
Semua orang merasa sangat lega setelah Gabrielle memberitahu kalau dirinya akan membawa Elea pergi berlibur, tak terkecuali Bryan dan Yura. Mereka sudah di landa perasaan was-was setelah empat hari putri mereka menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan tak bersedia bertemu dengan siapapun selain suaminya yang memaksa untuk tetap berada di sampingnya. Yah, Yura telah mengetahui kejadian beberapa haru lalu mengenai siapa suaminya, dan dia tidak peduli. Baginya cukup hidup bersama Bryan, entah itu melarat ataupun bahagia tidak jadi masalah untuknya. Satu-satunya masalah yang paling dia takutkan hanyalah Patricia. Entah kenapa gadis itu kini selalu menghilang, menjaga jarak bahkan ketika mereka tidak sengaja berpapasan di kantor suaminya.
"Yura, apa kau sudah menyiapkan pakaian dingin untuk putri kita?" tanya Bryan yang sedang mengemas sebuah boneka lucu untuk putrinya. "Di Paris sedang musim dingin, aku takut Eleanor akan membeku di sana."
"Astaga Bryan, menantu kita itu sangat kaya. Bagaimana mungkin dia membiarkan Eleanor menjadi beku? Kau ini ada-ada saja" jawab Yura merasa geli dengan kekhawatiran suaminya yang sedikit aneh. "Gabrielle sangat mencintai Eleanor kita, dia pasti tidak akan membiarkannya kekurangan suatu apapun di Paris nanti."
"Aku tahu. Tapi tetap saja kita harus mempersiapkan segala hal yang terbaik untuk Eleanor" sahut Bryan kemudian menarik nafas panjang. "Semoga saja dengan liburan ini keadaan mental putri kita bisa segera membaik. Rasanya aku seperti akan mati melihatnya depresi seperti kemarin."
Yura terdiam terenyuh. Dia pun merasakan hal yang sama seperti suaminya. Yura sangat mencintai gadis itu, terlepas dari perasaannya terhadap Bryan. Dan dia pun sudah memutuskan untuk lebih memilih melindungi Eleanor meskipun resikonya adalah rumah tangganya akan hancur di tangan Patricia. Sosok keibuan dalam dirinya semakin menguat begitu tahu kalau Sandara memiliki kisah hidup yang sangat tragis. Istri pertama suaminya itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Dan Yura tidak mau Eleanor mengalami rasa sakit seperti itu. Dia ingin gadis malang itu hidup dengan sangat bahagia, di limpahi banyak cinta dan kebahagiaan. Yura juga sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan di lakukan oleh putri angkatnya. Biarlah, mungkin ini adalah akibat dari kecerobohannya waktu itu. Sebenarnya Yura bisa saja mengatakan hal ini pada Bryan, tapi dia tidak sampai hati saat mendengar suaminya itu ternyata juga sangat menyayangi Patricia. Di tambah lagi dengan masalah yang terus datang bertubi-tubi, membuat Yura akhirnya memutuskan untuk tetap menyimpan rahasia ini sendirian. Karena yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Eleanor, itu yang akan menjadi prioritas utamanya.
"Yura, coba kau lihat. Kira-kira Eleanor akan menyukai boneka ini tidak?" tanya Bryan sembari menunjukkan boneka kelinci yang sudah berhias pita di lehernya.
"Dia pasti akan sangat menyukainya, Bry" jawab Yura kemudian berjalan mendekat kearah suaminya.
"Semoga saja" ucap Bryan lega. "Ini adalah boneka yang aku persiapkan untuk memperingati hari kematiannya yang ke tujuh belas tahun. Siapa yang menyangka kalau aku akan benar-benar memberikannya langsung pada putriku. Hahhhhh.... Terkadang aku tidak mengerti dengan takdir Tuhan, Yura."
"Sudah, jangan meratapi sesuatu yang sudah berlalu. Lebih baik kita segera pergi ke rumah Gabrielle. Kau tidak ingin terlambat kan mengantarkan putri kita pergi berlibur?" tanya Yura.
"Astaga, terlalu meresapi kebahagiaan ini aku sampai lupa kalau mereka akan berangkat sebentar lagi. Ya sudah ayo kita pergi, semuanya sudah siap kan?."
