Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Aku Mencintaimu....


__ADS_3

Gabrielle dengan telaten mengelap tubuh istrinya yang sedang terkapar kehabisan tenaga. Ya, jangan di tanya lagi apa yang baru saja mereka lakukan. Gabrielle kembali menjarah tubuh candu istrinya setelah berhasil membujuknya untuk pulang dari rumah sakit. Dia begitu takut Elea akan benar-benar memilih tinggal di rumah ayah mertuanya seperti yang di katakannya saat sedang bertengkar dengan Gleen.


"Kak Iel, Kakak tidak jijik?" tanya Elea dengan suara lirih. "Kakak kan penderita OCD akut."


"Kenapa aku harus jijik membersihkan milik istriku sendiri? Lagipula yang membuatnya menjadi kotor itu aku, jadi kenapa aku harus merasa segan? Mengenai OCD yang aku derita itu tidak ada hubungannya denganmu, sayang. Kau adalah pengecualian" jawab Gabrielle kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. "Sayang, aku menyukai dan menerima apapun yang melekat di tubuhmu. Termasuk jika kau sedang dalam kondisi tidak bersih. Aku sama sekali tidak merasa keberatan karena ini semua memang sudah menjadi tugasku. Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?.


Elea tersenyum kemudian menganggukan kepala. Dia lalu menahan tangan suaminya yang ingin pergi ke kamar mandi.


"Ada apa?.


"Grandma.... dia apa kabar Kak?" tanya Elea ragu. "Apakah dia merasa sedih karena aku tidak ikut datang untuk menemuinya?.


"Grandma baik-baik saja sayang, kau jangan khawatir. Sebenarnya dia merasa sangat sedih, tapi aku sudah mencoba untuk meyakinkannya. Aku bilang pada Grandma kalau kau tidak bisa datang karena sedang menjaga Bibi Yura dan Lusi di rumah sakit. Dan Grandma memakluminya" jawab Gabrielle.


"Kak Iel, Kakak tidak marah kan?.


Kening Gabrielle mengerut. Dia kemudian duduk di samping ranjang sembari mengusap pipi istrinya.


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, sayang. Jadi untuk aku marah padamu, hm?.


"Aku takut Kakak merasa kecewa dengan sikapku" jawab Elea lirih. "Aku sadar kalau sikapku sedikit keterlaluan terhadap Grandma. Dan aku pun sadar kalau aku tidak seharusnya bersikap tidak adil begini. Aku tidak ingin berbohong pada perasaanku sendiri Kak, rasa kecewaku terhadap keputusan Grandma meninggalkan Mama Sandara di negara ini benar-benar sangat melukai hatiku. Kenapa Grandma waktu itu tidak memilih untuk mati saja bersama Mama, dia malah lebih mementingkan kebangsawanannya yang jelas-jelas menghancurkan hidup Mama Sandara? Aku benci Grandma, tapi aku sayang. Aku harus bagaimana?.


"Sssstttt tenanglah. Kau tidak perlu melakukan apa-apa sayang. Kalau kau memang masih kecewa dengan sikap yang di pilih Grandma, silahkan menenangkan diri terlebih dahulu. Aku yakin Grandma pasti bisa memakluminya, sayang. Di sini kau dan Mama Sandara adalah korban, kalianlah yang paling terluka atas keegoisan mereka. Jadi tenang saja ya, aku pasti akan selalu mendukung keputusan yang kau ambil. Kapanpun kau siap untuk bertemu dengan Grandma, aku pasti akan dengan senang hati mendampingimu. Jangan khawatir, oke?.


Elea menarik nafas lega kemudian menciumi tangan suaminya. Dia benar-benar merasa sangat beruntung mempunyai suami sebaik dan seperhatian Gabrielle.


"Sayang, apa kau ingin aku melakukan sesuatu pada Gleen? Kau masih sangat kesal padanya kan?" tanya Gabrielle.


"Em apa ya?? Oh begini saja Kak. Jangan biarkan Paman Gleen menemui Kak Lusi dulu biar dia tahu rasa. Siapa suruh dia berani memukuli Bibi Yura sampai sebegitu parah. Untung saja Bibi Yura masih bisa di selamatkan. Jika tidak, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri" jawab Elea yang masih mendendam pada Gleen.


Gabrielle tersenyum samar. Rasanya lucu sekali melihat istrinya yang berkata ingin membunuh orang dengan raut wajahnya yang terlihat sangat polos. Kalau saja dia tidak takut Elea merasa tersinggung, Gabrielle akan langsung mengatakan kalau tidak akan ada penjahat yang takut padanya jika dia bicara dengan wajah sepolos dan seimut sekarang.


"Kau yakin ingin membunuhnya?.


"Memangnya kenapa Kak? Kan ada Kak Iel yang akan membantuku kalau aku sampai masuk penjara gara-gara membunuh Paman Gleen. Aku hanya menegakkan keadilan saja kok" protes Elea.


"Hahahaha, astaga sayang. Kenapa kau imut sekali sih" ledek Gabrielle sembari mencubiti pipi istrinya.

__ADS_1


"Iiihh Kak Iel, aku itu sedang serius. Jangan meledekku!.


"Biar saja. Siapa suruh kau begitu menggemaskan, aku tidak tahan kan jadinya?.


Alhasil, Gabrielle dan Elea saling menggelitik. Elea yang posisinya sedang tidak memakai pakaian tersentak kaget ketika tangan suaminya menyentuh bagian dadanya yang tak tertutup apapun selain selimut.


