
Yura melangkah dengan sangat terburu-buru setelah di beritahu kalau suaminya masuk ke rumah sakit. Bahkan ayah mertuanya yang sedang tidak sehatpun memaksa untuk ikut datang kemari karena sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya.
"Permisi Suster, dimana ruangan Bryan Young?" tanya Yura pada seorang perawat yang berpapasan dengannya.
"Tuan Bryan berada di ruangan VVIP, Nyonya" jawab si perawat sopan.
"VVIP? Bukankah ruangan itu hanya boleh di pakai pemilik rumah sakit ini saja ya Sus?" tanya Yura lagi dengan raut keheranan.
"Benar, Nyonya. Tuan Bryan bisa masuk kesana karena kami mendapat perintah langsung dari Tuan Muda untuk membiarkannya berada di ruangan itu. Jadi Nyonya tidak perlu merasa sungkan!."
Saat Yura ingin kembali bertanya, bahunya di tepuk. Dia lalu menoleh kearah ayah mertuanya. "Kenapa Ayah?."
"Sebaiknya kita segera ke ruangan Bryan saja, Yura. Biarlah, anggap saja suamimu sedang mendapatkan keberuntungan karena di beri kesempatan untuk menempati ruangan itu!" jawab Karim.
"Astaga, kenapa aku bisa sampai lupa" ucap Yura kemudian menepuk keningnya beberapa kali. "Kalau begitu kami permisi dulu Sus. Terima kasih."
Setelah itu Yura kembali menuntun ayahnya berjalan menuju ruangan tempat suaminya di rawat. Saat sampai di ruangan itu, Karim dan Yura di kejutkan oleh belasan pengawal yang berjejer rapi di depan kamar tersebut.
"Ayah, kenapa banyak sekali penjaga di sini? Jangan-jangan Bryan sudah melakukan tindak kriminal makanya dia di tempatkan khusus begini" bisik Yura di liputi kekhawatiran yang sangat besar.
"Husss, kau ini bicara apa Yura. Bisa saja kan Bryan itu terluka karena menyelamatkan salah satu anggota Keluarga Ma. Kalaupun iya dia melakukan tindak kriminal, seharusnya dia mendekam di penjara. Bukan malah berada di rumah sakit dengan penjagaan yang sangat ketat begini" sahut Karim sambil menggelengkan kepala. "Sudahlah, sebaiknya kita segera masuk saja. Ayah ingin segera melihat bagaimana kondisi Bryan sekarang."
Yura mengangguk kemudian berjalan pelan kearah ruangan suaminya. Dia hampir mati ketakutan saat salah satu penjaga menghentikan langkah mereka.
"Maaf Tuan dan Nyonya, kalian mencari siapa?."
"Kami keluarganya pasien. Aku Karim Young dan ini menantuku, Nayura Foster" jawab Karim.
"Oh, kalau begitu silahkan masuk!.
__ADS_1
Setelah mendapat izin, Yura dan ayah mertuanya bergegas masuk ke dalam ruangan. Wajah mereka langsung menyendu melihat suaminya yang sedang duduk termenung sambil menatap kosong kearah jendela.
"Ayah, tadi siang aku melihat Eleanor di taman" ucap Bryan tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. "Tapi dia tidak mengenaliku, dia pergi begitu saja meskipun aku terus berteriak memanggil namanya."
Karim mengelus dadanya yang terasa sesak. Dengan hati yang terus bergetar dia berjalan mendekat kearah putranya. Menatap sedih melihat banyaknya luka yang menggores tubuh Bryan.
"Ayah tahu apa yang sudah Ayah dan Ibumu lakukan dulu sangat tidak termaafkan, Bry. Ayah benar-benar sangat menyesal. Ayah hanya mengikuti apa yang di inginkan oleh Ibumu, Ayah sebenarnya tidak benar-benar ingin mencelakai Eleanor. Hati nurani Ayah masih sedikit tergerak saat melihat tatapan matanya. Hemmm, tapi yang sudahlah. Ayah tidak perlu hanya menyalahkan Ibumu saja. Di sini Ayahlah yang harus bertanggung jawab atas apa yang di lakukan oleh Ibumu dulu" ucap Karim sedih.
Sekilas terdapat raut kebencian dan juga kesedihan di wajah Yura saat suami dan mertuanya sibuk membahas tentang anaknya Sandara. Hatinya sangat terluka, tapi Yura tidak bisa melakukan apapun selain hanya diam mendengarkan.
