
"Cia, semalam kau pulang jam berapa? Kenapa tidak pergi ke rumah sakit menjenguk ayahmu nak?" tanya Yura sambil menatap dalam kearah putrinya yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Patricia berusaha untuk memperlihatkan raut wajah penuh penyesalan begitu mendengar pertanyaan ibunya. Dia sebenarnya sangat malas untuk pergi ke rumah sakit. Hatinya terlalu meradang setelah menyaksikan betapa ayahnya menggila saat mencari keberadaan Eleanor. Saat di beritahu kalau ayahnya mengalami kecelakaan, Patricia bahkan berharap kalau pria tidak adil itu mati. Tapi Tuhan sedang tak berpihak padanya karena ayahnya berhasil selamat dari kecelakaan tersebut.
"Semalam aku pulang sudah lewat tengah malam, Bu. Maaf ya, aku belum sempat menjenguk Ayah di rumah sakit. Tapi rencananya sebelum berangkat ke perusahaan aku akan kesana dulu" jawab Patricia beralasan. "Ibu sendiri kenapa ada di rumah? Apa Ayah tidak mengizinkan Ibu menemaninya di rumah sakit?."
Wajah Yura berubah sendu. Dia lalu menggandeng tangan putrinya menuju ruang makan. "Patricia, kau jangan terlalu lelah. Sekali-kali pergilah senangkan hidupmu. Kau masih muda, jangan hanya terpaku pada pekerjaan yang tiada habisnya itu sayang!."
"Bu, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku yakin Ayah pasti tidak mengizinkan Ibu menginap di rumah sakit kan?" cecar Patricia sakit hati melihat reaksi sedih ibunya.
"Sudahlah jangan bahas masalah itu. Mungkin Ayahmu memerlukan waktu untuk sendiri dulu setelah mendengar kenyataan yang selama ini di sembunyikan oleh Kakekmu. Kita harus bisa memakluminya, Cia. Karena bagaimana pun kenyataan itu sangat menyakiti hati Ayahmu" jawab Yura berusaha untuk tegar.
Patricia menepis tangan ibunya dengan kasar. "Semua ini gara-gara gadis sialan itu, Bu. Lagipula untuk apa sih dia muncul setelah bertahun-tahun menghilang? Tapi Ibu tenang saja. Aku tidak akan membiarkannya merusak keutuhan keluarga ini. Dia tidak pantas ada di tengah-tengah kita!."
"Cia, jangan seperti itu nak. Ayahmu sangat berharap bisa bertemu dengan Eleanor. Kau tidak boleh menghalangi pertemuan mereka" sahut Yura setengah tidak rela.
"Aku tidak peduli Bu. Sudah cukup selama ini Ayah mengabaikan keberadaan kita berdua. Jika gadis sialan itu benar-benar kembali ke rumah ini, posisi kita pasti terancam Bu. Ayah dan Kakek pasti tidak akan peduli lagi pada kita. Ibu harus sadar itu Bu, Ibu harus percaya dengan ucapanku!" geram Patricia.
Yura terdiam. Entahlah, setengah hatinya melarang untuk menyetujui keinginan putrinya. Tapi setengah hatinya lagi mendukung niat Patricia yang ingin menyingkirkan anak kandung suaminya. Yura juga tidak bodoh, dia sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada hidupnya jika gadis itu kembali ke rumah ini. Sudah bisa di pastikan kalau dia dan putrinya akan berubah menjadi makhluk tak kasat mata di mata suami dan ayah mertuanya kelak. Yura sangat tidak menginginkan hal tersebut, tapi....
"Bu, aku melakukan ini semua demi kebahagiaan Ayah dan Ibu. Aku tidak mau kalian berjarak lagi karena kehadiran gadis sialan itu. Sekarang tidak peduli Ibu setuju atau tidak aku akan tetap menyingkirkannya. Apapun yang terjadi!" ucap Patricia kemudian pergi keluar. Dia tak mempedulikan teriakan ibunya yang memintanya untuk berhenti. Kebenciannya terhadap Eleanor semakin memuncak mengingat betapa menyedihkan wajah ibunya tadi.
Dengan di liputi amarah yang sangat besar, Patricia pergi meninggalkan rumahnya. Di tengah jalan, dia menghubungi orang suruhannya untuk sesegera mungkin menemukan Eleanor. Parasit itu harus segera di lenyapkan sebelum ayahnya berhasil membawanya pulang ke rumah. Bisa hancur semua rencananya yang ingin menguasai seluruh harta milik Keluarga Ma. Karena bagaimana pun Patricia juga sadar Eleanor lah pewaris sebenarnya, bukan dia.
Brrraaaakkkkk
__ADS_1
"Shiittttttt!" umpat Patricia saat ada yang menabrak mobilnya dari arah belakang.
Baru saja Patricia hendak keluar dari dalam mobilnya, tiba-tiba ada yang mengetuk jendela. Kekesalannya semakin bertambah begitu dia melihat siapa orang yang sedang tersenyum sambil terus mengetuk kaca mobil.
"Sayang, ayo cepat buka jendelanya sekarang. Jangan paksa aku merusak mobil mahalmu ini ya" bujuk Junio di barengi dengan smirk mesum di bibirnya.
