
Seperti biasa, Gabrielle mengamankan semua tempat sebelum datang mengunjungi ruang rawat ayah mertuanya. Dia dengan sayang mendorong kursi roda istrinya, tersenyum saat wanita cantik ini terlihat sudah tidak sabar ingin segera sampai di sana.
"Ekhm, sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga di sini!."
Mendengar ledekan suaminya membuat Elea tersenyum malu. Ya, dia memang sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan ayahnya. "Hehehe, Kak Iel bisa saja."
"Terlihat jelas di wajahmu sayang" ucap Gabrielle kemudian membuka pintu ruangan. "Selamat pagi Ayah mertua!."
"Ayah, selamat pagi" sapa Elea dengan mata berbinar.
Bryan yang memang sedang menunggu kedatangan putri dan menantunya segera berjalan cepat kearah mereka. Dia lalu berjongkok, menggenggam tangan putrinya yang masih duduk di kursi roda. "Selamat pagi juga menantu dan putri kesayangan Ayah. Bagaimana kabarmu hari ini? Kenapa masih duduk di kursi roda?."
Elea mendongak, menatap wajah tampan suaminya. "Ayah, Kak Iel yang berlebihan. Aku itu tidak lumpuh, tapi dia memaksaku untuk duduk di sini jika ingin datang kemari. Padahal jelas-jelas semalam kita..
"Oh iya Ayah, nanti malam adikku akan menggelar pesta pernikahan. Jika Ayah sudah baik-baik saja datanglah kesana!" ucap Gabrielle cepat memotong perkataan istrinya.
'Astaga Elea, bagaimana bisa kau ingin menceritakan pada Ayah tentang kegiatan kita semalam? Bisa-bisa Ayah menganggapku menantu yang tidak baik karena tetap menidurimu dalam keadaan sakit. Ya Tuhan, ternyata istriku tetaplah gadis yang masih sangat polos. Hmmm..'
Bryan tersenyum. Dia bukan tidak tahu apa yang ingin di sampaikan oleh putrinya. Tapi karena tak mau membuat menantunya merasa malu, Bryan akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan menjawab tawaran Gabrielle untuk datang ke resepsi pernikahan adiknya.
"Baiklah, nanti malam Ayah akan datang kesana. Gabrielle, apa Eleanor juga akan datang ke pesta itu?."
"Iya Ayah" jawab Gabrielle lega karena ayah mertuanya tidak membahas celetukan nyeleneh istrinya. "Nanti Ayah ajak semua orang untuk datang. Undangan ini resmi dari Ayah dan Ibuku!."
Bryan mengangguk senang. Setelah itu dia terdiam, menatap putrinya yang terlihat berbunga-bunga. "Em Gabrielle, apa tidak apa-apa jika Ayah membawa semua orang ke pernikahan adikmu? Bagaimana nanti jika mereka bertemu dengan Eleanor? Ayahku, maksud Ayah kakeknya Eleanor masih belum tahu kalau Ayah sudah bertemu dengannya. Apa yang harus Ayah katakan padanya nanti?."
Senyum Elea langsung meredup. Dia kembali mendongak saat bahunya di elus pelan oleh suaminya. "Kak Iel, aku tidak membenci Kakek, sungguh. Tapi, tapi...
__ADS_1
"Iya sayang aku tahu. Tapi aku juga tidak mungkin terus-menerus menyembunyikanmu dari mereka. Justru aku ingin menggunakan moment nanti malam untuk memperkenalkanmu ke wajah publik" sahut Gabrielle. "Tapi tenang saja, aku hanya akan mengatakan kalau kau itu kekasihku, bukan istriku."
"Kenapa begitu? Memangnya Kakak mau menikah lagi ya?" tanya Elea lirih. Sedih, tentu saja.
"Astaga sayang, bukan seperti itu maksudku. Dengarkan aku baik-baik. Bukankah kau sendiri yang menolak untuk memberitahu dunia tentang hubungan kita? Jadi aku sengaja menggunakan moment ini untuk mengumumkan kalau kita adalah pasangan kekasih agar ke depannya tidak ada yang mengganggumu, apalagi mata pria hidung belang yang aku yakin akan langsung terpesona setelah melihatmu nanti!" jawab Gabrielle meluruskan kesalahpahaman istrinya.
Mendengar perkataan absurd menantunya membuat Bryan menoleh kearah lain. Entahlah, pasangan suami istri ini terlihat begitu manis. Yang pria sedang menunjukkan rasa cinta dan cemburunya, sedang yang wanita seakan tidak peka dengan maksud si pria. Hal ini mengingatkan Bryan pada Sandara, mendiang istrinya yang memiliki sikap sama persis seperti putrinya. Polos dan bodoh, namun penuh misteri. Mengingat akan kemampuan istrinya, cepat-cepat Bryan menanyakan hal tersebut pada Eleanor. Dia hanya berharap jika kemampuan yang di miliki mendiang istrinya tidak menurun pada putri mereka.
"Eleanor, boleh Ayah menanyakan sesuatu yang sangat penting padamu?."
