Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Cepatlah Pulang!


__ADS_3

Praaanngggg


Dengan sangat marah Patricia melemparkan sepatu kearah cermin riasnya. Darahnya seperti mendidih setelah mendapat kabar kalau orang yang dia suruh untuk membunuh Elea hilang tak berbekas. Patricia tahu, sangat tahu kalau itu pasti perbuatannya Gabrielle. Pria pujaannya itu yang telah menyingkirkan orang-orangnya.


"Sialan kau Gabrielle. Kenapa kau harus menjadi penghalang untuk hubungan kita. Aku melakukan ini semua demi agar kita bisa secepatnya bersama. Tapi kenapa kau malah merusak semuanya hah! Kenapa Gabrielle!" teriak Patricia menggila.


Patricia berjalan mondar-mandir di dalam kamar apartemennya sambil meremas rambut. Dia mencoba memikirkan cara lain untuk membunuh Elea. Dia tidak tahan, Patricia muak setiap kali terbayang kebersamaan gadis sialan itu dengan pria pujaannya. Hatinya seperti di remas-remas.


"Tidak bisa, aku tidak boleh membiarkan hubungan mereka terus terjalin. Apapun yang terjadi Gabrielle harus secepatnya berpisah dari Elea. Aku bisa mati berdiri kalau harus terus-terusan melihat kebersamaan mereka!.


Saat Patricia sedang di landa kekhawatiran, tiba-tiba sebuah nama muncul di pikirannya. Dia kemudian menyeringai jahat.


"Ya, Jack-Gal. Hanya dia yang bisa di andalkan untuk menghabisi Elea. Hahahahaa, Elea-Elea, kali ini kau tidak akan bisa lari lagi dari maut. Kau pasti mati Elea. Hahahahaha!.


Tanpa membuang waktu lagi Patricia bergegas pergi untuk mencari tahu dimana keberadaan pembunuh bayaran itu. Dia mengemudikan mobil sembari menghubungi salah seorang preman yang selama ini dia pelihara.


"Cari tahu nomor Jack-Gal yang bisa di hubungi. Katakan padanya kalau aku ingin memintanya untuk membunuh seseorang. Berapapun bayaran yang dia minta akan aku berikan!.


"Tapi Nona, sudah beberapa hari terakhir ini Jack-Gal tidak bisa di temui di manapun. Bahkan kaki tangannya juga hilang tak berbekas. Sepertinya mereka sudah tidak ada lagi di negara ini!.


"Apaa????" teriak Patricia kaget sambil mencengkeram stir mobil.


Gigi Patricia menggeretak ketika tahu kalau satu-satunya harapan yang dia punya tidak di ketahui keberadaannya. Emosi yang tadi sudah mereda kini kembali membara. Hampir saja dia menabrak seorang pegendara motor karena terlalu kesal dengan kabar tersebut.


"Arrrggghhh sial, sial sial! Kenapa juga Jack-Gal harus menghilang di saat genting seperti ini. Aarrgghhh brengsek!.

__ADS_1


"Nona, kalau Nona mau saya bisa mengenalkan seseorang kepada anda. Dia juga tak kalah hebat seperti Jack-Gal. Bagaimana? Apa Nona tertarik untuk mempekerjakan teman saya?.


Patricia diam berfikir. Kalau orang suruhannya saja berhasil di singkirkan dengan begitu mudah oleh anak buah Gabrielle, akan sangat sia-sia kalau dia harus membuang uang untuk membayar preman yang belum dia ketahui seperti apa kemampuannya.


"Lupakan saja. Aku hanya ingin Jack-Gal, tidak peduli mau sekuat apapun temanmu itu. Kalian tetaplah mencari cara untuk bisa menemukannya, nanti aku akan memberimu hadiah jika berhasil mempertemukan aku dengan pembunuh itu. Ingat, semakin cepat kalian menemukan Jack-Gal, maka akan semakin besar juga hadiah yang akan kalian dapat dariku. Paham?.


"Hahahaha, ini yang saya suka dari anda, Nona Patricia. Baiklah, sesuai keinginan Nona kami akan segera mencari pembunuh bayaran itu secepat mungkin dan membawanya ke hadapan anda. Kalau begitu kita sambung lagi nanti. Saya akan segera menyebar orang untuk mencari tahu dimana Jack-Gal bersembunyi. Selamat malam, Nona cantik!.


Patricia kembali menyimpan ponsel di dalam tasnya setelah panggilannya terputus. Karena sudah terlanjur berada di luar apartemen, Patricia akhirnya memutuskan untuk pergi ke club saja. Dia membutuhkan air surga barang segelas untuk memuaskan dahaganya yang sempat mendidih tadi.


Di saat Patricia sedang meminta anak buahnya untuk mencari tahu dimana keberadaan Jack-Gal, di tempat lain, atau lebih tepatnya di hutan dalam perbukitan terlihat seorang pria bertubuh kurus tengah tergeletak tak berdaya diatas tanah. Jackson, seharian ini dia terus berlari menghindari Elea yang tidak berhenti mengejarnya. Nampak luka-luka bekas sabetan di kaki dan tubuh Jackson yang dia dapatkan saat menembus semak-semak berduri tadi.


