Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kejujuran


__ADS_3

Gleen dengan telaten membantu Lusi membersihkan tubuhnya. Dia bahkan tidak merasa jijik saat luka-luka yang ada di tubuh kekasihnya itu mulai bernanah. Gleen dengan begitu lembut membersihkan nanah-nanah tersebut kemudian mengolesinya dengan obat. Dia benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati meski beberapa kali Lusi terus sama memintanya untuk berhenti.


"Sudah Gleen, jangan seperti ini. Itu menjijikkan" cegah Lusi ketika Gleen ingin menyeka cairan yang keluar dari luka di tangannya.


"Sweety, bagaimana caramu membersihkan cairan ini, hem? Tanganmu kan sedang di infus, biar aku saja yang melakukannya" sahut Gleen tak menghiraukan larangan kekasihnya. "Aku kan sudah bilang kalau aku yang akan merawatmu sampai sembuh total. Jadi ini semua bukanlah masalah untukku. Paham?.


Lusi terdiam. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Sejujurnya Lusi sangatlah merasa terharu akan perhatian yang di berikan oleh Gleen, tapi dia merasa tidak enak karena biar bagaimana pun cairan-cairan yang ada di tubuhnya adalah sesuatu yang kotor. Lusi khawatir Gleen merasa tidak nyaman dan akhirnya akan menyimpan rasa jijik terhadapnya. Dia cukup tahu diri untuk tidak merepotkan orang lain, yah meskipun saat ini mereka tengah menjalin hubungan.


"Melamun apa, hm?" tanya Gleen.


"Melamunkan kebaikanmu" jawab Lusi jujur. "Gleen, kenapa kau begitu baik padaku? Aku sampai merasa tidak enak sendiri."


Gleen terdiam sambil memandangi wajah penuh luka milik kekasihnya. Sebelum menjawab, dia terlebih dahulu membersihkan tangannya setelah selesai mengobati luka-luka tersebut.


"Apa di matamu aku ini adalah pria yang baik?.


"Iya, kau pria yang sangat baik malah."


"Sweety, kau belum tahu semuanya tentang aku. Ada rahasia besar yang selama ini aku sembunyikan darimu!.


Kening Lusi mengerut. Dia terus menatap Gleen sampai pria itu akhirnya duduk di tepi ranjang. Meski Lusi hanya seorang pelayan, tapi dia tidak bodoh. Dia bisa melihat dengan jelas kalau pria yang kini menjadi kekasihnya bukanlah pria yang sepenuhnya baik. Entah sisi gelap seperti apa yang di sembunyikan oleh Gleen, Lusi tak berani menerka.


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Kau adalah wanita pertama yang mengisi hatiku, jadi jangan khawatir kalau aku mempunyai masa lalu bersama wanita lain. Jujur, rahasia itu sebenarnya memang berhubungan dengan wanita, tapi bukan hubungan seperti yang sedang kita jalani saat ini. Tak pernah sekalipun aku bermain hati dengan wanita, hanya kau saja. Hanya kau seorang yang sanggup membuatku gila begini, hanya kau sayang!" jelas Gleen sembari menggenggam erat satu dari tangan kekasihnya.


Jujur, itu yang ingin coba Gleen lakukan. Dia sadar kalau tak selamanya bisa menyembunyikan rahasia besar tentang obsesi aneh Junio yang menular kepadanya. Dia tidak mau ada kerikil kecil yang bisa mengganggu hubungannya dengan Lusi. Jadi sebisa mungkin dia ingin membangun sebuah hubungan yang berlandaskan pada rasa kepercayaan antara mereka berdua. Gleen tak ingin masa depannya bersama Lusi kacau, jadi dia memutuskan untuk jujur meski harus meragu kalau Lusi akan menerima kejahatan yang sudah dia perbuat.

__ADS_1


"Kalaupun itu berhubungan dengan wanita aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, Gleen. Itu masa lalumu, sedangkan aku berada di masa depanmu. Rasanya sangat tidak etis kalau aku menjadikan alasan itu sebagai satu penghambat dalam hubungan kita. Tidak apa-apa, aku menerima seperti apapun perbuatanmu di masa lalu. Kau mau bicara jujur saja aku sudah merasa sangat senang, itu artinya kau ada niat untuk membangun sebuah hubungan yang bersih" sahut Lusi berlapang dada. "Terima kasih sudah mau menghargai perasaanku Gleen. Aku senang!.


Deg, deg, deg


Jantung Gleen berdebar dengan sangat kuat saat mendengar ketulusan dari kata-kata Lusi. Dia tidak menyangka kalau kekasihnya akan mengucapkan kata yang begitu dewasa. Karena sikap tulus yang di tunjukkan oleh Lusi, Gleen akhirnya semakin yakin untuk mengatakan tentang kelainan yang dia idap. Dia mencoba bertaruh pada takdir kalau kekasihnya tidak akan pergi meninggalkannya setelah mendengar apa yang akan dia katakan.


"Sweety, aku adalah seorang pembunuh!.