Sadar kalau ancaman itu bukan main-main, dengan malas Patricia membuka kaca mobil. Dia menatap bengis kearah pria yang kini sedang bertumpu dagu di dekat jendela.
"Mau apa kau? Apa kau tidak punya otak sampai harus menabrak mobilku hah!" tanya Patricia kesal.
"Wettsss santai sayang. Tadi itu aku tidak sengaja menabraknya" jawab Junio seraya mengangkat dua jarinya keatas. "Lagipula siapa suruh kau tidak merespon panggilanku. Jadi ya aku memakai cara lain untuk menarik perhatianmu!."
"Kau gila Junio. Tahu tidak perbuatanmu itu bisa mencelakaiku. Memangnya kau mau bertanggung jawab jika sampai terjadi sesuatu padaku hah!" sentak Patricia semakin terbakar emosi.
Junio tersenyum. Satu tangannya bergerak mencengkeram pipi Patricia. Senyumnya yang tadi terlihat mesum, kini beralih menjadi senyum yang sangat mengerikan. Dia sedikit tidak suka saat di bentak oleh wanita yang terus menatapnya dengan penuh kebencian. "Sebaiknya kau jangan berbicara dengan nada tinggi jika sedang bersamaku, Patricia. Aku memang tertarik padamu, tapi bukan berarti aku akan mengalah begitu saja saat harga diriku sebagai pria di rendahkan. Kau boleh saja angkuh dan bersikap cetus, tapi ingat, di hadapan seorang Junio, kau haruslah menjadi wanita yang lembut dan patuh. Mengerti!."
Rahang Junio mengetat. Dengan kasar dia mendorong wajah Patricia hingga tertoleh kearah samping. Setelah itu Junio membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam. Patricia yang sadar ada bahaya mendekat berniat keluar melarikan diri. Namun sayang, niatnya langsung terbaca begitu saja oleh Junio. Dengan kasar pria itu menarik rambutnya hingga kepala Patricia tertunduk ke pangkuannya. "Mau kemana hem?" sinis Junio.
"Lepaskan rambutku, brengsek!."
Plaaaakkkkk
"Sudah kubilang jangan membentakku. Kau ingin mati ya!" amuk Junio setelah menampar pipi Patricia dengan sangat kuat. "Patricia, aku ingatkan kau sekali lagi. Jangan memancing amarahku atau kau akan sangat menyesal!."
Nafas Patricia memburu. Dia lalu memegang pipinya, tidak paham dengan apa yang di lakukan oleh pria sinting di sebelahnya. "Junio, aku tidak tahu apa motifmu mendekatiku selama ini. Dan juga, sikap kasarmu barusan tidak akan pernah aku lupakan. Mungkin sekarang kau menang, tapi bukan berarti aku mengaku kalah. Kau harus mengerti siapa wanita yang sedang kau ancam. Jangan kau pikir aku akantakut dengan gertakanmu, seorang Patricia Young tidak akan pernah takut pada siapapun. Ingat itu Morigan Junio yang terhormat!."
__ADS_1
Junio tertegun melihat keberanian di diri Patricia. Bukannya tersinggung, kali ini malah semakin tertantang untuk bisa memilikinya. Biarlah, untuk sekarang lebih baik dia yang mengalah dulu. Perlu cara yang cukup cerdik agar bisa menjerat wanita cantik ini sebelum menjadikan dia koleksi manekin di rumahnya.
"Sayang, aku jadi semakin jatuh cinta padamu. Pertahankan ya, aku akan menunggu aksimu selanjutnya. Errgghh, kau sangat galak seperti jaguar, dan aku bangga memilikimu" puji Junio sembari membelai bekas luka yang dia buat di wajah Patricia. "Baiklah, sekarang aku pergi dulu. Jangan merindukan aku ya?."
"A*jing! Di bunuh pun aku tidak akan sudi merindukan pria menjijikkan sepertimu, Junio. Pergi dan jangan pernah temui aku lagi. Aku muak melihat wajahmu k*parat!" hardik Patricia saat Junio hendak keluar dari mobilnya.
Junio tertawa senang mendengar teriakan frustasi dari Patricia. Sebelum benar-benar pergi, dia masih menyempatkan diri untuk memberikan kiss bye pada wanita yang sedang memelototkan mata kearahnya.
"Bajingan kau Junio!."
"Hahahahaha... Iya sayang aku tahu kau sangat mencintaiku. Jangan khawatir, aku juga sangat mencintaimu" sahut Junio seraya melenggang masuk ke mobilnya.
Patricia yang sedang emosi segera memacu kendaraannya dengan sangat cepat. Sudah cukup dia di buat kesal karena ulah ayahnya yang mengacuhkan ibunya, di tambah lagi dia harus menghadapi kegilaan seorang pria abnormal seperti Junio yang dengan gilanya menabrak mobil bahkan memukulnya juga. Entahlah, pagi ini nasib Patricia benar-benar sangat sial. Membuat emosinya semakin memuncak.
"Arrrggghhh, awas kau Junio kalau masih berani menggangguku. Jangan salahkan aku jika suatu hari aku mengirimkan seseorang untuk menyingkirkanmu dari dunia ini. Aargg, sialan!" umpat Patricia sambil memukuli stir mobil.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...