
"Tidak mungkin!"
Wajah Patricia pucat pasi. Bibirnya nampak bergetar hebat setelah dia mendapatkan hasil tes urine yang baru saja dia lakukan di kamar mandi ruangannya.
"Tidak mungkin aku hamil. Aku tidak mau mempunyai anak dari Junio, aku tidak mau!" jerit Patricia histeris.
Marah dengan hasil tes tersebut, Patricia langsung membuangnya ke dalam kloset. Dia lalu menekan tombol air hingga berulang-ulang. Berharap kalau semua ini hanyalah mimpi buruk semata.
"Hikssss, aku tidak mau mengandung anak dari pria jahanam itu. Aku tidak sudi rahimku di tinggali oleh anak iblis sepertinya. Tidak mau!"
Kalut dengan apa yang sedang menimpanya, tiba-tiba saja terlintas di pikiran Patricia untuk menggugurkan bayi tersebut. Dia sungguh tidak mau mempunyai anak dari seorang pria bajingan yang telah merusak hidupnya. Patricia tidak mau mengandung seorang bayi yang berasal dari hubungan tidak sehat seperti yang dilakukan oleh Junio. Patricia benar-benar tidak mau.
"Ya, bayi ini harus mati. Dia tidak boleh terlahir ke dunia ini. Anak h*ram ini tidak boleh hidup, dia harus mati!" teriak Patricia frustasi.
Tak kuat menahan tekanan yang ada, Patricia pun bergegas keluar dari ruangannya. Dia mencoba untuk bersikap setenang mungkin ketika berpapasan dengan ayahnya yang sedang berjalan bersama beberapa karyawan lain.
"Cia, kau kenapa sayang? Kenapa penampilanmu terlihat berantakan sekali? Apa yang terjadi?" cecar Bryan khawatir.
"Aku tidak kenapa-napa, Ayah. Hanya saja tadi perutku sedikit sakit, jadi ya begini," jawab Patricia berkilah.
Bryan terkejut. Dia segera mendekati putrinya lalu mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
"Ayah antar ke dokter ya? Pagi tadi kau tidak ikut sarapan, mungkin lambungmu yang bermasalah."
Patricia menjadi gugup saat mendengar ucapan ayahnya. Dia gelisah, itu sudah pasti. Patricia tidak berani membayangkan kemarahan sang ayah jika mengetahui kalau saat ini dirinya tengah mengandung seorang bayi di luar pernikahan. Ayah dan ibunya pasti akan merasa sangat kecewa, atau bahkan malah membencinya. Memikirkan hal itu membuat dada Patricia semakin terasa sesak. Setengah mati dia berusaha agar tidak menangis di hadapan sang ayah.
"Cia, mau kan?" tanya Bryan kian khawatir melihat putrinya yang terlihat seperti orang linglung.
__ADS_1
"Em Ayah, Ayah tidak perlu repot-repot mengantarkan aku ke dokter. Aku ini hanya sakit perut biasa, bukan sesuatu yang berbahaya. Jadi lebih baik Ayah tetap di perusahaan saja ya," jawab Patricia mencoba membujuk ayahnya supaya tidak ikut pergi ke rumah sakit.
"Tapi Ayah khawatir padamu, Nak. Bagaimana kalau saat di jalan perutmu tiba-tiba sakit kemudian kram? Bukankah itu malah jauh lebih berbahaya lagi?"
Patricia terkekeh. Dia lalu menggenggam tangan ayahnya. Ada rasa hangat yang mengalir ke dalam hatinya saat pria yang dulu selalu bersikap dingin padanya kini berbalik menjadi begitu hangat. Perhatian yang di tunjukkan oleh ayahnya membuat Patricia merasa sedikit terhibur. Dia bahagia meski saat ini batinnya sedang sangat tertekan.
"Sakit perutku bukan berasal dari lambung yang bermasalah, Yah. Tapi ini karena masa periode bulananku sudah tiba. Makanya perutku sedikit terasa tidak nyaman. Dan sekarang aku berniat pergi ke dokter untuk meminta obat pereda nyeri seperti yang biasa aku lakukan. Jadi Ayah tidak perlu khawatir ya."
"Benar hanya karena tamu bulanan?"
Bryan masih belum percaya. Meski selama ini dia tak pernah memperhatikan kebiasaan putrinya, Bryan belum pernah melihat putrinya dalam keadaan seperti ini. Patricia bukan terlihat seperti orang yang sedang kesakitan, melainkan seperti orang yang sedang ketakutan. Namun dia tak mungkin memaksa putrinya untuk bicara terus terang. Lebih baik dia tunggu saja putrinya bicara sendiri. Siapa tahu Patricia seperti ini karena masih memikirkan kejadian yang sudah lewat
"Ya sudah kalau begitu. Kau berhati-hatilah saat menyetir, atau kalau tidak suruhlah orang untuk menemanimu pergi ke dokter!" ucap Bryan kemudian memeluk putrinya sebentar. "Ayah bisa digorok Ibumu kalau kau sampai kenapa-napa. Tahu?"
