrielle tersenyum. Dia kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elea. Rasanya ingin sekali dia memakan istrinya saat itu juga. Tapi Gabrielle harus menahannya dulu. Butuh waktu yang tepat untuk mereguk kenikmatan itu. Dan sekarang waktunya sangat tidak tepat karena orangtuanya sedang menunggu kedatangan mereka di rumah.
"Sayang, nanti jangan takut ya saat bertemu ayah dan ibu. Mereka orang baik, mereka tidak akan menjadikanmu upik abu seperti yang kau bayangkan selama ini!" ucap Gabrielle sambil mengelus rambut panjang istrinya yang di biarkan terurai.
"Emm aku akan berusaha menjadi gadis baik Kak nanti. Tapi kalau ayah dan ibu tidak menyukaiku kemudian mengusirku pergi dari sana bagaimana?" tanya Elea khawatir.
"Maka kita akan pergi bersama. Sayang, bukankah aku sudah bilang kalau aku akan ikut kemanapun kau pergi, jadi jangan khawatir lagi ya, oke?".
"Baiklah kalau begitu. Aku senang sekali memiliki suami seperti Kak Iel. Kakak sangat baik dan selalu menyayangiku!" ucap Elea riang.
"Kalau begitu beri aku ciuman. Di sini!" sahut Gabrielle sambil menunjuk bibirnya.
Elea tersipu. Dia menunduk dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Sayang, ayo cepat beri aku satu ciuman. Sayang.. " bujuk Gabrielle.
'*K*au semakin menggemaskan jika malu-malu seperti ini, Elea. Oh Tuhan, tolong kuatkan imanku dulu!'.
"Tapi Kak Iel harus memejamkan mata. Aku malu kalau Kakak melotot seperti itu" ucap Elea lirih.
"Astaga Elea, aku bukan melotot. Tapi aku sedang mengagumi kecantikan istriku" sahut Gabrielle sambil tertawa lucu.
"Iih sama saja, Kak Iel" sungut Elea.
"Baiklah-baiklah, sekarang aku akan memejamkan mata. Sudah, ayo cepat beri aku ciuman!" desak Gabrielle setelah matanya terpejam.
"Iya iya Kak!".
Elea menatap mata suaminya yang sudah terpejam. Bibirnya tersenyum, dia merasa sangat bahagia setiap kali berduaan dengan suaminya. Dan lagi-lagi dadanya tidak berhenti berdebar, ada semacam perasaan ingin lebih, lebih, lebih dan lebih lagi. Entahlah, Elea bingung dengan hati dan perasaannya sendiri.
'Tidak salahkan kalau menyukai suami sendiri? Dosa tidak ya?'.
Perlahan-lahan wajah Elea semakin dekat dengan wajah suaminya. Dia terkejut saat lehernya tiba-tiba di dorong dari belakang. Dalam sekejap kamar itu sudah di penuhi suara decapan bibir Gabrielle dan Elea. Juga suara lenguhan-lenguhan kecil yang keluar dari mulut Elea saat tangan Gabrielle tidak berhenti merayap di tubuhnya.
"Bernafas sayang" bisik Gabrielle tepat di depan bibir Elea yang sudah membengkak.
Elea terengah-engah. Dia lalu menatap suaminya dengan wajah memerah malu. "Kak Iel selalu mencuri persediaan nafas di dalam paru-paruku. Kebiasaan!".
Gabrielle tertawa saat perbuatannya di protes oleh Elea. Dengan sayang dia mengusap sudut bibir istrinya yang basah akibat pertukaran saliva mereka.
Elea berlari kearah meja rias kemudian menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Sebenarnya Elea ingin sedikit berdandan, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.
"Orangtuanya Kak Iel jijik tidak ya kalau melihatku tidak berdandan? Biasanya kan orang-orang kaya suka sekali memakai riasan tebal di wajah mereka" gumam Elea.
Gabrielle segera menghampiri Elea setelah mengambilkan tas miliknya. Dia lalu memeluknya dari belakang.
"Aku sudah bilang kalau kau itu tetap cantik meskipun tidak memakai make up,Elea. Grizelle dan Ibu, mereka tidak pernah memakai riasan saat di dalam rumah. Saat keluarpun mereka belum tentu berdandan, jadi kau tidak perlu merasa risau".
"Aku hanya ingin menunjukkan yang terbaik untuk pertemuan pertama kami, Kak Iel. Meskipun aku miskin, aku tahu kalau aku harus membuat ayah dan ibu mertuaku tidak merasa malu. Kakak mengerti kan?" tanya Elea sembari menyender di dada suaminya.
Gabrielle dan Elea saling menatap melalui cermin di depan mereka. Meskipun Elea masih belum menyadari perasaannya, dia selalu merasa di cintai begitu banyak oleh suaminya. Pria ini selalu memberinya banyak kebahagiaan dan juga limpahan kasih sayang yang sangat banyak.
