Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Cacing Laknat


__ADS_3

Setelah menemani kakeknya hingga tertidur, barulah Elea masuk ke kamarnya. Dia terperanjat kaget saat sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya begitu dia membuka pintu. Aroma maskulin langsung menyerbu indra penciuman Elea begitu tubuh mereka saling bersentuhan. Bibirnya tersenyum.


"Sayang, kenapa lama sekali. Aku sampai kering menunggumu di kamar sejak tadi" bisik Gabrielle sembari menciumi tengkuk putih istrinya.


"Ih, geli Kak" ucap Elea sambil menggeliat. "Jangan seperti ini, kita masih di depan pintu!.


"Memangnya siapa yang berani mengganggu kebersamaan kita, hem? Biar aku rontokkan giginya kalau orang itu berani banyak bicara!.


Nafas Gabrielle memburu. Membaui aroma tubuh istrinya langsung menggugah birahi yang sejak tadi sudah dia tahan. Gabrielle mulai kalap, jari-jari tangannya mulai bergerak nakal menelusuri perut rata istrinya.


"Kak Iel tutup dulu pintunya. Aku malu kalau sampai ada yang melihat perbuatan kita" bisik Elea sambil menahan desahan.


Tanpa membuang waktu lagi Gabrielle segera membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Tak lupa juga dia menutup pintu menggunakan kaki kemudian langsung menguncinya.


"Sekarang sudah tidak malu lagi kan?.


Elea mengangguk. Dia menahan wajah suaminya yang sedang mengarah ke bibirnya.


"Sayang, apalagi?" kesal Gabrielle.


"Katakan padaku siapa yang Kakak temui saat Kakek baru tersadar tadi. Aku tahu Kakak bukan pergi untuk berbicara dengan Ares, tapi Kakak berbicara dengan orang lain. Siapa?" cecar Elea dengan sorot mata yang terlihat begitu serius.


Gabrielle mendengus. Sudah pergi pun wanita sialan itu masih mengganggu kebersamaannya dengan Elea. Tak ingin istrinya salah paham, dia pun segera memberi penjelasan. Gabrielle menarik tangan Elea menuju sofa kemudian memintanya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Duduklah!.


Dengan patuh Elea menuruti perintah suaminya. Matanya terus tertuju pada manik mata pria tampan ini, dia masih menunggu jawaban atas pertanyaan yang tadi.


"Sepenasaran ini, hem?.


"Siapa Kak?" desak Elea.


"Patricia. Dia menguping pembicaraan kita saat di kamarnya Kakek tadi" jawab Gabrielle seraya membelai pinggang istrinya. "Dia terang-terangan mengibarkan bendera perang untuk merebutku darimu. Sangat menjijikkan!.


"Oh, jadi kucing belang itu sudah tidak bersembunyi lagi di balik topeng manisnya?" tanya Elea dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Ya, dan dia secara terbuka juga mengakui perasaannya padaku" jawab Gabrielle. "Sayang, menurutmu harus aku apakan wanita tidak tahu diri itu?.


"Kak Iel, salah tidak kalau aku membotaki kepalanya?.


"Mencongkel matanya pun tidak apa-apa. Kau boleh dan tidak akan salah jika melakukan sesuatu pada iblis itu. Patricia sangat licik, aku harap kau sedikit berhati-hati jika ingin memberinya pelajaran" jawab Gabrielle sedikit khawatir.


Elea menyeringai. Gabrielle yang tak pernah melihat istrinya tersenyum semengerikan ini sedikit kaget. Dia mulai menerka-nerka hal seperti apa yang akan di lakukan istrinya pada Patricia.

__ADS_1


"Aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku hanya untuk memberinya pelajaran, Kak. Karena aku sudah cukup puas melihat apa yang akan terjadi pada Patricia kelak!.


"Jadi kau sudah melihat masa depan Patricia?.


Elea mengangguk. Dia memainkan dasi di leher suaminya sembari menceritakan apa yang dia lihat saat pertama kali bertatap muka dengan Paman Gleen.


"Beritahu aku siapa sebenarnya Paman Gleen dan rahasia apa yang dia sembunyikan dari semua orang. Jawab jujur Kak karena Paman Gleen akan menjadi bagian dari masa depan kucing belang itu!.


Mata Gabrielle menelisik dalam ke manik mata istrinya. Dia bingung kenapa Gleen bisa menjadi bagian dari masa depan Patricia. Tak ingin mati penasaran, Gabrielle mencoba menebak melalui rahasia besar yang di sembunyikan oleh Gleen dan juga Junio.


"Apa kau melihat Patricia berada di antara para wanita bertubuh kaku?.


"Iya. Dia akan menjadi salah satu dari mereka, dan disana aku melihat Paman Gleen sedang bersama seorang pria yang lain. Apa yang mereka lakukan, Kak? Aku tahu mereka sudah membunuh semua wanita yang ada di sana" jawab Elea begitu penasaran.


"Manekin. Pria yang bersama Gleen bernama Morigan Junio, mereka sama-sama memiliki obsesi aneh dengan menjadikan wanita cantik sebagai koleksi manekin di ruang bawah tanah rumah mereka. Tapi sebelum tubuh para wanita itu di awetkan, mereka sudah membunuhnya terlebih dahulu. Untuk alasannya sendiri aku tidak terlalu tahu, sayang. Karena itu bukan ranahku untuk mencampuri urusan pribadi mereka!.