"Mau apalagi hm?" tanya Elea meledek.


"Hehehe...


"Kenapa tawa Kakak membuat bulu kudukku berdiri ya?" ucap Elea sembari memicingkan mata.


Gabrielle mengulum senyum.


"Sekali lagi boleh tidak?" tanya Gabrielle menawar.


"Kan kita baru saja selesai, Kak. Memang itunya Kakak tidak pingsan?.


Mata Gabrielle melotot. Dia tidak percaya kalau istrinya akan berpikiran sejauh ini.


"Pingsan? Sayang, dia bahkan bisa tahan sampai berjam-jam lamanya. Kau mau coba?.


"Tidak mau. Yang tadi saja sudah membuatku lemas kehabisan tenaga. Bisa-bisa nanti aku tidak bisa berjalan kalau menuruti keinginan Kakak yang tidak mengenal lelah."


Terdengar kekehan dari mulut Gabrielle ketika mendengar jawaban istrinya yang begitu jujur. Dia juga tidak gila dengan memaksakan nafsunya yang memang kembali terbakar setelah menemukan gumpalan daging kenyal di balik selimut yang membungkus tubuh polos istrinya.


"Benar tidak mau? Rasanya kan enak, sayang. Tadi saja kau sampai menjerit-jerit keenakan kan?" goda Gabrielle sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Blusssshhhhh


Pipi Elea langsung merona. Dengan manja dia mencubit perut suaminya lalu menutupi wajahnya dengan tangan.


"Aku menjerit karena Kakak bergerak dengan cepat. Lagipula belalai milik Kak Iel sangat besar, jadi wajarlah kalau aku jadi seperti itu!.


"Eyy, mau mengelak rupanya."


"Tidak kok."

__ADS_1


Gabrielle tersenyum.


"Tidurlah. Tadi aku hanya bercanda saja, sayang. Aku tahu kau sudah kelelahan, terima kasih ya karena kau selalu melayani suamimu yang tampan ini dengan performa yang terbaik! Aku mencintaimu.."


Elea perlahan-lahan menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Dia lalu menatap suaminya dengan lekat.


"Apa kebahagiaan dan kenyamananku lebih penting jika di bandingkan dengan kebutuhan Kakak?.


"Tentu saja. Selain kedua orangtua kita, kau adalah orang yang akan menjadi prioritasku, sayang. Kebahagiaan dan kenyamananmu adalah hidupku. Ayah, Ibu, kau, serta Grizelle adalah orang-orang yang akan selalu ku utamakan kebahagiaannya. Kalau kau tanya kenapa, alasannya adalah karena aku sangat mencintai kalian semua. Kalian adalah harta yang tidak bisa di nilai dengan apapun. Bahkan tidak bisa di bandingkan dengan semua kekayaan yang aku miliki" jawab Gabrielle penuh ketulusan.


"Kak Iel, apa aku boleh menangis? Kau, kau kenapa begitu baik padaku Kak?.


Gabrielle tertawa mendengar ucapan Elea yang meminta izin untuk menangis. Dengan lembut Gabrielle mencium mata istrinya yang sudah berkaca-kaca. Entahlah, perasaannya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Dia terlalu mencintai gadis yang sangat polos ini.


"Aku baik karena aku mencintaimu. Aku baik karena kau adalah istriku, dan aku baik karena kau adalah belahan jiwaku. Jadi jangan tanya lagi kenapa aku bersikap seperti ini padamu ya? Perasaan ini hanya untukmu sayang, selamanya tidak akan pernah terganti!.


"Terima kasih Kak, terima kasih karena sudah mau mencintaiku sebegini dalam. Aku janji ke depannya aku akan berusaha agar bisa menjadi istri yang baik untuk Kakak. Aku juga akan berusaha supaya bisa cepat hamil dan memberi Kakak seorang keturunan" ucap Elea sambil menahan tangis.


"Fokuslah dulu pada sekolahmu, Elea. Masalah anak kita tidak perlu terburu-buru karena bagiku masa depanmu jauh lebih penting dari apapun. Lagipula Reinhard kan sudah melarang untuk membuatmu hamil sebelum usiamu cukup. Karena sekarang ini terlalu beresiko bagi kita mempunyai anak. Tolong kau sedikit bersabar ya sayang? Aku yakin jika waktunya sudah tiba kita pasti bisa mempunyai anak seperti orang lain. Oke?.


Elea mengangguk patuh. Dia tak ingin mendebat suaminya lagi karena bagaimana pun ini adalah yang terbaik untuknya. Mungkin untuk sekarang dia memang harus fokus dulu pada pendidikannya, masalah anak akan dia serahkan pada Tuhan saja. Karena mematuhi kata-kata suaminya itu jauh lebih baik daripada harus membantahnya.


"Tidurlah, jangan pikirkan apapun lagi."


"Kak Iel, aku mencintaimu" ucap Elea. "Benar-benar sangat mencintaimu."


"Dan aku jauh lebih sangat sangat lagi mencintaimu, Elea. Sudah jangan bicara lagi, sekarang tidur ya?.


"Iya Kak."


Dan pada hakikatnya, istri yang baik adalah istri yang selalu patuh terhadap suaminya. Karena suami adalah pemimpin besar dalam partai rumah tangga, jadi wajib hukumnya bagi kita kaum hawa untuk selalu menjunjung tinggi harga diri seorang suami. 😊😊😊😊


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2