Lusi tertegun. Pembunuh? Apakah mungkin kekasihnya ini adalah seorang pelaku kriminal? Atau jangan-jangan pria ini adalah mantan seorang napi? Tak ingin berburuk sangka, Lusi menyiapkan hati untuk mendengar penjelasan dari Gleen. Dia meyakinkan hatinya kalau pria ini pasti mempunyai alasan kenapa melakukan kejahatan.


"Aku-aku.....


Suara Gleen tercekat. Dia mulai panik ketika Lusi hanya menatapnya dalam diam tanpa berkata apapun.


"Kalau begitu ayo jelaskan!" ucap Lusi tegas. "Gleen, tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Semuanya pasti pernah, termasuk aku. Tapi manusia yang paling terhormat adalah dia yang berani mengakui kesalahannya kemudian mau bertobat sebelum pintu ampunan di tutup oleh Tuhan. Jadi kau jangan takut aku marah padamu, tapi takutlah akan murka Tuhan karena karma yang Dia berikan sungguh tidak ada lawan. Jangan takut, katakan dengan perlahan. Oke?.


Tes


Sebutir cairan bening lolos dari mata Gleen. Teguran lembut yang di lontarkan oleh Lusi sungguh mengena di hatinya. Dia merasa sangat tertampar akan semua dosa yang pernah dia lakukan. Tak ingin membuat kekasihnya kecewa, sambil berurai airmata Gleen mengakui segala kejahatan yang pernah dia lakukan bersama Junio.


"Awalnya aku bukan seorang pembunuh. Tapi naluri itu muncul saat aku melihat Junio yang selalu menghabisi wanita-wanita yang di anggapnya sebagai pengganggu kebahagiaan orang lain. Kami berdua terbuai ketika menjadikan para wanita itu patung manekin yang mana akhirnya membuat kami berdua menjadi kecanduan" ucap Gleen menceritakan kisahnya. "Sweety, semua wanita yang kami bunuh adalah mereka-mereka yang suka sekali merusak rumah tangga orang lain. Ini semua berasal dari masa lalu Junio. Keharmonisan keluarganya di hancurkan oleh seorang wanita cantik yang juga menyebabkan Junio mempunyai obsesi gila seperti yang biasa kami lakukan. Aku tahu kalau perbuatan kami tidaklah benar, tapi yang kami bunuh bukanlah wanita baik-baik. Mereka juga pendosa yang sama seperti kami, hanya caranya saja yang berbeda."


Melihat kekasihnya menangis sambil mengakui kesalahannya, Lusi dengan lembut membersihkan airmata penyesalan di wajah Gleen. Dia kemudian tersenyum.


"Tidak apa-apa, semuanya bisa berubah kalau kau pun mau berubah. Tidak apa-apa menjadi seorang pendosa, asal kau mau bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kau jangan khawatir, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini ke depannya. Biarlah kesalahan itu kau simpan sebagai pembelajaran supaya ke depannya nanti kau bisa menjadi orang yang jauh lebih baik dari ini. Aku mendukungmu Gleen, aku akan selalu ada untukmu!.

__ADS_1


Tangis Gleen pecah. Untuk pertama kalinya dia merasakan sebuah kehangatan dalam hidup. Dia yang sejak kecil hidup dalam kedinginan kini menemukan tempat untuk berbagi perasaan. Gleen benar-benar sangat beruntung di pertemukan dengan gadis sebaik Lusi.


"Terima kasih, Sweety. Bantu aku ya untuk memperbaiki diri" ucap Gleen setelah tangisnya mereda.


"Itu pasti Gleen. Sudah ya jangan menangis lagi, kau bisa mati berdiri kalau Elea tiba-tiba datang kemari. Dia bilang siang ini mau datang ke rumah sakit, kau tahu sendiri kan betapa berbisanya mulut Elea?" sahut Lusi mengingatkan akan bahaya besar yang biasa di bawa oleh nyonya kecil yang kini menjadi temannya.


"Kau tidak lagi memanggilnya Nyonya?" tanya Gleen yang baru menyadari kalau sejak semalam kekasihnya menyebut nama Elea tanpa embel-embel nyonya.


Lusi menggeleng.


"Tidak. Elea tidak ingin aku memanggilnya seperti itu karena sekarang kami adalah teman. Aku beruntung bukan mempunyai mantan majikan yang begitu baik seperti malaikat?.


"Ya, Elea memang jelmaan malaikat. Tapi bagiku, kau juga adalah malaikat baik hati yang di kirim Tuhan untuk membuatku sadar dari dosa besar" jawab Gleen.


Gleen dan Lusi tersenyum sambil sama-sama saling memandang. Terkadang, orang yang memiliki status kelas bawah mampu memiliki pemikiran yang jauh lebih baik jika di bandingkan dengan orang yang mempunyai pendidikan kelas tinggi. Karenanya, janganlah sekali-kali kita memandang rendah seseorang hanya dari fisik luarnya dan juga basis pendidikannya saja. Sebuah pesan moral yang seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita semua. 😊


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2