
"Tuan, kenapa kami tidak boleh masuk? Suamiku baik-baik saja bukan?" cecar Yura yang bingung melihat banyaknya penjaga yang berdiri di depan pintu masuk menuju ruangan suaminya.
Setelah bersiap, Yura dan ayah mertuanya bergegas pergi ke rumah sakit. Tapi sesampainya mereka di sini, mereka di buat keheranan oleh puluhan penjaga yang menahan mereka agar tidak masuk ke dalam. Sejak tadi Yura tidak berhenti bertanya kenapa, namun tidak ada satupun dari penjaga itu yang bersedia memberikan jawaban. Mulut mereka seakan terkunci rapat, bahkan untuk sekedar menatap Yura pun mereka enggan.
"Tuan tolong beritahu kami apa yang sedang terjadi di dalam. Setidaknya katakan padaku bagaimana kondisi suamiku sekarang. Aku istrinya dan beliau ini adalah ayah suamiku. Kami berhak tahu kenapa ada penjagaan yang sangat ketat di rumah sakit ini!" desak Yura mulai habis kesabaran.
"Maaf Nyonya, ini adalah perintah dari atasan. Kami tidak di perkenankan untuk membuka mulut. Jadi tolong Nyonya jangan memaksa kami bicara" sahut salah seorang penjaga dengan suara yang sangat datar.
"Tapi...
"Yura..." panggil Karim menyela. "Sudahlah, kau jangan memaksa mereka lagi. Sepertinya ini perintah khusus dari pemilik rumah sakit. Kau tahu bukan kalau anggota Keluarga Ma sedang di rawat disini setelah di serang oleh penjahat? Kemungkinan ini adalah bagian dari penjagaan mereka mengingat Bryan juga berada di ruangan VVIP rumah sakit ini. Sabarlah, mungkin sebentar lagi kita baru bisa masuk ke dalam!."
Yura mendesah pelan setelah mendengar ucapan ayah mertuanya. Dia khawatir, sangat khawatir malah. Tapi sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu para penjaga ini mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam. Sambil menunggu, Yura mengajak ayah mertuanya untuk duduk. Dia dengan hati-hati menuntunnya menuju kursi tunggu yang ada di sana.
"Ayah, seandainya Bryan berhasil menemukan Eleanor, apa yang akan Ayah lakukan pada gadis itu?" tanya Yura ingin tahu.
Karim menghela nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan menantunya. Dia menatap kosong kearah depan, memikirkan apakah dia masih mampu untuk menatap wajah cucunya yang telah dia sia-siakan atau tidak. "Entahlah Yura, Ayah tidak tahu. Mungkin saja Eleanor juga akan membenci Ayah sama seperti suamimu. Atau malah lebih dari itu, membunuhku mungkin!."
Yura terkesiap mendengar jawaban ayah mertuanya. Dia lalu menggigit bibir, tiba-tiba mengkhawatirkan posisinya di mata Bryan kelak. Tidak menutup kemungkinan kalau dia juga akan di benci oleh suaminya jika gadis itu kembali ke rumah mereka. Memikirkan kemungkinan tersebut membuat Yura merasa gelisah. Dia lalu teringat dengan perkataan Patricia tadi pagi.
'Apa iya aku harus mengikuti saran Patricia? Bryan bisa terluka kalau sampai terjadi sesuatu pada Eleanor. Tapi jika mereka di biarkan bertemu, posisiku yang akan terancam bahaya. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Mementingkan posisiku atau mementingkan kebahagiaan Bryan?.'
Karim memperhatikan menantunya yang terlihat gelisah. Dia menghela nafas, sangat maklum jika menantunya bersikap demikian.
"Yura..."
__ADS_1
"Haaa.. Oh, iya. Ada apa, Ayah?" sahut Yura gugup.
"Kau tidak perlu khawatir. Ayah pastikan Bryan tidak akan membuangmu sekalipun Eleanor sudah di temukan. Kau sama sekali tidak terlibat dengan kejahatan yang telah Ayah lakukan, jadi jangan panik" ucap Karim menenangkan kekhawatiran menantunya.
"Ayah, salahkah aku jika merasa kalau kehadiran Eleanor kelak akan membuatku kecil di mata Bryan? Ayah tahu sendiri kan bagaimana sikap dan perilaku Bryan selama ini, aku sangat takut dia akan mengacuhkan aku setelah berkumpul dengan putrinya!" tanya Yura menahan kesedihan.
"Jangan berfikiran buruk dulu, Yura. Kau dan Patricia akan tetap menjadi bagian dari Keluarga Young, tak peduli meski cucu kandungku sudah kembali. Yura kau tenang saja, nanti Ayah akan membicarakan hal ini dengan suamimu nanti. Semoga saja dia sudah mau berbicara dengan Ayah" jawab Karim iba.
Yura mengangguk pelan. Hatinya masih terasa tidak tenang meskipun ayah mertuanya sudah memberikan penghiburan. Karena terus terjebak dalam kebimbangan, Yura akhirnya mengirim pesan pada Patricia. Dia sudah mengambil keputusan untuk mendukung niat putrinya yang ingin menyingkirkan Eleanor dari dunia ini.
