
Gabrielle, Ares, dan Cira diam memperhatikan Reinhard yang sedang memeriksa neneknya Elea. Mereka bertiga sama-sama mencemaskan keadaan wanita berwajah tegas tersebut.
"Bagaimana Rein? Grandma baik-baik saja bukan?" tanya Gabrielle tak sabar.
Reinhard menghela nafas panjang. "Sepertinya Nyonya Clarissa terlalu syok setelah mendengar kenyataan ini, Gab. Untung saja hanya tekanan darahnya yang naik, bukan serangan jantung!."
"Tapi Nyonya tidak kenapa-napa kan dok? Beliau hanya pingsan karena terkejut saja kan?" cecar Cira dengan raut wajah yang panik luar biasa.
"Untuk sekarang sepertinya iya. Tapi kita lihat setelah beliau sadar nanti. Jika ada keluhan lain, sebaiknya kita segera membawa Nyonya Clarissa ke rumah saki sajat. Aku tidak bisa memeriksa beliau sepenuhnya karena aku tidak memiliki izin kerja di negara ini. Jadi aku hanya bisa memberitahu kalian sebatas ini dulu!" ucap Reinhard menjelaskan. "Oh ya Gabrielle, apa kau tidak ingin pergi ke kamarnya Elea? Dia sangat membutuhkanmmu saat ini."
"Aku sangat ingin, tapi bagaimana dengan Grandma? Bagaimana nanti jika Elea bertanya tentang neneknya? Apa yang harus aku jawab?" sahut Gabrielle resah.
"Katakan saja kalau Nyonya Clarissa sudah istirahat di kamarnya Gab" ucap Reinhard.
'Bukan itu masalahnya, Reinhard. Elea itu tidak sebodoh yang kalian bayangkan. Dia akan langsung tahu kalau aku bicara tidak jujur kepadanya.'
"Tuan Gabrielle, kalau anda mengkhawatirkan keadaan Nona Elea, maka temui saja dia. Nyonya Clarissa biar saya saja yang menjaganya!" timpal Cira yang melihat kebimbangan di diri pria tampan tersebut. "Jika Nona Elea bertanya, katakan saja kalau Nyonya Clarissa sudah istirahat. Dengan begitu dia pasti tidak akan mencurigai anda!."
"Yang di katakan Cira sangat benar, Gabrielle. Ingatlah, istrimu itu tidak sedang baik-baik saja. Di bandingkan semua orang, keadaannya lah yang paling mengkhawatirkan. Kau jangan sampai lengah, Gab!" timpal Reinhard mengingatkan.
Gabrielle menarik nafas. "Ya sudah kalau begitu aku ke kamar dulu. Kalian tolong jaga Grandma dengan baik!."
Reinhard dan Cira kompak mengangguk. Sementara Ares, dia mengikuti langkah Tuan Muda-nya meninggalkan kamar tersebut.
Tepat di saat Ares membuka pintu kamar, Kimmy dan Fulgi datang. Mereka berempat saling bertatapan dengan tajam.
"Maaf, apa yang terjadi dengan Bibiku? Pelayan bilang Bibi Clarissa pingsan" tanya Fulgi memecah ketegangan.
"Beliau hanya sedikit tidak enak badan saja, Tuan Fulgi" jawab Ares datar. "Kalian bisa masuk ke dalam jika ingin melihat kondisi Nyonya Clarissa!."
"Lalu kalian mau pergi kemana? Dimana Elea?" tanya Kimmy sambil melongok ke dalam kamar. "Bukankah seharusnya dia ada di sini menemani Neneknya ya?."
Mata Gabrielle memicing. Dia sadar betul kalau kedua orang ini mempunyai maksud lain dengan mencari keberadaan istrinya. Tak ingin miliknya di usik, Gabrielle segera menegaskan sesuatu yang membuat kedua orang ini diam tak berkutik.
"Jika kalian ingin bermain petak umpet, maka lebih baik jangan libatkan aku dan Elea di dalamnya. Karena biasanya aku akan langsung menyingkirkan orang-orang yang memiliki niat lain dengan berkedok pada kepura-puraan. Nyonya Kimmy, aku tidak tahu apa motifmu mencari Elea. Tapi perlu ku ingatkan padamu, jangan coba-coba berfikir untuk menyentuh istri kesayanganku. Sehelai saja rambutnya hilang, bersiaplah untuk mati di tanganku. Aku tidak peduli meski kalian berdua adalah kerabat dekat Nyonya Wu!."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Gabrielle dan Ares melenggang pergi dari sana. Meninggalkan Kimmy dan Fulgi yang sedang berdiri diam sambil menahan emosi.
"Beraninya!" geram Fulgi sambil menggeretakkan gigi.
"Sssttt, tahan emosimu sayang. Di dalam kamar masih ada Cira dan temannya Gabrielle. Mereka bisa curiga kalau kau tidak bisa mengendalikan diri!" bisik Kimmy.
Fulgi menengadahkan wajahnya keatas kemudian menarik nafas kasar. Rasanya dia ingin sekali merobek mulut Gabrielle yang secara terang-terangan berani mengancam dia dan ibunya. Setelah emosinya sedikit mereka, Fulgi segera mengikuti langkah ibunya untuk masuk ke dalam kamar.
"Ekhmm maaf mengganggu. Bibiku sakit apa ya?" tanya Fulgi sambil melirik kearah ranjang dimana bibinya sedang terbaring tidak sadarkan diri.
