Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Akal Bulus


__ADS_3

Elea duduk diam di atas kloset dengan tatapan mata yang kosong. Dia sebenarnya tidak bermaksud melarikan diri saat para dokter datang untuk memeriksanya. Namun rasa trauma akan kejadian yang pernah di alaminya membuat Elea menjadi panik dan ketakutan. Dia merasa kalau wajah semua dokter sama persis dengan wajah orang yang pernah melecehkannya dulu.


Karena terbayang dengan masa kelamnya, tanpa sadar tangan Elea mencakar bagian tubuhnya yang pernah di sentuh oleh tangan pria jahanam itu. Dia seperti tidak merasakan rasa perih saat darah mulai merembes keluar dari kulitnya yang terkelupas.


"Tubuhku kotor, tubuhku kotor!" gumam Elea lirih.


Elea menulikan telinganya saat pintu kamar mandi di gedor-gedor dari luar. Hatinya sedang hancur, jadi dia tidak mau bertemu dengan siapapun. Jijik, itulah yang dia rasakan sekarang.


"YAAAKKKKKK, KAU MAKHLUK KECIL.... KALAU KAU TIDAK MAU KELUAR DARI TEMPAT PERSEMBUNYIANMU MAKA BERSIAPLAH UNTUK MATI DI DALAM. KAMAR MANDI INI AKAN AKU LEDAKKAN MENGGUNAKAN RUDAL YANG KUBELI DI RUSIA. CEPAT KELUAR, AKU HITUNG SAMPAI TIGA!".


Kesadaran Elea langsung kembali begitu dia mendengar suara teriakan dari wanita yang dia kenal. Namun tubuhnya masih terlalu berat untuk beranjak dari sana.


"Apa Kak Levi masih mau berteman denganku jika dia tahu kalau aku pernah di lecehkan oleh seseorang?" ucap Elea sedih.


"SATU.....!".


Mata Elea menatap kearah pintu. Dia mulai bimbang.


"TIGA.. ELEA, AKU AKAN BENAR-BENAR MENEMBAKKAN RUDAL UNTUK MENGHANCURKAN KAMAR MANDI INI SEKARANG JUGA. BERANINYA KAU MEMBUATKU KESAL!!".


Elea tergelak.


"Bukankah seharusnya Kak Levi menghitung angka dua dulu, tapi kenapa dia meloncat ke hitungan ketiga? Apa jangan-jangan Kak Levi sebenarnya tidak bisa berhitung? Wahh, itu berarti aku memiliki teman yang sama bodohnya sepertiku!" ucap Elea pelan kemudian terkikik lucu.


Sementara itu di luar kamar mandi, Levi tampak begitu emosi. Dadanya bergerak naik turun dengan tangan yang menempel di pinggangnya.


"Brengsek, beraninya makhluk kecil itu mengabaikan peringatanku!".


"Jaga mulutmu, Levi. Beraninya kau mengatai istriku seperti itu!" protes Gabrielle tak terima.


"Memangnya kenapa. Aku bahkan pernah memakinya dengan hal yang jauh lebih buruk dari pada ini. Dan Elea sama sekali tidak keberatan. Dia bahkan tidak tersinggung saat aku menyebutnya sebagai gadis miskin yang bodoh!" sahut Levi.


"Di maki seperti apapun Elea tidak akan pernah berani untuk melawanmu, Levi. Kemampuan otaknya sangat terbatas untuk sekedar membalas makianmu!".


"Nah, justru karena itulah aku sangat takut kehilangannya. Dimana lagi aku bisa menemukan orang yang tetap diam saat dirinya di maki? Hanya Elea saja yang mau menerimanya dengan suka rela!" ucap Levi dengan santainya.


"Kau...


Ceklek


"Akhirnya kau menampakkan dirimu juga, Elea. Hampir saja aku meminta suamimu untuk segera memesan rudal itu!" ucap Levi begitu pintu kamar mandi terbuka.


Mata semua orang terbelalak lebar melihat kondisi Elea sekarang.


"Elea, kau kenapa!!!" pekik Gabrielle dan Levi berbarengan.


Elea diam tak bersuara. Lidahnya kelu, dia bahkan belum menyadari seberapa parahnya luka yang dia buat saat di kamar mandi tadi.


"Kak Levi, aku takut" cicit Elea lirih.


"Kau tunggu apalagi Reinhard, cepat ambil obat sekarang!" teriak Gabrielle panik.

__ADS_1


"Oke, oke!" sahut Reinhard tergagap kemudian berlari mengambil kotak obat.


Dengan wajah yang masih sangat syok Gabrielle membopong tubuh istrinya kemudian membawanya kearah ranjang.


"Tunggu sebentar ya, Reinhard sedang mengambilkan obat untukmu!" ucap Gabrielle setelah menurunkan Elea dari gendongannya.


Levi masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Tubuhnya seperti membeku melihat teman kecilnya terluka seperti itu.


"Nona Levi, anda baik-baik saja?" tanya Nun.


Kepala Levi menggeleng. Matanya terus melihat kearah ranjang.


"Itu, kenapa Elea bisa terluka? Apa Gabrielle memelihara binatang buas di dalam kamar mandi?" tanya Levi tak sadar.


"Tidak Nona. Tapi jika Nona ingin tahu apa penyebabnya, maka bantulah mengobati luka di wajah dan tubuh Nyonya. Nyonya adalah orang yang sangat jujur, beliau pasti akan menjawab kalau Nona bertanya!" jawab Nun.


