Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tentang Hidup


__ADS_3

"Mama! ...


Sandara menoleh. Dia tersenyum melihat seorang gadis cantik tengah melambaikan tangan kearahnya. Rambutnya yang panjang tampak bergerak-gerak tertiup angin. Gaunnya yang putih semakin menambah pesona Sandara yang pastinya akan langsung memikat mata pria yang melihatnya.


"Mama sedang apa?" tanya Elea setelah sampai di dekat ibunya. "Cantik sekali sih."


"Kau jauh lebih cantik, sayang" jawab Sandara kemudian membawa putrinya masuk ke dalam pelukan. "Elea, tempatmu bukan di sini Nak. Kenapa datang, hm?.


Bibir Elea mengerucut. Dia makin melesakkan wajahnya ke dalam dekapan sang ibu. Harum, satu aroma yang belum pernah Elea temui sebelumnya. Bahkan wangi aroma tubuh suaminya saja tidak sampai seharum ini. Ah, suami? Siapa suaminya?.


"Ma, apa di sini sangat nyaman? Kenapa Mama tidak pernah datang menemuiku? Apa tidak rindu?.


Di cecar pertanyaan seperti itu oleh putrinya membuat Sandara terkekeh. Matanya yang indah nampak menatap lurus kearah padang rumput yang terhampar luas di hadapannya.


"Bagi Mama tempat ini adalah tempat ternyaman yang pernah Mama rasakan. Namun, tidak semua orang bisa menikmati kenyamanan ini, Nak. Ada kalanya keindahan dan ketenangan ini berubah menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan. Kau mau tahu kenapa?.


Elea mengangguk.


"Karena apa yang ada di sini adalah buah dari apa yang kita tanam semasa hidup. Tuhan begitu adil, Nak. Saat kita menjalani kehidupan dengan hati yang ikhlas, Dia pasti akan membalasnya dengan kebahagiaan yang tiada akhir. Tapi jika kita terlalu banyak meratapi nasib, menentang apa yang seharusnya dilakukan, maka kita hanya akan mendapat kesengsaraan. Karena itu banyak-banyaklah bersyukur, Tuhan amat sangat menyukai hamba-Nya yang sadar akan Nikmat yang mereka terima!.


Bagai tersiram salju, hati Elea langsung terasa sejuk begitu mendengar perkataan ibunya. Dalam pelukan, dia tersenyum. Bahagia karena bisa terlahir dari rahim seorang wanita yang begitu bijak.


"Oh iya Nak, kau belum menjawab pertanyaan Mama kenapa kau bisa sampai di sini. Kau tidak memaksakan diri untuk bertemu dengan Mama kan?" tanya Sandara dengan suara yang sangat lembut.


"Ma, apa benar Tuhan membenci manusia yang suka meratapi nasib?" sahut Elea balik bertanya. "Apa benar Tuhan akan memberikan kesengsaraan untuk manusia yang tidak bisa bersyukur?.


"Kenapa bertanya seperti itu?.


"Karena aku sudah lelah, Ma. Aku lelah merasakan sakit dan juga kecewa. Aku ingin berhenti, aku ingin tetap di sini bersama Mama. Aku suka padang rumput ini, rasanya sangat aman dan damai. Berbeda dengan tempat yang sebelumnya aku tempati."


Sandara diam membiarkan putrinya mengeluarkan semua unek-unek yang terpendam. Jari-jari lentiknya terus membelai rambut panjang nan hitam milik putrinya. Mencoba menyalurkan keteduhan agar kemarahan putrinya cepat mereda. Ya, Sandara sangat amat sadar kalau putrinya tengah di liputi suatu amarah yang berasal dari kekecewaan.


"Ma, di dunia yang aku tempati ada banyak macam kemunafikan. Mereka mudah sekali merasa ibu, tapi itu palsu. Itu hanya kedok untuk menutupi watak asli mereka yang sejatinya sangat suka melihat orang lain hidup menderita. Hanya ada segelintir orang yang mempunyai hati tulus, salah satunya...salah satunya....


Ucapan Elea terhenti. Dia bingung, entah kenapa seperti merasa ada satu ingatan yang mengganjal di dalam hatinya.

__ADS_1


Siapa? Siapa yang menahan pikirannya? Makhluk jenis apa yang membuatnya merasa seperti tidak rela? Rasa apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?.


Seulas senyum manis tersungging di bibir Sandara ketika dia melihat kebungkaman putrinya. Dengan sabar Sandara melepaskan Elea dari dekapannya, dia lalu menangkup kedua pipinya yang terasa begitu lembut.


