
"Hati-hati, Tuan Muda!" ucap Nun sambil memegangi pintu mobil.
Gabrielle mengangguk. Dia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling hotel. Sebelumnya Gabrielle sudah meminta Ares untuk mengatur keamanan agar tidak ada wartawan yang sembarangan mengambil fotonya Elea. Selain karena dia tidak rela kecantikan istrinya di nikmati oleh pria lain, juga karena istrinya yang belum mau status pernikahan mereka terungkap ke publik. Takut tidak mempunyai teman yang tulus, begitu pikir istrinya.
"Semua aman?" tanya Gabrielle.
"Aman, Tuan Muda. Di dalam Ares juga sudah membuat pengaturan agar para wartawan yang ada di sana tidak ada yang mengambil foto Nyonya Elea. Ares sudah membuat perjanjian kalau nyawa mereka sebagai jaminan jika peraturan ini sampai dilanggar!" jawab Nun.
Gabrielle mengangguk. Dia kemudian kembali masuk ke dalam mobil lalu menelusupkan tangannya ke tubuh Elea.
"Sudah siap?"
"Sangat siap sekali, Kak. Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat Kak Lusi dan Paman Gleen," jawab Elea semringah.
Elea dengan sigap langsung berpegangan ke leher suaminya saat tubuhnya di bopong keluar. Matanya berbinar terang begitu melihat besarnya hotel yang menjadi tempat resepsi pernikahan temannya itu. Sambil di dorong masuk, Elea mencecar Gabrielle dengan berbagai macam pertanyaan yang berhubungan dengan hotel ini.
"Kak Iel, kalau hotel ini di jual, kira-kira berapa koper uang yang akan kau dapatkan? Hotel ini dibuat saat kau umur berapa Kak? Pondasi hotel ini menggunakan bahan apa? Apakah di datangkan dari luar negeri atau tidak?"
Gabrielle dan Nun hanya tersenyum kecil sambil terus mendengarkan celotehan Elea yang begitu mengagumi hotel ini. Hingga pada akhirnya mereka sampai di ruangan yang menjadi tempat resepsi.
"Halo sayangku...!" ucap Clarissa sambil berjalan menghampiri cucunya yang baru saja datang.
"Halo Grandma. Waww, Grandma cantik sekali!"
Clarissa tertawa ketika mendapat pujian dari sang cucu. Dia kemudian duduk berjongkok di samping kursi roda, mencoba untuk tidak terlihat sedih melihat keadaan cucunya yang masih belum pulih.
"Kau yang paling cantik, sayang. Bahkan kecantikan Lusi masih kalah jauh jika di bandingkan denganmu. Benar begitu kan, Iel?"
"Tentu saja itu sangat benar, Grandma. Istriku adalah yang paling cantik di pesta ini," jawab Gabrielle kemudian mencium puncak kepala Elea. "Kau yang terbaik sayang."
Hati Elea langsung meleleh saat mendengar kata-kata manis yang diucapkan oleh suaminya. Sayang sekali saat ini dia tidak di izinkan untuk berjalan sendiri. Seandainya boleh, Elea ingin sekali mengajak suaminya untuk berdansa. Sesuatu hal yang belum pernah Elea lakukan selama ini.
__ADS_1
"Jangan sedih, nanti setelah kau sembuh aku akan mewujudkan semua yang kau inginkan. Oke?" bisik Gabrielle ketika mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya.
"Benar ya Kak?"
Gabrielle mengangguk.
"Aku juga ingin minta dibuatkan hotel sebagus ini, Kak. Nanti kalau sudah jadi aku akan memamerkannya pada Kak Levi," ucap Elea penuh harap.
"Kenapa harus selalu di pamerkan pada Levi sih? Memang tidak kasihan melihatnya yang sesak nafas setiap kali kau memamerkan barang?" tanya Gabrielle gemas dengan keinginan Elea.
"Sebenarnya kasihan sih Kak, tapi cuma sedikit. Entah kenapa aku sangat suka jika melihat Kak Levi kepanasan karena melihat apa yang aku punya. Rasanya aku seperti sedang berebut barang dengan kakakku sendiri. Itu benar-benar sangat menghibur, Kak," jawab Elea dengan entengnya.
Clarissa dan Gabrielle tertawa mendengar alasan klise Elea. Ya, di keluarga mereka siapa yang tidak tahu tentang hubungan Elea dan Levi yang begitu erat. Meski keduanya berteman dengan cara yang aneh, semua orang yakin kalau Levi dan Elea sama-sama saling menyayangi. Karena dimana ada Elea, maka disitu ada Levi. Bahkan wanita yang memiliki perangai garang nan cetus itu sampai menyandang gelar yang biasanya menjadi musuh para istri sah. Pelakor halal, sebuah status terhormat dimana Levi menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Gabrielle dan Elea.
"Waahh wahh wahh, lihat siapa yang datang!" pekik Elea kegirangan.
Bryan dan Yura nampak tersenyum lucu mendengar perkataan putri mereka. Setelah penyatuan yang terjadi, hubungan kedua orang ini semakin lengket saja. Bahkan Bryan sama sekali tidak membiarkan Yura pergi dari sisinya. Dan Yura menyambut keposesifan sang suami dengan penuh suka cita.
