Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Hadiah


__ADS_3

Elea duduk di pinggiran kolam renang sambil mencelupkan kedua kakinya ke dalam air. Senyum manis tak lepas dari bibirnya sejak dia kembali dari taman bermain.


"Aku senang sekali, aku senang sekali".


Itu bunyi gumaman yang sejak tadi terus keluar dari mulut Elea. Nun dan para pelayan yang berdiri tak jauh dari sana ikut merasa senang melihat kebahagiaan di wajah nyonya mereka.


"Kak Iel, Kak Levi, kalian baik sekali padaku. Aku sangat menyayangi kalian berdua. Sampai mati!" ucap Elea lagi.


Nun segera pergi dari sana saat dia mendengar suara mobil Tuan Muda-nya. Dengan sigap dia berdiri menyambut di depan pintu utama.


"Selamat datang kembali Tuan Muda!".


Gabrielle mengangguk.


"Dimana istriku Nun?" tanya Gabrielle sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Nyonya Elea berada di kolam renang, Tuan Muda" jawab Nun.


"Jam berapa dia pulang dari taman bermain?".


Gabrielle tersenyum melihat istri kecilnya yang sedang bersenandung sambil memainkan air kolam renang. Dia melepas jas yang di pakainya kemudian memberikannya pada Nun.


"Ares, berikan itu padaku!".


Ares segera memberikan satu paperbag pada Tuan Muda-nya.


"Ini Tuan Muda".


"Nun, kau belum menjawab pertanyaanku" ucap Gabrielle sambil menerima paperbag yang Ares berikan.


"Oh maaf Tuan Muda. Nyonya Elea kembali pukul lima sore tadi. Setelah itu Nyonya terus berada di sana, sepertinya beliau sangat bahagia setelah pergi bermain hari ini, Tuan Muda!" jawab Nun sembari melirik kearah kolam renang.


"Syukurlah kalau memang begitu. Oh ya, dimana Levi? Dia tidak pulang kesini kan?" tanya Gabrielle sambil celingukan mencari keberadaan wanita bar-bar itu.


"Tidak, Tuan Muda. Nona Levi meminta untuk di antar pulang ke kediamannya langsung. Nyonya bilang dia ada urusan penting" jawab Nun.


Gabrielle menarik nafas lega. Sekarang Elea akan berada di bawah kekuasaannya tanpa harus lelah berdebat dengan Levi.


"Baguslah kalau dia tidak menginap di sini".


Nun mengangguk.


"Aku bahagia sekali".


Semua orang menoleh kearah kolam renang begitu mendengar perkataan Elea. Gabrielle tersenyum, dia kemudian berjalan mendekat kearah istrinya yang sedang tertawa sambil berkecimpuk memainkan air dengan kakinya.


"Ekhhmmm, sepertinya istriku sedang sangat bahagia. Boleh tahu kenapa?".


Elea mendongak. Dia tersenyum senang melihat kemunculan suaminya.



"Kak Iel, hari ini aku bahagia sekali. Tahu tidak kenapa?" ucap Elea balik bertanya.


'Astaga senyum itu. Aaarrgghhhh, kau berdiri di saat yang tidak tepat bung. Aku bisa gila!'.


Gabrielle seperti tersihir melihat senyum polos di bibir istrinya. Dia sampai lupa menjawab pertanyaan Elea karena sibuk bernegosiasi dengan juniornya yang mulai mengamuk.


"Kak Iel" rengek Elea sambil mencubit kecil celana suaminya.


Gabrielle tergagap. Gairahnya semakin meluap melihat tingkah manja istrinya.


"Kenapa sayang, em?" tanya Gabrielle sembari duduk di sebelah Elea.

__ADS_1


"Hari ini aku sedang bahagia Kak. Sangat sangat bahagia" jawab Elea.


"Oh ya? Kenapa?" tanya Gabrielle pura-pura tidak tahu.