"Sesuatu itu adalah seseorang yang paling membekas dalam hidupmu, Nak. Selamilah pikiranmu, dia ada di sana, menunggumu."


"Menungguku? Menunggu untuk apa Ma? Aku tidak mau pergi kemana-mana, aku maunya di sini bersama Mama" sahut Elea panik.


"Elea... " suara lembut Sandara seolah mendatangkan angin sepoi-sepoi yang begitu sejuk. "Alam kita berbeda sayang, di sini bukan tempatmu. Akan ada waktunya nanti untuk kita berkumpul di tempat yang sama.Tapi bukan sekarang."


Mata Elea berkaca-kaca. Rasanya sesak sekali, tak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


"Apa Mama begitu tidak menginginkan aku sama seperti mereka? Apakah kali ini aku juga akan di buang? Kenapa Ma?.


"Nak, jangan terlalu cepat menghakimi seseorang hanya karena pernah ada luka di hatimu. Ingatlah, bukankah kau selalu bilang kalau di setiap kesalahan pasti akan selalu ada alasan. Dan apa kau tahu alasan kenapa mereka semua bersikap seperti itu?.


"Apa?.


Airmata mengucur deras dari sudut mata Elea.


"Siapa orang itu Ma?.


"Lakukan seperti yang Mama bilang. Nanti kau akan tahu sendiri siapa orang itu,"


Lama Elea menatap wajah teduh ibunya sebelum akhirnya dia memejamkan mata. Hembusan angin terasa begitu sejuk ketika menyapu wajahnya. Elea tersenyum dalam kedamaian.


..... "Elea, sayang. Aku mohon kembalilah."...


..."Aku mencintaimu,"...


..."Aku mencintaimu,"...


..."Aku mencintaimu,"...


Sandara tersenyum saat dia melihat wajah putrinya sudah di basahi oleh airmata. Dengan lembut dia menyekanya, putrinya sudah menemukan jalan pulang. Sandara dengan sabar menanti Elea membuka mata tanpa sedetikpun mengalihkan tatapannya dari wajah cantik gadis yang sedang terisak-isak di sebelahnya.

__ADS_1


"Hiksss, Kak Iel."


"Maafkan aku sempat melupakanmu, Kak. Aku tidak sengaja."


Tak lama kemudian mata Elea pun terbuka. Tangisnya semakin pecah saat dia menyadari kalau antara dia dan ibunya sudah berada di alam yang berbeda. Ibunya sudah tiada sejak lama.


"Ma, Mama....


"Kembalilah sayang, pulanglah pada suami dan keluargamu. Hidupmu bukan di sini Nak, tapi bersama mereka di tempat lain. Tidak apa-apa, Mama akan selalu ada di sini menunggumu datang. Tapi jika waktunya sudah tiba, bukan untuk sekarang. Pulang ya?" bujuk Sandara tanpa menghilangkan senyuman dari bibirnya.


Dari kejauhan, seorang pria tua nampak berjalan kearah Elea dan Sandara. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman, seolah memberitahu semua makhluk kalau dirinya telah menemukan kedamaian. Ya, kedamaian yang membawanya datang ke tempat ini.


"Sandara, Eleanor!.


"Kakek!" pekik Elea kaget melihat kemunculan sang kakek yang entah kenapa memakai pakaian yang sama seperti apa yang dikenakan oleh ibunya. Seketika tangisnya pecah.


Karim mengelus puncak kepala cucunya yang sedang menangis. Dia lalu menatap kearah putrinya yang sedang tersenyum.


Sandara dan Karim tak lagi berbicara, keduanya hanya diam menunggu Elea lelah menangis. Hingga pada akhirnya, sebuah cahaya terang muncul di dekat mereka.


"Sudah waktunya, Eleanor. Pergilah, hiduplah dengan bahagia."


"Mama mencintaimu, Nak. Dari sini Mama akan selalu mendoakan agar hidupmu terberkati. Berbahagialah Nak!.


💜 " Yang mati, akan tinggal di tempat yang seharusnya. Dan yang hidup, akan kembali ke jalan yang semestinya. Ingatlah, kebaikan selama hidup di dunia akan menjadi penentu di mana kita akan hidup dengan kekal. Yang baik akan mendapat tempat yang penuh kedamaian, sementara yang buruk akan di tempatkan dalam suatu wadah yang gelap dan penuh kesengsaraan" 💜


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: rifani_nini...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2