Setelah mendapat masukan dari Nun, Levi segera berjalan menghampiri Gabrielle dan Elea. Pandangan matanya terus terarah pada luka gores yang hampir memenuhi kulit di tangan Elea. Beruntung luka goresan di wajahnya hanya sedikit saja.


"Makhluk kecil, kau kenapa?" tanya Levi sembari duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang.


Elea menoleh. Ingin rasanya dia masuk ke dalam pelukan wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Sayang?" panggil Gabrielle.


"Aku,aku....


Perkataan Elea terputus. Dia mengerjapkan matanya saat merasa ingin menangis.


Gabrielle sedikit kaget mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya. Dia lalu menatapnya lekat-lekat.


'Bersikap seperti biasanya? Apa ini artinya kalau selama ini Elea sengaja memperhina dirinya sendiri? Tapi kenapa dia melakukan semua itu? Ada apa ini, kenapa aku merasa kalau Elea menyembunyikan sesuatu yang sangat besar?'.


"Gabrielle, tolong beri aku ruang untuk mengobati istrimu. Lukanya bisa terinfeksi jika tidak segera di bersihkan!" ucap Reinhard meminta izin.


"Enak saja. Kau pikir aku tidak tahu niatmu yang ingin menyentuh tubuh istriku apa. Mana obatnya, biar aku yang mengobati luka-luka ini!" sahut Gabrielle jengkel.


Reinhard dan Levi tercengang mendengar tuduhan yang di lontarkan Gabrielle. Mereka di buat kaget dengan rasa cemburu dan juga sikap posesif yang di tunjukkan oleh pria dingin ini.


Wajah Elea memucat melihat Reinhard yang mengenakan pakaian dokter. Dia segera menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


"Elea, sayang, kau kenapa? Hei?" tanya Gabrielle kaget.


"Aku tidak mau melihat dokter, Kak Iel. Tolong!" jawab Elea ketakutan.


Gabrielle menjadi bingung sendiri melihat respon istrinya. Hal itu pun juga di rasakan oleh semua orang yang ada di dalam kamar ini.


"Tidak apa-apa sayang, dokter ini temanku. Namanya Reinhard!".


"Tidak maauuuu, aku tidak mauuu!" teriak Elea histeris.


"Sayang..

__ADS_1


"Gabrielle sudah, jangan di teruskan. Kau perlu menyelidiki sesuatu jika ingin tahu kenapa istrimu bisa setakut ini melihatku. Psikologis istrimu sepertinya mengalami masalah!" ucap Reinhard pelan di samping telinga Gabrielle.


Gabrielle menelan ludah tak percaya. Selain bekerja sebagai dokter spesialis kandungan, Reinhard juga adalah seorang psikolog. Jadi sangat wajar kalau dia langsung tahu jika ada masalah pada kejiwaan Elea.


"Apakah buruk?" tanya Gabrielle sedih.


Reinhard menghela nafas. Dia lalu melihat kearah gadis kecil yang masih bersembunyi di dada temannya.


"Obati dulu lukanya. Kita akan membicarakan hal ini nanti. Sekarang aku keluar dulu, keadaan istrimu bisa memburuk jika aku terus berada di sini".


"Baiklah. Nun, tolong kau antarkan Reinhard ke ruanganku!" ucap Gabrielle.


"Baik Tuan Muda!".


Levi diam termenung di sebelah ranjang. Dia juga mendengar apa yang baru saja di bicarakan Gabrielle dengan temannya.


"Kenapa kau masih ada di sini?".


Lamunan Levi buyar. Dia lalu menatap bengis kearah Gabrielle.


" Memangnya apa masalahmu?" ucap Levi balik bertanya.


"Tentu saja itu masalah. Pergilah, sekarang bukan waktunya untuk kita bertengkar. Elea sedang seperti ini, tolong kau jangan memancing keributan!" usir Gabrielle sembari membelai rambut istrinya.


"Cihhhh, bilang saja kau ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Iya kan? Gabrielle-Gabrielle, kau pikir aku tidak tahu apa dengan akal bulus yang ada di dalam pikiranmu?" tuduh Levi.


"Kecilkan suaramu bodoh. Elea sedang sakit!" geram Gabrielle.


Saat Levi ingin kembali membalas perkataan Gabrielle, tiba-tiba saja mereka mendengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya Elea. Seketika Gabrielle dan Levi saling berpandangan kemudian tersenyum samar.


"Bagaimana bisa dia tertidur di tengah-tengah pertengkaran kita, Gab? Astaga, gadis sepertinya memang hanya ada satu di dunia!" ucap Levi pelan.


"Keluarlah. Nun sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu!".


Kali ini tidak ada bantahan dari Levi. Dia sadar betul kalau Gabrielle tidak akan bisa berbuat macam-macam pada Elea.


"Berhenti berfikir yang tidak-tidak tentangku, Levi. Aku bukan pria hidung belang seperti yang kau tuduhkan!" ucap Gabrielle jengah.


Levi terkekeh. Dia bangkit berdiri kemudian melenggang pergi dari sana. Sebelum menutup pintu kamar, dia masih sempat untuk mengatakan sesuatu yang membuat Gabrielle merasa begitu dongkol.


"Kunci kamar ini akan aku bawa. Jadi, waspadalah kalau kau ingin berbuat tak senonoh pada Elea karena aku bisa muncul tiba-tiba. Hehe!".


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2