"Oh, Nyonya Clarissa hanya sedikit tidak enak badan saja. Makanya tadi dia jatuh pingsan saat ingin mengantarkan Elea ke kamarnya" jawab Reinhard berbohong. 'Cih, jangan kalian pikir aku tidak tahu tujuan kalian datang kemari. Ingin merebut Elea dari tangan Gabrielle?? Jangan harap! Dasar kadal buntung, huh!.'
Cira yang memang sudah sangat hafal dengan tabiat kedua orang ini hanya diam saja. Dia malas menanggapi, apalagi berbicara dengan mereka. Terlalu buang-buang waktu menurut Cira.
"Oooh, jadi Elea ada di kamarnya ya?" ucap Kimmy dengan senyum seribu maksud. "Kalau begitu kita pergi kesana saja, Fulgi. Mama ingin mengobrol banyak dengan Elea!."
"Silahkan saja Nyonya, tapi di sana ada Levi. Kalau Nyonya merasa siap untuk kembali berdebat dengannya maka silahkan datang ke kamar Elea. Aku yakin Levi pasti akan senang sekali dengan kunjungan kalian!" ucap Reinhard sambil menyeringai puas.
Kimmy dan Fulgi yang baru akan berbalik badan segera berhenti. Mendengar nama Levi entah kenapa nyalinya Kimmy langsung menciut. Mulut gadis itu membuat hatinya sangat tersakiti karena kata-katanya selalu merojok pada kebenaran. Tak ingin niatnya di ketahui oleh gadis bermulut bebek itu, Kimmy akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya bersama Fulgi. Dia juga tidak sudi jika terus berada di ruangan yang sama dengan saudari tirinya ini.
"Nyonya Kimmy, apa anda perlu bantuan? Meskipun saya sedang tidak bertugas, saya bisa meresepkan obat untuk anda!" tanya Reinhard sambil tersenyum miring.
"Tidak perlu, aku tidak biasa meminum obat dari dokter asing!" sahut Kimmy cetus. "Ayo Fulgi!."
Sebelum pergi, Fulgi menyempatkan diri untuk berbalik kemudian tersenyum kearah Reinhard. Seberapapun kesal hatinya, dia harus tetap membangun image supaya dokter ini tidak menaruh curiga padanya.
Sepeninggal Kimmy dan Fulgi, Reinhard menghela nafas dalam kemudian menatap kearah Cira yang hanya diam saja sejak tadi.
"Apa mereka pemain panggung yang ulung?" tanya Reinhard.
"Tuan Fulgi dan Nyonya Kimmy?."
"Iya. Mereka terlihat sangat kompak saat berusaha menampilkan image baik saat di depanku tadi. Aku jadi penasaran sehebat apa permainan mereka di hari-hari biasa!" jawab Reinhard.
Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Cira. Sepasang ibu dan anak itu bukan hanya kompak dalam bermain peran, tapi otak mereka sudah sangat sejalan jika menyangkut kekayaan. Cira mengenal mereka dengan sangat baik, jadi dia paham betul kalau apa yang terjadi di depannya tadi hanyalah sandiwara saja. Beruntung dokter ini bisa memahami keadaan dengan sangat baik, jadi Cira tidak perlu repot-repot menyadarkan.
__ADS_1
"Yang jelas, mereka tidak sebaik yang kita lihat. Terutama Tuan Fulgi, pria yang terlihat bodoh itu menyimpan seribu tipu muslihat di otaknya. Dan saya rasa mulai sekarang kita semua harus sangat mewaspadai Tuan Fulgi. Saya yakin sekali dia pasti sudah merencanakan sesuatu di belakang kita!."
"Sehebat itu dia?" tanya Reinhard kaget.
Cira mengangguk. Dia lalu menatap iba kearah majikannya yang masih belum sadar.
"Tuhan masih sangat menyayangi Nyonya Clarissa. Beliau berkali-kali selamat dari pembunuh bayaran yang di kirim oleh Tuan Fulgi!."
"Apa???? Pembunuh bayaran?."
Astaga, jantung Reinhard langsung berdebar begitu Cira menyebut kata pembunuh bayaran. Pikirannya langsung tertuju pada Jackson, pria biadap yang telah melukai Levi dan Elea.
"Ya. Berkat kuasa Tuhan Nyonya Clarissa bisa terselamatkan dari Jack-Gal, pembunuh bayaran yang terkenal sangat sadis setiap kali membunuh korbannya. Itu terjadi tiga tahun yang lalu. Tapi untunglah Nyonya bisa selamat karena waktu itu ada polisi yang sedang berpatroli. Jika tidak ada mereka mungkin saat ini Nyonya Clarissa hanya tinggal nama saja" jawab Cira. "Tuan Fulgi sangat kejam. Dia bahkan tega ingin menghabisi Bibinya sendiri hanya karena Nyonya Clarissa menolak untuk mengganti nama ahli waris di Keluarga Wu!."
"Ja,jadi pelakunya benar adalah Jack-Gal??" pekik Reinhard tergagap. Dia tak percaya kalau semua masalah ini saling berhubungan dari satu orang ke orang yang lain.
"Dokter Reinhard, ada apa dengan reaksimu? Anda terlihat seperti orang yang pernah berurusan dengan pembunuh bayaran itu. Apa tebakan saya benar?" tanya Cira penuh selidik.
Reinhard terdiam. Sedetik kemudian dia kembali membuka suara.
"Cira, kau akan sangat kaget jika mengetahui semuanya. Semua masalah yang terjadi saling berhubungan, termasuk juga dengan Jack-Gal."
"Apa maksud dokter?."
"Kau akan tahu sendiri nanti!."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1