
Brruukkkk
"Awwww" ringis Luri sembari memegangi sikunya yang tergores lantai.
Fedo buru-buru meletakkan asal barang bawaannya saat mendengar suara ringis kesakitan dari gadis yang tidak sengaja di tabraknya. Dia kemudian berjongkok, berniat membantunya untuk berdiri.
"Maaf, aku tadi sedang sibuk berkirim pesan dengan temanku makanya tidak melihat jalan!" ucap Fedo tak enak hati.
Luri mendongak. Dia tersenyum, yang mana senyum itu memperlihatkan dua lesung pipi di kedua sisi wajahnya.
Oh my god. Ini kan Luri, si gadis desa dengan seribu pesona? Mimpi apa aku semalam pagi-pagi begini sudah bertemu dengan bidadari cantik? Ahh, untung saja aku tidak melarikan diri dari tugas yang diberikan Ibu untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit. Hehehe, manisnya gadis desaku.
"Selamat pagi, Tuan Fedo" sapa Luri seraya menerima uluran tangan pria yang sedang terpaku di sampingnya.
"O-oh selamat pagi kembali, cantik" sahut Fedo tergagap. "Kau tidak apa-apa kan?.
Luri menggelengkan kepala setelah bangkit berdiri. Dia lalu menepuk celananya yang terkena debu di lantai.
"Kau mau kemana pagi-pagi begini, hm?" tanya Fedo menelisik.
"Saya mau pulang ke rumah, tuan. Kak Gleen tadi menelpon akan menjemputku di depan rumah sakit."
Tubuh Fedo seperti melayang saat mendengar suara Luri yang begitu lembut. Ingin rasanya dia menjerat gadis ini di bawah gulungan selimut tebal, membungkam bibir mungilnya dengan belitan l*dah kemudian mengajaknya mengarungi lautan luas. Ahh, jiwa mesum Fedo jadi memberontak. Dia sudah terLuri-Luri oleh pesona sang gadis desa.
"Tuan Fedo sendiri mau kemana?" tanya Luri sambil menatap barang-barang yang tergeletak di lantai. Dia buru-buru mengambil barang tersebut lalu memberikannya pada pria yang sedang memandanginya sambil tersenyum aneh. "Tuan Fedo, kau baik-baik saja?.
Kening Luri mengernyit. Dia tidak paham kenapa pria ini selalu tersenyum aneh setiap kali mereka bertemu. Khawatir terjadi sesuatu, dengan cepat Luri mengguncang lengan Fedo hingga membuatnya terperanjat kaget.
"Astaga, kaget aku!" pekik Fedo sambil mengelus dada.
"M-maaf tuan" cicit Luri takut.
"Maaf apa sih cantik!" seloroh Fedo dengan gaya genitnya. "Luri, bisa tidak kau jangan bicara formal padaku? Panggil Fedo dan bicaralah dengan gaya yang santai. Kalau seperti ini kita jadi terlihat seperti atasan dan bawahan. Tahu tidak?.
"Tapi tuan...
"Hei, sudah di bilang panggil Fedo saja" protes Fedo pura-pura marah.
__ADS_1
Kepala Luri tertunduk. Dia gugup sekali.
"Panggil kakak saja ya. Rasanya sedikit aneh kalau saya hanya memanggil nama" ucap Luri mencoba menawar.
"Baiklah, terserah kau saja" sahut Fedo.
Gleen yang saat itu merasa heran karena Luri tak kunjung keluar, akhirnya memutuskan untuk masuk ke gedung rumah sakit. Keningnya langsung mengerut ketika mendapati sang adik ipar tengah berbincang dengan seorang pria.
Eh, bukannya itu Fedo ya? Wahhh, jangan-jangan dia sedang menggoda Luri. Ini tidak boleh di biarkan. Fedo adalah penjahat k*lamin, aku tidak akan membiarkan Luri menjadi korban selanjutnya.
Dengan langkah seribu Gleen bergegas menghampiri keduanya. Dia langsung menarik Luri ke belakang tubuhnya begitu dia sampai.
"Ada urusan apa kau dengan adik iparku?" tanya Gleen menuduh.
Sebelah alis Fedo terangkat ke atas. Dia lalu bersedekap sembari menatap jengkel ke arah Gleen yang sudah mengganggu waktunya bersama Luri.
"Memangnya aku harus ada urusan dulu baru boleh mengobrol dengan Luri?" sahut Fedo sarkas.
"Dia masih muda dan polos. Tolong kau jangan menargetkannya sebagai pasangan one night stand mu, Fedo. Meski pun kau adalah keponakan Nyonya Liona, aku tidak akan sungkan untuk memberi pelajaran kalau kau berani macam-macam pada adik iparku."
Luri yang mendengar kata one night stand tampak mengernyitkan kening. Dia sedikit banyak sudah mempelajari bahasa asing, tapi merasa bingung untuk menempatkan kata tersebut.
