Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Karena Harta


__ADS_3

"Masih belum menemukan keberadaannya juga? Sebenarnya kalian itu benar-benar bekerja atau tidak hah! Sudah sekian lama tapi kalian masih saja tidak berhasil menemukan dimana parasit itu tinggal!" amuk Patricia pada seseorang yang sedang di telfonnya. "Aku tidak mau tahu, secepatnya kalian harus segera membawanya ke hadapanku. Jika tidak, maka bersiaplah untuk pergi ke neraka!."


"Jadi Nona mengancam kami, begitu? Hahahahaha... Nona Patricia, sebaiknya kau berhati-hati dengan lidahmu. Kau itu hanya seorang wanita bodoh yang haus akan harta, memangnya apa yang bisa kau lakukan pada kami hah!."


Patricia menyeringai lebar setelah di ejek oleh orang suruhannya. Dia dengan santai menaikan kakinya keatas meja kemudian balik mengancam orang tersebut. "Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Kalian jangan bodoh. Jika aku saja mampu membayar kalian dengan sangat mahal, apa kalian pikir aku tidak akan mampu membayar orang lain untuk menghabisi kalian? Aaa... Seharusnya kalian tahu siapa Jack-Gal. Aku dengar dia sudah kembali ke negara ini. Bagaimana? Apa kalian tertarik untuk mati di tangannya?."


Untuk sesaat tidak ada jawaban dari balik telefon. Dan Patricia yakin sekali kalau orang-orang itu pasti sedang ketakutan setelah mendengar nama Jack-Gal. Jujur saja, Patricia sebenarnya tidak bernyali untuk meminta bantuan pada pembunuh berdarah dingin itu, dia sengaja menggunakan nama Jack-Gal hanya untuk menggertak orang suruhannya supaya mereka bisa lebih patuh lagi pada perintahnya. Dan sepertinya apa yang dia lakukan berhasil. Terbukti karena orang-orang itu tidak ada yang berani membalas perkataannya.


"Kenapa diam? Jangan bilang kalian takut pada Jack-Gal!" ejek Patricia sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Nona Patricia, tolong beri kami waktu sebentar lagi untuk mencari tahu dimana Nona Eleanor tinggal. Benar-benar sulit bahkan untuk sekedar mencari sisa aktifitasnya di muka umum. Seperti ada orang lain yang sengaja menghapus jejaknya dimanapun. Sungguh, kami tidak bohong!."


Rahang Patricia mengetat. Sudah puluhan kali dia mendengar hal ini dari orang suruhannya. "Aku tetap tidak peduli. Apapun caranya kalian harus tetap menemukan keberadaan Eleanor secepatnya. Karena saat ini kita sedang berlomba dengan waktu. Bryan dan Karim, mereka pasti sudah menyebar banyak orang untuk melacak keberadaan Eleanor. Dan aku tidak mau kalau kalian sampai kalah start dari mereka. Akibatnya bisa fatal, aku akan kehilangan harta karun yang selama ini aku impikan. Jadi kalian tahu bukan apa yang harus di lakukan? Ingat, aku tidak membayar kalian dengan cuma-cuma. Berani berkhianat, maka bersiaplah mati di tangan malaikat Jack-Gal!."


Tok, tok, tok


"Cia, apa Ibu boleh masuk?."


Patricia segera menurunkan kakinya dari atas meja begitu mendengar suara ibunya. Dia kemudian memutuskan panggilan yang sedang berlangsung sebelum mempersilahkan ibunya untuk masuk.


"Ekhhmm, iya Bu masuk saja" sahut Patricia sambil membenarkan letak pakaiannya yang sedikit berantakan.


Pintu ruangan terbuka. Sejenak Yura tertegun melihat putrinya yang sedang tersenyum. Dengan penuh kebimbangan akhirnya Yura berjalan masuk ke dalam. "Apa Ibu mengganggumu, sayang?."


"Tidak sama sekali, Bu. Aku malah senang Ibu mau berkunjung kemari" jawab Patricia. "Duduklah Bu, jangan sungkan!."

__ADS_1


Yura mengangguk. Dia lalu mendudukkan bokongnya di kursi yang berada di depan meja kerja putrinya. "Cia, ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan denganmu."


Sebelah alis Patricia terangkat keatas. Dia bisa melihat ada yang tidak beres dengan raut wajah ibunya. Tak ingin berburuk sangka, Patricia segera mempersilahkan ibunya untuk bicara. "Apa yang ingin Ibu bicarakan? Kedengarannya itu sangat penting."


"Iya sayang, ini sangat penting" sahut Yura pelan. "Ayahmu, Ayahmu meminta Ibu untuk menjadi Ibu sambung Eleanor setelah dia di temukan. Dan Ibu, Ibu....


"Dan Ibu meng-iyakannya. Begitu?" sambung Patricia sambil mengeretakkan gigi. "Apa Ibu tahu apa artinya itu?."


Yura bangkit berdiri kemudian berjalan menghampiri putrinya. Dengan lembut dia mengelus pundak putrinya yang mulai marah. "Patricia, lebih baik kita urungkan saja niat kita yang ingin melenyapkan Eleanor. Kita, kita bisa hidup berdampingan nantinya. Ibu janji Ayah dan Kakekmu tidak akan membuang kita berdua. Patuh pada Ibu ya Nak?."