Begitu mendengar penjelasan suaminya benak Elea langsung di penuhi kekhawatiran. Dia takut terjadi sesuatu pada Lusi karena sekarang temannya itu sedang di dekati oleh Gleen.


"Tenanglah, Gleen tidak akan mungkin berani menyakiti Lusi. Dia itu hanya tertarik pada wanita cantik yang suka mengganggu hubungan orang lain, contohnya Patricia. Sedangkan Lusi, temanmu itu begitu polos. Dan dari gelagatnya Gleen aku bisa melihat kalau dia benar-benar jatuh cinta padanya. Dia ingin memiliki Lusi sebagai kekasihnya, bukan ingin menjadikannya sebagai koleksi manekin seperti yang dia lakukan pada wanita-wanita cantik lainnya" jelas Gabrielle yang menyadari ketakutan di diri istrinya.


"Benar seperti itu Kak? Kak Lusi tidak akan kenapa-napa kan?" tanya Elea memastikan.


Gabrielle mengangguk. Dia menarik lengan istrinya hingga wajah keduanya menjadi begitu dekat.


"Tidak, dan aku berharap selamanya tak kan pernah ada kebohongan" jawab Elea. "Kak Iel belum makan malam kan?.


"Ini aku baru ingin mencicipi makanan pembukanya" sahut Gabrielle dengan pandangan mata yang mulai mengabut.


Elea tersenyum. Dia tahu suaminya sudah terbakar birahi. Tapi baru saja mereka hendak berciuman, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang langsung membuat Elea tertawa malu. Suara itu sukses membuat Gabrielle kehilangan nafsunya dalam sesaat.


Kryukkk, kryuukkkk


"Ahahahahaha, sepertinya cacing di perutku belum siap untuk di ajak kerja lembur Kak. Mereka langsung mengirimkan surat terbuka untuk memperingatkanmu!.


"Haiissss ada-ada saja. Ya sudah kalau begitu kita penuhi keinginan para cacing itu dulu. Kau ingin mandi atau mau langsung makan saja, hem?" tanya Gabrielle pasrah.


'Dasar cacing-cacing laknat. Bisa-bisanya kalian muncul di saat aku dan Elea ingin bermesraan. Memangnya kalian tidak bisa menundanya dulu barang sebentar apa? Huhhf, di mana-mana selalu saja banyak pengganggu. Sial sekali nasibmu, junior!.


"Makan dulu saja, Kak. Setelahnya kita baru mandi bersama, sedikit berendam sepertinya cukup menyenangkan" jawab Elea di barengi dengan senyum aneh di bibirnya.


Gabrielle menyeringai.


"Kau mulai nakal sayang!.

__ADS_1


"Aku belajar dari Kakak, jadi Kak Iel harus mau menanggung akibatnya."


"Baiklah Nyonya Ma, suamimu yang tampan ini akan menerima dengan sangat lapang hati sebab dan akibat dari ilmu yang telah kau pelajari" sahut Gabrielle kemudian meraih ponsel diatas meja. "Ares, tolong minta pelayan untuk membawakan makan malam ke kamar kami. Setelah itu kau pergilah beristirahat, aku sudah lelah!.


"Baik, Tuan Muda."


Tengkuk Elea merinding ketika suaminya menyebutkan kata lelah kepada Ares. Sepatah kata itu entah kenapa terdengar begitu mengganjal di telinganya.


"Kenapa?.


"Lelah ya?" sindir Elea.


Gabrielle tertawa. Sambil menunggu pelayan datang membawakan makanan, Gabrielle melakukan sedikit pemanasan dengan mengajak istrinya bercumbu di sofa. Setengah mati Gabrielle menahan keinginannya untuk segera memasuki Elea saat itu juga ketika dia melihat gumpalan daging putih yang begitu menggoda matanya. Wajahnya merah padam dengan deru nafas yang kembali memburu.


"Tahan dulu sebentar, Kak. Bersabarlah" hibur Elea sembari mengusap jakun suaminya yang terus bergerak naik-turun.


"Sedikit sayang, ya?" rengek Gabrielle tak tahan.


"Sedikit bagaimana maksudnya?.


"Masukkan sedikit, aku bisa gila kalau terus menahannya."


Elea tergelak.


"Apa Kak Iel tidak kasihan pada cacing-cacing yang ada di dalam perutku? Bagaimana kalau mereka terkena busung lapar? Tunggulah sebentar lagi ya, nantinya aku juga akan menjadi milik kakak sepenuhnya."


Baru saja Gabrielle ingin berbicara, pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dia mengumpat ketika mendengar suara pelayan yang datang membawakan makanan untuk mereka.


"Sial, sial, sial!.


Elea meringis sambil menggaruk keningnya bingung. Dia kemudian segera berjalan kearah pintu meningalkan suaminya yang masih mengumpat sambil memukuli sofa.


"Errr, suamiku begitu bergairah. Aku jadi takut dia akan menghukumku semalaman. Apalagi malam ini adalah jadwalku memakai model lingerie berbentuk laba-laba yang sangat sexy itu. Semoga saja Kak Iel tidak kalap dan mau tidur dengan cepat. Tapi apa iya dia bisa?" gumam Elea bergidik ngeri membayangkan keganasan suaminya di ranjang nanti.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2