Elea yang saat itu tengah tersipu karena di goda oleh suaminya segera melihat kearah ayahnya. Dia kemudian mengangguk mempersilahkan ayahnya untuk bertanya.
"Itu, apa kau merasakan sesuatu yang berbeda dalam hidupmu?" tanya Bryan hati-hati kemudian melirik sekilas kearah menantunya.
"Maksud Ayah?" beo Elea tak paham.
Gabrielle tanggap. Mungkin ini adalah jalan untuk kembali membuka rahasia tentang keluarga asli dari istri dan mendiang ibu mertuanya. "Ayah, Elea memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan juga pada orang-orang yang berada di sekitarnya!."
Di cecar seperti itu membuat Gabrielle dan Elea mengerutkan kening heran. Mereka tidak paham kenapa ayah mereka terlihat begitu khawatir dan juga gelisah.
"Ayah, seperti apapun Elea aku tidak akan mungkin meninggalkannya. Tidak peduli meskipun dia lumpuh bagaikan mayat. Aku mencintainya, aku juga bersedia menerima semua kekurangan yang ada di diri Elea" jawab Gabrielle serius.
"Iya Ayah. Kak Iel tidak membenciku setelah tahu kalau aku bisa melihat masa depan. Dia tetap menyayangiku sama seperti di awal bertemu" imbuh Elea ikut menimpali.
"Syukurlah, syukurlah" ucap Bryan kemudian luruh ke lantai sembari mengusap dada. "Nenek dan Ibumu tidak seberuntung dirimu Nak. Mereka, mereka di anggap monster karena sering menyebut sesuatu yang belum terjadi. Kau sangat beruntung sayang, kau benar-benar sangat beruntung!."
Ucapan ayah mertuanya semakin membuat Gabrielle penasaran dengan teka-teki keluarga besar ibunya Elea. Memikirkan hal ini membuat kepalanya berdenyut, tidak menyangka kalau garis keturunan istrinya bisa begitu rumit.
__ADS_1
"Ayah, Ayah baik-baik saja?" tanya Elea khawatir kemudian turun dari kursi roda. Dia lalu menghampiri ayahnya yang masih terduduk diam di lantai.
"Ayah tidak apa-apa, Nak. Hanya sedikit kaget karena kau mewarisi kemampuan ibumu" jawab Bryan sambil mengusap kepala putrinya. "Sudah jangan di bahas lagi ya. Nanti jika waktunya sudah tepat Ayah akan menceritakan semuanya pada kalian. Sekarang lebih baik kita membahas yang indah-indah saja dulu. Tentang pakaian yang akan kalian kenakan nanti malam mungkin!."
Elea mengangguk patuh. Dia berusaha untuk terlihat tegar meski sebenarnya dia sangat amat penasaran tentang latar belakang ibunya. Elea kemudian membantu ayahnya untuk duduk, dia tersenyum melihat suaminya yang cekatan mengambilkan air minum.
"Gabrielle, nanti saat Ayah bertemu dengan kalian di pesta apa yang harus Ayah lakukan? Berpura-pura tidak kenal atau menyapa kalian secara langsung?" tanya Bryan setelah meminum air yang di ambilkan oleh menantunya.
"Itu terserah Elea saja, Ayah. Yang jelas, kami akan datang sebagai pasangan kekasih. Mungkin juga berita ini akan langsung menyebar saat para wartawan yang ada di sana mengambil foto kami berdua" jawab Gabrielle sambil mendudukkan bokongnya di samping Elea. "Bagaimana sayang, apa kau punya saran?."
"Tidak. Aku menurut saja dengan apa yang di katakan Kak Iel nanti!."
"Gadis baik" puji Gabrielle bangga.
"Tapi sepertinya Kakekmu tidak bisa ikut, Eleanor. Beliau sudah tua, juga sudah tidak pernah lagi menghadiri acara-acara seperti ini. Di tambah lagi sekarang keadaannya sedang tidak begitu sehat. Tidak apa-apa kan kalau kau hanya akan bertemu dengan ibu dan saudara tirimu dulu?" ucap Bryan menjelaskan kondisi ayahnya.
"Tidak apa-apa, Ayah. Nanti saja aku akan meminta Kak Iel menemaniku pergi mengunjungi Kakek" sahut Elea lirih. Ada rasa ketidaktegaan saat mendengar kondisi kakeknya yang sedang tidak baik. Mungkin Elea masih merasa sakit dan kecewa, tapi hal itu terkalahkan oleh kelembutan hatinya.
"Iya Ayah, aku setuju dengan ide Elea" timpal Gabrielle sambil mengelus punggung istrinya yang tiba-tiba terlihat murung.
Setelah itu, ketiganya hanyut dalam perbincangan yang hangat. Di sana Elea juga menyempatkan diri untuk mengemasi pakaian ayahnya karena setelah mereka pergi, ayahnya akan langsung pulang ke rumah untuk bersiap mengunjungi pesta pernikahan adik iparnya. Dalam kebersamaan itu, Elea masih tidak menyangka kalau dia memiliki seorang ayah yang begitu penyayang. Sangat jauh dari dugaannya selama ini yang mengira kalau ayahnya adalah orang jahat sama seperti kakek dan neneknya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...