"Ayah, apa Ayah bisa tidur dengan tenang setelah membuang bayi yang tidak bersalah itu? Sejak rahasia ini terbongkar, aku sama sekali tidak bisa menelan sebutir nasi pun. Bahkan untuk meminum seteguk air saja aku merasa tidak pantas. Selama sembilan belas tahun ini aku hidup bergelimang harta, sementara anakku, aku tidak tahu apakah dia makan dengan baik atau tidak. Ayah, aku benar-benar sangat penasaran dengan malam-malam Ayah setelah kejadian itu!" tanya Bryan yang kini sudah berbalik menatap datar kearah ayahnya.
Yura segera mengelus punggung ayah mertuanya begitu melihat raut menahan sakit di wajah keriputnya. melemparkan pertanyaan yang cukup menohok.
"Bryan, tolong jangan menekan Ayah terlalu jauh. Kondisi jantungnya masih belum stabil. Bukan maksudku ingin membela Ayah Bry, aku hanya tidak mau ada kesedihan lagi di rumah. Cukup dengan terbongkarnya rahasia ini saja, tidak dengan yang lain" ucap Yura berusaha melerai.
"Jangan ikut campur urusan kami, Yura. Sebaiknya kau diam saja atau keluar dari ruangan ini" hardik Bryan sembari menatap tajam kearah istrinya.
Bryan terdiam. Yang di katakan istrinya ada benarnya juga. Lebih baik sekarang dia fokus mencari Eleanor saja. Masalah ayahnya biar menjadi urusan nanti.
"Ayah, apa aku perlu memanggil dokter untuk memeriksamu?" tanya Yura khawatir.
Karim menggeleng. Dia lalu meminta untuk duduk di ranjang samping putranya. "Bryan, saat kau melihat Eleanor, dia sedang bersama siapa?."
"Entahlah, aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang yang sedang bersamanya. Tapi dia bersama seorang wanita, juga ada belasan penjaga yang mengawalnya" jawab Bryan. "Ayah, apa selama ini Eleanor hidup dengan orang yang berada? Dari cara berpakaian dan pengawalan yang di terimanya itu sangat menandakan kalau dia hidup dengan sangat baik. Kira-kira siapa ya yang sudah membesarkan Eleanor?."
Tangan Yura terkepal kuat. Lagi-lagi mereka membahas anak kandung suaminya. 'Bryan, sebenci-bencinya kau padaku, tidak bisakah sekali saja kau menganggapku ada? Aku, aku juga mau memiliki anak darimu sama seperti Sandara. Tapi, jangankan untuk membuatku hamil, menyentuhku saja kau merasa hina. Haruskah penderitaan ini kembali bertambah jika Eleanor kembali padamu? Aku tidak keberatan jika di minta untuk menjadi ibu sambungnya Eleanor, Bry. Tapi bisakah kau jangan mengacuhkan aku seperti ini. Hatiku sakit Bryan, sakit sekali.'
Tak tahan mendengar percakapan suami dan ayah mertuanya, Yura akhirnya memutuskan untuk keluar. Dia terlalu asing untuk ikut menimbrung pembicaraan mereka. Jadi dia memilih untuk menjadi makhluk tak kasat mata bagi keduanya.
__ADS_1
"Yura....!."
Saat Yura sedang menyandar di pintu ruangan, tiba-tiba saja ada yang memanggil namanya. Seketika dia langsung menoleh.
"Kak Lolita, kau di sini?" tanya Yura kaget melihat kehadiran kakak iparnya.
"Iya. Levi masuk ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan mobil. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini? Ayah mertuamu baik-baik saja kan?" sahut Lolita yang memang mengetahui bagaimana kondisi kesehatan mertua adik iparnya.
"Bukan mertuaku yang di rawat Kak, tapi suamiku. Dia juga mengalami kecelakaan!."
"Whaaatttt.....!."
Kening kedua wanita itu sama-sama mengerut. Mereka merasa ada yang aneh dengan kebetulan ini.
"Kakak ipar, apa mungkin ada sesuatu yang telah terjadi? Bagaimana bisa Bryan dan Levita masuk ke rumah sakit yang sama dan juga dengan sebab yang sama. Tidakkah menurut Kakak ada sesuatu yang janggal di sini?."
"Kau benar Yura. Tapi ya sudahlah, yang penting keadaan suamimu dan juga Levita baik-baik saja. Biar nanti kakakmu saja yang mencari tahu penyebab kenapa mereka bisa mengalami kecelakaan!."
Yura mengangguk. Dia lalu menarik kakak iparnya ke taman rumah sakit. Yura benar-benar sedang sangat membutuhkan teman bicara. Dia butuh seseorang yang bisa menjadi sandaran saat hatinya menjadi sangat lemah.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
WKWKWK... MAAF YA GENGS KEMARIN SORE ENGGAK UP. EMAK LUPA GENGSS, SUNGGUH??? 🙏🙏🙏🤣🤣🤣🤣🤣
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA....
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...