Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Memboyong


__ADS_3

Lusi tersenyum manis ketika melihat kekasihnya datang. Dia yang sudah mulai membaik mencoba untuk duduk, membuat pria yang sedang menata buah di atas meja berlari mendekat.


"Astaga Sweety, kenapa kau sembarangan sekali sih. Panggil aku saja, jangan bergerak sendiri seperti tadi. Itu berbahaya" omel Gleen sambil membantu Lusi yang ingin duduk.


"Kau sedang sibuk, Gleen. Lagipula keadaanku juga mulai membaik. Tidak akan terjadi apa-apa hanya karena aku sedikit bergerak" sahut Lusi.


Gleen mendengus pelan. Dia kemudian duduk di samping Lusi, mengarahkan jari telunjuknya untuk merapihkan anak rambut yang sedikit berantakan.


"Sudah siap untuk masuk ke Universitas?.


"Aku belum tahu, Gleen" jawaba Lusi dengan mata sendu. "Dengan keadaan seperti ini aku mana berani datang ke Universitas? Bukannya merasa senang, yang ada aku malah membuat Elea malu. Dia pasti akan di olok-olok mahasiswa lain jika ketahuan datang bersama orang sakit sepertiku."


Tatapan Gleen menyendu. Yah, memang benar kalau kondisi tulang punggung kekasihnya belum terlalu membaik. Akan tetapi bukan berarti Gleen tidak memikirkan solusi untuk menyembuhkannya. Dia sudah membayar mahal seorang dokter spesialis tulang dari sebuah rumah sakit besar yang berada di luar negeri. Gleen sudah bisa menebak kalau keadaan ini pasti akan menghalangi keinginan Lusi untuk kuliah. Itulah kenapa dia meminta bantuan pada Gabrielle agar mengenalkannya dengan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan tulang punggung kekasihnya.


"Sweety, kau tenang saja, aku sudah mencarikan dokter terbaik untuk mengobati tulang punggungmu. Kita hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk bisa bertemu dengan dokter tersebut" ucap Gleen memberitahu.


Mata Lusi terbelalak. Dia sungguh tidak menyangka kalau Gleen akan melakukan hal seperti ini.


"Gleen, kenapa kau suka sekali menghamburkan-hamburkan uang sih. Di rumah sakit ini kan sudah ada dokter Reinhard yang menangani, untuk apa kau mencari dokter lagi?.


Bukannya marah, Gleen malah tertawa sambil bertopang dagu. Lusi benar-benar sangat berbeda dengan wanita di luaran sana. Di saat mereka semua berlomba-lomba untuk mempercantik dan memperkaya diri, gadis ini malah sibuk memprotes semua tindakannya yang terkesan pemborosan. Seumur-umur Gleen tak pernah sekali pun bermimpi akan menyukai gadis yang begitu irit ini. Uangnya sangat banyak, mustahil akan hidup kekurangan jika Tuhan tidak tiba-tiba membalik keadaan. Jika hanya masalah membayar gaji seorang dokter spesialis, uang itu bisa dia dapatkan hanya dengan memenangkan satu tender dari perusahaan kecil. Bahkan masih memiliki sisa uang yang sangat banyak. Tapi ya sudahlah, ini adalah kelebihan Lusi. Gleen tidak mau mempermasalahkannya selagi lidah Lusi tak membahayakan seperti lidah istrinya Gabrielle.


"Aku tahu itu uangmu dan kau juga kaya raya, Gleen. Akan tetapi bisa tidak sebelum melakukan semuanya kau bicarakan dulu denganku. Kita ini hanya sepasang kekasih, aku tidak mau nantinya kau merasa kalau aku hanya ingin menikmati uangmu saja. Paham kan?" tegur Lusi saat Gleen hanya diam memandanginya.


"Hanya ingin menikmati uangku saja juga tidak masalah, Sweety. Yang penting kau tetap bersamaku" jawab Gleen kemudian menciumi tangan kekasihnya yang masih terpasang infus. "Ck, aku ingin sekali mencabut benda ini lalu membuangnya ke tengah laut. Kau pasti merasa sangat tidak nyaman kan?.


Lusi tersenyum. Saat Lusi hendak mengusap kepala Gleen, tiba-tiba saja ada kertas jatuh dari saku kemejanya. Keningnya mengerut, heran ketika tidak sengaja melihat namanya tertera di atas kertas tersebut. Khawatir Gleen melakukan sesuatu hal yang gila, segera Lusi mempertanyakan hal itu kepadanya.


"Kertas apa itu, Gleen? Kenapa ada namaku di sana?.


"Oh ini" jawab Gleen dengan raut wajah biasa saja. Dia lalu mengambil kertas tersebut kemudian membacanya.

__ADS_1


"Apa?" desak Lusi. Perasaannya semakin tidak enak.


"Ini kwitansi pembayaran satu unit rumah yang baru saja aku beli atas namamu. Kenapa? Kau tadi pasti curiga kalau aku memelihara wanita lain di belakangmu kan?" kelakar Gleen sambil memainkan alisnya.


Terdengar helaan nafas dari mulut Lusi. Baru saja dia berkata untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan uang, sekarang Gleen malah dengan sengaja membelikannya rumah. Bukannya sok suci atau sok menolak, tapi menurut Lusi ini sangat tidak etis untuk di lakukan. Mereka belum menikah, sangat tabu baginya menerima barang-barang mewah seperti ini. Pamali kalau kata orang-orang di desa.


"Gleen, kenapa kau....


"Jangan marah. Aku melakukan ini semua bukan hanya untukmu saja, Sweety. Rumah itu aku beli bukan untuk menjadi tempat tinggal kita setelah menikah. Akan tetapi rumah itu....


"Rumah itu?.