"Ekhm ekhm, sepertinya ada yang baru saja belah duren!" sindir Elea sambil melirik ke arah tangan orangtuanya yang terus bergandengan.
"Itu... kamar yang remang-remang kemudian saling berkeringat. Seperti apa yang sering aku lakukan dengan Kak Iel,"
Blluussshhh
Wajah Yura langsung memerah. Sedangkan Gabrielle, dia langsung menoleh ke arah lain. Istrinya ini, astaga. Bisa-bisanya bicara sevulgar itu di depan orangtua mereka. Ya, meskipun semua itu terjadi karena Gabrielle yang menginginkannya, tapi kan tidak harus di bongkar di hadapan banyak orang begini? Lidah istrinya ini benar-benar tidak ada lawan jika dalam hal membungkam mulut orang. Gabrielle sampai mati kutu di buatnya.
"Elea, kau mau tidak kalau Ayah membuatkanmu adik?" tanya Bryan dengan sengaja.
"Bry, kau ini bicara apa sih. Jangan melanturlah, ada Mama di sini!" tegur Yura malu.
"Oh, tidak apa-apa Yura. Mama justru senang kalau kalian mempunyai anak lagi. Elea dan Patricia kan sudah besar, akan sangat lucu jika mereka mempunyai seorang adik laki-laki," sahut Clarissa penuh semangat.
__ADS_1
"Iya benar, aku setuju dengan Grandma!" pekik Elea ikut menimpali. "Ayah, gas saja setiap malam supaya aku dan Patricia bisa secepatnya mempunyai adik. Tenang saja, nanti Kak Iel yang akan membelikan semua mainan yang adik mau!"
Semua orang terbahak-bahak mendengar celetukan Elea. Sedangkan Yura, wajahnya sudah tidak bisa di jelaskan lagi. Dia yang paling merasa malu di sini karena Bryan tidak henti-hentinya melempar godaan. Andai saja bisa, ingin rasanya Yura bersembunyi di dalam perut bumi. Tapi meksipun begitu, hatinya merasa sangat bahagia. Setelah belasan tahun menunggu, akhirnya saat-saat seperti ini tiba juga. Segala rasa sakit yang pernah dia rasakan kini terbayar sudah dengan kebersamaan yang begitu hangat.
"Elea, kau bersenang-senang tanpa mengajak Ibu ya!"
Liona yang tadi sedang menemani Greg menyapa para tamu, segera datang menghampiri anak dan menantunya yang sedang bercanda dengan keluarga yang lain. Dia kemudian memberikan satu kecupan di kening Elea saat gadis cantik ini memperlihatkan senyum polos tanpa dosa.
"Kau cantik sekali memakai gaun ini, sayang. Ibu sampai pangling melihatnya!" puji Liona sembari mengelus pelan pipi menantunya.
"Gaun ini adalah hadiah dari suamiku, Bu. Lihat, warna pakaian kami sama. Bagus kan?"
Gabrielle tak kuasa untuk tidak tersenyum bahagia saat Elea menyebut kata suamiku di hadapan semua orang. Walaupun hanya kata biasa, tapi bagi Gabrielle itu adalah sesuatu yang istimewa. Kalian ingin tahu kenapa? Itu karena Elea adalah istri kecil kesayangannya. Sudah pasti semua kata pujian yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang sangat spesial. Sedikit berlebihan memang, tapi itulah cinta seorang Gabrielle.
"Oh ya sayang, kau sudah menyapa Lusi dan Gleen belum? Sebentar lagi akan ada sesi foto, tadi dia berpesan pada Ibu agar memintamu segera datang menghampirinya. Mungkin Lusi ingin mengajakmu berfoto terlebih dahulu," ucap Liona saat teringat dengan pesan si mempelai wanita.
"Ya sudah kalau begitu aku dan Kak Iel pergi menyapa Kak Lusi dulu ya semua. Nanti kita sambung lagi!" sahut Elea kemudian melirik nakal ke arah ayahnya. "Ayah, bersiaplah mengatur rencana untuk membahas calon adikku. Oke?"
Bryan mengedipkan sebelah matanya begitu mendengar ucapan konyol putrinya. Semua orang yang ada di sana terus memperhatikan Gabrielle yang dengan begitu sabar membopong Elea saat akan menaiki tangga menuju pelaminan.
"Setelah sekian lama hidup dalam penderitaan, akhirnya Elea menemukan kebahagiaannya juga. Hahhh... rasanya benar-benar sangat melegakan!" ucap Clarissa penuh haru.
"Benar sekali, Ma. Gabrielle adalah pria yang sangat tepat untuk Eleanor kita. Dia pria yang baik!" imbuh Bryan.
Liona tersenyum. Dia lalu pamit untuk kembali menemani suaminya yang tadi dia tinggalkan. Ekor matanya sesekali melirik ke arah seorang wanita yang sedang duduk dengan kepala tertunduk dalam. Siapa lagi kalau bukan Patricia.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻IG: rifani_nini...
...🌻FB: Rifani...