
Levi yang panik karena tak mendapati mobil yang di naiki Gabrielle dan Elea segera mendesak si sopir untuk berputar arah. Dia tidak bisa duduk dengan tenang, membuat Reinhard akhirnya turun tangan untuk meredakan kegelisahannya.
"Sayang, tenanglah. Mereka pasti baik-baik saja, ada banyak pengawal yang mengikuti mereka!."
"Tenang kepalamu. Aku yakin sekali si nenek sihir itu pasti meminta orang untuk membuntuti mereka" sahut Levi.
"Nenek sihir?" beo Reinhard. "Maksudmu Nyonya Kimmy?."
"Iyalah, siapa lagi memangnya" jawab Levi kemudian meremas ujung bajunya. "Astaga, kenapa mobil ini lambat sekali sih. Hei Tuan, tolong cepat sedikit jalannya, kau bisa mengendarai mobil atau tidak sebenarnya!."
"Maaf Nona, tapi ini Paris. Kita tidak bisa berputar arah sembarangan" sahut si sopir.
"Ck, alasan!."
Tak lama kemudian, mereka akhirnya menemukan rombongan mobil yang mengawal Gabrielle dan Elea. Jantung Reinhard hampir terlepas dari tempatnya melihat Levi yang melompat turun dalam keadaan mobil yang masih bergerak. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan kegilaan kekasihnya itu.
"Ares, dimana Elea?" tanya Levi ketika melihat Ares muncul dari balik semak-semak.
Dengan santai Ares membersihkan kedua tangannya yang berlumuran darah sambil menatap datar kearah wanita bar-bar yang sedang terbengang di hadapannya. Dia lalu tersenyum.
"Kalau Nona merasa sangat penasaran, aku baru saja membunuh dua orang penguntit yang ingin mencelakai Nyonya Elea" ucap Ares santai.
Glukkkkk
Levi diam membeku. Dia heran, bagaimana bisa pria ini bicara dengan begitu santai setelah menghilangkan nyawa manusia. Sungguh asistennya Gabrielle sangat psikopat.
"Ada apa, Nona?."
"Jangan kau pikir aku tidak akan berani mencari masalah denganmu lagi setelah kau memamerkan keahlianmu dalam menghilangkan nyawa orang lain ya" jawab Levi sembari mencibir. "Dimana Elea, aku ingin memastikan apakah dia masih hidup atau tidak!."
"Kau sebaiknya lebih berhati-hati lagi dalam berbicara, Nona Levi. Asalkan itu menyangkut Tuan Muda dan Nyonya Elea, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran pada orang yang bersikap tidak hormat pada mereka!" ucap Ares tegas tak terbantahkan. "Nyonya Elea ada di dalam mobil bersama Tuan Muda, dan beliau baik-baik saja!."
Levi sedikit kikuk setelah mendapat peringatan tegas dari Ares. Tak sabar ingin segera bertemu dengan teman kecilnya, dia segera melenggang pergi menghampiri Elea.
Tok, tok, tok
"Elea, tubuhmu masih utuh kan?."
Gabrielle yang saat itu tengah bercumbu dengan Elea mendengus kasar ketika mendengar suara si wanita bar-bar. Dia benci sekali jika ada orang yang mengganggu kesenangannya.
"Kak Iel, ada Kak Levi" ucap Elea dengan nafas terengah.
__ADS_1
"Ck, biar sajalah!."
"Jangan. Nanti pintu mobilnya bisa di rusak oleh Kak Levi kalau kita tidak segera membukanya!."
Gabrielle kembali mendengus. Dengan sangat tidak rela dia akhirnya membuka pintu mobil.
"Ada apa?."
"Awas, aku tidak mau melihat wajahmu. Elea, kau baik-baik saja kan?" tanya Levi sambil mendorong wajah Gabrielle agar tidak menutupi pandangannya.
"Jangan sembarangan menyentuhku!" teriak Gabrielle dongkol. Biasalah, dia kan penderita OCD akut.
"Cih, siapa juga yang sudi menyentuhmu. Makanya jangan menghalang-halangi pandanganku. Aku kan mau melihat Elea!" sahut Levi balas berteriak. "Awas atau aku akan menyentuh bagian tubuhmu yang lain!."
"Sialan kau!."
"Terima kasih atas pujiannya."
"Siapa juga yang memujimu. Dasar gila."
"Bicara sekali lagi aku akan langsung menciummu, Gab. Percaya tidak?" kesal Levi tak tahan.
Sementara Elea, dia hanya duduk diam menyaksikan suami dan temannya saling berdebat. Dia kemudian teringat dengan wanita berambut blonde yang mengirimkan penguntit untuk menculiknya.
Perdebatan Gabrielle dan Levi langsung terhenti ketika Elea bertanya. Levi yang tidak tahu-menahu tentang kejadian tadi segera masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi depan.
"Patricia" jawab Gabrielle dingin. "Dia sepupunya Levi."
Elea kemudian melihat kearah Levi. "Maksud Kak Iel si blonde itu bersekongkol dengan Kak Levi untuk menculikku, begitu?."
"Whaaaatttttt!!!!" pekik Levi terkejut. "Apa-apaan ini. Aku tidak ada hubungannya dengan Patricia ya, sudah gila apa aku!."
"Tunggu tunggu. Patricia ingin menculik Elea, kapan itu terjadi dan dimana kalian bertemu dengan kucing belang itu?" tanya Levi penasaran.