"Kau tahu Elea, aku sangat bangga memiliki istri sepertimu. Mungkin kau memang miskin harta, tapi kau kaya hati. Jiwamu suci, aku tahu itu!" ucap Gabrielle di sela-sela keromantisan mereka.
"Aku juga sangat bangga memiliki suami seperti Kak Iel. Kakak sangat tampan, baik dan juga kaya raya. Kata Kak Levi aku seperti mendapat paket lengkap, sekaligus mempunyai ATM berjalan. Aku hebat kan, Kak?".
Mata Gabrielle membulat lebar saat Elea menyebutnya sebagai ATM berjalan. Bukan keberatan, tapi dia merasa sedikit aneh karena istrinya bisa mendapatkan istilah-istilah nyeleneh seperti itu hasil dari berteman dengan Levi.
"Astaga Kak Iel, kita belum membeli buah tangan untuk ayah dan ibu. Bagaimana ini?" tanya Elea panik kemudian melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Tenang sayang, Ares sudah menyiapkan semuanya. Nanti kita hanya tinggal mengambilnya di toko sekalian mengantarkan ponselmu untuk di perbaiki" jawab Gabrielle seraya menarik tangan istrinya keluar dari kamar.
"Oh syukurlah. Wahh Ares itu benar-benar hebat ya Kak. Dia sangat gesit menyiapkan semuanya tanpa perlu di suruh lagi. Dia sangat mengagumkan!".
Ares yang saat itu sedang berdiri menunggu di depan lift rasanya ingin masuk ke perut bumi begitu dia mendengar perkataan nyonya nya. Dia menarik nafas panjang saat merasakan atmosfer panas yang mengelilingi tubuhnya.
'Nyonya Elea, kau kembali menyulut kecemburuan Tuan Muda. Dan kenapa harus aku yang menjadi korbannya? Bisakah sekali saja anda jangan membuat nyawa saya berada di ujung tanduk? Nyonya Elea..... '.
"Sayang, aku tidak suka kalau kau memuji pria lain di hadapanku. Kau tahu itu kan?" tanya Gabrielle sebelum mereka masuk ke dalam lift.
"Tahu kok Kak" sahut Elea tanpa menyadari kalau suaminya sedang cemburu.
"Kalau tahu kenapa tadi kau memuji Ares?".
Ares segera menunduk saat dia mendapat lirikan tajam dari Tuan Muda-nya.
"Aku tidak memujinya Kak Iel. Aku hanya bilang kalau Ares itu sangat gesit dan mengagumkan. Benar kan Ares?" jawab Elea kemudian melemparkan pertanyaan pada Ares yang sejak tadi diam menunduk.
'Ya Tuhan Nyonya, kenapa namaku kembali si sebut? Tidak sadarkah anda kalau wajah Tuan Muda sudah seperti banteng yang siap mengamuk?'.
"Ekhhmmmm..!".
Gabrielle berdehem kuat dengan tangan yang memeluk pinggang Elea posesif. Dia bermaksud mengirim kode pada Ares untuk tidak menjawab pertanyaan istrinya.
"Kak Iel, kau terlalu kuat memelukku. Nanti pinggangnya patah!" protes Elea sambil mengernyit menahan sakit.
"Astaga sayang, maaf aku tidak sengaja. Masih sakit tidak?" tanya Gabrielle kaget.
"Sedikit" jawab Elea manja.
Merasa bersalah karena sudah membuat istrinya kesakitan, Gabrielle pelan-pelan mengelus pinggang Elea. Namun elusan itu lama-lama semakin naik keatas. Gabrielle menyeringai saat dia melihat pantulan di pintu lift yang memperlihatkan dimana Elea sedang menggigit bibir bawahnya. Dan sialnya itu terlihat sangat sexy.
'Tuan Muda, anda benar-benar suami mesum. Untung saja ini di dalam lift dan hanya ada saya di sini. Apa jadinya jika anda melakukan hal ini di hadapan banyak orang? Saya yakin citra anda akan langsung berubah!'.
Wajah Ares memerah saat dia mendengar suara desahan dari mulut nyonya nya. Dan entah kenapa lift ini lambat sekali saat turun ke bawah. Membuat Ares merasa sangat frustasi karena harus menjadi orang ketiga saat tuan dan nyonya nya tengah asik bermain dengan nafsu.
ððððððððððððððððð
ðĪŠðĪŠðĪŠðĪŠðĪŠðĪŠðĪŠ
...ðŧ VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...ðŧ IG: nini_rifani...
__ADS_1
...ðŧ FB: Nini Lup'ss...
...ðŧ WA: 0857-5844-6308...