"Apa Ibu bilang? Patuh?" teriak Patricia kemudian menepis tangan ibunya. "Ayolah Bu, Ibu jangan mau di bodohi oleh mereka. Percaya padaku, begitu gadis sialan itu masuk ke rumah, maka kita akan langsung terabaikan. Jangan percaya dengan janji manis mereka Bu, mereka pasti memiliki maksud lain dengan sengaja meminta Ibu menjadi orangtua sambungnya Eleanor. Ibu hanya akan di peralat oleh mereka berdua. Percaya padaku!."


Emosi Patricia meledak. Dia tidak menyangka kalau ibunya akan berputar haluan secepat ini. Padahal baru tadi pagi dia merasa sangat bahagia karena ibunya mau bergabung dengannya untuk menyingkirkan Eleanor. Entah siapa yang sudah menghipnotis ibunya sampai-sampai ibunya nekad berbicara seperti ini sekarang.


"Patricia, tolong jangan seperti ini sayang. Ayah dan Kakekmu tidak sejahat yang kau pikirkan. Apa kau tahu, demi Eleanor, Ayahmu bahkan rela meminta maaf pada Ibu dan mengajak Ibu untuk membuka lembaran baru. Jika benar kedatangan Eleanor bisa membuat hubungan Ibu dan Ayahmu membaik, maka Ibu tidak akan merasa keberatan untuk menerima kehadirannya. Ibu harap kau juga seperti itu sayang. Kita berdamai saja dengan keadaan ini ya? Cia sayang Ibu kan?" bujuk Yura berusaha meluluhkan kemarahan putrinya.


Yura tercengang kaget begitu menyadari jika kemarahan Patricia ternyata berujung pada harta warisan yang di miliki keluarga suaminya. Dia tidak menyangka kalau selama ini Patricia menginginkan semua itu. Yura pikir Patricia bukanlah seorang gadis yang tamak, tapi apa yang dia lihat sekarang membuktikan jika putrinya tidak sebaik yang dia lihat selama ini.


"Patricia, apa kau sadar dengan ucapanmu barusan Nak? Kau begitu menggebu ingin menyingkirkan Eleanor hanya karena harta warisan milik Ayahmu? Patricia, ini bukan sikapmu sayang. Kau tidak begini sebelumnya, apa yang terjadi hem?" tanya Yura menolak percaya dengan apa yang dia lihat.


Patricia mendengus sambil menoleh kearah lain. Sekarang dia sudah tidak peduli lagi pada ibunya. Yang ada di fikirannya hanyalah bagaimana caranya bisa membunuh Eleanor kemudian mengambil alih seluruh harta kekayaan milik keluarga yang selama ini merawatnya. Patricia tak ingin lagi memikirkan kebahagiaan ibunya karena sekarang dia tahu kalau wanita yang sangat dia sayangi ini lebih memilih bahagia bersama ayahnya ketimbang berada di pihak yang sama dengannya. Memikirkan hal itu membuat Patricia semakin membenci Eleanor. Gara-gara gadis sialan itu sekarang ibunya jadi berpaling darinya.


"Sayang, tolong dengarkan Ibu ya. Berhenti mencari Eleanor dan berdamailah dengan hatimu. Ibu yakin Ayah dan Kakekmu pasti akan membagi harta mereka dengan adil untukmu dan juga untuk Eleanor. Jangan gelap mata hanya karena harta Nak, kau bisa kehilangan banyak hal jika terlalu mengejar kebahagiaan duniawi. Ibu mohon hentikan semua ini sebelum terlambat. Oke?" bujuk Yura penuh harap.


"Pergilah dari sini. Aku tidak butuh nasehat dari orangtua yang tidak mau mendukung kebahagiaan anaknya" usir Patricia acuh. "Dan juga mulai malam ini aku tidak akan kembali lagi ke rumah itu. Jika mereka menanyakan dimana aku, katakan saja kalau aku tidak sepantasnya ada di rumah mereka karena aku ini hanya orang luar. Kalian bertiga silahkan berbahagia menyambut kepulangan Eleanor. Itupun jika dia tidak mati di tanganku Bu!."

__ADS_1


"Patricia, Ibu mohon jangan seperti ini Nak. Ibu sangat menyayangimu, tolong jangan pergi dari rumah ya" ucap Yura panik.


"Aku baru akan pulang jika Ibu bersedia membantuku membunuh Eleanor. Jika tidak, maka...


"Patricia..


"Sudahlah, lebih baik sekarang Ibu pulang saja. Pekerjaanku masih sangat banyak, tolong jangan membuang-buang waktuku lagi!."


Yura tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia tidak mungkin membiarkan putrinya hidup sendirian di luar rumah. Tapi lebih tidak mungkin lagi dia menuruti keinginannya yang ingin melenyapkan nyawa calon anak sambungnya.


"Patricia, Ibu..


"Pergi!" usir Patricia tanpa melihat wajah ibunya.


Meski hatinya sedih, Yura akhirnya menuruti keinginan Patricia untuk pergi dari sana. Sebelum Yura menutup pintu, dia terus menatap dalam kearah putrinya berharap kalau gadis itu akan berubah pikiran. Namun nihil, putrinya malah tenggelam dalam tumpukan berkas yang tersusun di atas meja. Yura baru benar-benar pergi dari sana saat menyadari kalau putrinya sudah tak mau lagi untuk sekedar melirik kearahnya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2