"Orang yang baru saja di bunuh oleh Ares adalah orang suruhan Patricia. Wanita iblis itu meminta orang-orang tersebut untuk menghabisi Elea saat kita lengah. Dan untungnya Ares sadar kalau mobil kita di ikuti oleh orang mencurigakan. Kalau tidak, bisa saja Elea sudah tertembak oleh mereka" jawab Gabrielle. "Levi, kau benar tidak ada hubungan apapun dengan wanita iblis itu?."
"Cuiihhh, di buang ke neraka pun aku tidak akan sudi berteman dengan orang sakit jiwa. Tapi baguslah kalau Ares sudah menghabisi orang suruhannya. Pantas saja mobil kalian menghilang, ternyata ini penyebabnya" jawab Levi kemudian menatap kasihan kearah teman kecilnya.
Wajah Elea sudah berubah dingin sedingin es batu. Nama kucing belang sepertinya sudah tak asing lagi di telinganya.
"Patricia, kucing belang, apa dia yang ingin merebut Kak Iel?."
__ADS_1
"Yap, benar sekali. Kenapa? Kau tertarik untuk menjambak rambutnya?" sahut Levi dengan seringai licik di bibirnya.
"Iya Kak. Aku tidak akan membiarkan kucing belang itu dekat-dekat dengan suamiku. Kak Iel, ayo cepat kita pulang. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan si blonde" ucap Elea menggebu.
Gabrielle tersenyum. Dia lalu mengelus puncak kepala istrinya, gemas.
"Sayang, kau jangan terlalu mempedulikan kucing belang itu. Sepulang dari sini kau harus fokus pada sekolahmu. Bulan depan kau mulai masuk ke Universitas, masalah Patricia biar aku saja yang membereskan!."
"Oho, itu tidak bisa Kak Iel. Kalau kucing belang itu mampu mengirim orang untuk membuntuti kita, itu tandanya dia tidak bisa di remehkan. Lihat saja bagaimana nanti aku akan menjambak rambut blondenya itu sampai botak, biar dia tidak kegenitan mengincar suami orang lagi. Iya kan Kak Levi?" sahut Elea.
Levi mengangguk sembari tersenyum puas. Sihir yang dia tanamkan di diri Elea rupanya berkembang biak dengan sangat baik. Gadis kecil ini benar-benar menganggap sepupunya layaknya seorang musuh. Tapi memang benar, Patricia adalah musuh berjamur yang harus segera di enyahkan. Kehadirannya di dunia ini akan merusak banyak ketentraman makhluk hidup lainnya, termasuk dirinya sendiri jika sampai dia di curigai telah bersekongkol dengan kucing belang tersebut hanya karena mereka terikat hubungan sepupu. Di benamkan ke api neraka pun Levi tidak akan sudi berkerjasama dengan sepupunya yang picik itu. Levi benar-benar sangat membenci Patricia.
"Benar Elea, aku akan sangat mendukung keinginanmu. Gabrielle adalah suamimu, kau berhak menyingkirkan parasit-parasit yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian. Jangan ragu untuk membotaki kepala Patricia karena aku akan dengan senang hati menawarkan bantuan. Kami memang saudara, tapi aku tidak sepertinya. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir kalau aku ada main belakang dengan kucing belang itu" jawab Levi meyakinkan.
"Aku tahu Kak Levi tidak akan mungkin menyakitiku" sahut Elea dengan senyum penuh ketulusan.
Sudut bibir Gabrielle tertarik keatas menyaksikan betapa kuatnya ikatan yang terjalin antara Levi dan juga istrinya. Sayang mereka bukan saudara sekandung. Seandainya iya, istrinya pasti akan merasa sangat bahagia.
"Hah, karena penguntitnya sudah mati bagaimana kalau kita segera pulang ke rumah. Bukankah sore ini kita akan kembali ke negara asal?" ucap Levi menyudahi keharuan di dalam mobil.
"Bagaimana caranya kita pulang kalau kau masih berada di mobil ini? Levi, kalau kau terlalu sering meninggalkan Reinhard seorang diri, aku yakin dalam waktu singkat akan ada wanita lain yang datang menggodanya. Reinhard itu tampan, kau akan sangat menyesal jika sampai kehilangannya!" usir Gabrielle dengan cara terhalus yang dia punya.
Brraaakkk
Begitu Gabrielle selesai bicara, Levi langsung keluar dari dalam mobil kemudian menutup pintunya dengan sangat kuat. Hal itu membuat Elea berjengit kaget kemudian menatap heran kearah suaminya yang malah tertawa melihat Levi marah.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau jadi terlihat menggemaskan, dan aku jadi tidak tahan" ucap Gabrielle dengan gelegak nafsu yang mulai membuncah.
"Mesum sekali. Padahal aku hanya menatap Kak Iel, belum juga bert*lanjang di depan Kakak" celetuk Elea asal.
"Coba saja, sayang. Aku pasti akan dengan penuh semangat menghangatkan tubuhmu."
"Apa sih" sahut Elea dengan wajah merona malu.
Yah, seperti biasa Tuan Muda kita akan menggunakan semua celah agar bisa menyentuh istrinya yang sangat dia cintai. Sedangkan si gadis kecil itu, dia hanya akan patuh, diam membaui luapan cinta yang dia dapat dari suaminya. Indah memang, namun ada kelukaan panjang yang harus di lewati si gadis kecil untuk bisa berada di dekapan pria yang saat ini tidak mau berhenti memagut bibirnya. ☺
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...