"Tenang saja, semua aman!."
Setelah memastikan semua barang terbawa, Bryan dan Yura bergegas pergi ke rumah menantu mereka. Dalam perjalanan Bryan tak henti-hentinya membicarakan Eleanor. Hingga tak terasa mobil mereka sampai di depan pintu gerbang yang entah mengapa terlihat seperti pintu gerbang istana. Sangat megah.
"Bagaimana caranya kita masuk ya?" ucap Bryan bingung. "Ah, telfon Gabrielle saja. Sepertinya rumah ini tidak boleh sembarangan membiarkan orang masuk."
Baru saja Bryan ingin menelfon menantunya, tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Kemudian muncul Ares dari dalam sana bersama seorang pria yang wajahnya terlihat kaku.
"Selamat datang, Tuan Bryan, Nyonya Yura" sapa Ares dan Nun sopan.
"Oh, Tuan Ares, terima kasih. Em, apa kami boleh masuk?" tanya Bryan.
"Tentu saja. Tuan Muda dan semua orang sedang menunggu kedatangan kalian di dalam. Silahkan masuk, nanti mobilnya biar saya yang bantu parkirkan" jawab Ares.
Setelah mendapat izin, Bryan dan Yura segera mengikuti pria berwajah kaku itu masuk ke dalam rumah. Mereka berdecak kagum melihat interior bangunan yang sangat luar biasa megah. Meski rumah mereka juga cukup mewah, tapi tetap tidak bisa di bandingkan dengan rumah ini. Bryan dan Yura merasa sangat bersyukur karena putri mereka di nikahi oleh pria sehebat dan sekaya Gabrielle.
"Silahkan masuk Tuan, Nyonya" ucap Nun mempersilahkan.
"Terima kasih. Maaf, namamu...
__ADS_1
"Panggil Nun saja, Nyonya, Saya adalah ketua pelayan di rumah ini!."
"Oh begitu. Terima kasih Nun" sahut Yura sambil tersenyum ramah.
Dari dalam rumah terdengar langkah kaki datang mendekat. Elea yang berada di dalam pelukan suaminya tersenyum senang melihat kedatangan ayahnya. Dia lalu menatap suaminya.
"Pergilah" bisik Gabrielle tanggap.
Bryan yang melihat putrinya mendekat kearahnya segera memperlihatkan hadiah lucu yang dia sembunyikan di belakang tubuh. Dia terkekeh melihat Eleanor yang memekik kesenangan melihat kelinci lucu di tangannya.
"Astaga Ayah, apakah kelinci itu untukku?."
"Tentu saja kelinci ini khusus untuk putri Ayah. Tidak mungkin kan Ayah memberikannya pada suamimu?" sahut Bryan asal.
Yura memukul lengan suaminya pelan, dia gemas sendiri melihat kelakuannya. "Kau ini ada-ada saja, Bryan. Jangan mempermalukan menantu kita seperti itu!."
"Tidak apa-apa, Bibi Yura. Asalkan itu membuat istriku senang, aku sama sekali tidak masalah" sahut Gabrielle sambil terus memperhatikan istrinya yang terlihat sangat bahagia dengan hadiah yang di berikan oleh ayah mertuanya.
"Terima kasih banyak, Ayah. Aku suka sekali" ucap Elea kemudian beralih menatap ibu sambungnya. "Bibi Yura, Bibi tidak memberiku kelinci juga?."
Sambil mengulum senyum Yura memberikan jaket berbulu yang sangat lembut sebagai hadiah untuk putrinya. "Karena kau akan pergi ke Paris jadi Bibi membelikan jaket dingin ini saja, bukan kelinci. Kau tidak keberatan kan sayang?."
Semua orang tertawa melihat betapa bahagianya Elea dengan hadiah yang di berikan oleh orangtuanya. Tak lama kemudian, dari dalam rumah muncul keluarga besar Gabrielle.
"Selamat siang Nyonya Liona, Tuan Greg" sapa Bryan dan Yura bersamaan.
"Selamat siang kembali Tuan Bryan, Nyonya Yura" sahut Greg balas menyapa. "Elea, apa kau tidak ingin meminta hadiah juga pada Ayah dan Ibu, hem?."
