Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Berbuah Manis


__ADS_3

Pukul empat pagi Yura terbangun karena memimpikan almarhum ayah mertuanya. Dia yang kaget tanpa sengaja membangunkan Bryan yang tengah terlelap.


"Ekhm, ada apa?" tanya Bryan dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"O-oh tidak apa-apa, Bry. Maaf ya jadi membangunkanmu" jawab Yura merasa tak enak.


Bryan menatap lekat wajah istrinya. Dia baru sadar kalau ternyata Yura memiliki wajah yang sangat cantik meski tak memakai make-up apapun. Untuk beberapa saat lamanya Bryan hanya diam terpaku sambil memandangi wajah Yura, yang mana perbuatannya itu membuat sang istri merasa kikuk.


"Bryan, kau kenapa menatapku seperti itu?.


"Karena aku baru sadar kalau istriku sangat cantik" jawab Bryan jujur. "Rupanya selama ini mataku benar-benar sudah buta, Yura. Aku bahkan sampai tidak menyadari kalau ada bidadari yang selalu ada di sampingku. Hmm, untung Eleanor cepat menyadarkan aku. Jika tidak, bidadari cantik ini pasti sudah terbang entah kemana!.


Glukkkk


Yura terbengang kaget. Dia tidak paham kenapa suaminya jadi bicara melantur begini setelah bangun dari tidur. Apa karena Bryan terkejut makanya dia jadi terlihat sedikit aneh? Yura bertanya-tanya dalam hati.


"K-kau ini bicara apa sih, Bry" ucap Yura gugup saat suaminya tak henti menatapnya intens. "Le-lebih baik kau tidur lagi saja. Ini masih pagi, mungkin kau kelelahan makanya bicara aneh begini."


Sudut bibir Bryan tertarik ke atas. Jika di perhatikan dengan baik, ada sedikit kesamaan sikap antara Yura dengan Sandara. Kedua wanita ini memiliki reaksi yang sama-sama pemalu jika dia sudah menatapnya. Hanya bedanya Yura terlihat begitu gugup, sedangkan Sandara pipinya akan langsung merona, tapi pembawaannya selalu tenang. Entah sedang merindukan Sandara atau karena memang Bryan sudah memantapkan hati untuk Yura, satu tangannya terulur mengusap pipi wanita yang sudah begitu setia hidup bersamanya meski selalu di sia-siakan. Lembut, ini adalah kesan pertama yang Bryan dapat setelah sembilan belas tahun menikah dengan Yura.


"B-Bryan, kau kenapa sih?" tanya Yura dengan hati yang tidak karu-karuan.


Ya Tuhan, Bryan menyentuhku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku pura-pura sakit perut? Tapi kan ini yang aku tunggu-tunggu selama ini? Astaga Yura, kenapa kau jadi seperti gadis remaja saja sih. Bryan ini kan suamimu, wajarlah kalau dia ingin menyentuhmu. Jangan panik, oke... Relaks, tarik nafas, buang perlahan... Yakin, Bryan adalah suamimu. Bukan sesuatu yang salah jika kalian bersentuhan seperti ini. Yakin Yura, yakin!.


"Yura, maaf ya aku sudah mengabaikan kebutuhanmu selama ini. Aku sungguh gelap mata, aku terpaku dalam kesedihan setelah kehilangan Sandara dan juga Eleanor kecil sampai-sampai aku abai akan kewajibanku. Mungkin sekarang kita sudah tua, tapi tidak ada salahnya kan kalau kita memulainya lagi dari awal? Semua ini belum terlambat bagi kita untuk memadu kasih bukan?" tanya Bryan dengan suara yang mulai serak.


Bryan adalah pria normal. Sudah belasan tahun lamanya sang junior tak lagi bekerja. Di tambah lagi saat ini sedang dalam suasana yang... em sedikit hangat. Membuat jiwa-jiwa panas di tubuh Bryan memberontak menuntut untuk segera di puaskan.

__ADS_1


"Tidak ada yang terlambat, Bry. Aku ikhlas menjadi istrimu apapun keadaannya. Segala suka duka yang pernah kita lewati tak sedikit pun membuatku ingin berpaling. Aku tahu bagaimana sedihnya ketika kita di tinggal oleh orang-orang terkasih, jadi aku tidak bisa menyalahkanmu waktu itu. Apalagi kepergian Sandara dan Eleanor begitu tiba-tiba, kau pasti sangat terpukul. Dan satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah tetap berdiri di sisimu untuk memberi dukungan. Yah meskipun tidak di pungkiri kalau saat itu keberadaanku tidak terlihat, tapi aku senang bisa tetap ada di kala kau sedang terluka. Aku sangat mencintaimu, Bryan. Cintaku membuatku lupa akan semua rasa sakit yang pernah kau beri!" jawab Yura yang akhirnya ikut terbawa perasaan.