"Rahasia" sahut Elea di barengi dengan cengiran khas yang membuat matanya menyipit.


Glluukkkk


Jakun Gabrielle bergerak naik turun dan juniornya semakin mengeras saat Elea tersenyum seperti itu. Takut tak bisa mengendalikan nafsunya, Gabrielle segera mengalihkan pembicaraan. Dia lalu teringat dengan hadiah yang di bawanya.


"Sayang, aku punya hadiah untukmu".


"Hadiah?" beo Elea dengan wajah bingung.


Gabrielle mengangguk. Dia lalu mengangkat paperbag di tangannya.


"Tapi ulang tahunku sudah lewat, Kak" ucap Elea heran.


"Tidak masalah, sayang. Kau istriku, jadi aku bisa memberikan hadiah kapanpun aku mau".


"Memangnya boleh seperti itu ya Kak?".


"Tentu saja boleh. Ayo cepat duduk di sini. Kita akan membuka hadiah ini bersama-sama!" ucap Gabrielle sambil menepuk pahanya.


Elea segera berpindah duduk ke pangkuan suaminya. Dia terus menatap penasaran pada hadiah itu tanpa berani menyentuhnya.


"Bukalah!".


"Sekarang Kak?" tanya Elea sambil menatap wajah suaminya.


"Tahun depan, Elea" sahut Gabrielle usil.


"Ohh, aku pikir sekarang!".


"Aku hanya bercanda sayang. Nah sekarang cepat buka, kita lihat hadiah apa yang ada di dalam sini!".


Meskipun awalnya merasa ragu, Elea akhirnya mengambil paperbag di tangan Gabrielle kemudian menatapnya sejenak. Setelah itu dengan antusias dia membuka hadiahnya.


"Woaaahhhh, ponsel!" teriak Elea heboh.


Gabrielle tertawa. Dengan gemas dia menciumi rambut istrinya yang sedang sibuk membuka kotak ponsel pemberiannya.


"Suka tidak?" tanya Gabrielle ingin tahu.


Elea tak langsung menjawab pertanyaan Gabrielle. Dia malah asik menyentuh layar ponsel itu sambil mengeluarkan celetukan-celetukan nyeleneh yang membuat Gabrielle tak bisa berhenti tertawa.


"Owh owh, lihat Kak Iel. Gambarnya terus berganti jika di sentuh. Astaga, ini sangat menakjubkan, ponsel ini sangat hebat!".


"Mau tahu yang lebih hebat lagi tidak?" tanya Gabrielle gemas.


"Ada ya Kak?" ucap Elea penasaran.


Gabrielle mengangguk. Dia meraih tangan Elea kemudian menggerakkan satu jarinya untuk menyentuh ikon kamera. Dan apa yang dia lakukan membuat Elea berdecak kagum saat wajahnya muncul di layar ponsel.


"Kak lihat, wajah kita ada di dalam sini" ucap Elea takjub.


"Tersenyum sayang. Kita akan mengambil foto pertama dengan ponsel ini" sahut Gabrielle sambil mengarahkan kamera ke posisi yang tepat.


Elea dengan patuh menunjukkan senyum terbaiknya di depan kamera. Dia diam tak peduli saat Gabrielle mengambil pose mencium pipinya sebelum menekan tombol kamera.


Cekrek.. Cekrek


Setelah puas mengambil banyak foto, Gabrielle memperlihatkan hasil jepretannya pada Elea. Dia merasa bangga karena pekerjaannya di sambut tepuk tangan meriah dari istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Wahhh, hadiah darimu sangat luar biasa, Kak Iel. Ini pertama kalinya aku memiliki foto" celetuk Elea riang.


Senyum di bibir Gabrielle menghilang. Dia menatap sedih kearah istrinya yang sedang sibuk mengagumi hasil foto mereka.


