Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pertengkaran


__ADS_3

Elea menjadi sangat khawatir ketika melihat wajah Levi yang kian memucat. Mereka akhirnya membatalkan acara untuk berburu berlian setelah melihat Levi yang hampir pingsan saat di toko pakaian dalam tadi.


"Ares, apa muatan di mobil ini terlalu berat?.


Ares yang sedang mengemudi sedikit bingung dengan pertanyaan nyonya-nya. Dia kemudian menjawab tanpa menoleh kearah belakang.


"Maaf Nyonya, saya kurang paham dengan pertanyaan anda barusan."


"Mobil ini berjalan lambat, jadi aku berfikir mungkin saja karena muatannya terlalu banyak. Makanya aku bertanya seperti itu padamu" jawab Elea.


"Oh, begitu. Tidak Nyonya, saya sudah melajukan mobil ini semaksimal mungkin. Tapi karena ini adalah jam istirahat, jadi jalanannya sedikit macet. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nyonya?.


Elea mengangguk. Dia kemudian mengusap pundak Levi yang sedang terlelap di pelukannya. Kalau kalian penasaran dimana suaminya, saat ini suaminya sedang duduk di kursi depan tepat di sebelahnya Ares. Suaminya yang tampan itu merajuk karena Levi memaksa untuk duduk di belakang bersamanya. Jadi sejak masuk ke dalam mobil suaminya sama sekali tidak mau bicara. Dia hanya diam dengan wajah masam semasam jeruk nipis. Asam sekali.


"Cepatlah sedikit, tubuh Kak Levi semakin panas. Aku takut dia mati terbakar di jalan!.


Hampir saja Ares menginjak rem mobil ketika mendengar suara teriakan dari arah kursi belakang. Gabrielle yang tengah merajuk pun sampai terperanjat kaget di buatnya. Dia segera berbalik, menatap penuh khawatir kearah istrinya yang sedang meringis sambil memegangi telinganya yang sudah memerah.


"Sayang, kenapa berteriak? Apa yang terjadi?" cecar Gabrielle cemas.


"Kak Levi menggigit telingaku, Kak" jawab Elea kemudian menatap horor kearah wanita yang sedang terlelap di pelukannya. "Mungkin dia terjangkit virus zombie karena terlalu panas!.


"Sekali lagi kau bicara sembarangan tidak hanya telingamu saja yang aku gigit, tapi seluruh tubuhmu juga. Bisa-bisanya kau menyumpahiku mati di tengah jalan hanya karena demam, Elea" sungut Levi masih dengan mata terpejam.


"Jadi kau hanya pura-pura tidur?" kesal Gabrielle yang kaget mendengar Levi bicara.


"Aku bahkan bisa berpura-pura mati" jawab Levi asal.


"Mulutmu Kak Levi. Ingat, ucapan adalah do'a" tegur Elea.


Levi tertawa. Dia kemudian mendesis lirih ketika kepalanya mulai berdenyut.


"Kenapa Kak? Apa Tuhan langsung mengirim azab untukmu gara-gara ucapan tadi?" cecar Elea panik melihat Levi melenguh kesakitan.


Pletakk


"Kau sudah tidak menginginkan jarimu lagi ya Lev? Beraninya kau menyentil kening istriku!" omel Gabrielle tak suka melihat istrinya di sakiti.


"Cihh, baru juga di sentil, belum di bacok. Begitu saja langsung mengancam orang" sindir Levi.


"Ya iyalah. Yang kau sakiti itu istriku. Wajar kalau aku marah" sahut Gabrielle tak terima dengan sindiran yang di lontarkan Levi.


"Marah ya marah saja, kenapa kau meneriaki orang sakit!.

__ADS_1


Ares hanya bisa menarik nafas perlahan mendengar perdebatan antara Tuan Muda-nya dengan Levi. Selalu seperti ini setiap kali kedua orang ini bertemu. Tuan Muda-nya yang terlalu overprotective, dan si wanita bar-bar yang suka sekali mencari masalah. Benar-benar definisi anjing dan kucing yang saling berebut makanan.


"Kak Levi, kalau kau sudah punya tenaga untuk bertengkar sebaiknya kau jangan memelukku terus. Tubuhku ini kecil, aku takut aku akan menjadi orang kerdil kalau kakak terus menempel seperti ini" celetuk Elea sambil mendesah panjang melihat pertengkaran yang terjadi.


"Benar apa katamu sayang. Lebih baik kau tendang dia keluar dari dalam mobil, setelah itu datang padaku. Aku tidak keberatan untuk memelukmu selama apapun itu" imbuh Gabrielle senang karena akan segera mendapat celah untuk berdekatan dengan istrinya.


"Jangan harap!" sergah Levi sambil memelototkan mata kearah Gabrielle. "Elea, memangnya kau tega membiarkan aku yang sedang sakit ini, hem?.


Saat Gabrielle ingin membalas ucapan Levi, ponsel dalam sakunya bergetar. Dia menatap lama id sang penelfon sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?.


"Gabrielle, Kakek Karim pingsan. Menurutmu apa kita perlu untuk memberitahu Elea tentang hal ini? Dia terus menyebut namanya sejak tadi!.


Gabrielle kemudian melihat kearah Elea. Dia menarik nafas dalam-dalam sambil memikirkan ucapan Reinhard.


"Kalau aku pribadi kau pasti sudah tahu apa jawabannya. Aku sangat tidak mau melihat awan mendung di wajahnya."