"Sayang, sepertinya Ibu berubah pikiran. Ibu.... Ibu mendukung niatanmu untuk menyingkirkan Eleanor dari keluarga kita. Tapi kau harus berjanji pada Ibu kalau masalah ini tidak akan berbuntut panjang. Ibu tidak mau Ayahmu sampai tahu tentang rencana ini. Kau paham maksud Ibu kan Nak?."
Send. Tangan Yura gemetaran setelah mengirimkan pesan pada putrinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yura melakukan perbuatan yang sangat jahat. Jantungnya bahkan berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Tak lama kemudian ponsel Yura bergetar. Dia segera membuka pesan tersebut setelah tahu kalau itu adalah pesan balasan dari putrinya.
"Terima kasih Ibu sudah bersedia mendukungku. Ibu tenang saja, aku pastikan tidak akan ada yang tahu kalau kita yang telah melenyapkan gadis sialan itu. Termasuk Ayah, dia hanya akan tahu kalau putri yang di carinya sudah mati. Aku juga tidak akan membawa nama Ibu jika suatu hari ada yang mengetahui perbuatanku. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara agar hubungan Ibu dan Ayah tetap seperti biasanya. Aku tidak suka melihat bidadariku bersedih, rasanya sangat menyakitkan!."
"Baiklah sayang, terima kasih sudah mau peduli pada kebahagiaan Ibu. Ingat pesan Ibu baik-baik ya Nak, apapun yang terjadi kau tidak boleh terluka. Segera datang pada Ibu setelah urusanmu selesai, oke..?."
"Yura, kau sedang berbalas pesan dengan siapa?" tanya Karim yang sejak tadi memperhatikan menantunya.
Ponsel di tangan Yura hampir terlepas saat dia mendengar suara ayah mertuanya. Dia lupa kalau saat ini dia sedang bersama siapa. Untung saja ini hanya sebatas berbalas pesan, apa jadinya jika dia ketahuan sedang berbicara dengan putrinya bagaimana cara untuk membunuh Eleanor. Bisa-bisa dia di depak dari Keluarga Young saat ini juga.
"Oh ini Ayah. Aku sedang berbalas pesan dengan Patricia. Aku ingin tahu apakah dia sudah datang kemari atau belum" jawab Yura beralasan.
"Lalu apa jawabannya?."
__ADS_1
"Sama seperti kita, Ayah. Dia akhirnya memutuskan untuk langsung berangkat ke perusahaan karena tak kunjung di persilahkan masuk untuk menjenguk ayahnya. Sepertinya dia sangat kecewa" jawab Yura lagi seraya tersenyum lega.
"Wajar saja kalau gadis itu kecewa. Dia sangat menyayangi ayahnya selama ini. Bahkan aku dengar dari pelayan kalau semalam dia kembali ke rumah setelah lewat tengah malam. Dia pasti repot sekali mengambil alih pekerjaan Bryan di perusahaan" ucap Karim sedih memikirkan cucunya.
Yura mengangguk membenarkan perkataan ayah mertuanya. Dia juga sangat kasihan melihat Patricia yang harus menghabiskan masa mudanya hanya dengan mempelajari berkas-berkas pekerjaan yang tiada habisnya.
"Ayah, menurutmu jika Patricia menjalin hubungan dekat dengan Tuan Muda Gabrielle bagaimana? Mereka cukup serasi menurutku. Sama-sama rupawan dan pekerja keras di dunia bisnis" tanya Yura.
Karim diam tak langsung menjawab pertanyaan menantunya. Sebagian hatinya merasa berat jika orang sehebat Gabrielle harus menikahi cucu yang bukan berasal dari darah dagingnya sendiri. Sebenarnya Karim sangat berharap kalau pria hebat itu akan menikah dengan Eleanor. Tapi entahlah, dia juga tidak tega mematahkan keinginan menantunya. Toh sejak kecil dia juga sangat menyayangi Patricia meskipun mereka berada dalam ikatan di luar darah.
"Itu terserah bagaimana mereka saja, Yura. Ayah sudah tua, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian semua" jawab Karim mengambil jalan tengah.
Yura tersenyum kecil. Matanya tidak buta, dia bisa melihat dengan jelas kalau ayah mertuanya sedikit tidak rela jika putrinya menjalin hubungan dengan putra dari Keluarga Ma itu. Yura menebak pastilah ayah mertuanya menginginkan Eleanor yang menikah dengan pria itu. Dan tentu saja Yura tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Gabrielle hanya akan menjadi suami Patricia. Tidak dengan gadis lain, apalagi Eleanor, Yura benar-benar tidak rela.
Sambil menunggu para penjaga itu pergi, Yura berpamitan pada ayah mertuanya untuk pergi ke kantin rumah sakit membeli beberapa cemilan. Padahal yang sebenarnya ingin dia lakukan adalah menelfon Patricia dan memberitahunya tentang sikap ayah mertuanya yang menginginkan Eleanor menjadi menantu di Keluarga Ma. Dia rasa Patricia perlu tahu hal ini supaya dia bisa bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...