Patricia tergelak mendengar bisikan sang ayah. Dia dengan sangat erat membalas pelukan itu, berusaha menyampaikan dalam diam kalau sekarang hidupnya sudah benar-benar hancur. Juga ingin menyampaikan permintaan maaf karena sebentar lagi dia akan kembali melakukan kesalahan yang sangat luar biasa besar.
Bryan mengangguk. Dia terus memperhatikan punggung putrinya yang sedang berjalan menuju pintu keluar perusahaan.
Cia, Ayah harap semuanya memang benar baik-baik saja. Kau sudah lama hidup dalam ketidakbahagiaan. Semoga saja kali ini kau tidak lagi melakukan sesuatu yang salah.
Setelah sampai di parkiran mobil, airmata Patricia langsung menetes. Dia tak tahan, rasanya begitu sakit seperti sedang menelan butiran kerikil tajam. Tangan Patricia kemudian terulur ke bagian perut, mengelusnya beberapa kali yang mana perbuatannya itu malah membuatnya semakin terisak sedih.
"Kenapa harus anakmu, Junio. Kenapa harus kau yang menanam benih di dalam rahimku. Dulu aku selalu berharap kalau aku akan mempunyai anak dari pria yang sangat mencintaiku. Pria yang akan selalu memperlakukan aku seperti ratu yang sangat berharga. Tapi sekarang, jangankan mencintaiku, kau bahkan hanya menganggapku sebagai pemuas n*fsu gilamu saja. Aku benar-benar tidak sudi melahirkan anak ini, Junio. Aku tidak sudi mempunyai anak dari seorang iblis sepertimu. Tidak sudi!" jerit Patricia histeris.
Andai saja ada yang melihat keadaan Patricia sekarang, mereka pasti akan mengira kalau Patricia sedang mengalami patah hati akut. Bagaimana tidak! Dandanan wajahnya terlihat begitu kacau, sementara mulutnya tak berhenti mengeluarkan kata-kata umpatan kasar yang di arahkan pada seorang pria bernama Junio. Sungguh malang.
"Hikssss Ibu... aku hancur, Bu. Hidupku sudah benar-benar habis sekarang. Lihatlah Bu bagaimana Tuhan memberikan karma padaku. Dia bahkan mengirimkan seorang malaikat kecil yang tidak aku kehendaki. Aku tidak mau ini Bu, aku tidak mau anak ini. Tolong aku, hidupku hancur Bu. Hancur!!!"
__ADS_1
Dalam kekalutannya, Patricia segera memacu mobil menuju rumah sakit yang bisa membantunya menghilangkan janin tersebut. Ya, Patricia akan menggugurkan bayi ini. Biarlah dia menjadi seorang pembunuh. Asalkan bayi ini tidak lahir ke dunia, maka dia siap menjadi seorang penjahat yang dengan begitu kejam tega melenyapkan nyawa anaknya sendiri.
Di saat Patricia sedang kalut akan kehamilannya, di kediaman Junio, pria itu sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Junio terlihat seperti zombi yang tidak memiliki aliran darah dimana kini dia tengah terkapar lemas di lantai setelah memuntahkan segala makanan yang ada di dalam perutnya. Sungguh, keadaan Junio jauh lebih mengenaskan jika di bandingkan dengan Patricia.
"Tuan, minum dulu air hangatnya," ucap salah seorang pelayan.
"Aku tidak mau. Sekarang cepat ambilkan asinan kedondong yang tadi kalian buat. Sekarang!" sahut Junio masih tetap arogan meskipun keadaannya sedang sangat mengenaskan.
Si pelayan mengangguk. Sambil menahan tawa, pelayan itu segera berlari ke dapur untuk mengambil apa yang diinginkan oleh si majikan. Sedangkan para pelayan lainnya, mereka sibuk berbisik-bisik menertawakan keadaan tuan mereka yang harus mengalami ngidam.
"Hihii, kira-kira wanita mana ya yang sedang mengandung anaknya Tuan Junio? Aku penasaran sekali."
"Iya, aku juga sangat penasaran. Kita tunggu saja, aku yakin sekali wanita itu pasti sebentar lagi akan datang kemari untuk menuntut tanggung jawab dari Tuan Junio. Aih, kejadian ini benar-benar sangat lucu. Kapan lagi kita semua bisa melihat Tuan Junio tidak berdaya seperti ini? Benar tidak?"
"Benar sekali."
"Hahahaa....
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π»IG: rifani_nini...
...π»FB: Rifani...
__ADS_1