Hosshhh, hoosshhh


"A-aku ti-tidak kuat la-lagi" gumam Jackson putus asa.


Tanpa terasa airmata Jackson menetes dari sudut matanya. Tidak ada kata-kata yang cocok untuk menggambarkan betapa berat siksaan yang sedang dia rasakan sekarang. Jackson menangis, dia tersedu-sedu memikirkan nasib hidupnya yang harus berakhir tragis seperti ini. Seandainya saja dia mendengarkan perkataan Fendry yang memperingatkannya agar tidak mencari masalah dengan Keluraga Ma, mungkin kisah hidupnya tidak akan seperti ini. Semua ini bisa terjadi karena kearoganannya sendiri yang begitu terobsesi ingin mendapatkan Eleanor meskipun dia tahu kalau gadis kecilnya sudah menjadi menantu Nyonya Liona. Ya, Jackson mengakui kesombongan yang tertanam di dirinya ketika dia dengan begitu yakin bisa merebut Elea dari tangan Gabrielle. Dan hasil dari kearoganan dan kesombongannya adalah hidupnya yang kini harus menjadi bulan-bulanan dari keluarga mengerikan itu.


"Nyonya Liona, aku menyerah. Aku menyerah!.


Di kediaman Liona, semua mata kini tengah menatap takjub pada tuan rumah yang sedang duduk santai sembari menikmati wine kesukaannya. Sesuai prediksi, Jackson akhirnya sadar kalau rumah ini adalah tempat ternyaman dari ketakutan yang sedang membelenggunya. Pria mengenaskan itu perlahan-lahan mulai kembali menuju gerbang rumah dimana Liona dan semua penghuninya sudah menunggu tepat di depan pintu masuk utama.


"Honey, perlukah kita membuat acara sambutan untuk menyambut kembalinya Jackson ke rumah ini?" tanya Greg sembari menatap penuh cinta pada wanita yang sedang duduk diatas pangkuannya.


"Tidak perlu, Greg. Biar Lan saja yang menyambut kepulangannya nanti. Bukankah pagi ini mereka berdua melewatkan olahraga bersama yang biasa mereka lakukan setiap harinya? Lan pasti akan sangat bahagia ketika tahu kalau teman dekatnya sudah kembali lagi ke rumah ini" jawab Liona dengan santai.

__ADS_1


Greg tersenyum. Luar biasa, setiap hal yang sudah masuk ke dalam rencana istrinya pasti akan selalu berakhir dengan sangat memuaskan. Meski awalnya Greg sempat merasa ragu karena Jackson yang masih belum mau menyerah di saat hari mulai malam, namun sekarang keraguannya terjawab sudah. Dokter itu tahu kemana harus kembali. Dan saat ini semua orang sedang menantikan kemunculannya. Istrinya benar-benar sangat luar biasa bukan?.


"Nyonya, Tuan Muda Gabrielle bilang dia belum sempat membicarakan hal ini pada Nona Elea karena Nona Elea sedang sibuk merawat Tuan Karim yang sedang tidak sehat!" lapor Hansen.


Liona menarik nafas dalam.


"Biarkan saja. Saat ini Tuan Karim sedang sangat membutuhkan banyak asupan tenaga untuk menghadap badai besar yang sebentar lagi akan segera datang. Aku bahkan sedikit ragu kalau pria renta itu mampu bertahan hidup ketika Nyonya Clarissa meminta penjelasannya. Tapi ya sudahlah, ini adalah konsekuensi dari apa yang pernah di buatnya dulu. Karena apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Karma selalu ada bagi semua manusia yang buta akan hawa nafsu. Sayang sekali istri pria renta itu sudah mati. Padahal wanita iblis itulah yang sudah membuat kekacauan turun-temurun di kehidupan besan dan menantuku!.


"Perlukah saya membongkar makam istrinya Tuan Karim, Nyonya Liona?" tanya Hansen dengan smirk jahat di sudut bibirnya.


"Tidak ada gunanya kita berurusan dengan tulang-belulang orang yang sudah lama mati, Hansen. Orang kejam sepertinya pasti tidak akan bisa mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan. Seandainya kita bisa melihat, aku yakin sekali wanita kejam itu pasti sedang meraung meminta pengampunan atas semua dosa-dosa yang pernah dia lakukan semasa hidup. Jadi biarlah Tuhan saja yang menghukumnya. Karena hukum Tuhan adalah yang paling mutlak dan kekal!" jawab Liona kemudian meneguk habis wine di gelasnya.


Semua orang mengangguk setuju dengan jawaban nyonya si pemilik rumah. Mereka kemudian kembali fokus menatap kearah pintu gerbang, menunggu kehadiran seorang pria yang sejak beberapa jam lalu membuat semua orang berada disini.


"Cepatlah pulang, Jackson. Kau terlalu memaksakan diri untuk tetap bertahan di luar sana. Rumah ini adalah tempat yang paling cocok untukmu bertahan hidup, jadi cepatlah pulang. Lan sudah menunggumu!.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2