'Kenapa banyak sekali hal pertama yang baru kau rasakan, Elea? Aku yakin ponsel ini pasti juga menjadi yang pertama untukmu. Ya Tuhan, kenapa rasanya sedih sekali!'.


"Oh iya Kak Iel, tadi aku membeli hadiah untukmu saat di taman bermain. Tapi hadiahnya tidak bagus, dan aku membelinya menggunakan uang milikmu. Emmm, itu bisa di sebut hadiah bukan si?" ucap Elea bingung sendiri.


Hati Gabrielle berbunga-bunga. Dia merasa sangat bahagia karena ternyata Elea masih ingat dengan dirinya saat sedang bersenang-senang dengan Levi.


"Elea, mulai saat ini uangku adalah uangmu juga. Sekarang cepat tunjukkan padaku dimana hadiahnya" sambung Gabrielle tak sabar.


"Hadiahnya ada di dalam kamar, Kak. Tunggu sebentar ya, akan aku ambilkan dulu" sahut Elea sembari beranjak dari pangkuan suaminya.


Gabrielle dengan cepat menarik tangan istrinya kemudian ikut berdiri. Dia tersenyum melihat tatapan heran Elea.


"Kita ambil bersama saja. Sekalian aku ingin membersihkan diri sebelum makan malam. Kau juga pasti belum makan kan?" ucap Gabrielle menjawab keheranan Elea.


"Oh, aku pikir Kakak tidak mau menerima hadiah dariku. Padahal tadi aku sudah berniat memberikannya pada Ares kalau Kakak menolak!".


Ares menelan ludah begitu dia menyadari tatapan membunuh dari Tuan Muda-nya. Dia meratap sedih karena lagi-lagi dia menjadi korban dari kecemburuan pria beku itu.


'Ya Tuhan Nyonya Elea, kenapa namaku di bawa-bawa? Tidak bisakah kau menyadari kalau suami anda bisa berubah menjadi banteng yang sangat mengerikan jika sedang cemburu?'.


"Ares ya?" sindir Gabrielle jengkel.


Tanpa dosa Elea mengangguk jujur. Dia tidak menyadari kalau sekarang wajah suaminya memerah karena terbakar api cemburu.


"Ayo Kak kita ke kamar!" ajak Elea sambil menatap layar ponsel yang sudah di hiasi fotonya bersama dengan suaminya.


Dengan wajah masam Gabrielle menuruti ajakan Elea. Dia mendengus kasar saat melewati Ares.


"Awas kau!".


Terdengar helaan nafas pelan dari mulut Ares setelah dia mendengar bisikan penuh nada ancaman dari Tuan Muda-nya. Dia kemudian melihat kearah Nun dengan wajah memelas.


"Kenapa hanya namaku yang di sebut oleh Nyonya Elea, Nun?".


Nun tersenyum kecil. Dia kemudian menyusul tuan dan nyonya nya yang sedang berjalan menuju lift.


"Nun" panggil Ares resah sambil berjalan di sebelahnya.


"Terima saja. Mungkin itu adalah berkah dari Tuhan" ledek Nun sambil menahan tawa.


"Berkah dari mananya Nun? Jelas-jelas ini adalah undangan kematian. Memangnya tadi kau tidak lihat bagaimana Tuan Muda seperti ingin menelanku hidup-hidup hah!" kesal Ares pelan.


Nun dan Ares tak lagi berbicara saat mereka berada di dalam lift. Dalam kesunyian itu, Ares tidak berani melihat kearah pria yang berada di depannya. Dia sadar betul kalau Tuan Muda-nya sedang menahan diri untuk tidak membunuhnya gara-gara namanya di sebut oleh Nyonya Elea.


'Nyonya Elea, anda sangat luar biasa. Hanya dalam sekali sebut nyawa saya langsung berada di ujung tanduk. Hiksss Tuhan, tolong lindungi aku dari amukan banteng pencemburu ini!'.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


#Poor Ares... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2