Sudut bibir Gleen tertarik ke atas. Dia terus memandangi wajah Lusi penuh maksud. Seolah sengaja menggantung ucapannya demi menutupi sesuatu hal.


"Apa Gleen? Jangan membuatku penasaran begini" desak Lusi dengan hati berdebar.


Tok, tok, tok


"Nah, itu dia penghuninya datang!" seru Gleen senang kemudian berjalan cepat untuk membuka pintu.


"Ayah, Ibu!" panggil Lusi lirih sambil meneteskan airmata. "Ayah, Ibu....


Gleen merasa sangat terharu melihat betapa bahagianya Lusi saat tahu kalau yang datang adalah keluarganya. Ya, setelah Gleen berdiskusi alot dengan Gabrielle, dia langsung memintanya untuk memberikan bantuan agar hari ini juga orangtua Lusi bisa di boyong ke tempat ini. Dan untungnya baik Nyonya Liona maupun suaminya, mereka langsung memberikan izin. Malah mengirim anak buahnya untuk ikut menemaninya datang ke desa.


"Lusi, putri Ayah. Kenapa tidak mengabari kami kalau kau sedang sakit Nak?" tanya ayahnya Lusi sedih.


Tak ada jawaban apa pun yang keluar dari mulutnya Lusi. Dia masih terlalu kaget dengan kunjungan ini.


"Kak Lusi, apa benar Kak Gleen itu calon suaminya Kakak?" tanya Nania, si bungsu.


Gleen berdehem. Di antara Lusi dan kedua adiknya, Nania-lah yang paling terus-terang dalam bicara. Bahkan Gleen sempat di buat tak berkutik saat gadis remaja ini mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang menjebak. Anggaplah kalau Nania ini adalah jelmaan Elea versi remaja. Tapi tolong jangan samakan tentang kebodohan mereka ya gengss? Nania cerdas, dan Gleen tahu itu.

__ADS_1


Ayah dan Ibunya Lusi begitu antusias menunggu jawaban darinya. Yang mana akhirnya membuat Lusi merasa canggung. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Sweety, ayo beritahu mereka kalau kita akan segera menikah!" desak Gleen tak sabar.


"Gleen, kau yakin ingin benar-benar menikah denganku?" tanya Lusi sambil menyeka airmatanya. "Kau membawa keluargaku kemari, kau pasti sudah melihat sendiri kan seperti apa kehidupan orang-orang desa seperti kami? Apa kau tidak akan merasa malu jika memiliki istri dan juga keluarga yang sangat ketinggalan zaman. Kau pasti akan di olok oleh teman-temanmu. Lebih baik kau pikirkan dengan matang keputusanmu untuk menikahiku. Aku tidak ingin membuatmu merasa kecewa."


Gleen menggerak-gerakkan bibirnya seolah mengejek Lusi yang sedang berbicara. Tanpa menanggapi pertanyaannya, Gleen malah duduk berjongkok di hadapan calon mertuanya. Dengan penuh perasaan dia kembali meminta izin pada mereka agar merestui keinginannya untuk mempersunting wanita yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.


"Ayah, Ibu, terima kasih sudah melahirkan seorang wanita mulia seperti putri kalian. Di sini aku ingin kembali meminta izin kalian untuk menikahinya. Aku sangat mencintai Lusi, hanya dia satu-satunya wanita yang aku inginkan bisa hidup hingga tua bersamaku. Lusi istimewa, tak peduli darimana dia berasal. Dan kalian adalah orangtua bagiku, tak peduli meski kalian hanya berasal dari pedesaan" ucap Gleen sungguh-sungguh. "Ayah, Ibu, apa kalian bersedia menerimaku sebagai calon suami dari Lusi? Apa kalian akan mengizinkan aku untuk menikahinya?.


Lusi menangis sesenggukan. Dia lalu memeluk kedua adiknya yang datang mendekat.


"Kak, tadi Ayah dan Ibu hampir pingsan saat duduk di dalam pesawat. Lebih baik Kakak terima saja lamaran Kak Gleen. Dia begitu perhatian saat menenangkan Ayah dan Ibu kita. Aku setuju kalau Kakak menikah dengannya" bisik Nania.


"Iya Kak, aku juga setuju. Kak Gleen sepertinya pria yang sangat baik. Dia meminta kami semua untuk tinggal di rumah yang sangat mewah. Dia juga sudah menyiapkan dua orang perawat khusus yang akan menjaga Ayah dan Ibu. Aku rasa akan sangat tidak baik kalau Kakak sampai menolak pria sebaik Kak Gleen" imbuh Luri ikut berbisik.


"Lusi, bagaimana? Ayah dan Ibu sepenuhnya menyerahkan jawaban padamu karena dirimulah yang akan menjalani biduk rumah tangga bersama Nak Gleen" tanya Luyan, ayahnya Lusi.


"Iya Nak. Hanya kau yang tahu mana yang terbaik untuk masa depanmu kelak" imbuh Nita, ibunya Lusi.


Pandangan Gleen kini beralih kearah kekasihnya yang sedang di peluk oleh Luri dan juga Nania. Dia sangat berharap kalau gadisnya itu akan menjawab iya.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Lusi memberikan jawaban atas lamaran yang di lakukan oleh Gleen. Sambil menatap wajah kedua orangtuanya, dia mengiyakan, bersedia untuk menikah dengan pria yang selalu saja membuatnya kaget dengan kelakuan-kelakuannya yang spontan.


"Iya, aku bersedia menjadi istrimu. Dan terima kasih, terima kasih karena sudah memberiku kejutan yang sangat membahagiakan. Terima kasih Gleen..... 🥰🥰🥰🥰🥰


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: nini_lupss...


...🌻FB: Rifani...


__ADS_2