"Astaga Gleen, aku ini bukan orang yang suka merusak masa depan gadis baik-baik seperti Luri ya. Memang benar aku sangat menggilai hubungan seperti itu, tapi bukan berarti korbannya adalah gadis polos seperti adik iparmu. Asal kau tahu saja, yang menjadi pasanganku biasanya adalah wanita-wanita sisa. Tak ada satu pun dari mereka yang masih perawan, jadi kau jangan asal menguap dengan menuduh yang tidak-tidak!" kesal Fedo tersinggung akan tuduhan yang di layangkan oleh Gleen.
Gleen menatap seksama ke arah Fedo Dia mencoba untuk mencari kebohongan di sana, tapi tidak ada. Sepertinya dia memang sudah salah menuduh.
"Sudahlah, moodku rusak gara-gara bicara denganmu."
Kesal karena di tuduh ingin berbuat jahat pada Luri, Fedo akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana. Namun saat dia berjalan melewati Luri, dengan sengaja Fedo mengerlingkan mata. Dia terkekeh ketika Luri tersentak kaget kemudian buru-buru menundukkan kepala. Sungguh aroma gadis desa yang masih sangat kental. Dan Fedo sudah tergila-gila dengan aroma gadis desa tersebut.
Sepeninggal Fedo, Gleen segera berbalik kemudian menatap lekat ke sekujur tubuh adik iparnya. Matanya membulat saat mendapati ada darah segar di siku Luri.
"Luri, ini kenapa kau bisa terluka hah? Apa pria tadi yang melukaimu?.
"B-bukan Kak Gleen. Tadi itu kami sama-sama tidak sengaja bertabrakan dan aku jatuh ke lantai. Mungkin sikuku sedikit tergores, makanya mengeluarkan darah" jawab Luri gugup. Dadanya masih berdebar kuat. "Jangan khawatir, kak. Aku baik-baik saja kok."
"Baik-baik apanya. Kalau kakakmu sampai melihat ini, dia pasti akan sangat panik!" kesal Gleen merutuki perkataan adik iparnya. "Ikut aku. Kau baru akan kuantar pulang setelah lukanya di obati."
__ADS_1
Luri menolak ketika calon kakak iparnya ingin membawanya pergi menemui dokter. Dia khawatir ada perawat yang mengenalinya kemudian melaporkan kejadian ini pada sang kakak.
"Tidak perlu menemui dokter, Kak Gleen. Ini hanya luka kecil, aku bisa mengobatinya saat tiba di rumah nanti."
"Jangan membantahku, Luri. Patuhlah seperti kakakmu."
"Bukan masalah patuh atau tidak, kak. Tapi aku sungguh tidak apa-apa. Sebaiknya kakak segera mengantarkan aku pulang ke rumah kemudian kembali lagi ke sini untuk menemani Kak Lusi. Kasihan dia sendirian, kalau sampai ada apa-apa bagaimana?" ucap Luri mengingatkan.
Gleen baru tersadar dengan calon istrinya ketika mendapat peringatan dari Luri. Dia menepuk keningnya beberapa kali sebelum akhirnya menggandeng tangan adik iparnya lalu mengajaknya keluar.
"Pasang seatbeltnya dulu."
Luri mengangguk. Dia segera menuruti apa yang di katakan oleh calon kakak iparnya. Saat mobil mulai melaju, pikiran Luri kembali tertuju pada Fedo. Dia tersenyum samar, merasa aneh dengan degub jantungnya yang tidak beraturan.
"Ekhmm Luri, sebenarnya ini bukan hakku untuk ikut campur masalah pribadimu. Tapi aku sedikit kurang setuju kalau kau berdekatan dengan Fedo, dia bukan pria yang baik untukmu" ucap Gleen membuka percakapan.
"Bukan pria yang baik? Kenapa Kak Gleen bisa berkata seperti itu?.
Gleen menarik nafas.
"Dia sering tidur dengan wanita berbeda setiap malamnya. Aku hanya tidak mau kau merasa terluka jika sampai ada hubungan tak biasa di antara kalian berdua."
Bukannya marah atau tersinggung, Luri malah tersenyum. Dia tanggap akan kekhawatiran di diri calon kakak iparnya ini.
"Kak, kita tidak boleh menilai orang hanya dari sisi luarnya saja. Setiap orang itu memiliki sisi baik dan juga sisi buruk masing-masing, sama seperti kita. Mungkin memang benar kalau Fedo adalah pria yang seperti itu, tapi itu bukan alasan untuk kita memandang rendah terhadapnya. Ini bukan tentang aku yang membelanya, tapi ini tentang seorang manusia yang tidak sempurna. Tidak baik memandang orang dengan sebelah mata, kak. Kita bisa salah presepsi jika mempunyai pemikiran seperti itu!.
Ucapan Luri begitu menohok ulu hatinya Gleen. Dia lupa, lupa kalau dulunya dia juga memiliki masa lalu yang jauh lebih kelam di bandingkan Fedo. Tapi Lusi, calon istrinya itu sama sekali tak pernah menghakimi dosa-dosa yang telah dia perbuat. Lusi justru memintanya untuk memperbaiki diri dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Aku salah besar menilai Fedo seburuk itu. Ah, jadi malu rasanya.
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π»IG: rifani_nini...
__ADS_1
...π»FB: Rifani...