"Aku juga berpikiran hal yang sama sepertimu tadi. Tapi melihat kondisi Kakek Karim sekarang aku menjadi sedikit tidak tega padanya. Orangtua ini menyiksa diri dengan tidak mau memakan sebutir nasi pun sejak beberapa hari lalu. Dia sepertinya sudah tidak mau hidup lagi!.


Tubuh Gabrielle sedikit menegang ketika di beritahu apa yang telah di lakukan oleh kakeknya Elea. Dia mulai bimbang.


"Sekarang bagaimana keadaannya? Apa benar-benar sudah separah itu?.


"Kakek Karim masih belum sadar, Gab. Dan Paman Bryan kondisinya juga sedang tidak baik setelah aku memberitahu kalau Nyonya Clarissa akan datang ke negara ini!.


"Kenapa kau memberitahunya tanpa mendiskusikannya dulu denganku, Rein? Kau sudah gila ya!" teriak Gabrielle kaget.


"Kak, Kakak sedang bicara dengan siapa?" tanya Elea tak dapat menahan diri lagi.


Tiba-tiba ada segurat kekhawatiran di benak Elea ketika mendengar percakapan suaminya. Dia seperti mendapat firasat kalau sedang terjadi sesuatu pada salah satu orang yang berhubungan dekat dengannya. Sambil terus mengusap bahu Levi, Elea menantikan jawaban dari suaminya.


"Aku tutup dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi!.


Panggilan terputus. Gabrielle segera berbalik badan menghadap kearah istrinya.


"Sayang, tadi Reinhard yang menelfon. Dia bilang..


"Kak Reinhard bilang apa Kak?" desak Elea semakin merasa tidak enak.


Gabrielle tak langsung menjawab pertanyaan Elea. Dia ragu, tapi juga kasihan. Batinnya berperang sengit.


"Kak, jangan menutupi apapun dariku. Aku tahu pasti sesuatu telah terjadi kan?.

__ADS_1


"Janji padaku dulu kalau kau akan mengendalikan emosimu setelah mendengar kabar ini" jawab Gabrielle.


Elea langsung mengangguk. Sementara Levi, dia diam menyimak sambil menahan rasa panas di tubuhnya.


"Kakek Karim jatuh pingsan, dan dia selalu menyebut namamu. Sepertinya Kakekmu itu terlalu menyesali semua dosa yang pernah dia lakukan dulu sampai-sampai menolak untuk makan selama beberapa hari ini. Dan juga tadi Reinhard sudah memberitahu Ayah kalau Grandma akan datang ke negara ini. Ayah kemungkinan sangat kaget dan sekarang kondisinya juga tidak baik!" ucap Gabrielle kemudian menatap lekat-lekat wajah istrinya yang langsung murung. "Sayang, kau baik-baik saja kan?.


"A-aku.... Kak Iel, ayo pergi ke rumah Ayah. Aku tidak mau mereka kenapa-napa" jawab Elea panik.


"Sayang...


"Sesalah apapun Kakek, beliau adalah Ayahnya Mama Sandara. Aku memang marah dan kecewa, tapi semua itu sudah terlanjur terjadi. Akan sangat jahat kalau aku terus-terusan menghukum Kakek dengan sengaja menjaga jarak darinya seperti ini. Aku tidak mau menjadi orang yang penuh sesal jika sampai terjadi hal buruk padanya. Sudah cukup aku menghukumnya, aku tidak mau Kakek kenapa-napa Kak!.


Untuk beberapa saat Gabrielle di buat tertegun oleh keputusan istrinya. Namun setelah itu dia tersenyum. Gabrielle lega karena akhirnya Elea mau berdamai dengan rasa kecewanya tanpa ada paksaan dari siapapun.


"Kita ke rumah Ayah Mertuaku Res!.


"Baik Tuan Muda" sahut Ares ikut merasa lega.


Levi merasa terharu akan kebesaran hati Elea memaafkan kesalahan ayah mertua bibinya.


"Kau mengambil keputusan yang sangat tepat, Elea. Hatimu mungkin sakit, tapi kau akan merasa jauh lebih sakit jika tetap tidak mau menerima permintaan maaf Kakek Karim hingga di akhir hayatnya. Ingatlah sayang, semua yang menimpamu sudah menjadi suratan takdir. Tuhan memberimu cobaan seberat ini karena Tuhan yakin kau pasti bisa melewatinya..."


Elea menangis lirih kemudian mengangguk saat dia mendengar petuah dari Levi. Dia tahu beberapa waktu lalu dia memang sempat egois dengan membenci kakeknya, tapi sekarang Elea sadar kalau ternyata dia sangat menyayangi orang yang telah menyia-nyiakannya selama ini. Elea tidak ingin kakeknya kenapa-napa. Dia ingin hidup bahagia bersama keluarganya di masa depan.


"Sayang, kalau malam ini kau ingin menginap di rumah Ayah aku tidak akan keberatan. Aku tahu kau sedang ingin menghabiskan waktu bersama mereka" ucap Gabrielle legowo.


"Apa boleh seperti itu Kak?.


"Tentu saja boleh."


"Lalu jadwal lingerie itu bagaimana? Bukankah malam ini Kakak memintaku untuk memakai model lingerie yang seperti laba-laba?.


Gabrielle menghela nafas. Istrinya sangat pintar merusak suasana bukan?.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


WARNING!!!!! Emak lagi iseng. Jadi sewaktu-waktu bisa nongol part susulan. Hati-hati, persiapkan hati kalian. Oke 🔨🔨🔨🔨🔨🔨


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2