Elea yang sedang sibuk memakai jaket bulu-bulu itu menoleh. Dengan cengiran khasnya dia menjawab pertanyaan ayah mertuanya yang langsung membuat semua orang tergelak kaget.
"Aku sangat ingin, Ayah Greg. Tapi aku khawatir uang Ayah akan langsung habis jika aku memintanya. Aku tidak mau kalian bangkrut gara-gara menuruti permintaanku!."
Setelah terdiam beberapa detik, semua orang kembali tertawa mendengar jawaban nyeleneh Elea. Mau di kuras oleh seribu orang seperti Elea pun harta Keluarga Ma tidak akan pernah habis. Sepertinya gadis kecil ini masih belum mengetahui seberapa kaya dan berkuasanya keluarga ini.
"Sayang, jangan lupa untuk membagikan moment saat kalian liburan nanti ya. Bibi dan Ayahmu pasti akan sangat merindukan kalian berdua" ucap Yura kemudian memberikan pelukan hangat pada anak sambungnya.
"Iya Bi. Nanti aku akan mengirim banyak foto pada kalian. Jangan iri ya?" sahut Elea meledek.
Yura tertawa. Dia lalu mencium kening Eleanor sebelum melepaskan pelukannya. Sekarang ganti Bryan yang memeluknya. Matanya sedikit berkaca-kaca saat teringat dengan kondisi putrinya empat hari lalu.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik di sana ya Nak. Lakukanlah apapun yang bisa membuatmu bahagia!."
"Siap Ayah!."
Giliran Greg dan Liona yang memberikan pelukan hangat pada menantu mereka. Tak lupa masing-masing dari mereka memberikan satu blackcard untuk Eleanor.
"Elea, beli apapun yang kau inginkan saat di sana. Jangan takut, uang di dalam kartu ini tidak akan habis" ucap Liona.
"Iya sayang. Kalau kau bosan menggunakan kartu pemberian ibumu, gunakan saja kartu dari Ayah. Uangnya juga tidak akan bisa habis" imbuh Greg.
"Waahh, kalian baik sekali. Kak Iel lihat, sekarang aku menjadi sangat kaya" ucap Elea bahagia.
"Ya, kau sekarang menjadi gadis yang kaya raya" sahut Gabrielle meledek.
"Hehhehee...."
Tiba giliran Drax dan Grizelle untuk mengucapkan salam perpisahan. Mereka bergantian saling memeluk, kecuali Drax tentunya. Dia cukup tahu diri untuk tidak menyentuh istri kakak iparnya saat menyadari ada tatapan tajam yang mengawasinya diam-diam.
"Kakak ipar, habiskan semua uang itu ya. Kalau kau tidak sanggup, hubungi saja aku. Aku pasti akan langsung menyusulmu ke Paris!" ucap Grizelle memberi semangat.
"Kau tidak perlu datang, Zel. Ada pelakor yang siap membantuku menghabiskan uang ini" sahut Elea.
Mata semua orang melotot begitu Elea menyebut nama pelakor. Saat Liona hendak maju untuk bertanya, Gabrielle segera memberikan penjelasan tentang siapa pelakor yang di maksud oleh istrinya.
"Pelakor itu julukan untuk Levi, Bu. Elea menyebutnya seperti itu karena dia sangat menyukai uangku!."
"Oohhh..... Ibu kira sejenis tanaman rambat yang merugikan. Astaga Elea, kau ini membuat Ibu khawatir saja" sahut Liona gemas dengan kelakuan menantunya.
Bryan dan Yura terbahak-bahak melihat bagaimana lucunya cara Elea menjuluki Levi. Setelah itu, semuanya segera masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Gabrielle dan Elea ke landasan pesawat pribadi milik Keluarga Ma. Dalam hati, Elea sangat bersyukur melihat betapa hangatnya keluarga ini. Meski hatinya masih terasa sedih, setidaknya hari ini dia bisa menyaksikan pelangi datang setelah badai besar. Semoga saja setelah kepulangannya nanti tidak akan ada lagi kesedihan. Semoga..... 😊
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1