
"Tuan Muda, ini adalah video rekaman kegiatan di kampus Nyonya Elea!" ucap Nun sembari menyerahkan sebuah flashdisk pada tuan mudanya.
Gabrielle yang sedang memakai dasi pun menerima flashdisk tersebut. Dia tersenyum membayangkan antusiasme istrinya setiap kali melihat video yang berisi kegiatan-kegiatan di kampus.
"Apakah sudah ada guru khusus yang akan membimbing Elea nanti?" tanya Gabrielle.
"Sudah, Tuan Muda."
"Pria atau wanita?"
Gabrielle langsung siaga. Dia tidak akan membiarkan satu pun pria bisa berada dekat dengan istrinya. Hal ini sudah dia bahas dengan Gleen beberapa waktu lalu karena sekarang posisi mereka sama-sama sedang terancam oleh para buaya kampus. Di tambah lagi Elea tidak mau identitas aslinya terungkap, semakinlah Gabrielle berpikir keras memikirkan cara untuk menghalau semua pria agar tak bergenitan saat Elea mulai masuk ke universitas.
"Wanita, Tuan Muda. Namanya Nona Safira, dia adalah mantan guru les Nyonya Elea dulu," jawab Nun.
"Safira? Kenapa dia?"
Gabrielle tentu saja belum lupa kalau Safira sudah angkat tangan saat memberikan bimbingan belajar pada istrinya. Meski lulus dari universitas ternama dunia, nyatanya hal itu tak membuat Safira mampu menjadi seorang guru yang hebat di hadapan Elea. Entah istrinya yang terlalu pandai atau Safira yang mudah menyerah, jadwal les yang harusnya berjalan selama enam bulan harus berakhir singkat karena semua materi sudah diselesaikan dengan baik oleh si murid. Mengingat kejadian unik itu membuat Gabrielle tak tahan untuk tidak tersenyum lucu. Istrinya memang sangat sulit di tebak.
"Saat saya mendatangi pihak kampus, mereka semua kaget melihat nilai yang Nyonya Elea dapatkan ketika melakukan bimbingan belajar, Tuan Muda. Dan kebetulan saat itu Nona Safira juga ada di sana. Jadi pihak sekolah langsung menunjuknya sebagai penanggung jawab atas pembelajaran Nyonya Elea nanti. Dia awalnya menolak, tapi setelah saya ancam akhirnya dia bersedia dengan syarat kalau dia akan mencari teman yang bisa membantunya menangani Nyonya Elea!" jelas Nun.
"Kau sudah katakan padanya kalau semua guru yang akan membimbing Elea haruslah seorang wanita?" tanya Gabrielle mengingatkan.
"Sudah, Tuan Muda. Saya....
Tok, tok, tok
"Permisi, Tuan Muda. Maaf mengganggu."
Gabrielle menatap sekilas ke arah pelayan kemudian menganggukkan kepala.
"Ada apa?"
"Nyonya Elea sudah bangun. Dan beliau menanyakan keberadaan anda," jawab si pelayan.
Karena tak ingin mengganggu istirahat istrinya, Gabrielle sengaja mandi dan berpakaian di ruangan lain. Semalam tidur Elea tidak terlalu nyenyak, dia meringik kesakitan akibat luka bekas operasinya yang terasa nyeri dan juga gatal. Sebenarnya Gabrielle juga kurang tidur, tapi dia tidak terlalu lesu karena sudah terbiasa begadang untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.
"Katakan padanya aku akan segera datang sebentar lagi," ucap Gabrielle.
"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi. Nun....
__ADS_1
"Pergi dan jagalah Nyonya Elea dulu sampai Tuan Muda selesai bersiap," sahut Nun.
"Baik, Nun."
Sepeninggal si pelayan, Gabrielle buru-buru merapihkan pakaiannya. Dia berkaca, memastikan kalau penampilannya sudah rapi.
"Nun, kau harus memastikan Elea baik-baik saja selama aku berada di kantor. Dan juga semua makanan yang akan dia makan harus melewati pemeriksaan yang ketat. Aku tidak mau kalau kesehatan Elea sampai terganggu jika ada salah satu dari kalian yang lalai menjalankan tugas!" ucap Gabrielle memberi peringatan keras.
"Baik, Tuan Muda. Saya akan menjaga Nyonya Elea dengan sebaik-baiknya. Anda tidak perlu cemas."
Gabrielle mengangguk. Setelah itu dia bergegas pergi menuju kamarnya untuk menemui Elea. Gabrielle tersenyum ketika mendapati sang istri tengah bercengkerama dengan pelayan yang menemaninya.
"Waahh Kak Iel, kau tampan sekali!" puji Elea dengan mata berbinar.
Sebelum menjawab, Gabrielle meminta semua pelayan yang ada di sana untuk keluar dari kamar. Keningnya mengerut saat melihat semangkuk bubur hangat yang masih belum tersentuh di atas meja.
"Kenapa buburnya tidak dimakan, hm?"
"Aku ingin Kak Iel yang menyuapiku makan. Boleh?" jawab Elea malu-malu.