"Yura, tidakkah ada sebersit rasa benci di hatimu? Sedikit saja?.


Manik mata Yura menatap seksama ke wajah suaminya. Dia tersenyum, sadar kalau suaminya ini mulai terbakar n*fsu. Meski Yura tak pernah di sentuh oleh pria mana pun, dia cukup paham dengan gelagat pria di sampingnya kalau sebentar lagi pria ini akan segera mengambil mahkota yang selama ini dia jaga dengan baik. Yura sudah siap, sangat siap malah.


"Munafik kalau aku bilang tidak ada, Bry. Tapi kebencian itu hanya sekilas, dia luntur terbawa arus cintaku. Entahlah, rasanya malu membahas tentang hal-hal seperti ini. Tapi aku jujur kalau aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar tulus ingin hidup bersamamu sampai ajal menjemput!.


Deru nafas Bryan kian tak terkendali. Bahagianya membuncah tatkala mendengar ketulusan yang di lontarkan oleh istrinya. Dalam sekali gerakan, Bryan kini sudah berada di atas tubuhnya Yura. Dia tersenyum saat wanita yang selalu dia sia-siakan memberi sambutan yang cukup baik.


"Lakukan saja, semua ini memang untukmu Bry!" ucap Yura saat menyadari kalau suaminya seperti sedang menahan diri.


"Aku sudah libur panjang, sayang. Mungkin akan sedikit tergesa-gesa" sahut Bryan dengan satu tangan mulai membuka kancing piyama istrinya.


Pandangan mata Yura beralih ke arah lain saat pakaian atasnya berhasil di buka oleh Bryan. Bukannya apa, selama ini tak pernah ada satu pun pria yang menyentuhnya. Jadi wajarlah kalau dia sedikit gugup dan juga malu.


"Bryan, t-tunggu dulu!.


"Apa sayang?" sahut Bryan tanpa menghentikan aktivitasnya yang sibuk mengabsen bagian tubuh istrinya.


"Aku... ini, aku... itu Bry."


Kening Bryan mengerut. Dia kemudian mendongak menatap mata istrinya begitu menyadari sesuatu.


"Jangan bilang kau belum pernah bercinta selama ini, Yura."


Dengan malu-malu Yura menganggukkan kepala. Wajahnya terasa begitu panas seperti terbakar api ketika dia melihat senyum aneh di bibir suaminya. Yura tahu, Bryan benar-benar sudah di kuasai n*fsu.

__ADS_1


"Pelan-pelan ya. Banyak yang bilang kalau pertama kali rasanya akan sedikit sakit" bisik Yura dengan wajah memerah seperti buah tomat.


Timbul niat jahat di hati Bryan melihat istrinya yang terlihat begitu gugup. Sungguh, Bryan tidak menyangka kalau Yura itu masih ting-ting. Dia pikir selama ini Yura selalu mencari pelampiasan di luar karena selalu dia abaikan. Dan ternyata dugaan Bryan salah, Yura-nya begitu menjaga harga dirinya sebagai seorang istri.


"Kau tahu tidak, ada banyak wanita yang jatuh pingsan saat pertama kali melakukannya."


"Benarkah?.


Mata Yura terbelalak lebar. Jantungnya berdegup dengan sangat kuat.


"Tentu saja itu benar, sayang. Dan sekarang aku juga akan membuatmu pingsan seperti mereka" sahut Bryan kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


Yura memekik kaget ketika Bryan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Meskipun takut, nyatanya Yura begitu menikmati sentuhan ini. Dia seperti terbang melayang ketika Bryan memberinya rasa yang begitu luar biasa.


"Aku akan melakukannya sekarang. Tahan ya, mungkin akan sedikit sakit, tapi hanya sebentar" bisik Bryan ketika dia akan mencicipi hidangan utama.


"Aku percaya padamu, Bry."


Dan akhirnya, penantian panjang Yura pun berbuah manis. Dia mendapatkan haknya sebagai seorang istri setelah penderitaan panjang yang dia lewati. Meski kokok ayam mulai terdengar, baik Yura maupun Bryan, mereka sama-sama enggan untuk menyudahi penyatuan mereka. Terlalu manis untuk di lukiskan dengan kata-kata, karena sekarang benih cinta mulai tumbuh subur di hati masing-masing.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


...🌻VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻IG: rifani_nini...

__ADS_1


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2