Entahlah, tiba-tiba saja saat bangun tidur Elea ingin sekali bermanja pada sang suami. Dia perpikir kalau perhatian dari Gabrielle akan membuat proses pemulihannya bisa semakin cepat. Jujur saja, Elea sudah tidak sabar ingin segera masuk ke universitas. Juga karena sebentar lagi akan memasuki musim panas, Elea ingin sesegera mungkin meminta Levi mengajarinya menjadi seorang model. Karena Grandma Clarissa sudah berjanji akan menggelar peragaan busana musim panas dengan dia dan Levi menjadi model utamanya.
"Hehehe, ada yang bilang kalau perhatian dari suami adalah obat yang paling ampuh untuk mengobati penyakit, Kak. Makanya aku ingin mengambil semua perhatian Kakak supaya aku tidak sakit-sakit lagi," sahut Elea jujur.
Gabrielle terkekeh. Dia meniup bubur hangat tersebut sebelum mulai menyuapkannya pada Elea.
"Sayang, saat kuliah nanti Safira yang akan menjadi dosen pembimbingmu. Tidak apa-apa kan?"
"Kak Safira?"
Mata Elea langsung berbinar. Meskipun tahu kalau Safira sempat angkat tangan saat memberikan bimbingan belajar, nyatanya guru cantik itu sudah menempati bagian tersendiri di hati Elea. Karena bagi Elea, setiap orang yang berjasa dalam hidupnya adalah pahlawan yang akan selalu dia kenang. Safira adalah guru pertama yang dia miliki setelah sekian tahun absen dari mempelajari ilmu pendidikan.
"Iya, Safira. Hanya dia satu-satunya guru paling kompeten di universitas itu. Sebenarnya ada banyak, hanya saja setelah Nun memperlihatkan hasil nilai bimbingan belajarmu mereka semua angkat tangan. Di awal Safira juga sempat menolak, tapi setelah di ancam oleh Nun dia akhirnya bersedia," jawab Gabrielle kemudian kembali menyuapkan bubur ke dalam mulut istrinya. "Nanti saat kau mulai masuk kuliah, kau harus selalu ingat pesanku baik-baik ya, sayang."
"Pesan apa, Kak?" tanya Elea sembari menelan bubur yang ada di dalam mulutnya.
"Jauhi yang namanya laki-laki. Tidak peduli apapun alasannya, aku melarangmu berdekatan dengan makhluk seperti mereka. Bisa?"
Elea mengerjapkan mata.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa tidak Kakak bunuh saja semua pria yang ada di muka bumi ini supaya Kak Iel merasa tenang? Uang Kakak kan banyak. Minta saja para sniper untuk membasmi mereka semua. Gampang kan?"
Gluukkkkk
Hampir saja jantung Gabrielle molompat keluar begitu mendengar ide sesat yang dilontarkan oleh istrinya. Yang benar saja. Seposesif-posesifnya Gabrielle, dia juga tidak segila itu dengan memerintahkan para sniper untuk membasmi kaum sejenisnya. Istrinya ini benar-benar.
"Sayang, tidak begitu juga konsepnya. Suamimu ini hanya manusia biasa, hanya Tuhan yang memiliki wewenang paten terhadap nyawa makhluknya. Aku berpesan seperti itu karena takut hatimu akan beralih pada pria lain. Aku khawatir kau dibawa pergi oleh mereka!"
Elea tersenyum. Dia lalu meraih tangan suaminya yang sedang mengaduk-aduk bubur sembari memperlihatkan raut wajah yang murung.
"Di hatiku hanya ada Kak Iel seorang. Selamanya!" ucap Elea tulus. "Tak peduli meskipun nanti Kak Iel menjadi miskin sekalipun, aku akan tetap mencintai Kakak. Kak Iel adalah cinta pertamaku, malaikatku, pahlawanku, suamiku, dan segala-galanya dalam hidupku. Hanya akan ada nama Kakak seorang di sini....
Mata Gabrielle segera melihat kemana jari istrinya menunjuk. Kebahagiaannya langsung membuncah. Jari lentik nan imut itu kini tengah menempel di dada tepat bagian hati milik Elea. Menandakan kalau memang hanya dia saja yang akan tinggal dan menetap di sana.
"Kodenya tidak sulit kan Kak?" tanya Elea meledek.
"Tidak,"
"Lalu?"
Gabrielle meletakkan mangkuk di atas meja kemudian menangkup kedua pipi istrinya. Manik matanya memperlihatkan sorot betapa dia sangat mencintai gadis ini.
"Aku mencintaimu, sangat sangat sangat mencintaimu, Eleanor Young."
"Aku juga,"
"Juga apa?"
"Juga sangat sangat sangat mencintai Gabrielle Shaquille Ma. Hehehe....
Sudut bibir Gabrielle berkedut. Dia bersumpah dalam hati akan terus mencintai gadis ini hingga seratus tahun ke depan.
πππππππππππππππππ
...π»VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...π»IG: rifani_nini...
__ADS_1
...π»FB: Rifani...